Sharing Career Opportunity Alumni Hiroshima University [PART 2]“Menjadi Kompas bagi Masa Depan Siswa”
SUMBER https://www.youtube.com/watch?v=0La5AwCtEHg
Terima kasih. Pertama-tama, saya merasa sangat terhormat bisa berada di sini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah hadir hari ini.
Nama saya Usa, saya berasal dari Jepang. Saya lahir di Osaka dan kemudian pindah untuk melanjutkan studi ke universitas. Saat ini saya mengambil jurusan Data Science dan Informatika. Selain kuliah, saya pernah bekerja di bimbingan belajar (cram school), membantu siswa belajar di luar jam sekolah. Saya juga memiliki hobi sebagai wasit sepak bola. Dulu saya adalah pemain, tetapi sekarang saya lebih fokus menjadi wasit karena saya sedang menjalankan perusahaan sendiri, dan pada akhir pekan saya memimpin pertandingan.
Saya mendirikan perusahaan saya pada Juni 2025, jadi usianya belum sampai satu tahun. Bisnis utama kami adalah memberikan dukungan pendidikan bagi siswa SMA yang ingin melanjutkan ke universitas.
Filosofi kami adalah membangun ekosistem pendidikan. Kami ingin menciptakan siklus positif di mana siswa berkembang, bersinar, lalu memberikan dampak positif kepada orang lain. Di masa depan, mereka bisa menjadi mentor atau guru bagi generasi berikutnya. Kami ingin membangun siklus yang berkelanjutan seperti itu.
Kami fokus pada masalah penyesalan dalam memilih jurusan atau universitas. Kami pernah melakukan survei kepada mahasiswa dan menanyakan, “Jika bisa kembali ke masa SMP, apakah Anda akan memilih universitas dan jurusan yang sama?” Lebih dari 70% menjawab tidak. Banyak mahasiswa merasa kurang puas dengan pilihan yang mereka buat saat SMA.
Ketika kami bertanya alasannya, beberapa mengatakan mereka seharusnya memikirkan pilihan universitas lebih awal dan mempersiapkan diri dengan lebih matang. Ada juga yang mengatakan mereka tidak cukup tahu tentang universitas lain atau detail jurusan—apa yang dipelajari, riset apa yang dilakukan, dan seperti apa kehidupan sehari-hari di kampus. Sebagian lagi hanya mengikuti saran orang tua atau guru tanpa benar-benar memahami minat dan tujuan mereka sendiri.
Saat saya bekerja di bimbingan belajar, ada seorang siswa yang ingin menjadi polisi. Namun, guru dan orang tuanya menyarankan ia mengambil jurusan matematika. Padahal kedua jalur tersebut sangat berbeda. Siswa tersebut tidak sepenuhnya memahami perbedaannya, dan saya juga tidak berada pada posisi yang cukup kuat untuk membimbingnya. Akhirnya ia mengikuti saran tersebut. Saya tidak tahu sekarang ia melakukan apa, tetapi pengalaman itu sangat membekas bagi saya. Saya menyadari bahwa terkadang orang dewasa tahu lebih banyak, tetapi siswa tidak. Saya ingin mengubah situasi seperti itu.
Tahun lalu, kami mendukung siswa yang mendaftar melalui jalur seleksi khusus (seperti sistem AO). Berbeda dengan ujian masuk biasa yang berbasis tes tertulis, jalur ini menilai presentasi, esai, dan wawancara. Dari empat siswa yang kami dampingi, keempatnya berhasil diterima. Kami juga memberikan pelatihan bagi mahasiswa yang menjadi mentor serta mengadakan berbagai acara edukasi.
Produk utama kami bernama “Compass.” Compass membantu siswa memahami apa itu universitas, apa yang bisa mereka lakukan di sana, dan bagaimana memilih universitas yang tepat. Program ini memiliki beberapa komponen, termasuk pendampingan personal untuk jalur seleksi khusus, acara edukasi, ruang belajar, serta platform konsultasi.
Keunggulan utama kami adalah berfokus pada perspektif siswa. Di beberapa bimbingan belajar, siswa sering diarahkan ke universitas dengan peringkat lebih tinggi demi meningkatkan reputasi lembaga, meskipun pilihan itu belum tentu sesuai dengan tujuan pribadi siswa. Kami berbeda. Kami hanya fokus pada apa yang benar-benar diinginkan siswa, apa yang mampu mereka lakukan, dan apa yang ingin mereka capai di universitas. Kami tidak memberikan jawaban jadi, tetapi membantu mereka menemukan jawabannya sendiri.
Secara pribadi, ada tiga alasan saya memilih universitas saya. Pertama, saya ingin mendapatkan lisensi mengajar. Kedua, saya ingin mempelajari data science. Ketiga, saya ingin berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Itulah alasan saya memilih jalur tersebut.
Salah satu program kami lainnya adalah ruang belajar setelah sekolah. Setelah jam pelajaran selesai, sebagian siswa mengikuti kegiatan klub, tetapi ada juga yang ingin belajar. Namun, tidak semua sekolah menyediakan ruang belajar setelah jam sekolah. Tidak semua siswa juga mengikuti bimbingan belajar.
Karena itu, kami bekerja sama dengan mahasiswa untuk menyediakan ruang belajar mandiri di sekolah. Selain tempat belajar, kami juga menyediakan konsultasi mengenai masa depan, pilihan universitas, dan strategi belajar. Jika siswa mengalami kesulitan akademik, kami membantu mereka.
Kami telah menjalankan program percontohan di salah satu SMA, dan hasilnya sangat baik. Para siswa merasa puas. Yang menarik, ada siswa yang datang berkonsultasi kepada kami dan mengatakan mereka ingin melanjutkan ke universitas, padahal mereka belum menyampaikan hal itu kepada orang tua atau guru mereka. Mereka merasa lebih nyaman berbicara dengan mahasiswa yang usianya lebih dekat dengan mereka.
Kami juga mengembangkan platform online yang menghubungkan siswa SMA dan mahasiswa. Saat ini masih berfokus di Jepang. Misalnya, siswa di Hiroshima yang ingin mengetahui tentang universitas di Tokyo sering kesulitan mendapatkan informasi langsung. Melalui platform ini, mereka bisa berbicara secara online selama 30 menit dengan mahasiswa di universitas tujuan, sehingga mendapatkan informasi nyata dan pengalaman langsung.
Ke depan, saya ingin mengembangkan platform ini secara internasional. Misalnya, mahasiswa Indonesia yang datang ke Jepang, atau mahasiswa Jepang yang ingin belajar ke luar negeri. Banyak dari mereka tidak memiliki informasi yang cukup. Website universitas sering kali hanya menampilkan sisi promosi, bukan pengalaman nyata mahasiswa.
Karena itu, saya ingin membangun sistem yang menghubungkan siswa secara langsung, agar mereka bisa mendapatkan informasi yang autentik dan membuat keputusan yang lebih tepat.
Terima kasih banyak atas perhatiannya.
Thank you. First of all, I feel very honored to be here. I truly appreciate everyone for coming today.
My name is Usa, and I am from Japan. I was born in Osaka and later moved for university. I am currently majoring in Data Science and Informatics. Alongside my studies, I have worked at a cram school, supporting students outside their regular school hours. In addition, one of my hobbies is being a football referee. I used to be a player, but now I focus more on refereeing because I am running my own company, and on weekends I officiate matches.
I established my company in June 2025, so it has not yet been one year. Our main business is providing educational support for high school students who want to enter university in the future.
Our philosophy is to build an educational ecosystem. We want to create a positive cycle where students grow, shine, and influence others. Eventually, they become mentors or teachers themselves, continuing the cycle for the next generation. That is the kind of sustainable system we aim to build.
We focus especially on students who regret their career or university choices. We conducted a survey among university students and asked: “If you could go back to junior high school, would you choose the same university and faculty again?” More than 70% answered no. Many were not satisfied with the decisions they made in high school.
When we asked why, several reasons emerged. Some students said they should have thought about university earlier and prepared more carefully. Others said they did not know enough about different universities or faculties—what they could learn, what research was available, or what daily university life would actually be like. Some simply followed the advice of parents or teachers without fully understanding their own goals.
When I worked at a cram school, I had a student who wanted to become a police officer. However, her teachers and parents encouraged her to pursue mathematics instead. These are very different paths, but she did not fully understand the difference, and I was not in a position to guide her properly. She followed their advice. I do not know what she is doing now, but that experience left a strong impression on me. I realized that sometimes adults know the options, but students do not. I want to change that.
Last year, we supported students applying through a special admissions system similar to an AO (Admissions Office) exam. Unlike traditional entrance exams that focus mainly on written tests, this system evaluates presentations, essays, and interviews. We supported four students, and all four were successfully accepted. We also conduct training for university student instructors and organize related events.
Our main product is called “Compass.” It helps students understand what university is, what they can do there, and how they should choose the right institution. Compass consists of four main components. One is personalized support for students applying through special admissions. Another is Compass Collect, which is an event-based program. There is also Compass Room and Compass Box. I would like to explain two of these in more detail.
One of our key features is that we prioritize the student’s perspective. In some cram schools, students are encouraged to apply to higher-ranked universities simply to increase the school’s success rate, even if that choice does not match the student’s goals. For example, if a student wants to attend a particular university but has the academic ability to enter a higher-ranked one, they may be pushed to choose the higher-ranked option. However, that may not align with their future plans. We focus only on what the student truly wants to do, what they can do, and what they aim to achieve at university. We do not provide fixed answers—we guide them to find their own.
As for my personal reasons for applying to university, there were three. First, I want to obtain a teaching license. Second, I want to study data science. Third, I want to connect with students from diverse backgrounds. That is why I chose my university.
Now I would like to talk about another product, Compass Room. It functions as an after-school study and counseling space. After high school classes end, some students go to club activities, but others want to study. However, many schools do not provide adequate study spaces after hours. Some students attend cram schools, but not all do.
We collaborate with university students who go to high schools and provide a dedicated space for self-study. In addition to offering a place to study, we also provide consultation about future goals, university choices, and study strategies. If students are struggling academically, we support them.
We recently launched a prototype at a high school, and it has been going very well. Students are very satisfied. One surprising outcome was that some students came to us privately to say they wanted to go to university, even though they had not told their parents or teachers. They felt more comfortable speaking with university students closer to their age. They asked questions like, “What should I do to get into university?” or “How should I prepare?”
Another initiative is an online matching platform that connects high school students and university students. Currently, it operates within Japan. For example, if a student in Hiroshima wants to learn about universities in Tokyo, it is not easy to access firsthand information. Through our platform, we connect them online for 30-minute conversations, allowing them to exchange real experiences and practical information.
In the future, I want to expand this platform internationally. For example, Indonesian students sometimes come to Hiroshima University, and some Japanese students want to study abroad. However, many of them lack real, practical information. University websites often function as promotional materials rather than offering authentic student perspectives.
That is why I am building this system—to create direct connections between students. Even if I personally do not know every university student, I want to build a network that enables meaningful conversations and informed decisions.
Thank you very much for your attention.

Comments
Post a Comment