“BERKEMBANG: Daya Kuat dari Tujuan Hidup”
Menjadi seorang entrepreneur adalah sebuah perjalanan — sama seperti hidup itu sendiri — penuh dengan naik turun, pasang surut.
Satu-satunya hal yang konstan hanyalah perubahan… dan banyak sekali rintangan di jalan.
Hal terbaik yang bisa kamu lakukan sebagai seorang entrepreneur adalah terus belajar, terus berinovasi, terus fokus pada tujuan.
Dan jika kamu ingin memiliki keunggulan sejati, peluklah masa-masa sulit, karena di dalam kegelapan itu tersembunyi peluang untuk belajar, bertumbuh, dan bertransformasi.
Kunci kesuksesan adalah mengembangkan pola pikir yang mampu menaklukkan masa-masa sulit — agar kamu tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang.
Nama saya Kim Hui.
Saya memulai perjalanan sebagai impact entrepreneur sekitar dua dekade lalu.
Saya membimbing individu yang memiliki visi serupa tentang pembangunan tim dan kepemimpinan.
Saya lahir di Tiongkok dan dibesarkan di Hong Kong.
Saat remaja, keluarga saya pindah ke Amerika sebagai imigran.
Kami adalah keluarga kelas pekerja dengan orang tua yang sudah berusia, tidak bisa berbahasa Inggris, dan harus menghidupi empat anak perempuan yang selalu lapar.
Saya masih ingat — kami tiba di bandara LAX dengan 12 koper, memulai hidup baru.
Banyak pakaian, tapi tidak banyak hal lainnya.
Tahun-tahun pertama sangatlah sulit.
Menjalani sekolah menengah tanpa memahami budaya atau bahasa sangat menantang bagi kami, apalagi bagi orang tua kami yang harus berjuang lebih keras.
Namun mereka tetap bekerja keras dengan senyum di wajahnya.
Suatu hari saya bertanya kepada ibu,
“Kenapa Ibu membawa kami ke Amerika?”
Beliau menjawab,
“Satu tujuan — agar semua anak perempuanku bisa kuliah dan mendapatkan pendidikan yang baik.”
Tumbuh di Vietnam, ibu saya tidak pernah punya kesempatan untuk sekolah formal.
Namun beliau adalah sosok yang sangat gemar belajar sendiri — setiap hari libur, ia akan pergi ke perpustakaan dan membawa pulang setumpuk buku untuk dibaca selama seminggu.
Bagi ibu saya, pendidikan itu segalanya.
Itulah alasan beliau membawa kami ke Amerika — agar kami punya peluang untuk melangkah lebih jauh dalam hidup.
Beliau dan ayah rela melakukan apa pun demi itu.
Itulah pertama kalinya saya memahami kekuatan dari tujuan hidup (purpose) —
sebuah rasa makna yang mendalam.
Dan dari situlah saya memulai perjalanan kewirausahaan saya, 20 tahun yang lalu.
Purpose membawa makna. Purpose menumbuhkan tekad. Purpose adalah alasan kita melakukan sesuatu.
Itulah bahan bakar yang mendorong kita setiap hari untuk mengejar impian.
Setelah lulus kuliah, saya bekerja beberapa tahun sebagai akuntan di perusahaan besar.
Hidup terasa nyaman, stabil, dan mudah.
Namun tiba-tiba, saya kehilangan pekerjaan akibat pemangkasan karyawan.
Pada saat yang sama, kehidupan pribadi saya juga berantakan.
Saya merasa seperti jatuh ke dasar jurang, bahkan sebelum benar-benar memulai hidup.
Saya baru berusia 30 tahun.
Saya tahu saya butuh arah baru.
Saya ingin mengambil kendali atas nasib saya sendiri.
Dan saya berkata pada diri sendiri:
“Saya tidak akan pernah dipecat lagi.”
Dan yang terpenting,
“Apapun langkah berikutnya, itu harus sesuai dengan tujuan hidup saya.”
Namun, tentu saja, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Di dalam hati saya merasa hilang arah dan bingung mencari jati diri.
Sampai suatu hari, secara tidak sengaja saya diperkenalkan pada bisnis network marketing.
Saya langsung jatuh cinta pada konsepnya.
Model consumer-to-consumer (C2C) terasa sangat efisien.
Saya pun terjun ke dalamnya.
Tahun-tahun pertama sangat berat.
Banyak rasa sakit dan perjuangan.
Keluarga saya menentang keras keputusan itu.
Kakak saya bahkan menelepon setiap hari hanya untuk menanyakan apakah saya sudah menyerah.
Ada tekanan batin dari keraguan diri, dan tekanan luar dari penolakan orang-orang.
Keuangan pun menipis.
Saya harus mengambil pekerjaan malam sebagai telemarketing, menjual nomor “1-800” vanity (seperti 1-800-DENTIST).
Siang bekerja, malam belajar bisnis.
Saya dilatih sebagai akuntan — apa yang saya tahu soal penjualan?
Tidak ada! Tapi saya belajar “smile and dial” — tersenyum dan menelepon tanpa henti.
Hingga akhirnya, saya berhasil menutup akun besar untuk perusahaan.
Itu mengubah pandangan hidup saya.
Saya sadar bahwa batasan saya selama ini adalah buatan diri sendiri.
Untuk menembusnya, saya harus melatih cara berpikir baru.
Saya belajar untuk mendorong diri sendiri melewati batas, membangun mentalitas baru.
Itulah awal saya menyadari bahwa kesulitan adalah bagian dari perjalanan.
Setiap tantangan adalah tempat latihan mental,
sebuah “gym” untuk pikiran, tempat saya memperkuat pola pikir.
Selama proses itu, saya menemukan kembali tujuan hidup saya:
“Saya ingin sukses agar bisa membuat orang tua saya bangga — agar semua pengorbanan mereka tidak sia-sia.”
Seperti kata Nietzsche:
“Apa yang tidak membunuh kita, membuat kita lebih kuat.”
Kini, saya melihat tantangan dengan cara berbeda.
Masa sulit membuat kita merenung, belajar, dan beradaptasi.
Dari sanalah kita memperoleh ketahanan mental, keterampilan baru, dan kemampuan untuk bertransformasi.
Sekarang, sebagai seorang entrepreneur, saya merasa beruntung bisa bekerja dengan banyak individu luar biasa dari berbagai budaya dan etnis untuk membangun pemimpin-pemimpin kuat di seluruh dunia.
Bersama-sama, kita menciptakan dampak sosial yang lebih besar.
Bagian paling memuaskan?
Saya bisa menyaksikan transformasi orang lain.
Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat perubahan positif dalam hidup seseorang berkat kerja kita bersama.
Rasanya seperti menjadi bagian dari keluarga besar global.
Dan itu mengingatkan saya pada apa yang dilakukan orang tua saya dulu.
Ini adalah cara saya membalas budi — dengan meneruskan kebaikan ke orang lain.
Perubahan melahirkan perubahan.
Itulah misi dari Impact Entrepreneur.
Kini, dengan berkembangnya konektivitas global berkat internet, smartphone, dan media sosial, cara kita berkomunikasi dan berbisnis telah berubah total.
Teknologi mengubah hidup, mengubah bisnis, dan membuka peluang global.
Dunia menjadi lebih efisien, dan kita bisa membangun relasi pribadi lintas negara.
Pada akhirnya, yang paling berharga tetaplah manusia dan hubungan antar manusia.
People matter.
Ke depan, saya percaya semakin banyak merek yang akan mengadopsi model distribusi direct marketing — karena lebih efisien.
Model C2C mirip dengan sharing economy yang berkembang pesat hari ini — seperti Airbnb, Uber, atau Lyft.
Dengan produk hebat dan pelanggan yang loyal, dikombinasikan dengan platform e-commerce global yang kuat, para entrepreneur kini bisa membangun bisnis dari mana saja di dunia.
Namun, tantangan berikutnya adalah:
Bagaimana kita memanfaatkan teknologi secara efektif untuk menciptakan dampak yang lebih besar dan mengungkap potensi manusia yang lebih dalam?
Itulah alasan saya kini fokus pada coaching dan berbagi cerita hidup saya —
untuk membantu mereka yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
Dunia akan selalu berubah.
Sebagai entrepreneur, jalan menuju kesuksesan adalah dengan terus belajar, beradaptasi, dan menemukan kembali tujuan hidup kita.
Percayalah pada perjalananmu.
Hanya dengan melangkah, kamu akan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru di sepanjang jalan.
Karena sering kali, keterbatasan kita hanya ada di pikiran kita sendiri.
Dan jika kesuksesanmu bisa membawa manfaat bagi orang lain, maka kamu telah menemukan daya dorong sejati yang akan membuatmu terus maju — bahkan di saat tersulit.
Dengan kekuatan itu,
kamu akan menjadi tak terhentikan.

Comments
Post a Comment