CERITAKU ERNI BASRI [1]
Sejak duduk di bangku SD, saya sudah belajar membangun kepercayaan. Saya membantu ibu berjualan di pasar, melayani pelanggan, dan melihat bahwa orang akan kembali membeli ketika mereka percaya kepada kita.
Namun, saya juga menyadari sesuatu tentang diri saya. Saya merasa kemampuan saya dalam berjualan di pasar tidak terlalu menonjol. Saya tahu saya memiliki keterbatasan. Di sisi lain, saya menemukan bahwa saya sangat menikmati membaca dan belajar. Saya mulai bertanya pada diri sendiri, "Nanti saya ingin menjadi apa?" Jawaban yang terus muncul adalah: saya ingin melanjutkan sekolah setinggi mungkin.
Kepercayaan yang dibangun keluarga melalui kerja keras itulah yang membiayai perjalanan pendidikan saya hingga lulus S1. Saya sangat bersyukur karena sejak lahir hingga pendidikan selesai, semua kebutuhan saya ditanggung oleh keluarga.
Namun setelah itu, saya memahami sebuah kenyataan penting: ada batas dari apa yang bisa diberikan keluarga. Setelah pendidikan selesai, setiap orang harus membangun hidupnya sendiri.
Bekal terbesar yang saya bawa bukan hanya ijazah, tetapi juga nilai-nilai yang saya pelajari sejak kecil: kepercayaan, kerja keras, tanggung jawab, dan semangat untuk terus belajar. Kini, giliran saya membangun masa depan dengan kemampuan saya sendiri, menciptakan nilai bagi orang lain, dan meneruskan kepercayaan yang telah diwariskan kepada saya.
Saya percaya bahwa tidak ada kesuksesan finansial yang sebanding dengan kehilangan waktu bersama keluarga. Uang bisa dicari kembali, karier bisa dibangun kembali, tetapi waktu bersama orang-orang yang kita cintai tidak akan pernah bisa dibeli kembali.
Keyakinan itu pernah mengubah salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya. Saya memutuskan pindah dari Bekasi ke Jakarta karena menyadari terlalu banyak waktu saya habis di jalan. Setiap hari, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk keluarga, beristirahat, atau mengembangkan diri justru terbuang karena perjalanan.
Saya juga pernah mengalami masa ketika pekerjaan mengharuskan saya sering bertugas ke berbagai daerah. Pada saat itu, suami saya bahkan memutuskan keluar dari pekerjaannya. Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terdengar berisiko. Namun bagi kami, itu adalah pilihan yang memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: kami memiliki kesempatan untuk pulang kampung bersama, menghabiskan waktu dengan keluarga besar, dan mendampingi satu sama lain dalam setiap perjalanan.
Pengalaman-pengalaman itu mengajarkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar penghasilan, tetapi juga tentang mengelola waktu. Waktu adalah aset yang paling adil sekaligus paling berharga. Ketika waktu habis, kita tidak dapat memutarnya kembali.
Karena itu, saya selalu berusaha mengambil keputusan yang bukan hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memperkaya hubungan dengan keluarga. Pada akhirnya, saya ingin membangun kehidupan yang tidak hanya sukses dalam pekerjaan, tetapi juga kaya akan kebersamaan, kenangan, dan kasih sayang.
"Saya belajar bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa banyak yang saya hasilkan, tetapi juga seberapa banyak waktu berkualitas yang dapat saya berikan kepada keluarga. Kekayaan dapat bertambah, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali."

Comments
Post a Comment