Voice note “Jemput Impian” by Mba WIRDA MANSUR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman.

Voice note “Jemput Impian” ini khusus dibuat untuk kalian semua. Semoga bisa bermanfaat dan didengarkan dengan hati yang tenang.

Ada satu poin penting yang ingin saya sampaikan. Kemarin kita sudah belajar bagaimana memulai menjemput impian: mengetuk pintu Allah terlebih dahulu, mengejar akhirat agar dunia mengikuti. Kita juga sudah belajar tentang keyakinan, tentang doa, tentang pasrah dan berserah diri kepada Allah. Artinya, kita menjalani apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang.

Tetapi ada satu hal yang ternyata sangat penting, dan saya sendiri juga masih terus belajar memahaminya: yaitu ketenangan.

Ternyata, untuk fokus menggapai impian, mencapai tujuan, bahkan menikmati ibadah saja, kita butuh hati yang tenang terlebih dahulu.

Ibarat kita ingin pergi jauh menggunakan mobil, tetapi kita tahu bannya bocor. Apakah kita bisa tenang selama perjalanan? Tentu tidak. Jangankan sampai tujuan, baru belok dari rumah saja pikiran sudah khawatir:
“Bagaimana kalau bannya benar-benar pecah?”
“Bagaimana kalau mobilnya bermasalah di jalan?”

Semua bunyi mobil terasa mengganggu. Hati jadi panik dan tidak nyaman.

Karena itu, sebelum berangkat kita memastikan semuanya aman:
bensin penuh, kondisi mobil baik, kartu e-toll tersedia, dan semua kebutuhan perjalanan sudah siap. Setelah itu barulah kita bisa berkendara dengan tenang menuju tujuan.

Begitu juga dengan hidup dan impian kita.

Hati yang gelisah sulit menerima apa pun. Sulit menerima nasihat, sulit menerima ayat Allah, bahkan sulit menerima pertolongan Allah.

Mungkin itulah sebabnya ada orang yang shalat, tetapi pikirannya ke mana-mana. Badannya memang berdiri dalam shalat, tetapi pikirannya masih sibuk memikirkan pekerjaan, hutang, masalah hidup, atau omongan orang lain.

Kita membaca Surat Al-Waqi’ah, tetapi di luar sana ada orang yang sedang menagih hutang, handphone berbunyi terus, pikiran jadi panik, takut, dan kalut. Secara manusiawi itu wajar. Pasti kepikiran.

Makanya, kadang masalah kita bukan karena kurang ibadah. Saya yakin teman-teman sudah menjaga shalat lima waktu. Tetapi pertanyaannya:
apakah benar-benar menghadirkan hati saat menghadap Allah?

Karena sering kali kita datang kepada Allah, tetapi hati kita masih sibuk menggenggam dunia.

Padahal dari 24 jam waktu yang Allah berikan, Allah hanya meminta kita datang menghadap-Nya beberapa kali sehari. Dari Subuh sampai Isya, seakan Allah berkata:

“Sudah, sini dulu. Jangan pikirkan duniamu terus. Datang dulu kepada-Ku.”

Shalat Subuh seperti awal percakapan:
“Ya Allah, hari ini aku mau bekerja, berusaha, mencari rezeki. Tolong tuntun langkahku, jaga hatiku, mudahkan ikhtiarku.”

Lalu datang Dzuhur. Di tengah lelahnya dunia, Allah memanggil kita lagi:
“Sudah, istirahat dulu. Tenangkan dulu hatimu.”

Karena biasanya di tengah hari, manusia mulai lelah, mulai emosi, mulai mumet dengan urusan dunia.

Kemudian Maghrib datang. Kita ditarik pulang lagi. Dikumpulkan bersama keluarga, bersama ketenangan.

Dan Isya menjadi momen berserah total:
“Ya Allah, hari ini aku sudah berusaha sebaik mungkin. Semua ikhtiarku hari ini kutitipkan kepada-Mu.”

Indah sekali sebenarnya, jika kita memahami makna shalat.

Tetapi sayangnya, kita sering menganggap shalat hanya sebagai kewajiban. Padahal shalat adalah tempat pulang. Tempat mencurahkan semua keresahan, semua harapan, semua rasa yang tidak bisa kita ceritakan kepada manusia.

Allah sudah berfirman dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

Bukan dengan banyak uang hati menjadi tenang.
Bukan karena semua masalah selesai.
Bukan juga karena semua orang menyukai kita.

Tetapi karena mengingat Allah.

Ketenangan itu hadir ketika kita sadar bahwa kita sedang berbicara dengan Allah — Dzat yang menciptakan langit dan bumi, yang mengatur hidup kita, dan yang mengetahui isi hati kita bahkan sebelum kita mengucapkannya.

Karena itu, ketika shalat atau membaca Al-Qur’an, coba letakkan dulu semua urusan dunia. Taruh dulu semua kekhawatiran.

Saat takbir, sadarkan diri:
“Ini momenku dengan Allah.”

Beberapa menit saja, fokuslah menghadap Raja dari segala raja.

Dan anehnya, setelah selesai shalat atau membaca Al-Waqi’ah, masalah memang belum tentu langsung selesai. Hutang mungkin masih ada. Ujian hidup mungkin belum berubah.

Tetapi hati terasa jauh lebih ringan.

Kenapa?

Karena setelah bercerita kepada Allah, kita sadar bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.

Makanya ketika kita punya masalah, Allah tidak langsung menyuruh kita mencari solusi ke sana-sini. Yang pertama Allah perintahkan adalah:
ingat Aku.

Karena Allah tahu manusia tidak akan mampu menemukan solusi dalam keadaan hati yang panik.

Datanglah kepada Allah.
Berdzikirlah.
Shalatlah.
Lalu bersabarlah.

Sebab ketenangan itu bukan sesuatu yang bisa dicari sendiri. Ketenangan adalah hadiah dari Allah.

Dan ketika hati sudah tenang, barulah kita bisa melihat jalan keluar yang sebelumnya tertutup oleh rasa takut dan kekhawatiran.

Kadang sebenarnya jawaban atas masalah kita sudah ada. Jalan menuju impian itu juga sudah ada. Tetapi semuanya tertutup karena kita menjalani hidup dengan kekhawatiran, bukan dengan ketenangan.

Semoga voice note ini bisa menjadi pengingat untuk kita semua.

InsyaAllah minggu depan kita bisa bertemu lagi di Zoom. Saya berharap teman-teman benar-benar memahami apa yang ingin saya sampaikan di sini.

Voice note ini khusus untuk kalian yang sedang berjuang menjemput impian.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Comments

Popular Posts