Tuesday, June 24, 2025

ETOS KERJA MASA KINI

100 Etos Kerja yang disusun dari refleksi lintas generasi (Gen X, Y, Z), tidak hanya menggambarkan prinsip etos kerja klasik, tetapi juga mencerminkan dinamika, gaya kerja, dan nilai-nilai baru dalam dunia kerja modern.

🔹 A. Prinsip Dasar Etos Kerja 

1. Tuntaskan tugas yang dipercayakan.

2. Hargai waktu—datang tepat waktu, selesaikan tepat waktu.

3. Bertanggung jawab atas hasil kerja sendiri.

4. Konsisten, bukan hanya rajin sesekali.

5. Profesional meski sedang tidak mood.

6. Tidak mencampur urusan pribadi dalam urusan kerja.

7. Memiliki komitmen terhadap kualitas kerja.

8. Bekerja bukan hanya untuk gaji, tetapi juga kontribusi.

9. Menepati janji dan kesepakatan.

10. Menghormati kolega, klien, dan atasan.

11. Jujur dalam proses dan hasil kerja.

12. Tidak mencari alasan saat gagal.

13. Menerima kritik dengan sikap terbuka.

14. Sadar akan posisi dan tanggung jawab.

15. Memberi update saat ada kendala, bukan menghilang.

16. Memiliki etika komunikasi yang baik.

17. Mau belajar hal baru secara terus-menerus.

18. Menjaga kerahasiaan dan privasi pekerjaan.

19. Tidak menjatuhkan rekan kerja demi naik jabatan.

20. Menghormati batasan waktu kerja dan istirahat.

🔹 B. Loyalitas dan Komitmen 

21. Loyal terhadap misi dan nilai, bukan hanya institusi.

22. Tetap memberikan yang terbaik meski dalam masa transisi.

23. Mampu menjaga komitmen meski berpindah kerja.

24. Membangun hubungan jangka panjang dengan integritas.

25. Memilih bertahan karena merasa dihargai, bukan karena takut.

26. Menghindari budaya “asal bos senang”.

27. Tidak mengorbankan kesehatan demi loyalitas buta.

28. Menolak tempat kerja yang merusak mental dan fisik.

29. Loyal terhadap diri sendiri dan prinsip pribadi.

30. Loyalitas tumbuh dari rasa memiliki, bukan paksaan.

31. Tidak membandingkan komitmen generasi, tapi saling memahami.

32. Memiliki ketekunan bahkan dalam pekerjaan yang tidak ideal.

33. Komitmen diuji saat tantangan datang.

34. Tidak mudah pindah hanya karena tidak “sreg” di minggu pertama.

35. Menjaga kepercayaan tim atau klien dengan tanggung jawab penuh.

36. Memisahkan kritik terhadap sistem dari komitmen terhadap tugas.

37. Mengetahui kapan bertahan, kapan perlu mundur secara terhormat.

38. Membangun reputasi lewat kehadiran yang konsisten.

39. Tidak mengandalkan pujian sebagai satu-satunya motivasi.

40. Loyalitas tidak harus “selamanya”—tapi tetap utuh selama berlangsung.

🔹 C. Kesehatan Mental & Gaya Hidup 

41. Menjaga keseimbangan antara kerja dan hidup pribadi.

42. Mengetahui batas antara performa dan burnout.

43. Tidak merasa bersalah karena memilih istirahat.

44. Menolak glorifikasi “lembur sebagai bukti dedikasi”.

45. Memilih tempat kerja yang fleksibel demi kesehatan mental.

46. Menentukan jam kerja ideal sesuai kebutuhan pribadi.

47. Mengenal tanda-tanda stres dan segera bertindak.

48. Tidak membawa pekerjaan ke ranah keluarga atau pasangan.

49. Tidak menjadikan pekerjaan sebagai identitas tunggal.

50. Mengakui kebutuhan akan ruang dan waktu sendiri.

51. Tidak harus “aktif 24 jam” untuk dianggap pekerja keras.

52. Menghindari budaya toxic productivity.

53. Menghormati waktu istirahat kolega.

54. Memprioritaskan koneksi sosial sehat di tempat kerja.

55. Mampu mengatakan “tidak” tanpa rasa bersalah.

56. Mengembangkan hobi di luar pekerjaan untuk menjaga kewarasan.

57. Menyadari bahwa tidak semua kesalahan disebabkan oleh diri sendiri.

58. Tidak menilai hidup hanya dari performa kerja.

59. Menerima bahwa kadang kita bisa tidak sempurna.

60. Mengizinkan diri untuk gagal tanpa merasa tidak layak.

🔹 D. Kolaborasi & Adaptasi Lintas Generasi 

61. Tidak memaksakan satu gaya kerja kepada generasi lain.

62. Terbuka terhadap pendekatan kerja digital dari Gen Z.

63. Tidak menganggap "yang muda" malas, hanya karena berbeda gaya.

64. Tidak menganggap "yang tua" kuno, hanya karena tidak cepat.

65. Menyadari bahwa teknologi mempercepat kerja, bukan menggantikan usaha.

66. Membangun dialog terbuka antar generasi.

67. Fokus pada hasil, bukan metode.

68. Memahami bahwa fleksibilitas bukan berarti tidak disiplin.

69. Menerima bahwa tiap generasi punya kekuatan dan blind spot sendiri.

70. Menilai rekan kerja dari kualitas, bukan usia.

71. Berani memimpin lintas generasi dengan empati.

72. Mau belajar dari generasi setelah kita.

73. Tidak mudah menghakimi pola pikir yang berbeda.

74. Mendorong akuntabilitas dalam kerja tim.

75. Tidak bergantung pada “sweet talk” untuk mendapatkan posisi.

76. Menilai orang dari kinerja dan nilai yang dibawa.

77. Tidak mempermainkan politik kantor untuk keuntungan pribadi.

78. Membangun koneksi antar generasi dengan rasa hormat.

79. Menghindari sikap “zaman gue lebih susah” sebagai pembanding.

80. Menjadi jembatan komunikasi antara cara kerja lama dan baru.

🔹 E. Pengembangan Diri & Passion

81. Mengenal kekuatan dan karakter diri sendiri.

82. Tidak menjadikan passion sebagai satu-satunya acuan kerja.

83. Menyadari bahwa passion tumbuh lewat proses.

84. Memiliki grit meski sedang tidak dalam kondisi ideal.

85. Tetap belajar bahkan dari pekerjaan yang membosankan.

86. Menggunakan tes kepribadian untuk mengenali diri.

87. Memilih pekerjaan yang selaras dengan nilai pribadi.

88. Tidak terlalu sibuk membandingkan karier orang lain di media sosial.

89. Mengembangkan resiliensi saat tantangan datang.

90. Tidak menjadikan motivasi eksternal sebagai satu-satunya bahan bakar.

91. Menghargai jam terbang sebagai guru terbaik.

92. Mau mencoba walau belum yakin 100%.

93. Tidak tergoda untuk selalu lompat ke “yang lebih viral”.

94. Membangun reputasi lewat hasil kerja, bukan pencitraan.

95. Menyadari bahwa setiap pekerjaan punya fase tidak nyaman.

96. Mengembangkan kemampuan diplomatis tanpa kehilangan ketulusan.

97. Tidak menjilat untuk dapat posisi—pilih elegan & profesional.

98. Memahami batas antara strategi sosial dan manipulasi.

99. Menggunakan relasi untuk kolaborasi, bukan eksploitasi.

100. Menganggap pekerjaan sebagai tempat tumbuh, bukan pelarian.


Sumber Dikembangkan dari informasi 

https://www.youtube.com/watch?v=LHXNFg0GXK0

In Her View | Episode 8 - Intergenerational Work Ethic

Dimensi Wellness dalam Etos Kerja Antargenerasi"

Menemukan Keseimbangan di Tengah Etos Kerja Antargenerasi

Di zaman yang bergerak cepat ini, dinamika tempat kerja tidak hanya bicara soal target dan produktivitas. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam dan personal: wellness—kesejahteraan menyeluruh yang mencakup fisik, mental, emosional, hingga relasi sosial.

Menariknya, dimensi wellness ini sering kali berbenturan dengan nilai-nilai kerja dari berbagai generasi. Gen X, Millennials, hingga Gen Z memiliki cara pandang berbeda terhadap kerja, loyalitas, dan keseimbangan hidup. Lalu, bagaimana kita bisa saling memahami dan menciptakan ruang kerja yang sehat untuk semua?

Generasi Berbeda, Tantangan Berbeda

Banyak dari Gen X mengaku heran melihat Gen Z yang cepat bosan, mudah resign, dan seolah tidak tahan tekanan. Tapi perlu diingat, mereka lahir di dunia yang berbeda—dunia yang serba cepat, serba instan, dan penuh pilihan.

Terlalu banyak pilihan justru bisa melumpuhkan. Fenomena ini disebut choice paralysis. Banyak dari mereka merasa harus tahu "passion sejati" sebelum memilih karier, atau takut salah langkah karena selalu dibandingkan di media sosial.

Loyalitas: Dari Institusi ke Nilai Pribadi

Bagi generasi sebelumnya, loyalitas adalah tentang bertahan. Tapi bagi banyak pekerja muda saat ini, loyalitas bukan sekadar waktu, melainkan kesesuaian nilai. Mereka bisa setia, tapi bukan pada kantor—melainkan pada diri sendiri, pada hal-hal yang mereka yakini bermakna.

Bekerja dengan sepenuh hati hanya akan terjadi ketika mereka merasa dihargai, dihormati, dan diberi ruang untuk berkembang. Mereka lebih memilih pindah daripada tinggal di tempat yang membuat mental runtuh.

Profesionalisme dan Batas Sehat

Profesionalisme hari ini tidak lagi identik dengan kerja lembur tanpa henti. Profesional justru berarti tahu batas, tahu kapan harus berhenti, dan tahu bagaimana menjaga diri.

Banyak yang akhirnya memilih fleksibilitas, bukan karena manja, tapi karena mereka sadar bahwa kesehatan mental tak ternilai harganya. Mereka ingin bekerja keras dengan sadar, bukan sekadar menjadi roda dalam sistem yang tidak peduli.

Gaya Kerja yang Selaras Karakter

Dimensi wellness juga berkaitan erat dengan fit pekerjaan. Bekerja bukan soal ikut tren, tapi soal kecocokan karakter. Ada yang cocok di kantor, ada yang lebih hidup saat bekerja remote atau proyek lepas.

Tes kekuatan karakter seperti character strength test bisa membantu kita mengenal diri lebih dalam. Ketika pekerjaan sesuai kekuatan, kita merasa lebih puas, lebih tahan terhadap tekanan, dan lebih termotivasi untuk berkembang.

Tidak Semua Pekerjaan Harus Jadi Passion

Penting untuk punya passion, tapi bukan berarti semua pekerjaan harus menyenangkan setiap hari. Kadang, pekerjaan yang tidak kita cintai tetap bisa mengajar kita tentang grit, disiplin, dan tanggung jawab.

Justru dari situ kita bisa belajar motivasi sejati: mampu tetap bekerja, bahkan saat hati sedang tidak sejalan.

Realitas Sosial: Wellness adalah Hak, Bukan Privilege

Tidak semua orang punya kemewahan untuk memilih pekerjaan impian. Tapi tetap penting untuk menjaga wellness di tengah realitas hidup. Mungkin tidak bisa berhenti, tapi bisa belajar menetapkan batas. Bisa mulai merawat diri meski perlahan.

Dimensi wellness mengajak kita untuk tidak hanya bertanya: “Apakah aku cukup produktif?” tapi juga, “Apakah aku cukup sehat? Apakah aku merasa dihargai? Apakah pekerjaanku masih bermakna?”

Menuju Ruang Kerja yang Lebih Manusiawi

Setiap generasi membawa perspektif yang berharga. Yang muda membawa semangat, yang tua membawa pengalaman. Daripada saling menyalahkan, lebih baik kita saling belajar.

Karena kerja bukan sekadar mencari uang atau status—tapi juga tempat kita membangun makna, harga diri, dan versi terbaik dari diri sendiri.


Topik: Etos Kerja dan Gaya Kerja Antargenerasi

  1. Banyak keluhan dari Gen X terhadap Gen Z, padahal mereka berada di zaman yang berbeda.
  2. Gen Z mungkin mengalami choice paralysis karena terlalu banyak pilihan, yang membuat mereka bingung menentukan arah.
  3. Saat ini, ada tren membuat konten secara instan dan sederhana—misalnya hanya perlu menyikat gigi dan bisa jadi viral.
  4. Segala sesuatu terasa serba instan sekarang.

Gaya Kerja & Nilai Loyalitas

  1. Loyalitas dianggap penting oleh beberapa generasi, terutama Gen X dan Millennials awal.
  2. Ada yang merasa bangga bisa bekerja di satu institusi dan memberikan 1000% dedikasi meskipun tahu bahwa dunia kerja itu tidak selalu membalas dengan loyalitas yang sama.
  3. Ada juga yang sudah berpindah tempat kerja, namun tetap menunjukkan loyalitas di tempat-tempat yang membuat mereka nyaman dan merasa dihargai.
  4. Loyalitas bisa berarti berbeda bagi tiap orang—ada yang loyal kepada perusahaan, ada yang loyal kepada diri sendiri dan nilai-nilai pribadi.
  5. Bagi sebagian orang, bekerja untuk diri sendiri lebih penting daripada loyal terhadap institusi.

Profesionalisme & Kesehatan Mental

  1. Profesionalisme berarti tahu apa yang dikerjakan dan apa nilai kontribusi pribadi terhadap pekerjaan itu.
  2. Banyak yang merasa bahwa lingkungan kerja adalah prioritas nomor satu, bahkan lebih penting daripada gaji.
  3. Pengalaman buruk dalam hal kesehatan karena terlalu loyal menjadi titik balik bagi sebagian orang untuk lebih memilih kesehatan dan keseimbangan.
  4. Bekerja di tempat yang memberi fleksibilitas dan rasa nyaman mendorong munculnya loyalitas alami.
  5. Beberapa orang menolak bekerja di tempat yang membuat mereka tidak nyaman, meskipun itu berarti harus mundur dengan cepat.
  6. Mengetahui batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi penting agar tidak terus membawa pulang beban kerja.

Menemukan Gaya Kerja Ideal

  1. Gaya kerja seperti freelancer cocok bagi yang suka membangun relasi dan mengenal orang secara personal.
  2. Karakter dan nilai pribadi sangat memengaruhi gaya bekerja. Ada yang lebih organik, fleksibel, dan cenderung menghindari sistem yang kaku.
  3. Penting untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri agar bisa memilih pekerjaan yang sesuai dan bertahan lama.
  4. Salah satu cara untuk mengenali kekuatan diri adalah melalui tes karakter seperti character strength test.
  5. Saat pekerjaan selaras dengan kekuatan karakter, kita akan merasa lebih puas dan memiliki resilience.

Refleksi & Realita

  1. Banyak orang saat ini tetap bertahan di pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup, bukan karena passion.
  2. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk memilih pekerjaan yang sesuai hati, terutama di masa sulit ekonomi.
  3. Sangat penting untuk bersyukur jika bisa melakukan pekerjaan yang disenangi.
  4. Mengenal diri sendiri adalah langkah pertama untuk memahami gaya kerja yang paling cocok dan sehat secara mental.
  5. Gaya kerja sangat memengaruhi kesehatan mental—jika tidak menyukai pekerjaannya, seseorang bisa merasa depresi.

Kalau tidak menyukai apa yang kita lakukan, rasanya susah untuk punya grit. Kita hanya datang, mengerjakan tugas seadanya, lalu pulang. Tidak ada motivasi untuk memberikan yang terbaik—hanya sekadar menunggu gaji bulanan. Itu pun jadi beban ketika kita harus kerja bareng orang yang tampaknya tidak peduli, padahal kita sendiri sudah berusaha maksimal.

Inilah pentingnya mencintai pekerjaan. Karena saat tantangan datang, kalau kita tidak punya rasa suka, kita cepat menyerah. Tapi dari sisi lain, ada juga yang melihat pekerjaan secara fungsional: pekerjaan A untuk cari duit, pekerjaan B untuk networking, pekerjaan C karena memang seru. Jadi, walaupun tidak semua pekerjaan menyenangkan, tetap bisa ditakar: seberapa besar energi dan investasi yang ingin diberikan. Selama kita tetap profesional dan tahu batas, tidak masalah.

Namun, tidak semua orang punya kemewahan untuk hanya memilih pekerjaan yang dicintai. Grit dan ketekunan kadang justru tumbuh dari kebiasaan sejak kecil. Kadang kita suka, kadang tidak, tapi jam terbang tetaplah jam terbang. Pengalaman tetap berharga, bahkan saat semangat sedang tidak tinggi. Maka penting juga punya kemampuan untuk memotivasi diri sendiri di kondisi yang tidak ideal.

Menariknya, perbedaan generasi juga memengaruhi cara pandang terhadap pekerjaan. Generasi yang lebih dulu mungkin punya pilihan karier yang terbatas—dokter, polisi, guru. Sekarang, pilihan jauh lebih luas. Akibatnya, banyak orang bisa "coba-coba", punya ruang untuk eksplorasi. Tapi ini juga membuat sebagian orang bingung menentukan arah.

Dulu, tekanan datang dari persaingan. Kita dituntut perform karena tahu banyak orang lain mengincar posisi yang sama. Ini membentuk mentalitas kerja keras dan rasa takut tertinggal. Sekarang, banyak yang bilang, “Ngapain kerja kantoran? Jadi konten kreator aja.” Tapi jadi konten kreator pun perlu grit. Tidak semudah kelihatannya. Bahkan kehidupan pribadi bisa dikorbankan.

Zaman sekarang serba instan. Apa pun bisa viral. Tapi yang kelihatan gampang belum tentu mudah dijalani. Dibalik kesan santai, tetap ada tekanan, ketahanan mental, dan usaha yang konsisten.

Soal nilai kerja, generasi kita—baik yang masuk Gen X atau milenial—punya pemahaman tentang keseimbangan hidup. Jam kerja selesai, ya sudah, jangan ganggu urusan pribadi. Prinsip “kerja ya kerja, tapi hidup juga penting” jadi batas tegas.

Namun, loyalitas sekarang bukan lagi soal bertahan di tempat kerja bertahun-tahun, tapi soal apakah tempat itu sesuai dengan nilai dan tujuan hidup kita. Kita ingin pekerjaan yang bermakna, yang membuat kita merasa sedang membangun sesuatu yang penting.

Dulu, kita dianggap “rebel” hanya karena mempertanyakan sistem atau tidak mengikuti aturan yang tidak masuk akal. Tapi justru itu bentuk tanggung jawab kita terhadap diri sendiri dan pekerjaan.

Kini perusahaan pun mulai berubah. Mereka sadar cara lama tidak bisa lagi diterapkan pada generasi baru. Kita bukan tidak loyal, tapi loyalitas kita bersyarat: kita akan berkomitmen kalau merasa dihargai dan pekerjaannya bermakna.

Akhirnya, tiap generasi punya ciri masing-masing. Dan mungkin yang paling penting bukan generasinya, tapi bagaimana kita belajar memahami dan beradaptasi satu sama lain. Karena kerja bukan hanya soal hasil, tapi juga soal nilai, rasa, dan hubungan antarmanusia.

Generasi sekarang itu bisa dibilang tech-native problem solvers. Mereka sangat cepat, cekatan, dan terbiasa multitasking di laptop. Apa yang kita butuhkan satu jam untuk dikerjakan, mereka bisa selesaikan hanya dalam lima atau sepuluh menit. Kita ini generasi transisi—dari yang serba manual ke otomatis. Sedangkan mereka? Mereka itu udah full otomatis, bahkan bisa dibilang 'artificial'.

Dari segi pendekatan kerja, mereka juga suka kolaborasi, mirip dengan generasi milenial. Tapi bedanya, mereka lebih mengedepankan kerja tim. Walau begitu, menarik juga karena ada cerita di mana dalam tugas kelompok, semua orang terlalu bergantung satu sama lain, sampai akhirnya enggak ada yang benar-benar mau bertanggung jawab. Enggak ada yang mau ambil peran pemimpin. Jadi, bisa dibilang kadang kurang punya rasa tanggung jawab terhadap accountability.

Soal work-life balance, generasi sebelumnya seperti Gen X memisahkan tegas antara waktu kerja dan waktu pribadi. Misalnya, kerja dari jam 9 sampai 5, lalu setelah itu benar-benar off. Sementara generasi sekarang lebih fleksibel—mereka bisa kerja tengah malam, tapi di siang hari bisa pergi ke kelas pilates jam 2 siang. Yang penting, kerjaan selesai. Jadi, definisi work-life balance antar generasi itu memang beda-beda.

Biasanya yang bikin konflik antar generasi adalah saat satu generasi memaksakan cara kerjanya ke generasi lain. Tapi ada juga contoh yang baik—misalnya seorang atasan dari Gen X yang punya tim mayoritas milenial dan Gen Z. Dia paham bahwa anak-anak sekarang enggak selalu kerja 9-to-5, tapi dia enggak masalah selama target tercapai. Mau kerja dari kafe atau dari kasur, asal deliver, semua oke. Ini contoh kepemimpinan yang adaptif.

Sayangnya, banyak juga yang masih suka mengeluh dan membandingkan dengan “zaman dulu”. Padahal kita semua perlu beradaptasi. Dunia kerja sekarang udah berubah. Loyalitas pada perusahaan pun enggak bisa dipaksakan seperti dulu.

Namun memang ada tantangan, misalnya ada staf dari generasi Z yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Kalau sudah begitu, susah juga kalau cuma dikeluhkan—perlu ada pendekatan edukatif dan pembinaan karakter.

Generasi kita dulu punya rasa segan, ada batasan. Misalnya dimarahi atasan, ya sebel, tapi tetap bertahan. Ada rasa tanggung jawab dan kesadaran bahwa kerja itu pasti ada stresnya. Grit dan ketahanan mental itu penting, tapi sekarang justru kadang jadi lemah karena semuanya serba instan. Kita dulu harus baca 10 buku untuk cari jawaban. Sekarang? Tinggal Google.

Nilai seperti integritas, respek, dan ketekunan seolah berubah maknanya. Banyak yang enggak tahan di satu tempat terlalu lama. Satu bulan belum nemu purpose, langsung pindah. Passion pun jadi seperti kata yang terlalu diagung-agungkan. Padahal menurut sebagian dari kita, passion itu bukan satu-satunya hal yang harus dikejar.

Memang penting untuk punya passion, tapi bukan berarti semua harus sesuai passion. Kalau ketemu redaktur yang menyebalkan terus langsung menyerah, itu bukan berarti passion-nya hilang—mungkin yang diuji justru komitmen terhadap passion itu sendiri. Loyal bukan pada tempatnya, tapi pada misi atau tujuan yang lebih besar.

Passion itu bukan satu-satunya faktor penentu. Iya, penting untuk punya passion, tapi sebenarnya passion baru terasa "hidup" ketika kita menghadapi tantangan. Itu seperti api yang mendorong kita untuk terus maju. Sayangnya, banyak orang salah kaprah. Mereka bilang, "Aku enggak passionate di sini," padahal sebenarnya mereka belum benar-benar menemukan passion-nya.

Banyak dari kita sejak kecil sudah diarahkan berdasarkan tes—minat, bakat, kekuatan karakter. Dulu, kita harus mencari sendiri. Sekarang, semuanya seperti sudah disediakan. Akibatnya, muncul yang namanya choice paralysis—karena terlalu banyak pilihan, malah jadi bingung harus memilih yang mana. Belum lagi tekanan sosial dari media: melihat orang lain sukses di bidang tertentu, jadi merasa harus ikut-ikutan.

Anak-anak zaman sekarang pun merasakannya. Mereka bisa punya banyak minat sekaligus—ingin jadi ini, ingin jadi itu. Tapi kadang juga bingung, ini karena dorongan dari dalam diri sendiri atau karena ekspektasi keluarga, status sebagai anak sulung, atau pengaruh dari sekitar?

Lihat saja perkembangan mereka—anak SD sekarang sudah bikin game sendiri, pakai coding, mengangkat isu global seperti overpopulasi dan overkonsumsi. Dulu, hal seperti itu baru kita pelajari saat kuliah. Tapi sekarang? Umur 11 sudah bisa bikin proyek kelas dunia. Dan kita pun dibuat kagum sekaligus sedikit iri.

Lalu, bicara soal dunia kerja. Beberapa orang merasa tidak cocok jadi karyawan. Mereka tidak suka rutinitas, tidak nyaman harus tinggal di kantor meski pekerjaan sudah selesai, atau terjebak dalam dinamika sosial kantor yang membingungkan: mulai dari gosip, kesenjangan sosial, sampai relasi yang tidak profesional.

Ada juga yang lebih nyaman bekerja sebagai profesional lepas—masuk ke satu proyek, menyelesaikannya, lalu keluar tanpa harus terlibat terlalu jauh dengan urusan pribadi rekan kerja. Ini memberi ruang untuk tetap fokus, menjaga batasan, dan bekerja sesuai nilai diri.

Namun, di sisi lain, kadang interaksi sosial ringan seperti duduk 15 menit bersama rekan kerja justru bisa jadi pelumas hubungan profesional. Bisa membangun koneksi, empati, dan memudahkan kolaborasi. Jadi, bukan berarti semua bentuk "nongkrong kantor" itu buruk.

Tapi yang mengganggu adalah saat ada budaya di mana untuk naik level, seseorang merasa harus selalu "ada", hadir di luar jam kerja, ikut nongkrong, basa-basi, demi dilihat. Padahal, bagi sebagian orang, kontribusi nyata dan kredibilitas semestinya cukup. Tidak semua orang nyaman dengan permainan sosial semacam itu.

Akhirnya, kita perlu redefinisi soal "office politics". Mungkin bukan lagi soal intrik, tapi lebih ke bagaimana membangun relasi yang sehat, mengenal batas, dan tetap bisa jadi diri sendiri tanpa harus kehilangan peluang.

Aku suka banget ketika kamu langsung bilang "harus diplomatis", tapi sebenarnya contohnya gimana sih?

Maksudnya gini—kadang ada orang yang mungkin belum terlalu kompeten, tapi mereka bisa "sweet talk", ngomong manis. Banyak juga dari generasi Z atau bahkan Boomer yang suka sama pendekatan kayak gitu.

Contohnya, kalau ada tiga perempuan yang semuanya punya kemampuan MC yang mirip, tapi karakternya beda-beda. Satu orang tegas, to the point, jarang senyum, nggak terlalu ramah. Satu lagi biasa aja, di tengah-tengah. Satunya lagi super charming, suka muji, kayak, “Ih kamu cantik banget deh hari ini, blush on-nya apa sih? Aku mau kayak kamu deh!” Nah, di Indonesia, yang kayak gitu bisa jadi yang kepilih—bukan karena kompetensi, tapi karena cara dia mendekati orang.

Tapi itu bukan cuma soal generasi, itu juga budaya. Di sini lebih terasa. Mungkin karena aku besar di luar negeri, jadi merasa pendekatan kayak gitu kadang nggak masuk akal. Aku pribadi nggak suka, rasanya nggak tulus. Kalau ada orang baru langsung bilang, “Kamu lucu banget sih,” aku malah jadi risih.

Padahal ya, aku ngerti bahwa memang ada orang yang suka diperlakukan seperti itu, tapi kalau aku sendiri sih ngerasa itu fake. Bahkan ada pengalaman di mana seseorang yang kelihatan charming banget tetap dipilih, padahal kalau aku yang bikin kesalahan kayak dia, aku mungkin udah dipecat.

Menurut kalian itu skill atau talent?

Kalau menurutku, itu semacam strategi yang kadang dipakai buat tampil lebih di ruang kerja. Dalam bahasa Gen Z, itu disebut "pick me girl". Bukan yang langsung bilang “hai” atau agresif, tapi lebih ke sering muncul di tempat-tempat di mana orang yang ditargetin ada—biar kelihatan aja, atau kasih hampers misalnya.

Aku juga suka bingung, kayak, kalau kirim hampers ke atasan, mereka mikirnya apa ya? Takut dikira aku ngirim karena mau dapet sesuatu. Buatku, itu konflik kepentingan secara etika. Jadi aku pilih nggak ngirim sama sekali.

Kadang malah ada yang bilang, “Dia aja kirim hampers, kok kamu enggak?” Padahal sekarang semua bisa diposting di story, jadi makin terasa tekanan sosialnya.

Aku sendiri jarang kena yang kayak gitu karena kebanyakan kerjaan aku freelance atau remote, jadi jarang interaksi langsung di kantor. Tapi menarik banget dengerin cerita kalian.

Ngomong-ngomong, setelah bahas soal itu semua, menurut kalian apa sih work ethic yang baik, terutama di fase karier kalian sekarang?

Jawaban mereka:

  • Deliver: Kalau dikasih tugas, ya kerjain. Mau kerjanya dari mana pun—pantai, gunung, rumah—asal hasilnya sesuai. Itu bisa bikin kolaborasi antar generasi lebih lancar.
  • Disiplin: Hormatin waktu dan komitmen. Kalau aku menghargai kamu, kamu juga harus menghargai aku.
  • Akuntabilitas & Integritas: Jangan tiba-tiba menghilang. Kalau diminta update, ya kasih kabar, meskipun lagi dipijat atau olahraga. Nggak perlu langsung, tapi dalam 1–2 jam, kasih respons.
  • Push Yourself: Kita kerja bareng banyak orang, jadi nggak usah membandingkan diri, tapi terus berkembang dan jadi versi terbaik diri sendiri. Ketika seseorang memilih kamu untuk posisi tertentu, itu berarti mereka udah percaya sama kamu. Jadi balas kepercayaan itu dengan hasil terbaik.
  • Kompas Moral: Apapun peran dan pekerjaanmu, integritas itu fondasi. Lakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Orang akan respek karena itu.

Di akhir, mereka saling mengucapkan terima kasih dan ngajak pendengar buat share cerita kerja mereka juga—terutama cerita-cerita lucu atau unik soal dinamika kantor.

https://www.youtube.com/watch?v=LHXNFg0GXK0

In Her View | Episode 8 - Intergenerational Work Ethic

"How Powerful Women Tackle Tech in Business"

"How Powerful Women Tackle Tech in Business"

🔹 1. Teknologi Harus Memberikan Nilai Nyata, Bukan Sekadar Tren

“Teknologi bukan untuk sekadar terlihat canggih, tapi harus benar-benar memberikan nilai tambah.” – Leslie

Perempuan pemimpin dalam bisnis teknologi menunjukkan bahwa bukan semua inovasi layak diadopsi. Evaluasi harus didasarkan pada manfaat langsung bagi pengguna dan efisiensi internal.

🔹 2. AI Bukan Sekadar Otomatisasi—Tapi Personalisasi dengan Empati

“Tidak ada yang lebih personal daripada makanan.” – Debbie

AI digunakan bukan hanya untuk efisiensi, tapi untuk memperkuat hubungan manusia—seperti menciptakan pengalaman makan yang sesuai dengan preferensi unik seseorang atau menghadirkan cerita yang menyentuh pribadi seseorang.

🔹 3. Timing dan Konteks adalah Segalanya

“Menjadi fast follower bukan berarti ketinggalan—kadang itu justru strategi terbaik.” – Padmasree

Pemimpin yang sukses paham bahwa adopsi teknologi harus memperhitungkan kesiapan pasar, ekosistem, dan pengguna. Waktu peluncuran sangat menentukan keberhasilan inovasi.

🔹 4. Kepercayaan adalah Mata Uang Utama di Era AI

“Begitu kepercayaan rusak, sangat sulit membangunnya kembali.” – Leslie

Inovasi harus dijalankan dengan hati-hati agar tidak merusak kepercayaan yang sudah dibangun. Hal ini menuntut pendekatan etis dan bertanggung jawab dalam menerapkan AI.

🔹 5. Personal Branding: Perempuan Teknolog Harus Muncul ke Permukaan

“Saya menyadari bahwa saya perlu melakukan rebranding terhadap diri saya sendiri—bukan hanya sebagai perempuan yang menjalankan OpenTable, tapi juga sebagai pemimpin teknologi.” – Debbie

Perempuan sering kali meremehkan posisi mereka sendiri di dunia teknologi. Mengangkat tangan dan menunjukkan kompetensi adalah langkah penting untuk mengubah narasi dan representasi.

🔹 6. AI Harus Menemani, Bukan Menggantikan Kreativitas Manusia

“Kami percaya teknologi harus memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikannya.” – Padmasree

Teknologi terbaik bukan yang menggantikan sentuhan manusia, tetapi yang memperluas kemampuannya. Perempuan dalam diskusi ini menekankan pentingnya menjaga sisi humanis dalam setiap produk berbasis AI.

🔹 7. Keragaman Tim Adalah Kunci untuk Menghindari Bias Teknologi

“AI tidak netral. Modelnya mungkin terlihat bersih, tapi datanya bisa penuh bias.” – Padmasree

Keberagaman dalam tim pengembang teknologi sangat krusial untuk memastikan bahwa AI tidak melanggengkan bias sosial yang ada. “Human in the loop” adalah prinsip yang dipegang teguh oleh para panelis.

🔹 8. Semua Orang Harus Terlibat dalam Transformasi Teknologi—Bukan Hanya CTO

“AI bukan hanya urusan tim teknologi. Semua departemen harus punya peran.” – Leslie

Inisiatif teknologi yang berdampak besar harus melibatkan seluruh organisasi. Setiap individu, apapun perannya, berhak dan perlu menjadi bagian dari transformasi digital.

Penutup Inspiratif:

"AI bukan hanya alat—ia adalah peluang, tantangan, dan panggilan bagi semua pemimpin untuk terlibat."

Para perempuan pemimpin ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam dunia teknologi tidak hanya soal kecanggihan, tapi tentang pemahaman mendalam terhadap manusia, konteks, dan nilai.

 "How Powerful Women Tackle Tech in Business" 

Saya sangat senang bisa hadir bersama sekelompok perempuan luar biasa yang sedang membentuk masa depan dunia bisnis lewat keputusan cerdas mereka dalam hal inovasi. Seperti yang terlihat dalam video, teknologi saat ini memaksa bisnis untuk berubah atau tertinggal. Ini sangat relevan, terutama untuk bisnis yang berfokus pada konsumen, seperti yang dijalankan oleh para pembicara hari ini.

Tentu saja, kita tidak bisa begitu saja mengadopsi semua teknologi baru yang muncul. Jadi mari kita mulai dengan membahas bagaimana kalian mengevaluasi inovasi baru seperti layanan digital, AI, dan lainnya. Bagaimana kalian menentukan mana yang penting untuk diadopsi dan mana yang bisa ditunda?

Debbie:
Pertanyaannya bagus. Saat ini rasanya seperti dihujani oleh kemajuan teknologi. Kami di OpenTable punya satu tujuan utama: membantu restoran bekerja dengan lebih produktif dan efisien. Jadi saat kami mempertimbangkan teknologi baru, pertanyaannya adalah: apakah ini membantu mereka menjawab pertanyaan lebih cepat? Apakah ini mengurangi tugas manual agar mereka bisa fokus pada pelanggan?

Kami juga memikirkan sisi konsumen. Dengan AI, kami bisa mempersonalisasi pengalaman—misalnya tahu bahwa saya punya dua anak kecil dan butuh meja di sudut, atau tahu preferensi makanan tertentu. Jadi, setiap keputusan teknologi harus menjawab: apakah ini membantu restoran kami? Apakah ini meningkatkan pengalaman konsumen?

Leslie:
Kami menjalankan banyak platform perjalanan daring. Saat teknologi AI muncul, kami langsung membuat produk berbasis AI untuk pelanggan. Tapi yang kami temukan: adopsinya rendah. Pelanggan justru bilang, "Terima kasih, tapi produk yang lama masih cukup baik." Itu pelajaran besar bagi kami—bahwa teknologi bukan untuk sekadar terlihat canggih, tapi harus benar-benar memberikan nilai tambah.

Contohnya, di layanan pelanggan, agen kami harus membuat ringkasan percakapan. Kami gunakan AI untuk otomatisasi tugas itu, dan hasilnya luar biasa: waktu layanan jadi jauh lebih efisien. Jadi pelajaran pentingnya: pahami kebutuhan nyata bisnis dan pelanggan, bukan hanya ikut tren.

Padmasree:
Sebagai seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia teknologi, saya melihat bahwa setiap teknologi punya siklus—mulai dari masa awal yang penuh euforia, lalu matang, lalu benar-benar bermanfaat. Saat mengevaluasi, waktu adalah faktor penting. Apakah sekarang momen yang tepat? Jika Anda tipe bisnis yang siap ambil risiko, bisa jadi pelopor. Tapi jadi pengikut cepat (fast follower) pun bukan masalah—banyak perusahaan sukses justru di posisi itu.

Khusus AI, kita perlu bedakan antara AI umum dan generative AI (Gen AI). Gen AI menciptakan konten dari data, tapi juga membawa potensi bias tergantung dari data pelatihan. Jadi penting untuk berhati-hati, terutama jika produk langsung bersentuhan dengan konsumen.

Moderator:
Mari kita lihat siapa saja di ruangan ini pernah memesan restoran lewat OpenTable... Wah, banyak sekali! Dan siapa yang pernah merencanakan perjalanan lewat Booking.com? Luar biasa. Ini menunjukkan bahwa keputusan yang kalian buat benar-benar berdampak.

Saya ingin kembali ke soal timing tadi. Menarik bahwa saat kalian menawarkan layanan berbasis AI untuk perjalanan—yang sejatinya sangat padat data—malah respons awalnya kurang positif.

Leslie:
Benar. Konsumen cenderung tetap pada cara yang sudah nyaman. Kalau cara mereka memesan perjalanan saat ini sudah berfungsi, mereka tidak merasa perlu mengganti. Teknologinya sendiri juga belum benar-benar siap. Kami tidak akan membangun language model sendiri, jadi kami perlu kolaborasi dengan mitra. Lalu ada isu privasi data, perbedaan regulasi di berbagai negara, dan banyak faktor lainnya. Tapi potensinya tetap sangat besar—ini bisa menjadi gamechanger.

Saya juga percaya kita sedang berada di momen penting, di mana teknologi seperti ini akan lebih mudah diakses. Dulu kita pikir hanya raksasa teknologi yang bisa mengembangkannya. Tapi sekarang, semakin banyak inovator kecil yang membangun aplikasi di atas platform besar. Itu yang akan mempercepat inovasi dan menciptakan produk konsumen yang jauh lebih baik.

Kalau kita pikirkan, Uber tidak mungkin ada sebelum iPhone diciptakan. Saya rasa kita sedang berada di titik krusial seperti itu sekarang.

Ketika siklus inovasi mulai berjalan, kita akan melihat bagaimana teknologi benar-benar meningkatkan kualitas produk. Itu menjadi salah satu kejutan dalam proses adopsi AI, seperti yang dialami oleh tim Booking dan OpenTable. Debbie, apakah ada kejutan—baik positif maupun negatif—saat membawa teknologi ini ke dalam OpenTable?

Debbie:
Kami masih terus menjalani proses itu. Tapi saya setuju dengan Leslie—alternatif berbasis AI harus benar-benar lebih baik. Di dunia travel, orang sudah punya cara masing-masing untuk mencari dan memesan, dan mereka percaya pada proses itu. Untuk bisa diterima, AI harus bisa memberi hasil yang lebih baik dari apa yang sudah mereka lakukan sendiri, dan menjelaskan prosesnya dengan transparan. Dan saat ini, saya rasa kita belum sepenuhnya sampai di titik itu, tapi sangat dekat.

Di OpenTable, kami telah mengintegrasikan AI untuk meningkatkan produktivitas tim layanan pelanggan dan membantu restoran lebih efisien. Kami juga sedang bersiap meluncurkan fitur pencarian bebas bagi konsumen. Bayangkan seseorang ingin mencari restoran di Santa Monica yang ramah anak, menyediakan menu bebas gluten, dan dekat pantai. Saat ini, pencarian seperti itu belum bisa dilakukan dengan mudah. Tapi kami percaya bahwa seharusnya itu bisa dilakukan—dan itulah yang sedang kami bangun.

Padmasree:
Kami di Fable juga menghadapi tantangan serupa, hanya saja dalam konteks konten. Kami fokus menghubungkan cerita yang tepat dengan orang yang tepat. Contoh, Padma menyukai cerita fiksi ilmiah, tapi dengan naga dan akhir bahagia. Bagaimana kami bisa merekomendasikan buku atau tayangan yang sesuai dengan preferensi spesifik itu?

Di situlah peran AI sangat besar, terutama dalam proses penemuan dan koneksi dengan komunitas. Namun, kami tidak menggunakannya untuk menciptakan konten. Kami percaya teknologi harus memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Kami menyebut diri sebagai perusahaan teknologi dengan jiwa seniman.

Kami menggunakan AI dalam fitur-fitur seperti pelacakan bacaan, pembuatan daftar buku, hingga diskusi dengan sesama pembaca. Misalnya, kamu bisa bertanya kepada Scout—agen AI kami yang dinamai dari karakter Scout Finch di To Kill a Mockingbird—untuk menemukan novel romansa berlatar Paris tahun 1920-an dengan tokoh utama perempuan yang kuat. Scout akan membantu menjawab.

AI juga kami manfaatkan untuk menandai pola perilaku pembaca, seperti kenapa seseorang menyukai buku tertentu atau tidak menyelesaikan serial TV tertentu. Dari sini, kami bisa membuat rekomendasi yang lebih relevan.

Namun, pengalaman kami dengan generative AI (Gen AI) tidak selalu positif. Kami pernah menggunakannya untuk membuat ringkasan kepribadian pembaca berdasarkan buku yang mereka baca. Hasilnya, meski secara statistik aman—dari 30 juta ringkasan, hanya satu yang bermasalah—tetap saja ringkasan yang menyinggung satu orang bisa berdampak besar. Ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam skala besar, satu kesalahan bisa merusak kepercayaan.

Untuk mencegah itu, kami pastikan tim kami beragam—dari berbagai latar belakang—agar pengujian lebih menyeluruh dan peka terhadap konteks global. Pengujian yang intensif dan sistem umpan balik terus kami lakukan, karena teknologi ini sangat berdaya, tapi juga rentan.

Leslie:
Saya rasa itu poin penting. Sebagai brand, kita punya tanggung jawab karena pelanggan mempercayai kita untuk memberikan pengalaman terbaik. Begitu kepercayaan itu rusak, sangat sulit untuk membangunnya kembali. Jadi, semangat mengejar teknologi baru harus dibarengi dengan menjaga nilai relasi yang telah dibangun.

Moderator:
Itu mengarah ke pertanyaan berikutnya. Banyak yang menyebut bahwa AI, termasuk algoritma yang dibangun oleh manusia, bisa terasa impersonal dan menghilangkan sentuhan manusiawi. Padahal, perjalanan—seperti juga membaca atau makan di restoran—adalah pengalaman yang sangat personal. Bagaimana kalian memastikan bahwa penerapan AI, baik AI umum maupun generatif, tetap mempertahankan unsur humanis?

Leslie:
Poin yang sangat bagus. Kami selalu memastikan bahwa teknologi yang kami hadirkan benar-benar bermanfaat bagi pelanggan. Kami menerapkan prinsip test and learn, di mana setiap ide produk baru kami uji coba pada segmen kecil dari pelanggan. Kami lihat reaksinya—kalau tidak sesuai harapan, kami kembali merancang ulang.

Kami juga sangat hati-hati agar inovasi yang kami luncurkan tidak mengganggu hubungan yang sudah terbentuk dengan pengguna. Mereka menggunakan layanan kami karena merasa nyaman dan percaya. Tugas kami adalah memastikan bahwa kepercayaan itu tidak terganggu, meskipun kami terus bereksperimen dan berinovasi.

Meningkatkan Personalitas dan Mengurangi Bias dalam Penerapan AI

Ketika berbicara soal penerapan AI dalam bisnis konsumen, pendekatannya tidak bisa sembarangan. Perusahaan harus sangat hati-hati agar tidak membuat pelanggan merasa asing dengan produk atau bahkan kehilangan kepercayaan terhadap brand. Debbie menambahkan bahwa dalam konteks OpenTable, tidak ada hal yang lebih personal daripada preferensi makanan.

Debbie:
Kami memandang AI, termasuk generative AI, sebagai alat untuk meningkatkan personalisasi, khususnya di sisi pengalaman konsumen. Kami memiliki banyak data tentang kebiasaan makan pengguna—misalnya, makan malam bersama teman akan berbeda suasananya dengan makan bersama anak-anak atau mertua. Namun, saat ini data-data tersebut belum diolah secara menyeluruh. Dengan AI, kami dapat mulai mengidentifikasi pola dan tema dari kebiasaan makan itu, lalu merekomendasikan restoran yang sesuai dengan konteks tersebut.

Jika digunakan dengan tepat dan dalam batas etika yang jelas, AI seharusnya membantu meningkatkan relevansi dan personalisasi. Misalnya, dengan melihat restoran yang sering dibooking, yang diberi rating tinggi, maka AI bisa merekomendasikan tempat baru yang belum pernah dikunjungi, tapi kemungkinan besar akan disukai. Jadi, bagi kami, AI memperkuat upaya personalisasi yang sedang kami lakukan untuk pengguna.

Padmasree:
Saya sepakat, dan ingin menambahkan perbedaan penting antara rekomendasi dan penemuan. Rekomendasi berarti AI menganalisis perilaku masa lalu dan menyarankan sesuatu yang relevan. Tapi penemuan (discovery) lebih bersifat spontan—seperti saat kita melihat sesuatu menarik di jendela toko atau menemukan buku secara tak sengaja di rak. Itulah ruang di mana AI bisa berkembang lebih jauh: menghadirkan hyper-personalization, bukan hanya berdasarkan data lama, tetapi juga bisa memprediksi apa yang akan disukai di masa depan.

Namun, ini semua harus dijalankan dengan kesadaran tinggi terhadap privasi. Untuk mencapai personalisasi tingkat lanjut, kita harus berhati-hati dalam hal data apa yang diminta dan dibagikan.

Di Fable, kami juga menghubungkan pengguna dengan komunitas yang memiliki selera serupa. Ketika seseorang sedang membaca buku berjudul All the Colors of the Dark, mereka bisa mendiskusikannya dengan kelompok pembaca lain di platform yang sedang membaca buku yang sama. Rekomendasi dari sesama pengguna—yang punya minat dan perspektif berbeda—jauh lebih bermakna karena dibangun dari koneksi manusia yang dipermudah oleh teknologi. Tujuannya bukan menggantikan hubungan antarmanusia, tetapi memperkuatnya.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana AI bisa memahami pengalaman manusia yang sifatnya sangat subjektif—baik itu dalam menikmati makanan, cerita, atau perjalanan. Ini adalah tantangan besar, tapi juga peluang besar untuk masa depan.

Kesetaraan, Representasi, dan Pelajaran dari Pengalaman Pribadi

Isu lain yang tidak kalah penting dalam perkembangan teknologi, khususnya AI, adalah kesetaraan gender dan keberagaman dalam pengambilan keputusan.

Leslie:
Satu pelajaran penting dari pengalaman saya adalah: jangan serahkan sepenuhnya urusan AI kepada CTO saja. Ini adalah teknologi yang akan memengaruhi semua orang, seperti halnya internet dulu. Di perusahaan kami, setiap departemen diwajibkan memiliki target dan inisiatif terkait teknologi. Ini membuka peluang bagi siapa pun—terutama perempuan—untuk berada di garis depan perkembangan AI, tidak peduli di bagian mana mereka bekerja.

Debbie:
Saya suka nasihat itu—jangan hanya menyerahkan ke CTO. Saya pernah berada dalam pertemuan bersama para CEO, dan saya satu-satunya perempuan di sana. Ketika membahas bagaimana masing-masing perusahaan harus memanfaatkan AI, semua sepakat bahwa kita butuh seseorang dari Silicon Valley yang paham teknologi. Anehnya, tak seorang pun berpikir bahwa saya bisa menjadi orang itu. Padahal saya tinggal di Bay Area, lulusan Stanford dan MIT, dan perusahaan saya—OpenTable—ikut terlibat dalam hampir setiap peluncuran teknologi AI.

Saya menyadari itu bukan hanya soal orang lain yang lupa mempertimbangkan saya, tapi juga soal saya yang tidak cukup ‘mengangkat tangan’. Saya belum memposisikan diri sebagai seorang teknolog meskipun saya punya kredensial dan koneksi. Jadi, saya menyadari bahwa saya perlu melakukan rebranding terhadap diri saya sendiri—bukan hanya sebagai perempuan yang menjalankan OpenTable, tapi juga sebagai pemimpin teknologi yang kompeten.

Padmasree:
Saya sepenuhnya setuju. Saya sudah berkecimpung di dunia teknologi sepanjang hidup saya. Teknologi diciptakan oleh manusia, dan karena itu membawa bias manusia. Ada bias rasial, bias gender, dan lainnya. Model AI bisa terlihat bersih, tapi data yang digunakan bisa penuh bias. Output hanya sebaik inputnya—dan jika input sudah terkontaminasi, hasilnya juga akan begitu.

Solusinya sederhana tapi sangat penting: human in the loop. Harus ada manusia dalam proses evaluasi AI. Tim yang beragam sangat penting untuk menguji dan memastikan output tidak menyakiti siapa pun. Dalam kasus kami, saat kami melakukan kesalahan dengan GenAI, saya bicara terbuka tentang itu di Bloomberg agar orang lain tidak jatuh ke lubang yang sama.

Sebagai perempuan, kita memiliki sensitivitas yang tinggi dalam melihat hal-hal yang ‘rusak’ lebih awal dan memperbaikinya. Mungkin saya bias, tapi saya percaya kita punya keunggulan dalam aspek itu. Dan jika kita bisa berbagi kegagalan dan pembelajaran, teknologi ini akan menjadi lebih baik.

Penutup
Leslie, Debbie, dan Padmasree menutup diskusi dengan semangat optimisme yang realistis. AI bukan hanya alat—ia adalah peluang, tantangan, dan panggilan bagi para pemimpin dari berbagai latar belakang untuk terlibat lebih aktif. Perempuan di teknologi memiliki peran penting, dan masa depan AI akan lebih adil jika kita semua ikut membentuknya, mulai dari sekarang.


SUMBER

https://www.youtube.com/watch?v=ojS6jbgo2dU

How Powerful Women Tackle Tech in Business

10 Prinsip Hidup dan Sukses with Emma Grede

10 Prinsip Hidup dan Sukses

  1. Kenali apa yang kamu tidak tahu.
    Tidak perlu menjadi ahli dalam segala hal. Delegasikan pada mereka yang lebih berpengalaman untuk hasil maksimal.

    Menurut Argyris (1991), kesadaran akan keterbatasan diri adalah bentuk "double-loop learning" yang penting untuk efektivitas kepemimpinan.

    Referensi:
    Argyris, C. (1991). Teaching smart people how to learn. Harvard Business Review, 69(3), 99–109.

  2. Manfaatkan apa yang kamu miliki.
    Gunakan aset sosial seperti relasi, reputasi, dan peluang. Modal sosial terbukti meningkatkan pencapaian.

    Coleman (1988) menjelaskan bahwa modal sosial seperti jaringan dan kepercayaan memperkuat aksi individu dalam struktur sosial.

    Referensi:
    Coleman, J. S. (1988). Social capital in the creation of human capital. American Journal of Sociology, 94, S95–S120. https://doi.org/10.1086/228943

  3. Jadilah dirimu sendiri.
    Keunikan adalah nilai tambah dalam kehidupan pribadi dan profesional.

    Menurut Kernis & Goldman (2006), otentisitas berkorelasi dengan kesejahteraan psikologis dan hubungan yang sehat.

    Referensi:
    Kernis, M. H., & Goldman, B. M. (2006). A multicomponent conceptualization of authenticity: Theory and research. Advances in Experimental Social Psychology, 38, 283–357. https://doi.org/10.1016/S0065-2601(06)38006-9

  4. Hadapi masa lalumu.
    Menyelesaikan luka lama penting agar tidak menghambat masa depan.

    Penyembuhan masa lalu melalui rekonsiliasi diri berkaitan erat dengan peningkatan kesejahteraan mental (Neimeyer, 2000).

    Referensi:
    Neimeyer, R. A. (2000). Narrative disruptions in the construction of the self. In J. E. Gillham (Ed.), The science of optimism and hope (pp. 101–116). Templeton Foundation Press.

  5. Ambil tanggung jawab penuh.
    Sikap proaktif adalah inti dari kepemimpinan dan pengembangan diri.

    Covey (1989) menekankan tanggung jawab pribadi sebagai kebiasaan pertama dalam efektivitas pribadi.

    Referensi:
    Covey, S. R. (1989). The 7 habits of highly effective people: Powerful lessons in personal change. Free Press.

  6. Fokus pada yang bisa kamu kendalikan.
    Fokus pada locus of control internal meningkatkan ketahanan dan produktivitas.

    Rotter (1966) menemukan bahwa individu dengan locus of control internal memiliki motivasi dan pengendalian diri yang lebih tinggi.

    Referensi:
    Rotter, J. B. (1966). Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement. Psychological Monographs, 80(1), 1–28. https://doi.org/10.1037/h0092976

  7. Ambil risiko.
    Perubahan besar membutuhkan keberanian untuk melangkah di luar zona nyaman.

    Kahneman dan Tversky (1979) menjelaskan bahwa manusia cenderung menghindari risiko, namun pertumbuhan sering terjadi justru ketika risiko diambil secara sadar.

    Referensi:
    Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). Prospect theory: An analysis of decision under risk. Econometrica, 47(2), 263–291. https://doi.org/10.2307/1914185

  8. Kerja adalah kewajiban.
    Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras yang konsisten.

    Duckworth et al. (2007) menemukan bahwa “grit” atau ketekunan lebih penting daripada IQ dalam meraih kesuksesan jangka panjang.

    Referensi:
    Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: Perseverance and passion for long-term goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92(6), 1087–1101. https://doi.org/10.1037/0022-3514.92.6.1087

  9. Kamu bisa punya semuanya—tapi tidak sekaligus.
    Prioritas dan pengelolaan waktu adalah kunci menjaga keseimbangan.

    McKeown (2014) dalam bukunya Essentialism menyarankan untuk memilih yang esensial dan mengeliminasi sisanya demi hasil maksimal.

    Referensi:
    McKeown, G. (2014). Essentialism: The disciplined pursuit of less. Crown Business.

  10. Terus belajar. Terapkan pelajaran.
    Pembelajar seumur hidup punya keunggulan dalam beradaptasi dan berkembang.

Menurut Kolb (1984), siklus pembelajaran aktif yang mencakup refleksi dan penerapan adalah inti dari pengembangan pribadi yang efektif.

Referensi:
Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice Hall.


https://www.youtube.com/watch?v=8JS0MZGPSE8

Emma's Blueprint For a Successful Life | Aspire with Emma Grede

Selama lebih dari 20 tahun, saya telah membangun, menjalankan, dan berinvestasi dalam berbagai bisnis luar biasa. Saya ikut mendirikan sebuah perusahaan unicorn bernilai miliaran dolar dan membantu mengembangkan berbagai perusahaan lain hingga mencapai nilai ratusan juta dolar. Di saat yang sama, saya juga membesarkan empat anak di Los Angeles.

Namun, perjalanan saya dimulai dari tempat yang sangat berbeda. Saya tumbuh di lingkungan yang keras di East London, sebagai satu dari empat saudara perempuan yang dibesarkan oleh seorang ibu tunggal. Perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal. Dan kini, saya memasuki dunia podcast—sebuah wilayah baru bagi saya.

Saya telah membangun bisnis-bisnis yang memiliki tujuan, meskipun awalnya belum tentu selaras dengan tujuan pribadi saya. Baru ketika saya mulai membimbing orang lain, memimpin tim, dan memberi arahan, saya benar-benar menyadari apa yang menjadi panggilan hidup saya: membantu orang lain menemukan jalan dan kesuksesan mereka sendiri.

Dari situlah muncul ide untuk menciptakan acara ini—berdasarkan dua kata kunci: niat dan tujuan. Itulah inti dari Aspire. Tujuan saya sederhana: menghadirkan percakapan bersama para pemikir hebat dan pemimpin di dunia bisnis, agar Anda bisa mendapatkan wawasan, alat, dan strategi untuk membangun kehidupan versi Anda sendiri.

Saya ingin setiap narasumber menjadi mentor dalam pikiran Anda—suara yang mendorong, menginspirasi, dan mengingatkan Anda bahwa Anda jauh lebih kuat daripada yang Anda kira. Sebab satu hal yang saya pelajari—dan sering kali melalui jalan yang sulit—adalah bahwa jalan menuju kesuksesan dimulai dari dalam diri. Tidak peduli dari mana Anda berasal, siapa mentor Anda, apa saja yang pernah menghambat Anda, atau kesalahan apa pun yang telah Anda buat—yang penting adalah memiliki sistem keyakinan kuat yang memandu setiap langkah Anda.

Sebab ketika semua dimulai dari diri Anda, segalanya menjadi mungkin—terutama jika Anda mau bekerja keras. Seperti yang pernah dikatakan oleh mentor saya dalam pikiran, Oprah Winfrey, “Itu adalah salah satu hal yang saya tahu pasti.”

Hari ini, saya ingin membagikan 10 pelajaran penting yang membentuk perjalanan saya—beberapa di antaranya saya harap bisa saya pelajari lebih awal. Dan saya akan membagikannya secara jujur, tanpa penyaringan.

1. Ketahui Apa yang Tidak Anda Ketahui

Seberapa baik Anda benar-benar mengenal diri sendiri? Bukan hanya soal kepribadian atau keahlian, tetapi apakah Anda tahu kelemahan Anda? Apa saja keterampilan yang belum Anda miliki? Di area mana Anda butuh bantuan?

Saya, misalnya, seorang disleksia. Saya kesulitan membaca spreadsheet penuh angka. Saya juga mudah kehilangan fokus dan tidak tahan dengan pertemuan panjang atau rapat besar. Tapi setiap minggu saya harus hadir dalam pertemuan koleksi produk bersama 40-50 orang dari berbagai divisi.

Saya belajar untuk jujur pada diri sendiri tentang kelemahan saya. Dan saya tidak akan pernah mencapai keberhasilan jika saya tidak mengakui hal itu dan mencari cara untuk mengatasinya.

Salah satu terobosan terbesar dalam hidup saya terjadi ketika saya akhirnya mengakui bahwa saya tidak tahu segalanya. Dan berikutnya, saat saya berhenti berpura-pura seolah saya tahu segalanya.

Saya pernah terjebak dalam jebakan perfeksionisme, merasa harus mampu mengerjakan segalanya dan punya semua jawaban. Rasa takut gagal atau mengecewakan sangat nyata, terutama ketika keluar dari zona nyaman—seperti saat ini. Tapi justru saat Anda mulai hal baru dan mendorong diri melampaui batas, rasa takut itu akan muncul berkali-kali.

Dulu saya menyembunyikan ketidaktahuan saya dalam rapat. Saya pikir, kalau saya tidak unggul dalam keuangan atau angka, saya tidak pantas memimpin bisnis. Tapi semuanya berubah saat saya mulai bertanya—kepada siapa pun yang mungkin punya jawaban. Saya menghubungi klien agensi, kolega lama, bahkan bos teman saya atau kompetitor.

Saya mulai menjadi pribadi yang aktif mencari jawaban. Ketika membangun bisnis pertama, saya pikir saya harus bisa melakukan semuanya sendiri. Saya mikromanajemen segala hal, merasa jika saya tidak mengontrol, maka pekerjaan tidak akan selesai. Nyatanya, itu hanya menciptakan kekacauan.

Bisnis saya benar-benar berkembang saat saya belajar untuk percaya kepada tim yang saya rekrut. Saya mulai sadar bahwa keberhasilan tidak berarti tahu segalanya, tapi tahu apa yang tidak saya tahu, dan mencari orang yang lebih ahli untuk menutupi kekurangan saya.

Kini, salah satu bagian favorit saya dalam pekerjaan adalah menemukan talenta terbaik dari berbagai penjuru dunia. Saya tidak merasa terancam jika orang lain lebih ahli, lebih artikulatif, atau lebih berpengalaman. Justru, hal itu memperkuat saya.

Karena saat saya dikelilingi orang-orang hebat, saya juga terlihat hebat. Dan saya tidak perlu berpura-pura bisa segalanya. Saya hanya perlu fokus pada keunikan dan kontribusi terbaik saya.

Intinya: Anda tidak harus ahli di semua bidang. Yang penting adalah sadar akan kelemahan, tidak berpura-pura, belajar bertanya, dan merekrut orang yang lebih hebat di bidang yang bukan kekuatan Anda. Lalu biarkan mereka bekerja dan bersinar.

2. Manfaatkan Apa yang Anda Miliki

Strategi penting yang benar-benar mengubah arah karier saya adalah leverage—memanfaatkan apa pun yang Anda punya sebagai batu loncatan untuk melompat lebih jauh. Entah itu peluang, keterampilan, atau hubungan—semuanya bisa dimaksimalkan.

Saya selalu punya visi yang jelas tentang masa depan saya. Tapi jujur saja, saya tidak selalu tahu bagaimana cara mencapainya. Maka saya mulai merencanakan dengan serius, agar tahu langkah apa saja yang harus saya ambil untuk sampai ke sana.

Saya menyadari bahwa salah satu kekuatan saya adalah kemampuan untuk leverage. Saya menjadikan apa pun yang ada di tangan saya sebagai batu loncatan menuju langkah berikutnya.

Contohnya, saya memulai karier di sebuah perusahaan produksi acara fashion. Kedengarannya mewah, tapi kenyataannya saya membangun set panggung untuk pertunjukan runway—pekerjaan yang nyaris tak terlihat hasilnya. Tiga bulan bekerja keras, dan pertunjukannya hanya berlangsung tujuh menit. Setelah itu, saya harus membongkar semuanya kembali.

Tiga bulan kerja keras, hilang begitu saja.

Berpindah dari satu acara ke acara berikutnya, menghadiri pesta-pesta yang bahkan saya tidak diundang, menjadi rutinitas saya selama lebih dari lima tahun. Sekilas, itu mungkin terlihat glamor, tapi sebenarnya mungkin itu adalah pekerjaan paling tidak memuaskan yang pernah saya jalani—atau setidaknya tampak demikian.

Namun, ternyata pengalaman itu sangat berharga. Dari pekerjaan itulah saya memahami cara kerja industri fashion secara mendalam. Mengapa orang datang ke fashion show? Mereka hadir untuk membeli koleksi, menciptakan cerita pers, dan menulis ulasan yang membangun sorotan publik. Setiap orang yang hadir di acara tersebut adalah potensi koneksi. Setiap klien yang mengadakan pertunjukan bisa menjadi pintu menuju sesuatu yang lebih besar bagi saya.

Ketika akhirnya saya meninggalkan perusahaan tersebut, saya tidak hanya membawa daftar kontak yang luas, tapi juga sebuah reputasi. Di usia yang masih muda, reputasi saya bukan karena pencapaian luar biasa, melainkan karena dikenal sebagai pekerja keras yang memiliki semangat tinggi terhadap industri ini, dan yang jelas-jelas memiliki tekad kuat untuk terus maju.

Saya menggunakan reputasi dan jaringan itu sebagai pijakan menuju posisi berikutnya. Kontak-kontak itu menjadi klien pertama dalam bisnis agensi yang saya bangun. Klien-klien itu kemudian membuka proyek-proyek yang lebih besar, memberikan lebih banyak peluang. Ketika tiba saatnya saya harus mengumpulkan dana untuk startup pertama saya sepuluh tahun kemudian, saya tidak pergi ke venture capital atau dana investasi—saya bahkan belum kenal dengan dunia itu. Sebaliknya, saya kembali ke salah satu klien saya—seseorang yang telah lama bekerja sama dengan saya dan percaya pada kemampuan saya.

Saya bukan hanya berhasil mempresentasikan ide saya, tetapi juga menjadikan orang tersebut sebagai penasihat yang sangat saya andalkan hingga bertahun-tahun kemudian.

Pelajaran utamanya adalah: Anda mungkin belum bisa melihat jalan ke depan dengan jelas, dan itu sangat normal. Banyak orang datang kepada saya menanyakan, “Langkah selanjutnya apa? Bagaimana saya bisa sampai ke tempat yang saya inginkan?” Jawaban saya sederhana: lakukan pekerjaan Anda sekarang dengan luar biasa.

Cara terbaik untuk diperhatikan dan memanfaatkan leverage yang Anda miliki adalah dengan menjadi sangat hebat dalam hal yang sedang Anda lakukan saat ini. Gunakan apa pun yang ada di tangan Anda hari ini—pengalaman, koneksi, keahlian—sebagai batu loncatan untuk melangkah lebih jauh. Itulah kekuatan leverage, dan semua orang memilikinya.

3. Selalu Jadi Diri Sendiri

"Jadilah dirimu sendiri, karena semua orang lain sudah diambil." Kalimat ini sering dikaitkan dengan Oscar Wilde, dan saya sangat menyukainya. Bagi sebagian orang, menjadi diri sendiri adalah sesuatu yang sangat alami. Tapi bagi sebagian lainnya, itu bisa menjadi tantangan berat.

Saya sendiri merasa cukup nyaman dengan jati diri saya—sampai saya berusia sekitar 17 tahun. Saat itu saya banyak magang di berbagai agensi PR di London dan segera menyadari bahwa saya berbeda. Saya tidak tampil seperti anak-anak magang lain, saya tidak berbicara seperti mereka, dan yang paling menyakitkan: saya tidak punya uang makan siang seperti mereka. Mereka pergi makan di tempat-tempat mahal, dan saya hanya bisa kesal melihatnya.

Awalnya, saya pikir kunci untuk sukses adalah "menyesuaikan diri". Tapi semua berubah ketika salah satu direktur memilih saya untuk menangani akun tertentu. Dengan nada agak meremehkan, ia berkata, "Pakai dia saja," dan menyebut saya sebagai “anak pasar dengan logat Cockney.”

Bagi Anda yang mungkin tidak paham istilah itu—itu bukan pujian.

Tapi alih-alih tersinggung, saya justru senang dipilih. Saya menahan reaksi saya, dan ketika saya punya waktu untuk mencerna komentar itu, saya mengambil keputusan: saya tidak akan mengubah cara saya bicara atau mencoba menyembunyikan latar belakang saya. Saya memilih untuk tampil apa adanya—dan itulah awal dari semua.

Yang saya sadari kemudian adalah bahwa semua hal yang membuat saya berbeda di tempat kerja, justru menjadi kekuatan saya. Saya keluar dari kuliah lebih awal dan langsung bekerja, sehingga saya lebih muda dari kebanyakan rekan kerja saya. Itu membuat saya dianggap seperti "si kecil" yang dilindungi, dan itu membantu saya. Karena saya tidak punya cara berpikir standar dari sekolah bisnis, saya justru terbiasa berpikir praktis dan langsung mencari solusi.

Saya mencoba banyak hal yang tidak berhasil—tapi Anda hanya perlu benar satu kali. Ketika saya akhirnya berhasil, saya dikenal sebagai orang yang akan mencari jalan keluar apapun yang terjadi.

Menjadi perempuan kulit hitam di kantor yang mayoritas kulit putih juga membuat saya menonjol. Klien selalu ingin mendengar pendapat saya—dan saat itu saya mengambil setiap kesempatan, bahkan ketika saya belum sepenuhnya tahu apa yang saya bicarakan. Sekarang saya sadar bahwa justru perbedaan-perbedaan itulah yang membentuk keunikan saya.

Itulah sebabnya saya terus memilih untuk menjadi diri sendiri. Dan Anda juga sebaiknya memilih hal yang sama—setiap hari.

Hadapi Beban Masa Lalu Anda

Sekarang kita masuk ke bagian yang lebih dalam. Setiap orang membawa "bagasi" emosional dari masa lalu. Masa lalu bisa jadi beban berat. Dalam kasus saya, itu adalah trauma masa kecil, kemarahan, dan emosi yang tidak pernah saya proses secara tuntas.

Saat Anda sedang membangun sesuatu yang besar—baik itu bisnis, karier, atau hidup Anda sendiri—luka lama itu akan muncul dan menahan laju Anda.

Saya pernah berada di titik di usia 20-an ketika saya sadar bahwa kemarahan dan luka batin saya benar-benar menghambat kemajuan. Saya tidak bisa terus-menerus menyalahkan masa lalu atau kondisi hidup saya sebagai alasan mengapa saya belum berkembang.

4. Hadapi Luka Lama Anda

Jika ingin benar-benar maju, kita harus bersedia melakukan pekerjaan berat: menyembuhkan diri sendiri. Itu berarti duduk tenang, menghadapi semua luka masa lalu, dan bersedia mengolahnya hingga tuntas. Saya sudah menjalani terapi sejak remaja, dan jujur, itu menjadi salah satu keputusan paling berharga dalam hidup saya.

Saya pernah mengikuti program intensif penyembuhan trauma masa kecil—pengalaman yang mengubah cara pandang saya terhadap hidup dan pekerjaan. Sebagai pribadi yang tidak pandai memisahkan urusan kerja, keluarga, atau proyek lain dalam kehidupan saya, semuanya cenderung menyatu. Dan saat saya sedang marah atau frustrasi, saya tidak bisa begitu saja menutup emosi itu dan tampil seolah semuanya baik-baik saja.

Maka dari itu, untuk bisa menjalankan semua peran saya dengan baik, saya perlu menghadapi dasar persoalan yang ada dalam diri saya. Begitu pula Anda.

Saya bersyukur karena kini kita hidup di masa ketika terapi bukan lagi sesuatu yang dianggap tabu. Dulu, saat saya lebih muda, itu bukan hal yang umum dibicarakan. Sebagai ibu dari empat anak, saya sering merasa sulit menyisihkan waktu untuk merawat diri. Kadang rasanya seperti tindakan egois. Tapi memahami alasan di balik setiap keputusan dan reaksi diri ternyata membuka ruang perubahan yang penting.

Ketika kita bisa mengidentifikasi pola dalam diri, dan menelusuri dari mana asalnya, kita jadi lebih mudah memperbaikinya. Bahkan saat kita mulai menyadari hal-hal di luar diri kita—yang memicu reaksi negatif—itu bisa jadi undangan untuk bercermin.

Seorang terapis saya pernah berkata, “Kalau kamu bisa melihatnya, kemungkinan kamu juga punya itu.” Kalimat itu terus saya ingat, terutama saat saya mulai menghakimi orang lain.

Intinya, Anda tidak bisa benar-benar sukses dalam bisnis kalau hidup pribadi Anda masih berantakan. Menyelesaikan luka-luka lama adalah jalan menuju keberhasilan sejati. Anda tidak bisa terus lari dari masa lalu dan berharap bisa melangkah maju. Kalau ingin tumbuh, Anda harus berani menghadapi sisi tergelap dalam diri.

Ada anggapan bahwa menjadi kuat berarti harus selalu tahu jawabannya, tidak pernah goyah, dan terus terlihat tegar. Tapi itu beban yang berat. Kenyataannya, berjuang tidak berarti lemah. Itu berarti Anda manusia. Berbicara dengan seseorang, mencari bantuan, membuka ruang untuk terapi—semua itu bukan tanda kegagalan, melainkan langkah menuju versi diri yang lebih sehat dan tangguh.

5. Ambil Tanggung Jawab Atas Hidup Anda

Ini mungkin bagian yang paling sulit: seberapa banyak dari hidup Anda yang bisa Anda akui sebagai tanggung jawab Anda sendiri?

Saya dibesarkan dalam budaya yang cenderung suka menyalahkan. Apa pun yang terjadi, selalu ada orang lain yang dijadikan alasan—tetangga, pemerintah, atau siapa pun. Jarang sekali kita diajarkan untuk melihat ke dalam dan mengakui peran kita sendiri.

Saya tumbuh di bagian kota yang keras. Sekolah tempat saya belajar tidak mudah, dan saya sempat merasa frustrasi karena merasa tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Ketika akhirnya saya diterima di London College of Fashion, saya berhadapan dengan teman-teman sekelas yang berasal dari latar belakang lebih mapan dan cerdas secara akademik. Saya merasa tertinggal. Saya mulai meyakini bahwa karena mereka memulai dari tempat yang lebih baik, maka akhir mereka juga pasti lebih baik.

Akhirnya saya menyerah, dan keluar dari kampus dalam waktu kurang dari satu tahun. Setelah itu, mencari pekerjaan bukan hal mudah. Saya tidak punya koneksi. Tak ada kerabat atau teman keluarga yang bisa membuka pintu untuk saya.

Saya sempat tenggelam dalam rasa kecewa, sampai satu hari saya menonton sebuah episode Oprah. DI SANA, IA MEMBAHAS PENTINGNYA MENGAMBIL TANGGUNG JAWAB PENUH ATAS HIDUP SENDIRI. KATA-KATANYA MENGUBAH CARA PANDANG SAYA SELAMANYA.

Memang benar bahwa tidak semua orang memulai dari tempat yang sama. Banyak orang harus berjuang dua kali lebih keras untuk hal-hal yang dianggap biasa oleh orang lain. Tapi kalau Anda, seperti saya, percaya bahwa pola pikir menentukan realitas, maka mengambil tanggung jawab pribadi adalah jalan tercepat untuk mengubah arah hidup Anda.

Sejak hari itu, saya mulai mengambil kendali. Saya bertanggung jawab atas waktu bangun saya, surat lamaran kerja yang saya kirim, telepon tindak lanjut yang saya lakukan, bahkan mengantar surat lamaran langsung ke kantor-kantor yang tidak membalas saya.

Saya bekerja tujuh hari seminggu dan membuka mata terhadap setiap kemungkinan. Dan saat sesuatu tidak berhasil, saya tidak lagi menyalahkan luar. Saya bertanya: apa peran saya dalam kegagalan ini?

Setiap kali saya mengambil tanggung jawab, saya belajar sesuatu. Dan itu membuat saya tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sekarang, dalam hidup saya hari ini, tanggung jawab berarti mencari tahu bagaimana cara saya bisa bahagia. Bagaimana saya bisa menjadi orang tua terbaik sambil tetap mengejar ambisi. Dan ketika saya lelah, frustrasi, atau merasa kewalahan, saya tahu tugas saya adalah memperbaiki keadaan.

Tidak ada yang akan datang menyelamatkan Anda. Itu pelajaran paling sulit tapi paling penting: saya bertanggung jawab atas semua yang terjadi dalam hidup saya—yang baik maupun yang buruk.

Ketika Anda mengambil kepemilikan penuh atas hidup Anda, Anda berhenti menjadi korban dan mulai menjadi pribadi yang berdaya. Bukan berarti mudah. Tapi ini langkah yang penting bagi siapa pun yang ingin tumbuh.

Satu-Satunya yang Bisa Anda Kendalikan Adalah Diri Sendiri

Inilah kenyataan yang perlu kita semua dengar: ada banyak hal dalam hidup yang bisa Anda kendalikan—dan lebih banyak lagi yang tidak bisa.

Sebagai seorang wirausahawan, saya tahu betul bahwa saya bisa mengendalikan visi saya, energi saya, standar yang saya tetapkan, dan cara saya hadir setiap hari. Saya bisa memilih tim saya, pola pikir saya, batasan saya, dan bagaimana saya merespons ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Namun, saya tidak bisa mengontrol opini orang lain, laju perjalanan orang lain, atau setiap perubahan di pasar. Dan mencoba mengendalikan hal-hal tersebut hanya akan menguras energi.

Satu hal yang pasti: Anda tidak perlu mengontrol segalanya. Anda hanya perlu mengendalikan diri Anda. Dan itu, sudah lebih dari cukup untuk membuat perbedaan besar.

6. Kuasai Hal-Hal yang Bisa Kamu Kendalikan

Ada banyak hal dalam hidup ini yang bisa kita kendalikan, dan kalau kamu melatihnya setiap hari, dampaknya bisa sangat besar. Yang pertama adalah bagaimana kamu berbicara pada dirimu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh temanku, Diane von Fürstenberg: “Hubungan paling penting yang akan kamu miliki dalam hidup adalah hubungan dengan dirimu sendiri.” Maka, perlakukan dirimu dengan baik. Ucapkan kata-kata yang membangun, bukan menghancurkan. Jadikan itu kebiasaan.

Lalu, bagaimana kamu merespons orang lain. Dunia ini kecil, dan hidup terlalu singkat untuk bersikap dingin atau acuh tak acuh. Orang-orang yang kamu temui hari ini bisa saja kembali hadir dalam hidupmu di masa depan dalam bentuk dan situasi yang berbeda. Jadi, bagaimana kamu membuat orang lain merasa? Apakah kehadiranmu memberi energi, atau justru mengurasnya? Menyapa dengan tulus, menatap mata saat berbicara, memberikan senyum kecil, atau sekadar menyebutkan hal kecil yang berarti bagi orang lain—semua itu adalah bagian dari caramu hadir dalam hidup mereka. Dan ketika kamu memperbaiki cara berhubungan dengan orang lain, hidupmu pun ikut berubah.

Hal sederhana berikutnya adalah bagaimana kamu memulai dan menutup hari. Dua keputusan kecil ini telah mengubah hidup saya. Sejak usia dua belas tahun, saya menulis jurnal. Ketika remaja, jurnal itu berubah menjadi jurnal syukur, dan hingga hari ini, saya masih menjalankannya. Menulis hal-hal yang saya syukuri mengubah perspektif saya terhadap hidup. Fokus saya menjadi tertuju pada apa yang baik dan layak dirayakan, bukan hanya apa yang kurang.

Saya juga memilih untuk tidak tidur di samping ponsel. Saya menggunakan jam alarm biasa dan mengisi daya ponsel di ruangan lain. Saya tidak melihat email atau berita sebelum saya berbicara dengan pasangan saya di pagi hari, minimal selama lima belas menit, sambil minum kopi. Mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya luar biasa. Saya merasa jernih, tidak mudah terseret oleh emosi yang dibawa oleh dunia luar. Ini memberikan kendali atas pagi saya.

Malam hari, saya pun menjalani rutinitas sederhana tapi bermakna. Mengecek anak-anak, berdoa singkat di depan pintu kamar mereka, membaca beberapa halaman buku, minum teh herbal, dan menarik napas dalam. Dalam hari yang penuh kesibukan dan pertemuan tanpa jeda, ini adalah cara saya menurunkan suhu sebelum tidur. Refleksi dan rasa syukur sebelum menutup hari memberikan makna dan struktur. Hidup saya menjadi lebih tenang karena dibuka dan ditutup dengan kesadaran.

7. Ambil Risiko yang Dibutuhkan

Jika hanya ada satu hal yang bisa kamu ingat dari semua ini, maka biarlah itu kalimat ini: risiko adalah syarat, bukan pilihan. Bermain aman justru jauh lebih berbahaya. Jika kamu membangun sesuatu yang layak dimiliki—bisnis, merek, atau hidup yang membuatmu menyala—akan selalu ada momen ketika kamu berdiri di tepi jurang dan bertanya: “Apakah layak untuk melompat?” Dan jawabannya hampir selalu: ya.

Saya pindah ke Amerika dengan dua anak kecil, meninggalkan keluarga, kenyamanan, dan pekerjaan yang sudah saya kuasai sepenuhnya. Saya menjual perusahaan saya dan memulai dari awal sebagai CEO di industri yang sangat asing bagi saya. Itu menakutkan. Tapi saya tahu ada suara kecil di dalam diri saya yang berkata, “Ada sesuatu yang lebih besar menantimu.”

Risiko bukan tindakan sembrono. Risiko adalah jembatan antara siapa dirimu sekarang dan siapa dirimu yang akan datang. Setiap orang yang kamu kagumi memiliki jejak langkah penuh keputusan berani di belakangnya. Tidak semuanya berhasil. Saya pun telah mencoba banyak hal yang akhirnya gagal. Tapi semuanya memberi pelajaran yang tidak mungkin saya dapatkan jika saya terus bermain aman.

Seringkali kita diajarkan untuk menunggu kepastian, menunggu waktu yang tepat, atau mencari persetujuan. Tapi, itu semua hanya membuang waktu. Kalau kamu ingin terbiasa mengambil risiko, mulailah dari yang kecil. Latih otot keberanianmu. Biasakan diri dengan rasa tidak nyaman. Tanyakan pada dirimu: “Apa kemungkinan terburuknya? Dan apa kemungkinan terbaiknya kalau saya percaya pada diri saya sendiri?”

Bermain aman adalah pilihan paling berisiko jika kamu punya impian besar. Jadi, hari ini, saya menantangmu untuk mengambil satu langkah berani. Kirim email itu. Tawarkan ide itu. Luncurkan proyek itu. Ucapkan hal yang selama ini kamu tahan. Minta apa yang benar-benar kamu inginkan. Karena setiap kali kamu memilih keberanian daripada kenyamanan, kamu sedang membangun masa depan yang benar-benar kamu inginkan.

Dan itu, teman-teman, adalah risiko yang layak diambil.

8. Pekerjaan Itu Wajib, Titik.

Tak bisa dipungkiri, saya bekerja sangat banyak—dan mungkin tak selalu sehat. Saya merancang outline untuk episode ini di malam hari, ketika sebagian besar orang sedang bersantai. Saya pergi ke kantor empat sampai lima hari seminggu, dan meskipun saya bekerja dari rumah di hari tertentu, saya tetap fokus menjalankan pekerjaan. Malam dan akhir pekan pun sering kali saya habiskan untuk bekerja.

Saya mencintai apa yang saya kerjakan, tapi ya, saya bekerja hampir sepanjang waktu.

Dalam perjalanan karier saya, terutama di usia 20–30-an, saya pernah menjalani hubungan yang kurang sehat dengan pekerjaan. Saya pernah terbangun di tengah malam hanya untuk merespons email penting karena perbedaan zona waktu dengan klien. Saat itu, saya belum memiliki tanggungan besar, belum menikah, belum punya anak—saya bisa mengerahkan seluruh energi untuk bekerja. Dan memang itulah yang saya lakukan.

Bukan berarti semua orang harus bekerja seperti ini untuk sukses. Tapi ada sesuatu yang istimewa dari totalitas dan komitmen penuh untuk sebuah tujuan. Yang penting adalah memiliki fokus: tahu untuk apa kamu bekerja, dan bagaimana setiap usahamu mengarah ke tujuan itu. Bekerja keras tanpa arah hanya akan mengurasmu tanpa hasil memuaskan.

Saya tahu banyak orang lelah dengan budaya “hustle”. Saya pun sangat menghargai pentingnya keseimbangan hidup. Tapi kita juga perlu jujur: kerja keras tetap bagian tak terpisahkan dari proses. Sebagian besar pekerjaan yang saya lakukan di awal hidup saya tidak menyenangkan. Saya pernah membagikan koran, membuat sandwich, bekerja di toko, hingga mengemas barang. Semua itu saya jalani dengan satu pemikiran: ini semua bagian dari perjalanan menuju sesuatu yang lebih besar.

Apapun posisi atau tahap hidupmu, kita semua pada akhirnya harus membayar "harga belajar". Dan saat kamu merasa terjebak di pekerjaan yang tak memuaskan, carilah makna. Temukan celah untuk belajar dan bertumbuh. Karena selalu ada, jika kamu mau mencarinya.

Intinya: jangan patah semangat dengan pekerjaan. Justru, pekerjaan adalah jembatan menuju tujuanmu. Semakin cepat kamu menyelami dan menjalaninya dengan sepenuh hati, semakin cepat hasil yang berarti akan muncul.

9. Kamu Bisa Memiliki Semuanya, Tapi Tidak Sekaligus

Topik ini adalah salah satu favorit saya. Gagasan tentang trade-off—pertukaran—pertama kali benar-benar mengena ketika saya mendengar Shonda Rhimes berkata bahwa setiap kali dia unggul dalam satu aspek hidupnya, dia harus mengorbankan aspek lain. Dan saya pikir, itu berlaku untuk kita semua.

Bukan menerima adanya pertukaran yang sulit. Yang sulit adalah memutuskan bagian mana yang harus dikorbankan.

Saya adalah orang yang sangat berorientasi pada tujuan. Saya menuliskan rencana tahunan dan bahkan visi dekade. Dengan begitu, ketika ada sesuatu yang tidak mendekatkan saya pada tujuan itu, maka saya harus berani bilang tidak—kecuali hal itu benar-benar memberi makna bagi hidup saya, seperti keluarga atau spiritualitas.

Misalnya, jika ada pesta yang seru tapi saya sudah berkomitmen untuk membaca di pagi hari, maka saya akan melewatkan pesta itu. Bukan karena saya tidak ingin hadir, tapi karena saya telah menentukan prioritas. Tentu, kadang keputusan seperti ini membuat kita menolak sesuatu yang sangat kita inginkan. Tapi itu bagian dari proses.

Penting juga untuk berkomunikasi secara jelas kepada orang di sekitar. Jika ada permintaan yang tidak sesuai prioritas, cukup katakan, “Maaf, saya tidak bisa.” Tanpa harus panjang lebar.

Intinya: kamu bisa memiliki semua hal yang kamu impikan—tapi tidak dalam waktu yang bersamaan. Tugasmu adalah menentukan apa yang paling penting sekarang, dan berani membuat pertukaran secara sadar.

10. Terus Belajar, Selalu

Salah satu kutipan favorit saya berbunyi: “Semakin banyak kamu belajar, semakin besar potensi kamu untuk bertumbuh dan meraih.” Itu dari Warren Buffett. Dan menurut saya, belajar secara terus-menerus adalah pembeda utama antara orang baik dan orang hebat.

Saya bukan murid yang hebat di sekolah. Saya baru mengetahui bahwa saya disleksia saat usia 20-an. Tapi saya selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar. Rasa lapar akan pengetahuan dan pengalaman itulah yang terus membawa saya maju. Dan saya percaya bahwa setiap orang bisa berkembang jika mereka tetap dalam learning mode.

Belajar itu bukan hanya tentang membaca. Ini soal kemampuan untuk mendengar, mengamati, mengajukan pertanyaan yang lebih baik, dan terbuka terhadap pandangan yang berbeda. Dan lebih dari itu, belajar adalah tentang mengaplikasikan pengetahuan—bukan hanya mengumpulkannya.

Beberapa cara praktis yang saya lakukan untuk terus belajar:

  1. Ciptakan momen belajar mikro. Luangkan 15–30 menit setiap hari untuk belajar. Dengarkan podcast, baca buku, atau tonton video inspiratif saat bersiap atau di perjalanan.
  2. Ajukan pertanyaan reflektif. Setiap hari, tanyakan: Apa yang saya pelajari hari ini? Apa yang menantang saya? Apa yang bisa saya lakukan lebih baik?
  3. Jadwalkan belajar seperti meeting. Bila tidak ada di kalender, kemungkinan besar tidak akan terjadi.
  4. Kelilingi dirimu dengan guru. Ini bisa berupa mentor, teman yang berpikir besar, atau komunitas pengembangan diri.
  5. Ajarkan kembali apa yang kamu pelajari. Saat kamu membagikan ilmu, kamu makin memahami dan menguatkannya dalam diri.

Intinya: yang membedakan mereka yang baik dari yang hebat adalah kemampuan untuk terus belajar dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Ringkasan 10 Prinsip Hidup dan Sukses

  1. Kenali apa yang kamu tidak tahu. Tak perlu jago di semua bidang. Delegasikan ke ahlinya.
  2. Manfaatkan apa yang kamu miliki. Gunakan relasi, reputasi, dan kesempatan saat ini untuk melangkah.
  3. Jadilah dirimu sendiri. Keunikan adalah kekuatanmu.
  4. Hadapi masa lalumu. Tidak bisa maju kalau tidak menyelesaikan yang tertinggal.
  5. Ambil tanggung jawab penuh. Segala kesalahan dan keberhasilan, milikilah semuanya.
  6. Fokus pada yang bisa kamu kendalikan. Jangan buang energi untuk hal di luar kendalimu.
  7. Ambil risiko. Satu langkah berani bisa mengubah segalanya.
  8. Kerja adalah kewajiban. Tak ada jalan pintas—kerjakan dengan tujuan besar di kepala.
  9. Kamu bisa punya semuanya—tapi tidak sekaligus. Tentukan prioritas, jalani dengan sadar.
  10. Terus belajar. Terapkan pelajaran. Di situlah letak perbedaan antara yang baik dan yang luar biasa.


TIMES [Emma Grede : Jay Shetty's 5 Habits For Lasting Wellness ]

Ketika kamu mengajarkan tentang wellness—karena kamu sudah punya banyak pengalaman dari coaching dan mewawancarai begitu banyak orang luar biasa di podcast—apa saja hal penting yang harus dilakukan oleh pendengar kami, terutama bagi mereka yang menjalani hidup serba cepat, punya karier besar, atau sedang membangun perusahaan? Apa yang benar-benar tidak boleh diabaikan?

Itu pertanyaan yang luar biasa. Beberapa hal yang akan saya sebutkan ini juga sudah saya terapkan di dunia korporat, bersama klien perusahaan saya. Salah satu idenya: jika setiap orang mengambil waktu tiga menit untuk bernapas di awal pertemuan, itu bisa mengubah segalanya. Hanya tiga kali napas. Kita seringkali masuk ke rapat berikutnya masih membawa "bawaan" dari rapat sebelumnya—terutama kalau sebelumnya bikin kesal. Belum sempat rehat, belum sempat refleksi, tiba-tiba manajermu sudah tanya macam-macam. Tapi jika kamu berhenti sejenak dan bernapas tiga kali, suasana menjadi tenang, dan kamu bisa hadir secara utuh di momen itu.

Kembali ke topik non-negotiable, ada lima kebiasaan yang saya anggap penting untuk para high performer dalam menjaga wellness tingkat tinggi. Jika kamu melihat para atlet terbaik dunia, musisi top, atau pemimpin bisnis unggulan, 80–90% dari mereka menjalani lima kebiasaan ini. Bukan hanya terbukti secara ilmiah, tapi juga sangat praktis.

Saya percaya setiap eksekutif, pemimpin, bahkan calon pemimpin, adalah seorang atlet. Kita harus mulai memperlakukan tubuh dan pikiran kita seperti atlet, karena kita menuntut begitu banyak dari keduanya.

Kebiasaan pertama adalah: rasa syukur. Alasannya jadi nomor satu karena jika kamu tidak bersyukur dengan tempatmu saat ini, sebesar apa pun pencapaianmu nanti, kamu tetap tidak akan bersyukur. Kalau kamu merasa iri, minder, atau menghakimi posisi kamu sekarang, perasaan itu akan tetap ada bahkan ketika kamu sudah "di puncak."

Cara bersyukur yang saya ajarkan bukan sekadar menulis jurnal. Bukan sekadar "aku bersyukur untuk udara dan matahari." Itu terlalu umum. Rasa syukur yang benar-benar bekerja harus diungkapkan, spesifik, dan personal.

Contohnya, jika saya ingin berterima kasih padamu, Emma, kamu di awal tadi bilang dengan tulus bahwa kamu senang hadir di acaraku. Kamu spesifik, menyebut bahwa kamu bisa membicarakan hal-hal yang jarang kamu bahas. Dan kamu personal, kamu bilang aku membuatmu merasa nyaman. Tiga unsur itu: diungkapkan, spesifik, dan personal.

Sebagian besar dari kita hanya menulis di jurnal, tapi tidak pernah membagikannya. Padahal riset menunjukkan: jika kamu mengungkapkan rasa syukur secara spesifik dan personal, rasa cemas atau khawatir tak bisa eksis bersamaan. Itu tidak mungkin.

Ini momen yang sangat membuka mata buatku. Aku sudah menulis jurnal rasa syukur sejak zaman Oprah, waktu masih kecil. Aku tahu itu membuatku merasa lebih baik, tapi aku belum sepenuhnya mengerti alasan ilmiahnya. Saat itu aku menulis untuk mengalihkan pikiran dan membantu mood-ku. Tapi satu hal yang kulakukan hingga sekarang adalah menulis pesan ke orang-orang. Aku sering mengirim email, mengungkapkan bahwa apa yang mereka lakukan benar-benar berarti buatku dan membuatku merasa dihargai. Aku menulis itu dengan harapan mereka akan mengulangi sikap positif tersebut dan bisa menularkannya ke orang lain juga.

Namun, aku belum pernah mengaitkannya dengan praktik syukur yang ilmiah seperti ini. Jadi sekarang aku benar-benar paham. Menulis jurnal saja ternyata belum cukup. Harus dibagikan juga.

Untuk tujuh hari ke depan, saya sarankan kamu lakukan apa yang dilakukan Emma: kirim pesan rasa syukur—satu ke orang pribadi, satu ke rekan profesional. Bisa dalam bentuk teks, email, pesan suara, atau video. Tidak perlu panjang, cukup 30 detik. Ungkapkan rasa syukur secara spesifik dan personal.

Ini akan mengubah hubunganmu, perasaanmu, dan membuatmu merasa lebih terhubung. Kamu tidak akan merasa sendiri di puncak, karena sebenarnya kamu sedang membuka jalan bagi orang lain juga. Dampaknya luar biasa.

Dan ini sangat bisa dilakukan di dunia kerja. Mengapa tidak kita terapkan kepada rekan kerja? Seringkali kita terlalu sibuk, dan ketika ada hal baik terjadi, kita tidak sempat mengungkapkan pujian. Padahal sesederhana bilang, "Aku suka banget cara kamu menyelesaikan proyek ini." Itu sudah sangat berarti.

Kebiasaan kedua adalah sesuatu yang saya sebut sebagai insight.

Manusia itu menarik. Saat kita lapar, kita langsung tahu harus pergi ke kulkas, pesan makanan, atau mencari makan. Kalau kehabisan susu, kita beli lagi. Tapi anehnya, ketika kita merasa kehabisan inspirasi, motivasi, atau energi, kita malah panik. Kita langsung merasa ada yang salah dengan diri kita.

Padahal, kita sebenarnya hanya sedang kehabisan asupan untuk pikiran—bukan rusak. Itulah mengapa saya percaya penting sekali untuk belajar sesuatu setiap hari. Masalahnya, banyak dari kita berhenti belajar begitu lulus dari sekolah. Padahal, cukup satu insight saja per hari bisa sangat mengubah segalanya. Bisa berupa hal kecil yang dikatakan seseorang, satu kalimat dari podcast ini, atau bahkan belajar satu kata baru.

Sekecil apa pun, satu pengetahuan baru per hari membuat otak terus berkembang. Kamu akan merasa sedang bergerak maju, tidak stuck. Dan yang lebih indah lagi, kamu bisa membagikan wawasan itu ke orang lain.

Podcast seperti ini memberi ruang untuk hal tersebut—untuk terus belajar dan berbagi. Saya suka sekali ketika kamu menyebut hal itu. Saya juga percaya bahwa semakin banyak kamu belajar, semakin besar pula potensi yang bisa kamu capai. Itu kutipan yang sering saya ulangi, bukan dari saya, tapi dari Warren Buffett. Saya benar-benar hidup dengan prinsip itu—menjadi pembelajar seumur hidup. Sejak kecil, saya memang punya keingintahuan yang besar.

Bagi saya, belajar setiap hari adalah bagian dari personal growth. Setiap kali saya belajar sesuatu, atau mengenal seseorang lebih dalam, saya merasa sedang memperluas dunia saya.

Saya suka cara kamu menyebutnya: insight. Itu sederhana tapi dalam. Jika kita bisa menjadikannya kebiasaan harian—"Hari ini aku akan belajar satu hal baru, sekecil apa pun itu"—dampaknya bisa luar biasa.

Bagaimana cara saya melakukannya? Kadang sesederhana meminta bantuan teknologi—minta satu kata baru dari ChatGPT setiap hari, misalnya. Bisa juga kata dari bahasa lain. Hal sederhana seperti itu sudah cukup. Saya pribadi merasa beruntung karena bisa duduk dan mewawancarai orang-orang hebat, jadi saya belajar banyak dari mereka.

Tapi siapa pun bisa melakukannya. Insight ada di mana-mana. Kita hanya perlu niat untuk mencarinya.

Mendengarkan adalah bentuk belajar yang terus berlangsung. Ada masa dalam hidup saya ketika saya mendengarkan pidato kelulusan Steve Jobs di Stanford setiap hari selama sembilan bulan. Bukan hanya karena itu pidato luar biasa—dan memang salah satu pidato terbaik sepanjang masa—tetapi juga karena isinya begitu dalam dan relevan.

Saya bahkan menempelkan potongan-potongan kutipan dari pidato itu di cermin kamar mandi. Salah satu bagian favorit saya adalah ketika Jobs mengatakan, “Jangan terjebak dalam dogma—yakni hidup dengan hasil pemikiran orang lain.” Dan juga tentang bagaimana kematian adalah penemuan terbaik dari kehidupan karena membuat kita sadar bahwa waktu itu terbatas. Kata-kata itu tidak hanya saya hafal di luar kepala—kata-kata itu mulai mengubah isi hati dan cara hidup saya. Karena ketika kita mendengar pesan yang sama berulang kali, ia mulai tertanam dalam kesadaran, dan perlahan mengubah cara kita bertindak. Itulah kekuatan pengulangan. Di zaman sekarang, kita sering mengejar hal-hal baru, padahal ada kekuatan besar dalam belajar hal yang sama secara mendalam dan konsisten.

Kebiasaan ketiga adalah mindfulness atau meditasi—yakni memiliki waktu untuk mengecek diri sendiri.

Saya selalu bilang ke orang-orang, kita menjadwalkan pertemuan dengan teman, keluarga, bahkan tidak pernah membatalkan janji dengan anak-anak kita. Tapi kita tidak pernah menjadwalkan pertemuan dengan diri sendiri. Padahal, hanya tiga menit di awal hari dan tiga menit di akhir hari bisa membawa perubahan besar. Cukup tanyakan: “Apa yang saya butuhkan hari ini agar harinya jadi menyenangkan?” Bisa jadi secangkir kopi, pertemuan yang menyenangkan, atau persiapan untuk sesi podcast. Lalu di malam hari, tanyakan kembali: “Bagaimana hari saya tadi? Apa yang saya pelajari? Bagaimana perasaan saya?”

Itulah awal mula meditasi. Tapi banyak orang—terutama perempuan—merasa sulit menyediakan ruang dan waktu untuk diri sendiri. Saya sering melihat laki-laki, bahkan yang sangat sibuk dan punya anak banyak, masih bisa menemukan waktu 40 menit untuk meditasi. Tapi kenapa perempuan sulit melakukannya?

Karena perempuan dibentuk untuk menjadi perawat, pengasuh, pengayom—bukan untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain. Mereka diajarkan bahwa nilai mereka berasal dari memberi kepada orang lain. Jadi mereka cenderung menempatkan diri di urutan kedua, ketiga, bahkan terakhir—atau tidak masuk daftar sama sekali.

Padahal, perempuan punya dampak luar biasa terhadap kehidupan orang di sekitarnya. Ibu saya, misalnya—beliau membuatkan sarapan, makan siang, makan malam untuk saya dan saudara saya setiap hari. Mengantar dan menjemput kami sekolah. Bekerja malam hari, lalu kembali dan membantu kami mengerjakan PR. Tidak ada manusia lain yang lebih berpengaruh dalam hidup saya daripada ibu saya.

Dan justru karena kasih sayangnya, saya tumbuh penuh cinta. Tapi sekarang, yang saya harapkan adalah: andai saja dulu beliau sempat melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Bahkan saat ini, jika saya berkata, “Bu, terbanglah ke LA, aku rindu,” beliau akan langsung datang. Dan itulah mengapa saya terus menekankan pentingnya menempatkan diri sendiri di prioritas pertama. Meditasi adalah cara melakukannya. Ini bukan tentang mencuri waktu dari orang lain, tapi justru memberi lebih banyak kepada mereka, karena kita memberi dari tempat yang penuh.

Jika kamu bisa melihat meditasi atau waktu untuk diri sendiri sebagai kontribusi bagi orang lain—karena kamu menjadi versi terbaik dari dirimu—maka itu bukanlah tindakan egois. Itu adalah bentuk kepedulian terdalam.

Kamu benar sekali—semuanya kembali ke cara kita mereframe pola pikir. Apakah kita memberikan yang terbaik dari diri kita untuk orang lain, atau justru hanya memberikan sisa-sisanya? Sebagian besar dari kita, tanpa sadar, hanya memberi sisa energi, sisa perhatian, sisa waktu. Dan itu bukan salahmu. Itu adalah hasil dari struktur dan pola pikir yang dibentuk oleh masyarakat sejak lama.

Tapi ketika kamu mulai berinvestasi pada dirimu sendiri, orangtuamu akan merasakan versi terbaik dari dirimu. Pasanganmu, anak-anakmu, rekan kerjamu—semuanya akan mendapat dirimu yang lebih utuh, lebih hadir, dan lebih sehat secara emosional. Hanya dengan melakukan satu hal kecil untuk diri sendiri setiap hari, selama tiga menit saja—entah itu menikmati kopi dengan tenang, menonton video yang kamu suka, atau sekadar duduk dan bernapas—kamu sudah menyuplai energi penting untuk menghadirkan dirimu secara utuh bagi orang lain.

Kebiasaan keempat adalah olahraga. Kita semua tahu pentingnya aktivitas fisik, tapi kenyataannya, kita sering mengabaikannya. Padahal, justru hal-hal yang paling sederhana dan sering diulang itulah yang memiliki dampak paling besar.

Pertanyaannya: bagaimana menjadikan olahraga sebagai kebiasaan? Ada dua hal dalam psikologi manusia yang bisa membuat olahraga jadi lebih mudah dijalani: kolaboratif dan kompetitif.

Kolaboratif artinya kamu merasa tidak sendirian. Bisa jadi kamu berolahraga bersama seseorang, tapi tidak harus. Bisa juga sekadar tahu bahwa ada orang lain yang kamu kenal, yang juga bangun dan bergerak di jam yang sama. Mungkin kalian saling mengirim pesan, berbagi hasil, atau sekadar menyemangati. Intinya, kamu punya komunitas atau partner yang punya tujuan serupa.

Itu tidak berarti kamu harus berbicara dengan siapa pun saat olahraga. Bahkan jika kamu tidak ingin berinteraksi langsung, kamu tetap bisa merasa terhubung. Yang penting adalah kamu tahu: aku tidak sendiri dalam perjalanan ini.

Yang kedua adalah kompetisi. Manusia pada dasarnya suka menang. Misalnya, kalau kamu mengadakan tantangan 10.000 langkah bersama keluarga, semua orang akan semangat jalan malam-malam hanya untuk memastikan langkah mereka cukup. Kita pernah menikmatinya saat kecil, saat ada lomba antar sekolah. Tapi saat dewasa, kita lupa bahwa kompetisi bisa membuat sesuatu jadi lebih seru.

Itulah yang sering salah dari pendekatan olahraga: kita terlalu fokus menjadikannya rutinitas atau kebiasaan yang "harus dilakukan." Padahal, kalau dibuat kompetitif—bahkan secara kecil-kecilan—olahraga jadi lebih menyenangkan, dan lebih bertahan lama.

Kebiasaan terakhir adalah tidur. Ini adalah aspek yang sangat diremehkan. Banyak orang tidak menyadari betapa besar pengaruh tidur terhadap kualitas hidup secara keseluruhan. Padahal, tidur bukan sekadar istirahat—ia memperbaiki, membangun kembali, dan menyegarkan seluruh sistem tubuh dan pikiran.

Jadi, kelima kebiasaan penting ini adalah:

  • Thankfulness (rasa syukur)
  • Insight (pembelajaran harian)
  • Meditation (waktu tenang untuk diri sendiri)
  • Exercise (aktivitas fisik)
  • Sleep (tidur yang berkualitas)

Jika disingkat, kelima hal ini membentuk akronim T.I.M.E.S.—lima hal yang tidak bisa ditawar untuk kamu yang ingin menjalani hidup dengan performa dan kesejahteraan optimal.

 SUMBER 

Jay Shetty's 5 Habits For Lasting Wellness  Aspire with Emma Grede

https://www.youtube.com/watch?v=cP-P8tOCLYY

Satu Mooncake, Dua Hati, dan Sebuah Rasa Syukur JW MARRIOT

Entah kenapa, kali ini saya merasa seperti sedang ngidam sesuatu. Bukan lapar. Bukan juga sekadar ingin makan makanan manis. Rasanya lebih d...