The gut is the missing link to women’s longevity, the mindbodygreen podcast
Why women chronically undereat protein
Fiber sering saya sebut sebagai “F-word” yang baru. Bagi
banyak wanita, ini adalah bagian yang hilang dalam pola makan mereka. Ketika
asupan serat meningkat, biasanya muncul berbagai manfaat lain—terutama saat
hormon mulai menurun.
Dalam pembahasan tentang nutrisi dan penuaan sehat,
khususnya bagi wanita di usia paruh baya, ada beberapa hal penting yang sering
terlewat. Salah satunya: banyak wanita masih kekurangan protein secara kronis,
meskipun topik ini sudah sering dibahas.
Protein adalah makronutrien penting, terutama karena seiring
bertambahnya usia, massa otot dan sensitivitas insulin menurun. Untuk
mengimbanginya, kebutuhan protein justru meningkat, bukan menurun. Tubuh
membutuhkan sekitar 30–50 gram protein per makan untuk memicu proses
pembentukan otot (muscle protein synthesis). Idealnya, total konsumsi harian
sekitar 100 gram protein.
Namun kenyataannya, banyak wanita hanya mengonsumsi sekitar
50 gram per hari—jumlah yang tidak cukup untuk mempertahankan atau membangun
otot. Salah satu penyebabnya adalah pola makan lama yang masih dipengaruhi tren
“kurus” dari masa lalu.
Bagi yang menjalani intermittent fasting, sering kali
jendela makan terlalu sempit sehingga sulit memenuhi kebutuhan protein. Jika
tidak bisa mencapai target protein dalam 4–8 jam, sebaiknya jendela makan
diperluas menjadi sekitar 10–12 jam agar memungkinkan konsumsi 2–3 kali makan
dengan protein cukup.
Serat: bagian yang sering hilang dalam kesehatan usus
Selain protein, serat adalah komponen penting yang sering
diabaikan. Banyak orang menghindari karbohidrat, padahal yang perlu
diperhatikan adalah kualitasnya. Serat berperan besar dalam kesehatan metabolik
dan usus.
Ketika kita mengonsumsi serat, bakteri di usus besar
memfermentasinya dan menghasilkan short-chain fatty acids (SCFA) seperti
butirat. Senyawa ini membantu:
- Mengurangi
peradangan
- Mengatur
hormon kenyang (GLP-1)
- Mendukung
kesehatan otak dan usus
Sayangnya, banyak orang hanya mengonsumsi 5–10 gram serat
per hari, padahal rekomendasinya sekitar 25–30 gram. Namun peningkatan harus
dilakukan bertahap agar mikrobioma usus bisa beradaptasi.
Sumber serat bisa sederhana:
- Kacang-kacangan
(lentil, beans)
- Biji-bijian
(chia, flaxseed)
- Sayuran
dan buah
Tidak perlu terlalu rumit memikirkan jenis serat—yang
penting adalah meningkatkan total asupan secara konsisten.
Lemak sehat & nutrisi tambahan
Jika sumber protein sudah mengandung lemak sehat (seperti
salmon atau daging tertentu), itu sudah cukup. Jika tidak, lemak sehat bisa
ditambahkan melalui:
- Minyak
zaitun berkualitas tinggi
- Kacang-kacangan
- Biji-bijian
Penting juga untuk memperkaya makanan dengan berbagai jenis
tanaman. Targetnya sekitar 30 variasi tanaman per minggu untuk mendukung
mikrobioma usus.
Makanan dengan rasa pahit seperti arugula atau radicchio
sebenarnya kaya polifenol dan flavonoid—senyawa yang sangat bermanfaat bagi
kesehatan.
Flavanol dari kakao juga bermanfaat untuk:
- Sirkulasi
darah
- Aliran
darah ke otak
- Produksi
nitric oxide
Pentingnya sirkulasi & gerakan tubuh
Sirkulasi darah sering diremehkan, padahal sangat penting,
terutama di usia paruh baya. Banyak orang aktif olahraga, tapi tetap duduk
terlalu lama sepanjang hari.
Tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Aktivitas sederhana
seperti:
- Berjalan
kaki
- Naik
turun tangga
- Berdiri
saat bekerja
bisa membantu:
- Regulasi
gula darah
- Pencernaan
- Kejernihan
mental
Gerakan kecil sepanjang hari sering lebih efektif dibanding
olahraga intens tapi diikuti duduk lama.
Marker kesehatan yang penting dipantau
Beberapa indikator penting untuk kesehatan metabolik dan
jantung:
- Fasting
insulin (lebih sensitif daripada gula darah biasa)
- ApoB
(indikator risiko kardiovaskular)
- Lipoprotein(a)
atau LP(a)
- Ferritin
(cadangan zat besi)
- hs-CRP
(penanda inflamasi)
Tes tambahan seperti Boston Heart test bisa membantu
memahami apakah tubuh cenderung menyerap atau memproduksi kolesterol
berlebih—karena penanganannya berbeda.
Mengelola inflamasi melalui makanan
Seiring bertambah usia, inflamasi meningkat (inflammaging),
terutama karena perubahan hormon. Makanan berperan besar dalam hal ini.
Makanan yang sering memicu inflamasi:
- Gula
- Alkohol
- Gluten
(pada sebagian orang)
- Produk
susu (pada sebagian orang)
Sebaliknya, pola makan yang membantu menurunkan inflamasi:
- Protein
cukup
- Serat
tinggi
- Sayur
& buah berwarna cerah
- Makanan
kaya polifenol
Pendekatannya tidak perlu ekstrem—cukup sadar dan konsisten.
Perubahan nyata yang bisa dilakukan
Beberapa perubahan praktis:
- Tingkatkan
protein harian
- Perluas
jendela makan jika perlu
- Tambah
asupan serat secara bertahap
- Variasikan
jenis tanaman dalam diet
- Tetap
aktif sepanjang hari
Kuncinya bukan kesempurnaan, tapi kesadaran dan konsistensi.
Intinya:
Bukan hanya soal makan lebih sedikit atau lebih banyak—tetapi makan dengan
lebih cerdas. Protein dan serat adalah dua fondasi yang sering terabaikan,
padahal keduanya sangat menentukan kesehatan jangka panjang, terutama bagi
wanita di usia paruh baya.

Comments
Post a Comment