Monday, September 7, 2026

Satu Mooncake, Dua Hati, dan Sebuah Rasa Syukur JW MARRIOT


Entah kenapa, kali ini saya merasa seperti sedang ngidam sesuatu.

Bukan lapar. Bukan juga sekadar ingin makan makanan manis. Rasanya lebih dari itu.

Ada dorongan kecil yang terus muncul di kepala: saya ingin mooncake.

Padahal kalau dipikir-pikir, mooncake bukanlah makanan yang setiap hari saya cari. Bukan sesuatu yang harus ada di rumah. Bahkan mungkin, kalau tidak sedang berada di momen tertentu, saya bisa saja melewatinya tanpa terlalu peduli.

Tetapi kali ini berbeda.

Ada rasa penasaran yang membuat saya ingin mencarinya. Saya ingin menemukan mooncake yang bukan sekadar mooncake. Saya ingin tahu bagaimana rasanya sebuah produk yang dibuat dengan perhatian, dengan kualitas, dengan kelas.

Seolah-olah ada suara kecil dalam diri saya yang berkata,

“Sekali-sekali, boleh dong mencari sesuatu yang benar-benar istimewa.”

Dan akhirnya saya menemukan yang saya cari.

Bukan sekadar melihat dari kemasannya, tetapi ada kesempatan untuk mencicipi berbagai rasa. Saya bisa mencoba satu per satu. Melihat karakter masing-masing rasa. Merasakan teksturnya. Menikmati sensasi yang berbeda.

Di situlah saya sadar, ternyata yang saya cari selama ini bukan hanya mooncake.

Saya sedang mencari sebuah pengalaman.

Pengalaman untuk menemukan sesuatu yang berkualitas.

Pengalaman untuk memuaskan rasa penasaran.

Pengalaman untuk mengatakan kepada diri sendiri bahwa sesekali kita boleh menikmati sesuatu dengan penuh kesadaran.

Selama ini kita sering menganggap keinginan sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Kalau ingin sesuatu, kita bertanya:

“Perlukah?”

“Penting nggak?”

“Harus beli sekarang?”

“Bukankah uangnya bisa dipakai untuk sesuatu yang lebih penting?”

Pertanyaan-pertanyaan itu memang penting. Karena hidup juga membutuhkan kebijaksanaan dalam memilih.

Tetapi saya belajar bahwa menikmati sesuatu dengan sadar berbeda dengan membeli sesuatu karena impulsif.

Impulsif adalah ketika kita membeli karena tidak mampu menahan diri.

Tetapi ada juga bentuk keinginan yang justru membawa kita pada pengalaman, apresiasi, dan rasa syukur.

Saya rasa mooncake kali ini ada di wilayah itu.

Saya tidak ingin semuanya.

Saya tidak merasa harus membawa pulang seluruh varian yang saya coba.

Justru setelah mencicipi berbagai rasa, saya menjadi semakin tahu apa yang benar-benar saya sukai.

Dan akhirnya saya memilih satu rasa.

Hanya satu.

Menarik, bukan?

Awalnya rasanya seperti sedang ngidam. Seolah-olah saya harus mendapatkannya.

Tetapi setelah mendapat kesempatan untuk mencoba, saya justru menjadi lebih bijaksana.

Saya tidak membutuhkan semuanya.

Saya hanya membutuhkan satu yang paling saya suka.

Di situ saya belajar sesuatu yang sederhana tentang kehidupan.

Kadang kita mengejar terlalu banyak karena belum pernah benar-benar merasakan dan memahami apa yang kita inginkan.

Kita mengira kebahagiaan ada pada jumlah.

Lebih banyak rasa.

Lebih banyak pilihan.

Lebih banyak barang.

Lebih banyak pencapaian.

Padahal setelah kita memiliki kesempatan untuk mencoba semuanya, sering kali kita menemukan bahwa hati kita hanya benar-benar memilih satu atau dua hal yang paling bermakna.

Kualitas akhirnya mengalahkan kuantitas.

Dan mooncake itu akhirnya saya bawa pulang.

Tetapi ceritanya belum selesai.

Karena ada satu bagian yang justru membuat semuanya terasa jauh lebih indah.

Saya tidak memakannya sendirian.

Saya membaginya dengan suami.

Satu mooncake.

Dua orang.

Satu pengalaman kecil.

Dan tiba-tiba sesuatu yang sederhana menjadi terasa istimewa.

Mungkin karena kebahagiaan memang sering kali bukan tentang apa yang kita punya, tetapi dengan siapa kita menikmatinya.

Bayangkan kalau saya membeli banyak mooncake, lalu semuanya saya makan sendiri.

Mungkin saya akan mendapatkan lebih banyak rasa.

Tetapi apakah saya akan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan?

Belum tentu.

Justru ketika satu mooncake dibelah menjadi dua, saya merasa nilainya bertambah.

Bukan karena jumlahnya.

Tetapi karena ada berbagi.

Ada percakapan.

Ada tatapan.

Ada komentar kecil tentang rasanya.

Ada momen sederhana yang mungkin tidak akan masuk ke dalam foto, tetapi tersimpan dalam ingatan.

Dan mungkin itulah yang sebenarnya saya cari sejak awal.

Bukan mooncake.

Melainkan momen.

Momen kecil untuk menikmati hidup.

Momen untuk menghargai kualitas.

Momen untuk berhenti sejenak dari rutinitas.

Momen untuk mengatakan:

“Alhamdulillah, ternyata hidup masih memberikan kita kesempatan untuk menikmati hal-hal kecil seperti ini.”

Saya semakin menyadari bahwa kemewahan tidak selalu berarti membeli sesuatu dalam jumlah banyak.

Kadang kemewahan justru adalah kemampuan untuk memilih satu hal yang benar-benar kita hargai.

Kemewahan adalah bisa berkata:

“Saya tidak perlu semuanya. Ini sudah cukup.”

Kemewahan adalah bisa menikmati tanpa rasa bersalah karena kita tahu apa yang kita pilih dan mengapa kita memilihnya.

Dan yang lebih penting, kemewahan adalah ketika sesuatu yang kita nikmati dapat menjadi jembatan untuk berbagi dengan orang yang kita cintai.

Satu mooncake ternyata bisa mengajarkan banyak hal.

Tentang desire—keinginan yang muncul begitu kuat.

Tentang discernment—kemampuan membedakan mana yang benar-benar kita inginkan dan mana yang hanya sekadar godaan sesaat.

Tentang gratitude—rasa syukur karena akhirnya kita bisa mendapatkan apa yang kita cari.

Dan tentang sharing—bahwa kebahagiaan sering kali menjadi lebih besar ketika dibagikan.

Mungkin kita memang tidak harus selalu menolak keinginan.

Tetapi kita juga tidak harus selalu menuruti semuanya.

Yang kita butuhkan adalah kesadaran.

Sadari apa yang kita inginkan.

Cari tahu mengapa kita menginginkannya.

Berikan diri kita kesempatan untuk mengalami.

Lalu pilih dengan bijaksana.

Dan ketika akhirnya mendapatkannya, nikmati sepenuh hati.

Tidak perlu berlebihan.

Tidak perlu merasa harus memiliki semuanya.

Karena terkadang, satu saja sudah cukup.

Satu rasa yang paling kita suka.

Satu momen yang kita tunggu.

Satu orang yang kita cintai.

Dan satu hati yang penuh rasa syukur.

Jadi kalau ditanya, “Kenapa sih sampai seperti ngidam mooncake?”

Mungkin sekarang saya punya jawaban yang sedikit berbeda.

Karena mungkin yang saya rindukan bukan mooncake-nya.

Saya merindukan sensasi menemukan sesuatu yang istimewa.

Saya merindukan pengalaman mencoba.

Saya merindukan rasa puas setelah menemukan pilihan yang tepat.

Dan mungkin, tanpa saya sadari, saya juga sedang merindukan sebuah momen kecil untuk menikmati hidup bersama suami.

Akhirnya saya mendapatkannya.

Bukan sepuluh rasa.

Bukan satu kotak penuh.

Hanya satu rasa yang saya pilih dengan sadar.

Lalu kami membaginya berdua.

Dan di antara gigitan kecil itu, ada perasaan yang jauh lebih besar daripada rasa manis mooncake itu sendiri:

Alhamdulillah.

Ternyata bahagia tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar.

Kadang ia datang dalam kotak kecil.

Kadang ia berbentuk makanan yang sejak awal terasa ingin sekali kita dapatkan.

Kadang ia hanya separuh mooncake di tangan kita dan separuh lainnya di tangan orang yang kita cintai.

Dan kadang, justru ketika kita belajar mengatakan “satu saja cukup”, kita menemukan bahwa yang kita miliki sebenarnya sudah lebih dari cukup.

Tidak harus banyak untuk terasa mewah.

Tidak harus mahal untuk terasa berharga.

Tidak harus sempurna untuk menjadi kenangan.

Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah pengalaman menjadi istimewa bukan hanya apa yang kita beli, tetapi bagaimana kita menikmatinya, mengapa kita memilihnya, dan dengan siapa kita membaginya.

Satu mooncake.

Dua hati.

Satu momen sederhana.

Dan sebuah rasa syukur yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Alhamdulillah, akhirnya bukan hanya keturutan membeli—tetapi juga keturutan menikmati. ❤️

One Mooncake, Two Hearts, and a Little Gratitude

I don’t know why, but this time, I felt like I was craving something.

Not because I was hungry.

Not even because I simply wanted something sweet.

It felt like something more.

There was this little voice in my head that kept saying:

“I want a mooncake.”

And when I think about it, mooncakes are not something I normally go looking for. They are not something I need to have at home. If it weren’t for the season or the occasion, I could probably walk past them without giving them much thought.

But this time was different.

There was a curiosity inside me that made me want to look for one.

I wanted to find a mooncake that was more than just a mooncake.

I wanted to experience something beautifully made, something refined, something that felt truly special.

Almost as if a small voice inside me was saying:

“Every once in a while, it’s okay to look for something that feels special.”

And eventually, I found it.

What made it even more interesting was having the opportunity to taste different flavors.

I could try them one by one.

I could experience the different textures, flavors, and little details that made each one unique.

And somewhere in that experience, I realized something:

Perhaps what I had been looking for was never just a mooncake.

I was looking for an experience.

An experience of discovering quality.

An experience of satisfying my curiosity.

An experience of allowing myself to enjoy something slowly and consciously.

We often think that desire is something we have to fight.

When we want something, we immediately ask ourselves:

“Do I really need it?”

“Is it necessary?”

“Do I really have to buy it?”

“Couldn’t I spend the money on something more important?”

Those questions are important.

Life certainly requires wisdom when it comes to choosing what we spend our time, energy, and money on.

But I am also learning that conscious enjoyment is different from impulsive consumption.

Impulsive consumption is when we buy something simply because we cannot resist the urge.

But sometimes, a desire can lead us toward something else:

curiosity, appreciation, experience, and gratitude.

And I think that is what happened with this mooncake.

I didn’t need all the flavors.

I didn’t feel that I had to take everything home.

In fact, after tasting several varieties, I became even clearer about what I actually liked.

And eventually, I chose one flavor.

Just one.

Isn’t that interesting?

At first, the feeling was almost like a craving.

It felt as if I really had to have it.

But once I had the chance to taste and explore, I became more selective.

I realized I didn’t need everything.

I only needed the one I truly enjoyed.

And that small moment taught me something about life.

Sometimes we chase too much simply because we have never taken the time to experience and understand what we truly want.

We often assume that happiness comes from having more.

More choices.

More flavors.

More possessions.

More achievements.

More of everything.

But once we have the opportunity to experience many things, we often discover that our heart only truly chooses one or two things that feel meaningful.

Quality eventually becomes more important than quantity.

So I brought that mooncake home.

But the story didn’t end there.

Because the most beautiful part was yet to come.

I didn’t eat it alone.

I shared it with my husband.

One mooncake.

Two people.

One little experience.

And suddenly, something so simple felt much more special.

Perhaps because happiness is often not about what we have, but about who we get to enjoy it with.

Imagine if I had bought many mooncakes and eaten them all by myself.

Perhaps I would have experienced more flavors.

But would I have experienced more happiness?

Not necessarily.

When one mooncake is divided into two, somehow, its value feels greater.

Not because there is more of it.

But because there is sharing.

There is conversation.

There is a little moment of looking at each other and talking about the taste.

There is laughter.

There is companionship.

There is a simple memory being created—one that may never make it into a photograph, but will quietly remain in the heart.

And perhaps that is what I was really craving all along.

**Not the mooncake.

But the moment.**

A small moment to enjoy life.

A moment to appreciate quality.

A moment to pause from the routines of everyday life.

A moment to say:

“Alhamdulillah. Life still gives us little moments like this to enjoy.”

I am beginning to understand that luxury does not always mean buying more.

Sometimes, luxury is having the clarity to choose one thing that we genuinely value.

Luxury is being able to say:

“I don’t need everything. This is enough.”

Luxury is being able to enjoy something without guilt because we understand what we chose and why we chose it.

And perhaps the greatest luxury is when something we enjoy becomes an opportunity to share happiness with someone we love.

One mooncake taught me more than I expected.

It taught me about desire—that feeling that makes us want something deeply.

It taught me about discernment—the ability to recognize what we genuinely want and what is simply a passing temptation.

It taught me about gratitude—the appreciation we feel when something we hoped for finally comes into our hands.

And it taught me about sharing—because happiness often becomes greater when it is shared.

Maybe we don't always have to reject our desires.

But we also don't have to obey every desire.

What we need is awareness.

Be aware of what you want.

Ask yourself why you want it.

Give yourself permission to experience it.

Then choose consciously.

And when you finally have it, enjoy it wholeheartedly.

You don't have to overdo it.

You don't have to own everything.

Sometimes, one is enough.

One flavor you truly love.

One little moment you've been looking forward to.

One person you love sitting beside you.

And one heart filled with gratitude.

So if someone asked me now:

“Why were you craving a mooncake so badly?”

Perhaps my answer would be a little different.

Maybe I wasn't really craving the mooncake.

Maybe I was craving the feeling of discovering something special.

The excitement of trying something new.

The satisfaction of finding the right choice.

And perhaps, without realizing it, I was also craving a small moment to slow down and enjoy life with my husband.

And eventually, I got it.

Not ten flavors.

Not a table full of mooncakes.

Just one flavor that I consciously chose.

And we shared it.

Two people, one mooncake.

And somewhere between those little bites was a feeling much bigger than the sweetness itself:

Alhamdulillah.

Life doesn't always bring happiness in grand forms.

Sometimes, happiness comes in a small box.

Sometimes, it looks like a dessert you've been unexpectedly craving.

Sometimes, it is simply half a mooncake in your hand and the other half in the hands of someone you love.

And sometimes, when we learn to say “one is enough,” we discover that what we already have is more than enough.

It doesn't have to be abundant to feel luxurious.

It doesn't have to be expensive to feel valuable.

It doesn't have to be perfect to become a beautiful memory.

Because in the end, what makes an experience special is not only what we buy, but how we enjoy it, why we chose it, and who we choose to share it with.

One mooncake.

Two hearts.

One simple moment.

And a whole lot of gratitude.

Alhamdulillah. I didn’t just get to buy the mooncake I was craving. I got to enjoy it—and share it—with someone I love. ❤️

Bersama temanku, ternyata dia juga penasaran sama kue ini. 


Monday, August 31, 2026

FROM SELF TO SIGNIFICANT [PART 2]


🧭 PETA JALANKU DI THREE

FROM SELF → VALUE → CONNECTION → BUILD → SCALE → SIGNIFICANCE

THREE bukan hanya tempat saya menjalankan bisnis.
THREE menjadi ruang tempat saya membangun diri, menemukan value, membangun hubungan, belajar memimpin, dan menciptakan dampak.


1. SELF — SAYA MEMULAI DARI DIRI

Perjalanan saya tidak dimulai dari:

“Berapa banyak yang bisa saya hasilkan?”

Tetapi dari:

“Saya ingin menjadi pribadi seperti apa?”

Di sinilah pembelajaran tentang Principles, Leonardo da Vinci, Poor Charlie’s Almanack, dan Tao Te Ching menjadi fondasi.

Saya belajar:

  • mengenal diri;

  • berpikir lebih dalam;

  • melihat berbagai perspektif;

  • membangun prinsip;

  • belajar dari pengalaman;

  • tidak terburu-buru mengambil keputusan.

THREE kemudian bukan hanya tempat untuk bekerja.

THREE menjadi:

MY GROWTH SPACE.


2. DISCOVER — SAYA MENEMUKAN VALUE

Semakin berjalan, saya mulai memahami:

Saya tidak hanya menjual produk. Saya sedang menawarkan value.

Konsep Zero to One mengajarkan saya untuk tidak sekadar mengikuti apa yang dilakukan orang lain.

Saya mulai bertanya:

Apa keunikan saya?

Apa kekuatan saya?

Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?

Apa yang bisa saya ciptakan dengan cara saya sendiri?

Di sinilah perjalanan berubah:

Dari

FOLLOWING

menjadi:

CREATING.


3. CONNECTION — SAYA MENEMUKAN ORANG

Kemudian saya menyadari satu hal penting:

Tidak ada perjalanan besar yang dibangun sendirian.

THREE mempertemukan saya dengan:

leader,

team,

partner,

customer,

mentor,

dan

community.

Di sinilah Nonviolent Communication dan konsep Mattering menjadi relevan.

Saya belajar bahwa hubungan bukan sekadar:

siapa mengenal siapa.

Tetapi:

bagaimana kita membuat orang merasa dilihat, dihargai, didengar, dan berarti.

Maka network bukan sekadar jumlah kontak.

NETWORK = HUMAN CONNECTION.


4. TRUST — DARI KENAL MENJADI PERCAYA

Connection saja belum cukup.

Hubungan harus berkembang menjadi:

TRUST.

Trust dibangun melalui:

konsistensi,

integritas,

kehadiran,

kepedulian,

dan

kontribusi.

Ini membuat saya memahami bahwa perjalanan di THREE bukan sprint.

Ini marathon.

Saya tidak perlu membuktikan semuanya dalam satu hari.

Saya hanya perlu:

show up, serve, learn, repeat.


5. BUILD — SAYA MULAI MEMBANGUN

Setelah menemukan value dan membangun connection, perjalanan masuk ke tahap:

BUILD.

Di sini Rework dan High Output Management menjadi sangat relevan.

Saya belajar:

Don't just talk. Build.

Jangan hanya mempunyai ide.

Jalankan.

Jangan hanya mempunyai target.

Kerjakan.

Jangan hanya mempunyai network.

Bangun hubungan.

Jangan hanya mempunyai mimpi.

Buat sistem.


6. MEASURE — SAYA BELAJAR MELIHAT PROGRESS

Kemudian saya belajar dari Measure What Matters:

Apa yang tidak diukur sering kali hanya menjadi perasaan.

Saya mulai melihat perjalanan bukan hanya dari:

“Saya sibuk.”

Tetapi:

“Apa yang benar-benar bertumbuh?”

Misalnya:

INPUT

Waktu + energi + pembelajaran

ACTION

Aktivitas + networking + follow-up

OUTPUT

Relationship + customer + team

OUTCOME

Growth + income + capability

IMPACT

Value + contribution + significance

Dengan begitu, perjalanan saya menjadi lebih sadar.


7. PRINCIPLES — SAYA MEMBANGUN CARA MAIN SENDIRI

Semakin jauh berjalan, saya tidak ingin hanya bergantung pada motivasi.

Saya membutuhkan:

PRINCIPLES.

Prinsip menjadi kompas ketika situasi berubah.

Ketika berhasil:

tetap rendah hati.

Ketika gagal:

belajar.

Ketika bingung:

kembali pada value.

Ketika mendapat peluang:

evaluasi apakah sesuai purpose.

Ketika menghadapi orang:

jaga hubungan dan integritas.

THREE kemudian menjadi tempat saya menguji:

Apakah prinsip yang saya yakini benar-benar hidup dalam tindakan saya?


8. ADAPT — SAYA BELAJAR MENGHADAPI PERUBAHAN

Dunia tidak diam.

Pasar berubah.

Teknologi berubah.

Orang berubah.

Kebutuhan berubah.

Dari Only the Paranoid Survive dan Blitzscaling, saya belajar:

Yang membuat kita bertahan bukan karena kita selalu benar, tetapi karena kita mampu belajar dan beradaptasi.

Maka saya tidak ingin terlalu nyaman dengan keberhasilan hari ini.

Saya ingin terus bertanya:

Apa yang harus saya pelajari berikutnya?

Apa yang harus saya tinggalkan?

Apa yang harus saya coba?

Apa yang harus saya bangun?


9. SCALE — DARI DIRI KE TEAM

Pada awal perjalanan:

Saya membangun diri.

Kemudian:

Saya membangun hubungan.

Kemudian:

Saya membangun bisnis.

Tetapi tahap berikutnya adalah:

MEMBANGUN ORANG LAIN.

Ini adalah perubahan besar.

Leadership bukan lagi:

“Bagaimana saya bisa sukses?”

Tetapi:

“Bagaimana saya membantu orang lain ikut bertumbuh?”

Di sinilah pengalaman di THREE dapat berubah dari personal growth menjadi collective growth.


10. LEADER → MULTIPLIER

Leader yang hebat bukan orang yang melakukan semuanya sendiri.

Leader hebat menciptakan:

lebih banyak leader.

Jadi perjalanan:

ME

WE

TEAM

COMMUNITY

Inilah leverage manusia.

Saya tidak lagi hanya mengukur keberhasilan dari apa yang saya lakukan.

Tetapi dari:

berapa banyak orang yang menjadi lebih kuat karena pernah berjalan bersama saya.


11. SCALE VALUE — DARI ONE TO MANY

Di sinilah pemikiran Zero to One + Scale + Blitzscaling bertemu.

Saya mulai dari:

ONE.

Satu diri.

Satu value.

Satu hubungan.

Satu customer.

Satu kontribusi.

Kemudian:

MANY.

Lebih banyak orang.

Lebih banyak hubungan.

Lebih banyak customer.

Lebih banyak leader.

Lebih banyak dampak.

Tetapi prinsipnya tetap:

Scale the value, not merely the size.

Bukan sekadar menjadi lebih besar.

Tetapi menjadi:

MORE VALUABLE.


12. SIGNIFICANCE — UNTUK APA SEMUA INI?

Setelah semua proses tersebut, muncul pertanyaan yang lebih dalam:

“Untuk apa saya melakukan semua ini?”

Bukan hanya:

income.

Bukan hanya:

achievement.

Bukan hanya:

recognition.

Tetapi:

SIGNIFICANCE.

Saya ingin perjalanan di THREE menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada pencapaian pribadi.

Saya ingin ada:

orang yang terbantu,

orang yang bertumbuh,

hubungan yang terbangun,

keluarga yang lebih baik,

team yang semakin kuat,

dan

komunitas yang semakin berarti.


🧭 PETA JALANKU DI THREE

Kalau dibuat menjadi satu visual perjalanan:

                    PURPOSE
                       │
                       ↓
                     SELF
                       │
                       ↓
                    VALUE
                       │
                       ↓
                 CONNECTION
                       │
                       ↓
                    TRUST
                       │
                       ↓
                     BUILD
                       │
                       ↓
                   MEASURE
                       │
                       ↓
                   PRINCIPLES
                       │
                       ↓
                    ADAPT
                       │
                       ↓
                    LEAD
                       │
                       ↓
                    SCALE
                       │
                       ↓
                    IMPACT
                       │
                       ↓
                 SIGNIFICANCE

Dan semuanya berada di dalam satu ruang:

THREE


🌱 FASE PERJALANANKU

Saya bahkan akan membaginya menjadi 5 fase besar:

PHASE 1 — FIND ME

Who am I?

Mengenal diri, value, kekuatan, dan purpose.

PHASE 2 — FIND MY PEOPLE

Who can I grow with?

Membangun connection, trust, community.

PHASE 3 — BUILD VALUE

What can I create?

Menciptakan value melalui bisnis, pelayanan, dan kontribusi.

PHASE 4 — MULTIPLY

Who can grow because of me?

Leadership, mentoring, team, duplication.

PHASE 5 — MATTER

What difference will I leave?

Impact.

Contribution.

Legacy.


❤️ BENANG MERAH PALING PERSONAL

Kalau saya rangkum perjalanan Anda di THREE menjadi satu narasi, saya akan menuliskannya seperti ini:

Saya datang ke THREE mungkin dengan sebuah tujuan.
Tetapi saya bertahan karena menemukan sebuah perjalanan.

Saya belajar bahwa bisnis bukan hanya tentang transaksi.

Ia tentang transformasi.

Saya belajar bahwa leadership bukan hanya tentang memimpin orang lain.

Ia dimulai dari memimpin diri sendiri.

Saya belajar bahwa network bukan tentang berapa banyak orang yang saya kenal.

Tetapi tentang berapa banyak hubungan yang mampu saya bangun dengan tulus.

Saya belajar bahwa success bukan hanya tentang apa yang saya dapatkan.

Tetapi tentang apa yang dapat saya berikan.

Dan semakin jauh perjalanan ini, saya semakin memahami:

THREE bukan hanya tempat saya membangun bisnis.

THREE adalah tempat saya membangun diri, membangun hubungan, membangun value, dan perlahan membangun significance.


🧭 MY THREE COMPASS

Dan kalau seluruh perjalanan ini dijadikan satu kompas:

NORTH — PURPOSE

Mengapa saya melakukan ini?

EAST — PEOPLE

Dengan siapa saya bertumbuh?

SOUTH — ACTION

Apa yang saya bangun?

WEST — LEARNING

Apa yang saya pelajari?

CENTER — VALUE

Apa nilai yang saya ciptakan?

Dan tujuan akhirnya:

SIGNIFICANCE


ONE LINE STORY

“My journey in THREE is not about going from where I am to where I want to be. It is about becoming the person who can create the value, build the relationships, and make the impact that I am meant to create.”


“Perjalanan saya di THREE bukan sekadar perjalanan menuju keberhasilan. Ini adalah perjalanan menjadi pribadi yang mampu menciptakan value, membangun hubungan, mengembangkan orang lain, dan meninggalkan dampak yang berarti.”

THREE

Where I Find Myself.
Where I Build My Value.
Where I Grow With Others.
Where I Create Impact.
Where Success Becomes Significance.

Bagaimana manusia membangun dirinya, berpikir lebih jernih, menciptakan nilai, membangun organisasi, menghadapi perubahan, dan akhirnya memberikan dampak yang lebih besar.

Bukan sekadar tentang menjadi sukses.

Tetapi tentang:

BECOMING → CREATING → BUILDING → SCALING → MATTERING


1. START WITH SELF — BANGUN DIRI

Perjalanan selalu dimulai dari manusia.

Leonardo da Vinci mengajarkan curiosity.

Poor Charlie’s Almanack mengajarkan mental models.

Principles mengajarkan refleksi, kejujuran terhadap realitas, dan prinsip hidup.

Tao Te Ching mengajarkan keseimbangan, kesederhanaan, dan kemampuan untuk tidak selalu memaksakan diri.

Nonviolent Communication mengajarkan kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan hubungan manusia.

Benang merahnya:

Sebelum membangun sesuatu di luar diri, kita harus membangun cara berpikir di dalam diri.

Karena kualitas keputusan kita tidak akan jauh dari kualitas cara kita melihat dunia.


2. SEE DIFFERENTLY — LIHAT DUNIA DENGAN CARA BERBEDA

Setelah membangun diri, tahap berikutnya adalah:

melihat.

Leonardo da Vinci tidak hanya melihat objek.

Ia mengamati.

Ia bertanya.

Ia menghubungkan berbagai disiplin.

Zero to One bertanya:

Apa yang belum dilihat orang lain?

Alchemy menunjukkan bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan secara rasional; emosi, persepsi, dan konteks dapat mengubah perilaku.

Poor Charlie mengajarkan kita menggunakan berbagai mental models untuk memahami dunia.

Jadi:

Inovasi dimulai bukan ketika kita memiliki jawaban, tetapi ketika kita berani mengajukan pertanyaan yang berbeda.


3. CREATE — DARI 0 KE 1

Di sinilah Zero to One menjadi pusat.

Jangan hanya meniru.

Jangan hanya mengikuti tren.

Jangan hanya bertanya:

“Apa yang sudah berhasil?”

Tanyakan:

“Apa yang belum ada?”

Dari:

0 → 1

Kita menciptakan sesuatu.

Ide menjadi produk.

Masalah menjadi solusi.

Pengalaman menjadi inovasi.

Pengetahuan menjadi karya.

Ini adalah titik ketika seseorang berhenti menjadi sekadar consumer dan mulai menjadi:

CREATOR.


4. BUILD — JANGAN HANYA PUNYA IDE

Tetapi ide saja tidak cukup.

Rework mengingatkan kita untuk berhenti terlalu banyak merencanakan dan mulai membangun.

High Output Management membawa kita pada pertanyaan:

Bagaimana membuat tim menghasilkan output terbaik?

The Outsiders menunjukkan pentingnya disiplin dalam alokasi sumber daya dan pengambilan keputusan.

Jadi setelah:

IDE

harus ada:

EXECUTION.

Karena:

Ide tanpa eksekusi hanyalah kemungkinan.


5. MEASURE — APAKAH KITA BENAR-BENAR BERGERAK?

Di sinilah Measure What Matters menjadi penting.

Kita tidak cukup berkata:

“Kita sudah bekerja keras.”

Pertanyaannya:

“Apa hasilnya?”

Kita membutuhkan:

Objective → Key Results → Measurement → Feedback.

Dengan kata lain:

Apa yang kita ukur akan membantu menentukan apa yang kita perhatikan.

Namun pengukuran bukan tujuan akhir.

Measurement adalah alat untuk memastikan bahwa aktivitas kita benar-benar menghasilkan kemajuan.


6. PRINCIPLES — BANGUN SISTEM UNTUK MENGAMBIL KEPUTUSAN

Ketika organisasi semakin besar, keputusan semakin kompleks.

Kita tidak bisa mengandalkan intuisi semata.

Principles mengajarkan bahwa pengalaman harus diubah menjadi prinsip.

Kesalahan menjadi pembelajaran.

Pembelajaran menjadi aturan.

Aturan menjadi sistem.

Sistem membantu kita mengambil keputusan berikutnya dengan lebih baik.

Maka perjalanan:

Experience → Reflection → Principle → Decision → Learning

menjadi siklus pertumbuhan.


7. PEOPLE — BISNIS PADA AKHIRNYA ADALAH TENTANG MANUSIA

Di sinilah Nonviolent Communication, High Output Management, dan pemikiran tentang leadership bertemu.

Tidak ada organisasi hebat tanpa manusia yang mampu:

berkomunikasi,

percaya,

berkolaborasi,

memberi feedback,

dan

bertumbuh bersama.

Leader bukan hanya mengatur pekerjaan.

Leader membangun kondisi agar orang lain dapat menghasilkan yang terbaik.

Jadi:

Leadership bukan tentang menjadi orang paling penting di ruangan. Leadership adalah membuat orang lain mampu menjadi versi terbaik dirinya.


8. REWORK — SIMPLIFY

Salah satu benang merah yang menarik adalah:

jangan membuat sesuatu lebih rumit daripada yang diperlukan.

Rework mengkritik kompleksitas yang tidak perlu.

Tao Te Ching berbicara tentang kesederhanaan.

High Output Management berbicara tentang leverage.

Zero to One berbicara tentang fokus pada pasar dan keunggulan.

Semuanya bertemu pada satu prinsip:

FOCUS.

Tidak semua hal harus dilakukan.

Tidak semua peluang harus dikejar.

Tidak semua masalah harus diselesaikan sekaligus.

Kadang-kadang pertumbuhan datang bukan karena kita menambahkan lebih banyak.

Tetapi karena kita:

menghilangkan yang tidak penting.


9. SCALE — DARI SATU MENJADI BANYAK

Setelah sesuatu terbukti berhasil, muncul pertanyaan berikutnya:

Bagaimana membawa nilai ini kepada lebih banyak orang?

Inilah wilayah Blitzscaling dan Scale.

Dari:

1 → n

Namun scaling bukan sekadar memperbesar.

Semakin besar organisasi, semakin kompleks sistemnya.

Maka diperlukan:

structure,

process,

culture,

technology,

leadership,

dan

capital allocation.


10. SCALE TANPA KEHILANGAN JIWA

Di sinilah terdapat tantangan besar.

Ketika organisasi tumbuh, ada risiko:

kecepatan mengalahkan kualitas.

proses mengalahkan manusia.

angka mengalahkan makna.

pertumbuhan mengalahkan purpose.

Karena itu, scale harus tetap terhubung dengan:

VALUES.

Besar bukan berarti berhasil.

Cepat bukan berarti benar.

Banyak bukan berarti bermakna.

Pertanyaan akhirnya:

Apa yang sedang kita besarkan?


11. ONLY THE PARANOID SURVIVE — DUNIA TERUS BERUBAH

Setelah organisasi berhasil dibangun dan diperbesar, muncul ancaman baru:

perubahan.

Inilah pelajaran Andrew Grove.

Kesuksesan hari ini dapat menjadi jebakan hari esok.

Teknologi berubah.

Pelanggan berubah.

Kompetitor berubah.

Regulasi berubah.

Maka organisasi harus memiliki:

ADAPTABILITY.

Jangan hanya bertanya:

“Apa yang membuat kita sukses?”

Tetapi:

“Apa yang bisa membuat kita tidak relevan?”

Ini adalah healthy paranoia.


12. READ WRITE OWN — JANGAN HANYA MENJADI PENGGUNA

Pemikiran Chris Dixon – Read Write Own memperluas perspektif ini ke era internet.

Internet bukan hanya tempat untuk:

membaca.

Kemudian menjadi tempat untuk:

menulis.

Dan generasi berikutnya dapat menjadi tempat untuk:

memiliki.

Benang merahnya:

Jangan hanya menjadi pengguna sistem. Jadilah pencipta dan pemilik nilai di dalam sistem.

Ini sangat dekat dengan semangat Zero to One.

Dari:

consumer

menjadi:

creator

kemudian:

owner.


13. THE OUTSIDERS — THINK LIKE AN OWNER

William Thorndike menyoroti CEO yang mampu mengalokasikan sumber daya secara luar biasa.

Ini mengajarkan satu prinsip:

Pemimpin harus berpikir seperti owner.

Bukan hanya:

“Bagaimana meningkatkan revenue?”

Tetapi:

“Di mana sumber daya ini menghasilkan return terbaik?”

Waktu.

Uang.

Talenta.

Perhatian.

Energi.

Semua adalah sumber daya terbatas.

Leader harus mampu mengalokasikannya dengan disiplin.


14. ALCHEMY — ANGKA TIDAK SELALU MENJELASKAN MANUSIA

Namun manusia bukan spreadsheet.

Itulah kontribusi penting Alchemy.

Orang tidak selalu membeli berdasarkan logika.

Mereka membeli berdasarkan:

meaning,

emotion,

identity,

story,

dan

perception.

Karena itu bisnis yang hebat harus memahami dua dunia:

RATIONAL

Data.

Angka.

Efisiensi.

Performance.

dan:

EMOTIONAL

Meaning.

Connection.

Trust.

Story.

Identity.


15. MATTERING — DARI SUCCESS KE SIGNIFICANCE

Dan di sinilah seluruh perjalanan menjadi semakin dalam.

Kita bisa:

membangun perusahaan,

menghasilkan uang,

memiliki jabatan,

memiliki pengaruh,

mencapai target.

Tetapi masih bertanya:

“Apakah semua ini benar-benar berarti?”

Konsep Mattering membawa kita dari:

achievement

menuju:

significance.

Bukan hanya:

“Saya berhasil.”

Tetapi:

“Kehadiran saya membuat sesuatu menjadi lebih baik.”


16. DARI SELF → SIGNIFICANCE

Jika seluruh buku tersebut dirangkai menjadi satu perjalanan, saya melihat struktur besarnya seperti ini:

STAGE 1 — SELF

Who am I?

Bangun kesadaran.

Bangun prinsip.

Bangun curiosity.

Bangun mental models.


STAGE 2 — SEE

What do I see?

Amati dunia.

Temukan masalah.

Cari pola.

Temukan secret.


STAGE 3 — CREATE

What can I create?

0 → 1.

Ciptakan sesuatu yang baru.


STAGE 4 — BUILD

How do I make it real?

Execution.

Team.

System.

Culture.


STAGE 5 — MEASURE

Is it working?

Metrics.

Feedback.

Learning.

Improvement.


STAGE 6 — SCALE

How can it reach more people?

1 → n.

Leverage.

Technology.

Organization.

Capital.


STAGE 7 — ADAPT

What is changing?

Strategic inflection.

Innovation.

Reinvention.

Resilience.


STAGE 8 — IMPACT

Why does it matter?

Value.

Contribution.

Connection.

Significance.


17. SATU KALIMAT YANG MERANGKUM SEMUANYA

Jika harus dibuat menjadi satu kalimat:

“Bangun diri dengan prinsip, lihat dunia dengan rasa ingin tahu, ciptakan sesuatu yang baru, bangun dengan disiplin, ukur apa yang penting, skalakan dengan bijak, beradaptasi terhadap perubahan, dan pastikan pertumbuhan akhirnya menghasilkan dampak yang bermakna.”


18. COMPASS VALUE

Saya bahkan akan menjadikan seluruh kumpulan buku ini sebagai sebuah COMPASS:

🧭 NORTH — PURPOSE

Mengapa kita melakukan ini?

🧭 EAST — CREATION

Apa yang dapat kita ciptakan?

🧭 SOUTH — EXECUTION

Apa yang harus kita lakukan?

🧭 WEST — REFLECTION

Apa yang kita pelajari?

Dan di tengahnya:

VALUE

Karena semua arah akhirnya kembali kepada satu pertanyaan:

“Nilai apa yang kita ciptakan untuk diri sendiri, orang lain, organisasi, dan dunia?”


19. BENANG MERAH TERDALAM

Kalau ditarik lebih dalam lagi, buku-buku tersebut sebenarnya bukan sekadar kumpulan business books.

Mereka membentuk sebuah filosofi kehidupan:

Think deeply.

Berpikirlah mendalam.

See differently.

Lihatlah secara berbeda.

Create boldly.

Ciptakan dengan berani.

Build deliberately.

Bangun dengan sengaja.

Measure honestly.

Ukur dengan jujur.

Lead humanely.

Pimpin dengan manusiawi.

Adapt continuously.

Beradaptasilah terus-menerus.

Scale responsibly.

Bertumbuh dengan tanggung jawab.

Create meaningfully.

Ciptakan sesuatu yang bermakna.


FROM SUCCESS TO SIGNIFICANCE

Dan mungkin inilah benang merah paling besar dari seluruh perjalanan ini:

Kita mulai dengan bertanya:

“Bagaimana saya bisa berhasil?”

Kemudian pertanyaannya berubah:

“Bagaimana saya bisa menciptakan nilai?”

Lalu:

“Bagaimana saya bisa membantu orang lain bertumbuh?”

Dan akhirnya:

“Apa yang akan tetap berarti setelah saya tidak lagi berada di sini?”

Itulah perjalanan:

FROM SELF

TO VALUE

TO CREATION

TO BUSINESS

TO LEADERSHIP

TO SCALE

TO IMPACT

TO SIGNIFICANCE

Dan pada titik itu, kita tidak lagi hanya membangun bisnis.

Kita sedang membangun:

legacy.

Bukan seberapa banyak yang kita miliki.

Bukan seberapa tinggi kita berdiri.

Tetapi seberapa banyak nilai yang tercipta karena kita pernah hadir.

THINK. CREATE. BUILD. SCALE. ADAPT. MATTER.

Itulah benang merahnya.

From Self to Significance [ PART 1]

 

  DARI MENCARI KESEHATAN MENUJU MENEMUKAN KEBERMAKNAAN


Jika saya melihat kembali perjalanan saya bersama THREE International DARI FEB 2024, saya menyadari bahwa perjalanan ini sebenarnya tidak pernah hanya tentang bisnis.

Tidak hanya tentang produk.

Tidak hanya tentang bonus.

Tidak hanya tentang angka.

Tidak hanya tentang membangun jaringan.

Perjalanan ini dimulai dari sesuatu yang jauh lebih personal:

keinginan untuk menjadi lebih baik.

Lebih sehat.

Lebih berenergi.

Lebih sadar terhadap tubuh.

Lebih mampu menjaga diri.

Dan tanpa saya sadari, perjalanan untuk memperbaiki diri itu perlahan berubah menjadi perjalanan untuk membantu orang lain.

Dari self-care menuju shared care.

Dari personal wellness menuju community wellness.

Dari consumer menjadi contributor.

Dari sekadar mencari manfaat menjadi berusaha menciptakan manfaat.

Dan ketika saya mencoba menarik benang merah dari perjalanan saya—dari mengenal wellness, menggunakan produk, merasakan perubahan, membagikan pengalaman, membangun komunitas, hingga mengembangkan bisnis—saya menemukan bahwa perjalanan saya di THREE sangat selaras dengan satu perjalanan manusia yang lebih besar:

MEANING → CONNECTION → PURPOSE → CONTRIBUTION → LEGACY

Mungkin itulah yang membuat perjalanan ini begitu berarti bagi saya.

Karena pada akhirnya, saya tidak merasa sedang sekadar membangun sebuah bisnis.

Saya sedang membangun sebuah perjalanan kehidupan.


1. MATTERING — Ketika Saya Menyadari Bahwa Diri Saya Juga Penting

Perjalanan saya dimulai dari diri sendiri.

Dan mungkin inilah titik awal yang sering kita lupakan sebagai perempuan, sebagai profesional, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai pemimpin, atau sebagai seseorang yang memiliki begitu banyak tanggung jawab.

Kita terbiasa menjaga banyak orang.

Menyelesaikan banyak pekerjaan.

Memenuhi banyak harapan.

Menjadi kuat untuk keluarga.

Bertanggung jawab di tempat kerja.

Mendukung orang lain.

Namun terkadang kita lupa bertanya:

“Bagaimana dengan saya?”

Apakah saya cukup menjaga tubuh saya?

Apakah saya mendengarkan apa yang dibutuhkan tubuh saya?

Apakah saya memberikan energi, nutrisi, istirahat, dan perhatian yang cukup kepada diri sendiri?

Atau saya hanya terus berjalan sampai suatu hari tubuh meminta saya berhenti?

Bagi saya, mengenal dunia wellness membawa sebuah kesadaran sederhana:

Merawat diri bukan berarti egois.

Merawat diri adalah bentuk tanggung jawab.

Karena tubuh adalah kendaraan yang membawa kita menjalani seluruh perjalanan hidup.

Jika tubuh kehilangan energi, kita sulit memberikan energi kepada orang lain.

Jika kita terus-menerus kelelahan, sulit bagi kita untuk hadir sepenuhnya.

Jika kita mengabaikan diri sendiri, suatu saat tubuh mungkin meminta perhatian dengan caranya sendiri.

Di sinilah perjalanan saya bersama THREE dimulai.

Bukan dari pertanyaan:

“Berapa banyak uang yang bisa saya hasilkan?”

Tetapi dari pertanyaan:

“Bagaimana saya bisa menjadi versi diri yang lebih sehat dan lebih baik?”

Saya mulai belajar.

Saya mulai mencoba.

Saya mulai membangun rutinitas.

Saya mulai lebih memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh.

Saya mulai memahami bahwa wellness bukan sebuah tujuan yang dicapai sekali.

Wellness adalah sebuah perjalanan.

Setiap hari.

Setiap pilihan.

Setiap kebiasaan.

Setiap keputusan kecil.

Dan ketika saya mulai merasakan manfaat dari perubahan-perubahan kecil tersebut, saya menemukan sesuatu yang sangat penting:

Seseorang akan lebih mudah membagikan sesuatu ketika ia terlebih dahulu merasakan maknanya.

Saya tidak ingin hanya berbicara tentang kesehatan.

Saya ingin menjalani perjalanan kesehatan itu sendiri.

Saya tidak ingin hanya menjual konsep wellness.

Saya ingin memahami bagaimana wellness dapat menjadi bagian dari kehidupan nyata.

Di situlah saya menemukan mattering.

Bahwa saya juga penting.

Kesehatan saya penting.

Energi saya penting.

Masa depan saya penting.

Dan ketika seseorang mulai percaya bahwa dirinya berharga, ia mulai mengambil keputusan yang berbeda.

“I matter. Therefore, I take care of myself.”

Dan dari titik itulah perjalanan saya dimulai.


2. WELLNESS — Ketika Perubahan Kecil Mulai Menjadi Cerita

Tidak ada perjalanan besar yang benar-benar dimulai dengan sesuatu yang besar.

Sering kali semuanya dimulai dari langkah kecil.

Satu kebiasaan.

Satu keputusan.

Satu produk yang dicoba.

Satu rutinitas yang dilakukan.

Satu hari ketika kita memutuskan:

“Saya ingin lebih memperhatikan diri saya.”

Selama perjalanan saya, saya mulai memahami bahwa kesehatan bukan hanya tentang satu produk atau satu solusi.

Wellness adalah sebuah ekosistem.

Ada nutrisi.

Ada aktivitas fisik.

Ada tidur.

Ada manajemen stres.

Ada perawatan diri.

Ada hubungan.

Ada lingkungan.

Dan ada konsistensi.

Produk dapat menjadi bagian dari perjalanan.

Tetapi kehidupan sehari-hari tetap menjadi fondasinya.

Karena itu, bagi saya, perjalanan bersama THREE bukan sekadar tentang apa yang saya konsumsi.

Tetapi juga tentang bagaimana saya mulai membangun awareness.

Saya belajar untuk lebih sadar.

Lebih memperhatikan tubuh.

Lebih memahami energi.

Lebih menghargai proses.

Lebih konsisten.

Dan semakin lama saya menjalani perjalanan ini, semakin saya memahami:

Wellness bukan tentang menjadi sempurna. Wellness adalah tentang menjadi lebih sadar.

Tidak semua hari sempurna.

Tidak semua rutinitas selalu berhasil.

Kadang kita sibuk.

Kadang kita lelah.

Kadang jadwal pekerjaan sangat padat.

Kadang perjalanan dinas membuat rutinitas berubah.

Namun wellness bukan tentang kesempurnaan.

Ia tentang kemampuan untuk kembali.

Kembali ke kebiasaan baik.

Kembali memperhatikan tubuh.

Kembali membangun keseimbangan.

Dan justru dari perjalanan nyata inilah cerita mulai terbentuk.

Karena orang tidak selalu membutuhkan seseorang yang sempurna.

Mereka membutuhkan seseorang yang real.

Seseorang yang bisa berkata:

“Saya juga sedang belajar.”

“Saya juga sedang berproses.”

“Saya juga tidak sempurna.”

“Tetapi saya menemukan sesuatu yang membantu perjalanan saya.”

Dan dari situlah pengalaman pribadi mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih besar:

a story worth sharing.

 

3. CONNECTION — Ketika Saya Menyadari Bahwa Perjalanan Akan Lebih Indah Jika Dilakukan Bersama

Ada satu hal yang sangat saya syukuri dari perjalanan di THREE:

saya tidak berjalan sendirian.

Pada awalnya, wellness mungkin merupakan perjalanan personal.

Saya menggunakan produk.

Saya membangun kebiasaan.

Saya memperhatikan kesehatan.

Saya mencoba memahami tubuh.

Namun kemudian sesuatu yang indah terjadi.

Saya mulai bertemu orang-orang yang memiliki pertanyaan yang sama.

Mereka juga ingin hidup lebih sehat.

Mereka juga ingin memiliki lebih banyak energi.

Mereka juga ingin belajar.

Mereka juga sedang mencari solusi.

Mereka juga ingin berubah.

Dan di sinilah perjalanan yang awalnya:

“Saya ingin sehat.”

perlahan berubah menjadi:

“Mari kita sehat bersama.”

Inilah kekuatan komunitas.

Karena manusia tidak hanya membutuhkan informasi.

Kita membutuhkan dukungan.

Kita membutuhkan teman perjalanan.

Kita membutuhkan seseorang yang mengingatkan kita ketika kita mulai menyerah.

Kita membutuhkan lingkungan yang mengatakan:

“Kamu bisa.”

“Kita lakukan bersama.”

“Kamu tidak sendirian.”

Komunitas wellness bagi saya bukan sekadar kumpulan orang yang menggunakan produk yang sama.

Komunitas yang sehat adalah tempat di mana orang dapat:

  • belajar;
  • bertumbuh;
  • berbagi pengalaman;
  • saling mendukung;
  • saling mengingatkan;
  • merayakan kemajuan;
  • dan membantu satu sama lain bangkit.

Dari sinilah saya melihat kekuatan connection.

Karena kesehatan tidak hanya bersifat biologis.

Manusia juga membutuhkan koneksi.

Kita membutuhkan rasa memiliki.

Kita membutuhkan belonging.

Dan semakin perjalanan saya berkembang, saya mulai memahami bahwa salah satu kebahagiaan terbesar bukan hanya ketika saya melihat perubahan pada diri sendiri.

Tetapi ketika seseorang berkata:

“Terima kasih, saya jadi lebih termotivasi.”

“Saya jadi mulai memperhatikan kesehatan saya.”

“Saya belajar sesuatu dari perjalananmu.”

“Saya senang punya komunitas yang mendukung.”

Di titik itu, perjalanan saya tidak lagi hanya tentang me.

Ia mulai menjadi tentang we.


4. DARI CUSTOMER MENJADI STORYTELLER

Saya percaya bahwa bisnis modern bukan hanya tentang transaksi.

Bisnis modern adalah tentang trust.

Dan kepercayaan tidak dapat dibangun hanya dengan promosi.

Kepercayaan dibangun melalui:

  • pengalaman;
  • konsistensi;
  • transparansi;
  • hubungan;
  • dan cerita yang autentik.

Karena itu, perjalanan saya di THREE berkembang bukan hanya sebagai perjalanan bisnis.

Ia menjadi perjalanan storytelling.

Saya mulai membagikan apa yang saya pelajari.

Tentang wellness.

Tentang kebiasaan.

Tentang pentingnya menjaga energi.

Tentang konsistensi.

Tentang perjalanan hidup.

Tentang tantangan.

Tentang proses menjadi lebih baik.

Saya tidak ingin sekadar mengatakan:

“Ini produk yang bagus.”

Saya ingin berbicara lebih dalam:

“Apa arti sehat bagi kehidupan kita?”

Karena bagi seseorang yang memiliki keluarga, kesehatan berarti bisa hadir lebih lama.

Bagi seorang profesional, kesehatan berarti memiliki energi untuk berkarya.

Bagi seorang ibu, kesehatan berarti dapat merawat keluarga.

Bagi seorang pemimpin, kesehatan berarti memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan.

Bagi seseorang yang sedang memasuki fase kehidupan baru, kesehatan berarti menjaga kualitas hidup.

Dan bagi saya pribadi:

kesehatan adalah modal untuk menjalani misi kehidupan.

Saya memiliki banyak impian.

Saya memiliki pekerjaan.

Saya memiliki tanggung jawab.

Saya memiliki komunitas.

Saya memiliki keluarga.

Saya memiliki cita-cita untuk terus belajar dan memberikan kontribusi.

Semua itu membutuhkan satu hal:

ENERGY.

Dan karena itulah wellness memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar penampilan.

Wellness adalah tentang:

Having the energy to live your purpose.


5. PURPOSE — Ketika Bisnis Tidak Lagi Hanya Tentang UANG

Saya percaya tidak ada yang salah dengan menghasilkan uang.

Bisnis membutuhkan keuntungan.

Keluarga membutuhkan keamanan finansial.

Masa depan membutuhkan perencanaan.

Kemandirian ekonomi adalah sesuatu yang penting.

Namun perjalanan saya mengajarkan satu hal:

Uang yang memiliki makna biasanya datang dari nilai yang kita ciptakan.

Pertanyaan saya kemudian berubah.

Bukan hanya:

“Bagaimana saya mendapatkan hasil?”

Tetapi:

“Bagaimana saya memberikan value?”

Bagaimana saya membantu seseorang memahami sesuatu?

Bagaimana saya membantu seseorang memulai kebiasaan yang lebih baik?

Bagaimana saya membangun komunitas yang positif?

Bagaimana saya membantu orang lain bertumbuh?

Bagaimana saya menciptakan peluang?

Di sinilah saya mulai melihat bisnis dengan perspektif yang berbeda.

Bisnis bukan hanya:

PRODUCT → TRANSACTION → PROFIT

Tetapi bisa menjadi:

VALUE → TRUST → RELATIONSHIP → IMPACT → SUSTAINABLE BUSINESS

Saya mulai menyadari bahwa bisnis terbaik adalah bisnis yang menciptakan hubungan jangka panjang.

Bukan memaksa orang membeli.

Bukan mengejar angka dengan mengorbankan kepercayaan.

Tetapi membangun:

credibility.

Saya ingin orang mengenal saya bukan hanya karena apa yang saya tawarkan.

Tetapi karena apa yang saya perjuangkan.

Saya ingin perjalanan saya mencerminkan nilai:

  • integritas;
  • edukasi;
  • konsistensi;
  • kepedulian;
  • pertumbuhan;
  • dan kontribusi.

Karena pada akhirnya, reputasi adalah aset terbesar dalam bisnis berbasis manusia.

Dan reputasi dibangun jauh lebih lambat daripada sebuah penjualan.


6. FROM SUCCESS TO SIGNIFICANCE

Ada masa ketika kita mengejar pencapaian.

Target.

Angka.

Peringkat.

Level.

Recognition.

Dan semua itu dapat menjadi bagian dari perjalanan.

Tidak ada yang salah dengan memiliki target.

Target memberikan arah.

Target mendorong disiplin.

Target membantu kita mengukur kemajuan.

Saya sendiri percaya bahwa mimpi harus memiliki angka.

Karena mimpi tanpa tindakan hanya menjadi harapan.

Namun semakin saya bertumbuh, saya menemukan pertanyaan yang lebih besar:

“Setelah mencapai angka itu, lalu apa?”

Setelah mendapatkan level, lalu apa?

Setelah mendapatkan bonus, lalu apa?

Setelah memiliki jaringan besar, lalu apa?

Pertanyaan inilah yang membawa saya dari success menuju significance.

Sukses adalah ketika kita mencapai sesuatu.

Significance adalah ketika keberadaan kita membantu orang lain mencapai sesuatu.

Sukses mungkin berkata:

“Look what I achieved.”

Significance berkata:

“Look how many people we helped grow.”

Inilah perubahan terbesar dalam perjalanan bisnis saya.

Saya tidak ingin hanya membangun income.

Saya ingin membantu membangun impact.

Saya tidak ingin hanya menjadi seseorang yang berhasil.

Saya ingin menjadi seseorang yang dapat membantu orang lain melihat bahwa mereka juga memiliki potensi.


7. COACHING — Ketika Saya Menemukan Kebahagiaan dalam Melihat Orang Lain Bertumbuh

Salah satu tahap paling indah dalam sebuah perjalanan kepemimpinan adalah ketika kita menyadari bahwa kemenangan pribadi tidak lagi cukup.

Ada kebahagiaan yang berbeda ketika kita melihat orang lain berhasil.

Ketika seseorang yang dulu ragu mulai percaya diri.

Ketika seseorang yang tidak memahami sesuatu mulai belajar.

Ketika seseorang yang takut berbicara mulai berani berbagi.

Ketika seseorang yang merasa tidak mampu mulai menyadari potensinya.

Di situlah kita mulai bergerak dari:

DOING

menjadi

DEVELOPING PEOPLE.

Dalam bisnis berbasis komunitas, leadership bukan hanya tentang memimpin orang.

Leadership adalah tentang memberdayakan orang.

Pemimpin yang baik tidak menciptakan ketergantungan.

Pemimpin membantu orang menjadi lebih mandiri.

Saya tidak ingin membangun orang yang selalu menunggu instruksi.

Saya ingin membangun orang yang mampu berpikir.

Mampu belajar.

Mampu mengambil tanggung jawab.

Mampu membantu orang lain.

Karena sebuah komunitas akan benar-benar bertumbuh ketika pengetahuan tidak berhenti pada satu orang.

Tetapi mengalir.

Dari satu orang kepada orang lain.

Dari satu pengalaman kepada pengalaman lain.

Dari satu pemimpin kepada pemimpin berikutnya.

Itulah mengapa coaching memiliki tempat penting dalam perjalanan saya.

Saya percaya:

The true measure of leadership is not how many people follow you, but how many people grow because of you.


8. BRIGHT SQUAD — Ketika Sebuah Komunitas Menjadi Lebih Besar daripada Bisnis

Salah satu makna terbesar dalam perjalanan saya adalah melihat komunitas bertumbuh.

Nama, angka, dan struktur memang penting dalam organisasi.

Namun bagi saya, yang jauh lebih penting adalah:

bagaimana rasanya menjadi bagian dari komunitas tersebut.

Apakah orang merasa diterima?

Apakah mereka merasa didengar?

Apakah mereka memiliki ruang untuk belajar?

Apakah mereka didukung?

Apakah mereka dapat berkembang?

Apakah mereka merasa keberadaannya berarti?

Karena di sinilah perjalanan THREE saya kembali bertemu dengan konsep Mattering.

Saya ingin setiap orang tidak hanya merasa:

“Saya punya leader.”

Tetapi juga:

“Saya dilihat.”

“Saya memiliki potensi.”

“Saya bisa bertumbuh.”

“Saya punya tempat.”

Sebuah komunitas yang kuat tidak dibangun hanya oleh motivasi.

Ia dibangun oleh budaya.

Budaya untuk:

  • belajar;
  • menghargai;
  • bertanggung jawab;
  • saling mendukung;
  • dan terus berkembang.

Saya percaya Bright Squad bukan hanya tentang siapa yang berada di atas atau siapa yang berada di bawah.

Tetapi tentang bagaimana kita berjalan bersama.

Karena perjalanan yang panjang membutuhkan lebih dari kecepatan.

Ia membutuhkan:

connection.


9. THE SUBLIME — Ketika Saya Menyadari Bahwa Saya Hanya Bagian Kecil dari Sesuatu yang Lebih Besar

Semakin lama saya menjalani kehidupan, semakin saya menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar membangun sesuatu sendirian.

Ada keluarga yang mendukung.

Ada teman yang membantu.

Ada mentor yang mengajarkan.

Ada tim yang bekerja.

Ada orang-orang yang percaya.

Ada waktu.

Ada kesempatan.

Ada keberuntungan.

Ada konteks kehidupan yang tidak semuanya dapat kita kendalikan.

Kesadaran ini membawa saya kepada kerendahan hati.

Apa pun pencapaian kita, kita tetap bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Saya mungkin dapat memimpin.

Tetapi saya membutuhkan tim.

Saya mungkin dapat mengajarkan.

Tetapi saya juga terus belajar.

Saya mungkin dapat membantu orang lain.

Tetapi dalam banyak kesempatan, justru orang lainlah yang membantu saya bertumbuh.

Dan dari sini saya belajar:

Leadership without humility eventually becomes ego.

Bisnis tanpa nilai dapat kehilangan arah.

Keberhasilan tanpa rasa syukur dapat menjadi kesombongan.

Dan pertumbuhan tanpa kesadaran dapat menjadi kehilangan.

Karena itu, semakin perjalanan saya berkembang, semakin saya ingin tetap mengingat:

Saya bukan pusat dari semuanya.

Saya hanya diberikan kesempatan untuk berkontribusi.

Dan kesempatan itu adalah sesuatu yang harus digunakan dengan baik.


10. PROFITS — Ya, Bisnis Juga Harus Menghasilkan

Saya percaya kita tidak perlu malu berbicara tentang profit.

Profit adalah bagian dari keberlanjutan.

Sebuah bisnis yang tidak sehat secara ekonomi sulit bertahan.

Seorang perempuan yang memiliki kemandirian finansial memiliki lebih banyak pilihan.

Seorang entrepreneur membutuhkan kemampuan mengelola sumber daya.

Sebuah komunitas membutuhkan sistem yang dapat menopang pertumbuhannya.

Karena itu, perjalanan saya di THREE juga merupakan perjalanan belajar tentang:

  • entrepreneurship;
  • leadership;
  • sales;
  • communication;
  • personal branding;
  • financial discipline;
  • team building;
  • dan digital community.

Namun saya ingin membangun bisnis dengan prinsip:

Profit is important, but trust is priceless.

Keuntungan dapat dihitung.

Tetapi kepercayaan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun.

Satu keputusan yang tidak bijaksana dapat merusaknya.

Karena itu, saya ingin bisnis saya bertumbuh bersama nilai.

Prosperity with integrity.

Pertumbuhan dengan tanggung jawab.

Ambisi dengan etika.

Keberhasilan dengan kepedulian.


11. DARI SELF-CARE MENUJU SOCIAL IMPACT

Ada satu pertanyaan yang semakin sering muncul dalam diri saya:

“Bagaimana perjalanan bisnis ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas?”

Karena jika wellness hanya berhenti pada diri saya, dampaknya terbatas.

Jika berhenti pada keluarga, dampaknya lebih luas.

Jika berkembang menjadi komunitas, dampaknya semakin besar.

Dan jika komunitas tersebut mampu menciptakan budaya hidup yang lebih sehat, saling mendukung, dan memberikan kontribusi sosial, maka bisnis berubah menjadi sesuatu yang memiliki dimensi lebih besar.

Di sinilah saya melihat sebuah perjalanan:

SELF

Saya merawat diri.

FAMILY

Saya ingin orang-orang terdekat juga lebih sehat.

COMMUNITY

Saya berbagi dan bertumbuh bersama.

BUSINESS

Kami menciptakan nilai dan peluang.

CONTRIBUTION

Kami memberikan manfaat yang lebih luas.

Itulah evolusi yang saya rasakan.

Dan mungkin inilah alasan mengapa perjalanan bisnis menjadi lebih menyenangkan ketika ia memiliki purpose.


12. PERJALANAN SAYA BUKAN GARIS LURUS

Saya tidak ingin menggambarkan perjalanan ini seolah-olah semuanya selalu mudah.

Setiap perjalanan memiliki tantangan.

Ada target yang belum tercapai.

Ada orang yang datang dan pergi.

Ada penolakan.

Ada keraguan.

Ada masa ketika energi tinggi.

Ada masa ketika kita harus kembali mengingat alasan mengapa kita memulai.

Namun justru dari situlah saya belajar tentang anti-fragility.

Bukan hanya bangkit.

Tetapi belajar dari tekanan.

Bukan hanya kembali seperti semula.

Tetapi menjadi lebih baik.

Dalam perjalanan bisnis, penolakan mengajarkan komunikasi.

Kegagalan mengajarkan evaluasi.

Target yang belum tercapai mengajarkan strategi.

Tantangan mengajarkan ketahanan.

Dan perubahan mengajarkan adaptasi.

Saya belajar bahwa bisnis bukan tentang menghindari masalah.

Bisnis adalah tentang:

menjadi pribadi yang semakin mampu menghadapi masalah.


13. 1:1 RULE — BELAJAR DAN MENERAPKAN

Salah satu prinsip yang sangat saya yakini adalah bahwa pertumbuhan tidak cukup hanya dengan belajar.

Kita harus menerapkan.

Kita bisa membaca banyak buku tentang leadership.

Tetapi apakah kita menjadi pemimpin yang lebih baik?

Kita bisa mendengar banyak podcast tentang bisnis.

Tetapi apakah kita melakukan sesuatu yang berbeda?

Kita bisa mengikuti banyak seminar.

Tetapi apakah pengetahuan itu masuk ke dalam kehidupan nyata?

Karena itu, perjalanan saya juga menjadi laboratorium.

Saya belajar.

Kemudian mencoba.

Saya mendapatkan insight.

Kemudian menerapkan.

Saya melihat hasil.

Kemudian mengevaluasi.

Dan dari situ saya belajar lagi.

LEARN → APPLY → REFLECT → IMPROVE

Inilah salah satu alasan mengapa perjalanan bisnis menjadi sangat berharga.

Karena bisnis adalah tempat teori bertemu kenyataan.

Leadership diuji oleh manusia nyata.

Komunikasi diuji oleh hubungan nyata.

Strategi diuji oleh hasil nyata.

Dan karakter diuji ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.


14. MY THREE JOURNEY: FROM PRODUCT TO PURPOSE

Jika saya harus merangkum perjalanan saya di THREE dalam sebuah evolusi, mungkin seperti ini:

LEVEL 1 — PRODUCT

Saya mengenal produk.

Saya mencoba.

Saya belajar.

Saya mengalami perjalanan personal.

LEVEL 2 — WELLNESS

Saya mulai membangun gaya hidup.

Produk bukan satu-satunya fokus.

Saya belajar tentang kebiasaan.

Energi.

Kesehatan.

Konsistensi.

LEVEL 3 — STORY

Saya mulai berbagi pengalaman.

Bukan memaksa.

Tetapi bercerita.

Bukan hanya menjelaskan produk.

Tetapi berbagi perjalanan.

LEVEL 4 — CONNECTION

Saya bertemu komunitas.

Saya belajar bersama.

Bertumbuh bersama.

Membangun hubungan.

LEVEL 5 — BUSINESS

Saya melihat peluang.

Saya belajar membangun value.

Membangun sistem.

Membangun tim.

LEVEL 6 — LEADERSHIP

Saya mulai membantu orang lain bertumbuh.

Bukan hanya mencapai target sendiri.

Tetapi mengembangkan manusia.

LEVEL 7 — CONTRIBUTION

Saya bertanya tentang dampak.

Apa manfaat perjalanan ini bagi orang lain?

Apa yang dapat kami lakukan bersama?

LEVEL 8 — LEGACY

Dan akhirnya:

Apa yang akan tetap hidup setelah perjalanan saya selesai?

Bukan hanya angka.

Tetapi manusia.

Nilai.

Kebiasaan baik.

Kepercayaan.

Komunitas.

Dan kehidupan yang mungkin menjadi sedikit lebih baik karena kita pernah bertemu.


15. FROM SELF TO SIGNIFICANCE — INILAH PERJALANAN SAYA

Jika seluruh perjalanan saya di THREE harus dirangkum dalam satu kalimat, saya akan mengatakan:

Saya datang untuk mencari manfaat bagi diri sendiri, tetapi saya menemukan makna ketika mulai membantu orang lain.

Awalnya saya ingin:

lebih sehat.

Kemudian saya ingin:

berbagi.

Kemudian saya menemukan:

komunitas.

Kemudian saya belajar:

bisnis.

Kemudian saya belajar:

leadership.

Dan sekarang saya semakin memahami:

perjalanan terbesar bukan hanya tentang apa yang kita dapatkan.

Tetapi:

siapa yang kita bantu menjadi lebih baik.


THE 5C OF MY THREE JOURNEY

Saya melihat perjalanan saya bersama THREE melalui lima tahapan:

1. CORE — KNOW MYSELF

Saya memahami bahwa saya penting.

Saya mulai merawat diri.

Menjaga kesehatan.

Membangun energi.

Menjadi lebih sadar.

I MATTER.


2. CONNECTION — CONNECT WITH OTHERS

Saya mulai bertemu orang-orang.

Berbagi pengalaman.

Membangun komunitas.

Belajar bersama.

WE GROW TOGETHER.


3. CONSCIOUSNESS — SEE SOMETHING BIGGER

Saya menyadari bahwa perjalanan ini lebih besar daripada satu orang.

Ada tim.

Ada komunitas.

Ada kehidupan yang dapat disentuh.

I AM PART OF SOMETHING BIGGER.


4. CONTRIBUTION — CREATE VALUE

Saya ingin memberikan manfaat.

Berbagi ilmu.

Membangun orang.

Menciptakan peluang.

Mendorong wellness.

I SERVE BY CREATING VALUE.


5. CONTINUITY — BUILD A LEGACY

Saya ingin apa yang kami bangun dapat terus bertumbuh.

Bukan bergantung pada satu orang.

Tetapi menjadi budaya.

Menjadi komunitas.

Menjadi gerakan.

WHAT WE BUILD CAN CONTINUE.


16. THE BUSINESS COMPASS

Jika perjalanan saya di THREE dijadikan sebuah kompas, maka saya akan menggambarkannya seperti ini:

🧭 NORTH — WELLNESS

Saya menjaga diri agar memiliki energi untuk menjalani hidup.

🧭 EAST — CONNECTION

Saya membangun hubungan dan komunitas.

🧭 SOUTH — GROWTH

Saya terus belajar, berubah, dan berkembang.

🧭 WEST — CONTRIBUTION

Saya menggunakan perjalanan ini untuk memberikan manfaat.

Dan di tengah kompas terdapat:

PURPOSE

Karena purpose adalah alasan mengapa saya terus berjalan.


17. BISNIS SAYA BUKAN HANYA TENTANG THREE

THREE adalah bagian penting dari perjalanan saya.

Namun makna perjalanan ini bagi saya lebih besar daripada sebuah nama bisnis.

Ia mengajarkan saya tentang:

  • kesehatan;
  • disiplin;
  • komunikasi;
  • komunitas;
  • kepemimpinan;
  • entrepreneurship;
  • keberanian;
  • dan kebermaknaan.

Perjalanan ini mengingatkan saya bahwa kita dapat memiliki lebih dari satu identitas.

Saya dapat menjadi seorang profesional.

Saya dapat menjadi seorang pemimpin.

Saya dapat menjadi pembelajar.

Saya dapat menjadi bagian dari komunitas.

Dan saya juga dapat membangun sesuatu yang membantu orang lain.

Kita tidak harus memilih antara:

career atau contribution.

Kita dapat menghubungkan keduanya.

Kita tidak harus memilih antara:

success atau significance.

Kita dapat bertumbuh dalam keduanya.


18. 10 NILAI YANG MENJADI PEGANGAN PERJALANAN SAYA

1. WELLNESS

Tubuh yang sehat adalah fondasi untuk menjalani purpose.

2. MATTERING

Saya percaya setiap orang berharga dan memiliki potensi.

3. CONNECTION

Bisnis terbaik dibangun melalui hubungan.

4. TRUST

Kepercayaan lebih berharga daripada transaksi sesaat.

5. GROWTH

Saya tidak harus sempurna, tetapi saya harus terus belajar.

6. COURAGE

Keberanian dibutuhkan untuk memulai, berubah, dan mencoba.

7. LEADERSHIP

Pemimpin terbaik membantu orang lain menemukan kekuatannya.

8. CONTRIBUTION

Kesuksesan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan.

9. GRATITUDE

Tidak ada perjalanan besar yang dibangun sendirian.

10. LEGACY

Apa yang kita bangun seharusnya membawa manfaat yang dapat terus hidup.


KESIMPULAN: PERJALANAN SAYA MASIH BERLANJUT

Hari ini, ketika saya melihat perjalanan saya bersama THREE, saya tidak melihatnya hanya sebagai sebuah perjalanan bisnis.

Saya melihat sebuah proses transformasi.

Dari:

TAKING CARE OF MYSELF

menjadi:

CARING WITH OTHERS

Dari:

USING A PRODUCT

menjadi:

BUILDING A LIFESTYLE

Dari:

SELLING

menjadi:

SHARING VALUE

Dari:

WORKING ALONE

menjadi:

BUILDING A COMMUNITY

Dari:

ACHIEVING

menjadi:

HELPING OTHERS ACHIEVE

Dari:

SUCCESS

menuju:

SIGNIFICANCE

Dan mungkin inilah pelajaran terbesar dari perjalanan saya:

Kita mungkin memulai sebuah bisnis untuk mengubah kehidupan kita. Tetapi ketika kita menjalankannya dengan nilai, integritas, dan kepedulian, bisnis itu dapat membantu mengubah kehidupan orang lain juga.

Saya memulai perjalanan ini dengan keinginan untuk menjadi lebih baik.

Tetapi semakin jauh saya berjalan, saya menemukan bahwa versi terbaik dari diri kita tidak hanya terlihat dari apa yang kita capai.

Melainkan dari:

berapa banyak orang yang kita bantu,

berapa banyak harapan yang kita hidupkan,

berapa banyak potensi yang kita dorong,

dan

berapa banyak kehidupan yang menjadi sedikit lebih baik karena kita pernah hadir.

MY THREE JOURNEY

ME → WE → PURPOSE → CONTRIBUTION → LEGACY

Dan saya percaya, perjalanan ini belum selesai.

Karena tujuan terbesar bukan hanya menjadi sukses.

Bukan hanya mencapai level berikutnya.

Bukan hanya mengejar angka berikutnya.

Tetapi terus bertanya:

“Bagaimana perjalanan saya dapat memberikan makna yang lebih besar?”

Sebab pada akhirnya, bisnis terbaik bukan hanya bisnis yang menghasilkan keuntungan.

Bisnis terbaik adalah bisnis yang membantu manusia bertumbuh.

Dan bagi saya, itulah makna perjalanan:

FROM WELLNESS TO WEALTH.

FROM SELF TO SERVICE.

FROM SUCCESS TO SIGNIFICANCE.

“Saya memulai perjalanan ini untuk menjadi lebih baik bagi diri saya sendiri. Tetapi perjalanan ini menjadi jauh lebih bermakna ketika saya menyadari bahwa pertumbuhan sejati adalah ketika kita membawa orang lain bertumbuh bersama kita.” 🤍✨

 

Satu Mooncake, Dua Hati, dan Sebuah Rasa Syukur JW MARRIOT

Entah kenapa, kali ini saya merasa seperti sedang ngidam sesuatu. Bukan lapar. Bukan juga sekadar ingin makan makanan manis. Rasanya lebih d...