How to Talk to Someone With Dementia YOUTUBE mmlearn.org

Masalahnya adalah kita sering memandang demensia seperti "gajah di dalam ruangan" (elephant in the room)—sesuatu yang sangat besar dan nyata, tetapi semua orang memilih untuk menghindari pembicaraannya.

Demensia telah mencapai tingkat yang benar-benar seperti epidemi di negara kita. Namun karena kita belum bisa menyembuhkannya, kita cenderung tidak ingin membicarakannya.

Dulu, ketika seseorang menderita kanker, orang-orang berbisik-bisik.

"Dia kena kanker..."

Masih ingat? Saat itu kanker disebut sebagai "the Big C". Orang takut membicarakannya karena belum ada pengobatan yang efektif.

Sekarang semuanya sudah berubah.

Sekarang kita bahkan melihat iklan di televisi mengenai obat-obatan untuk mengurangi efek samping kemoterapi. Perkembangan penanganan kanker sangat luar biasa karena kanker, meskipun muncul di berbagai organ tubuh, pada dasarnya merupakan masalah sel yang mengalami perubahan sehingga para peneliti dapat mempelajarinya secara lebih spesifik.

Masalah pada gangguan memori berbeda.

Tidak ada satu penyebab tunggal.

Ada lebih dari 100 penyebab yang berbeda, sehingga jauh lebih sulit untuk mengidentifikasi secara tepat apa yang sebenarnya terjadi.

Sering kali semua gangguan memori diberi label Alzheimer, dan ada alasannya.

Dulu tidak ada kode diagnosis lain untuk keperluan administrasi dan asuransi. Jadi ketika seorang dokter menemukan pasien mengalami gangguan memori, diagnosisnya langsung ditulis sebagai Alzheimer agar proses administrasi dan pembayaran dapat dilakukan.

Sekarang sudah muncul diagnosis baru yang disebut Mild Cognitive Impairment (MCI) atau gangguan kognitif ringan.

Akibatnya, kita akan semakin sering melihat diagnosis tersebut digunakan.

Saya tidak sedang menyalahkan para dokter.

Kenyataannya memang kita masih belum benar-benar memahami semua penyebab gangguan memori. Saya juga memahami bahwa mereka tetap harus memiliki diagnosis yang dapat digunakan.

Namun akibatnya, masyarakat menjadi memiliki pandangan yang kurang tepat, seolah-olah semua gangguan memori adalah Alzheimer.

Sejujurnya, bagi saya hal itu tidak terlalu penting, kecuali jika Anda memang seorang peneliti.

Kalau Anda seorang peneliti, tentu klasifikasi penyakit menjadi sangat penting.

Namun bagi kebanyakan keluarga, yang lebih penting adalah memahami bagaimana memori bekerja.

Secara sederhana, saya membagi memori menjadi tiga jenis.


1. Memori Fungsional (Functional Memory)

Jenis pertama disebut memori fungsional.

Inilah kemampuan berpikir, memahami, bernalar, dan membuat keputusan secara sadar.

Biasanya inilah kemampuan pertama yang mulai mengalami penurunan.

Contohnya:

  • Bagaimana cara pergi ke supermarket lalu pulang kembali?

  • Bagaimana cara menggunakan microwave?

  • Bagaimana cara mengelola buku cek atau keuangan?

  • Bagaimana memahami instruksi?

Semua itu memerlukan pemahaman, penalaran, dan kemampuan berpikir.

Biasanya penurunan pertama kali muncul pada area ini.

Saya punya satu dugaan yang menarik.

Kalau saya senang melakukan penelitian, mungkin saya akan menelitinya.

Saya menduga bahwa restoran sering menjadi tempat pertama di mana gangguan ini mulai terlihat.

Bayangkan kita semua sedang duduk di sebuah restoran.

Masing-masing memegang menu.

Beberapa restoran memiliki menu yang sangat banyak.

Misalnya restoran dengan puluhan bahkan ratusan pilihan makanan.

Semua orang sibuk membaca menu.

Lalu seseorang bertanya kepada saya,

"Kamu mau pesan apa?"

Saya menjawab,

"Saya belum tahu."

Mengapa?

Karena otak saya mulai kesulitan memproses terlalu banyak pilihan sekaligus.

Akhirnya saya menunggu orang lain memesan terlebih dahulu.

Lalu saya berkata,

"Saya pesan yang sama saja."

Kalau saya sendiri melakukan itu, mungkin karena saya memang suka semua makanan atau terlalu sibuk mengobrol sehingga malas membaca menu.

Tetapi saya bertanya-tanya...

Apakah perilaku seperti ini bisa menjadi salah satu tanda awal adanya gangguan pada memori fungsional?


2. Memori Prosedural atau Otomatis (Procedural Memory)

Jenis kedua adalah memori prosedural atau memori otomatis.

Memori ini bekerja hampir tanpa disadari.

Contohnya:

  • makan,

  • mengemudi,

  • bersepeda,

  • berbagai keterampilan yang telah dipelajari bertahun-tahun.

Walaupun kemampuan berpikir mulai menurun, seseorang sering kali masih mampu melakukan aktivitas-aktivitas tersebut.

Karena itu, kemampuan ini biasanya baru mengalami penurunan setelah memori fungsional mulai memburuk.

Salah satu tantangan terbesar bagi keluarga adalah masalah mengemudi.

Banyak keluarga berkata,

"Ayah atau ibu sudah tidak boleh menyetir lagi."

Saya justru menyarankan agar jangan menggunakan kalimat seperti itu.

Mengapa?

Karena orang tersebut masih merasa,

"Saya masih bisa menyetir."

Dan memang benar.

Mereka masih tahu cara:

  • menekan pedal gas,

  • menginjak rem,

  • memutar setir,

  • memarkir kendaraan.

Masalahnya bukan pada kemampuan mekanis mengemudi.

Masalahnya ada pada kemampuan mengambil keputusan secara cepat.

Misalnya ketika ada kendaraan tiba-tiba memotong jalan.

Situasi seperti itu membutuhkan pemahaman dan penilaian yang cepat.

Karena itu, daripada berkata,

"Kamu tidak boleh menyetir lagi."

Lebih baik mengatakan,

"Saya tahu kamu masih bisa mengendalikan mobil. Tetapi tempo hari saya sendiri hampir mengalami kecelakaan karena harus membuat keputusan dalam hitungan detik. Saya sendiri mulai merasa situasi seperti itu semakin sulit."

Pendekatan seperti ini jauh lebih kecil kemungkinannya memicu pertengkaran.

Saya sendiri pernah mengalami hal ini pada ibu saya.

Polisi menemukan beliau sedang mengemudi di jalur yang salah.

Beliau sebenarnya mengemudikan mobil dengan sangat baik.

Masalahnya hanya satu.

Beliau berada di sisi jalan yang salah.

Jadi sekali lagi, persoalannya bukan kemampuan mengendalikan mobil, melainkan kemampuan memahami situasi.


3. Memori Emosional atau Memori Bawah Sadar (Emotional / Implicit Memory)

Jenis ketiga adalah memori bawah sadar.

Ini merupakan reaksi naluriah yang muncul secara otomatis.

Memori ini dipicu oleh sesuatu yang sedang terjadi di sekitar kita.

Kita sering kali tidak menyadari prosesnya, tetapi tubuh dan emosi langsung bereaksi.


Pelajaran Penting (Key Lessons)

  1. Demensia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat besar, tetapi sering dihindari karena belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan.

  2. Gangguan memori memiliki lebih dari 100 kemungkinan penyebab, sehingga tidak semua kasus adalah Alzheimer.

  3. Diagnosis administratif terkadang membuat masyarakat salah memahami bahwa semua gangguan memori adalah Alzheimer.

  4. Memahami fungsi memori jauh lebih membantu keluarga daripada hanya mengetahui nama diagnosis.

  5. Penurunan pertama biasanya terjadi pada kemampuan berpikir, memahami, dan mengambil keputusan (functional memory).

  6. Kesulitan memilih dari terlalu banyak pilihan dapat menjadi tanda awal gangguan fungsi kognitif.

  7. Kemampuan otomatis seperti makan, berjalan, bersepeda, dan mengemudi dapat tetap bertahan meskipun fungsi berpikir mulai menurun.

  8. Pada penderita demensia, masalah mengemudi lebih sering disebabkan oleh penurunan kemampuan mengambil keputusan, bukan hilangnya keterampilan mengendalikan kendaraan.

  9. Cara berkomunikasi sangat menentukan. Mengatakan "Anda tidak boleh menyetir lagi" cenderung memicu penolakan, sedangkan menjelaskan tantangan dalam mengambil keputusan biasanya lebih mudah diterima.

  10. Memori emosional atau bawah sadar sering kali tetap bertahan paling lama dan sangat memengaruhi bagaimana seseorang dengan demensia merasakan dunia di sekitarnya.


Jenis memori yang ketiga ini akan tetap bersama kita hingga sekitar 12½ detik sebelum kita benar-benar meninggal dunia.

Artinya, memori ini bertahan hampir sepanjang hidup.

Dan justru di sinilah kita sebagai anggota keluarga maupun caregiver dapat memberikan dampak yang paling besar.

Inilah bagian yang paling sering saya bicarakan.

Saya yakin tidak ada seorang pun di ruangan ini yang mengalaminya...

Tetapi saya akan jujur.

Saya mengalaminya.

Ada beberapa orang dalam hidup saya yang saya tidak sukai.

Lucunya, saya bahkan tidak ingat lagi mengapa saya tidak menyukai mereka.

Yang saya tahu hanyalah setiap kali saya melihat mereka, saya langsung merasa tidak suka.

Perasaan itu muncul begitu saja.

Itulah memori bawah sadar.

Suatu saat di masa lalu pernah terjadi sesuatu, lalu otak menyimpan perasaan tersebut, meskipun alasan logisnya sudah lama terlupakan.

Saya sering berpikir,

"Seandainya saya tahu kenapa saya tidak menyukai orang itu."

Begitulah cara kerja memori emosional.

Dan justru karena memori inilah yang bertahan paling lama, maka di sinilah kita dapat memberikan pengaruh terbesar kepada seseorang yang mengalami demensia.


Mengapa Hal Ini Sangat Penting?

Persis seperti tujuan organisasi ini.

Semua yang kita lakukan pada akhirnya adalah tentang:

  • membangun hubungan,

  • berbagi informasi,

  • memastikan semua orang berada di pihak yang sama.

Saya ingin tiga kelompok ini memiliki pemahaman yang sama:

  • keluarga,

  • orang yang menerima perawatan,

  • staf atau caregiver.

Semuanya harus berada pada "gelombang" yang sama.

Misalnya Linda.

Saya ingin semua orang mengetahui cerita mengenai pin yang Linda kenakan.

Mengapa?

Karena benda kecil seperti itu bisa menjadi pembuka percakapan yang luar biasa.

Lihat saja.

Kita bisa berbicara cukup lama hanya karena sebuah pin.

Bahkan ketika Linda sempat lupa beberapa hal, percakapan tetap dapat mengalir.

Kalau semua staf mengetahui informasi sederhana seperti itu, mereka akan jauh lebih siap membangun hubungan.


Membantu Orang dengan Demensia Merasa Dikenal

Salah satu hal yang sering saya katakan adalah...

Saya tidak tahu apakah teori saya benar secara ilmiah, tetapi beginilah saya membayangkannya.

Pernahkah Anda sedang mengemudi lalu tiba-tiba masuk ke dalam kabut yang sangat tebal?

Dalam hitungan detik semuanya berubah.

Tiba-tiba Anda berpikir:

  • "Kalau saya melambat, nanti mobil di belakang menabrak saya."

  • "Kalau saya terlalu cepat, saya bisa menabrak orang."

  • "Apakah saya masih berada di jalur yang benar?"

  • "Jangan-jangan saya sudah melewati jalan keluar."

Dalam beberapa detik saja, puluhan pikiran muncul bersamaan.

Saya membayangkan...

Hidup dengan gangguan memori mungkin terasa seperti hidup di dalam kabut seperti itu setiap saat.

Segalanya tampak samar.

Saya tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.

Saya tidak benar-benar yakin terhadap lingkungan di sekitar saya.

Karena itulah salah satu pertanyaan terpenting bagi staf maupun keluarga adalah:

Apa yang dapat kita lakukan agar orang tersebut merasa lebih aman?

Bagi keluarga mungkin lebih mudah karena Anda sudah mengenal mereka.

Namun kami sebagai staf membutuhkan bantuan Anda.

Kami memerlukan informasi tentang kehidupan mereka.

Misalnya saya melihat pin yang dikenakan Billy.

Saya mendekatinya dan berkata,

"Ceritakan kepada saya tentang pin itu."

Padahal kami baru saja bertemu.

Namun saya berharap pikiran pertama Billy adalah:

"Oh... dia mengenal saya."

"Saya tidak sendirian di sini."

"Ada seseorang yang mengetahui sesuatu tentang saya."

Ketika saya bertanya tentang pin itu, saya menunjukkan bahwa saya mengetahui kisah hidupnya.

Perasaan seperti itulah yang ingin kita bangun.

Dalam istilah yang sering dipakai sekarang,

"I've got your back."

"Saya ada di pihakmu."

"Saya mendukungmu."

Itulah sebabnya kami selalu meminta keluarga berbagi informasi pribadi yang bermakna tentang orang yang mereka cintai.

Informasi kecil itu dapat menjadi jembatan untuk membangun hubungan yang penuh rasa aman.


Dua Tugas Utama Otak

Semua penjelasan ini memang disederhanakan.

Namun menurut saya, otak memiliki dua tugas utama.

1. Membuat Penjelasan Terbaik tentang Apa yang Sedang Terjadi

Otak selalu berusaha memahami dunia sebaik mungkin.

Dan ini berlaku bagi semua orang, bukan hanya penderita demensia.

Misalnya...

Pernahkah Anda tersandung lalu jatuh di tempat umum?

Apa yang biasanya langsung Anda katakan?

"Siapa yang dorong saya?"

Mengapa?

Karena otak langsung berusaha mencari penjelasan yang membuat situasi itu masuk akal.

"Ini bukan salah saya."

Lalu ada orang bertanya,

"Kamu tidak apa-apa?"

Padahal kedua kaki Anda mungkin patah.

Tetapi Anda tetap menjawab,

"Oh... saya baik-baik saja."

Mengapa?

Karena otak ingin mempertahankan rasa kendali.

Sekarang bayangkan seseorang dengan demensia.

Kemampuan berpikirnya memang mulai menurun.

Tetapi kebutuhan untuk tetap merasa memiliki kendali tidak pernah hilang.

Karena itu kadang-kadang jawaban yang mereka berikan terdengar tidak masuk akal.

Namun sesungguhnya...

Mereka sedang memberikan jawaban terbaik yang masih mampu mereka berikan berdasarkan informasi yang tersedia di dalam otaknya.


2. Menjaga Kita Tetap Aman Secara Emosional

Tugas kedua otak adalah menjaga kita tetap aman.

Bukan hanya aman secara fisik.

Tetapi aman secara emosional.

Tidak ada orang yang ingin gagal.

Tidak ada orang yang ingin dipermalukan.

Tidak ada orang yang ingin mendengar,

"Jawabanmu salah."

"Itu bukan seperti itu."

Semua orang ingin merasa dihargai dan tetap memiliki martabat.

Dan kebutuhan itu tetap ada, bahkan ketika kemampuan mengingat sudah sangat menurun.

Karena itulah dalam merawat orang dengan demensia, menjaga harga diri, rasa aman, dan hubungan emosional sering kali jauh lebih penting daripada sekadar mengoreksi apakah jawaban mereka benar atau salah.


Pelajaran Penting (Key Lessons)

  1. Memori emosional adalah jenis memori yang bertahan paling lama, bahkan hingga menjelang akhir kehidupan.

  2. Perasaan sering kali tetap bertahan meskipun alasan logis di baliknya sudah terlupakan.

  3. Orang dengan demensia mungkin tidak mengingat suatu peristiwa, tetapi tetap mengingat bagaimana peristiwa itu membuat mereka merasa.

  4. Hubungan yang hangat memiliki dampak lebih besar daripada sekadar mengingat fakta.

  5. Informasi pribadi sederhana dari keluarga dapat menjadi alat yang sangat efektif bagi caregiver untuk membangun kedekatan.

  6. Hidup dengan demensia dapat terasa seperti terus-menerus berada di dalam kabut, penuh ketidakpastian dan kebingungan.

  7. Ketika caregiver menunjukkan bahwa mereka mengenal kehidupan seseorang, rasa aman dan kepercayaan akan tumbuh.

  8. Otak selalu berusaha menciptakan penjelasan yang paling masuk akal terhadap apa yang sedang terjadi, bahkan ketika kemampuan berpikir telah menurun.

  9. Jawaban yang tampak keliru sering kali merupakan usaha terbaik seseorang untuk memahami situasi, bukan sekadar kebingungan.

  10. Tujuan utama komunikasi dalam perawatan demensia bukanlah membuktikan siapa yang benar, melainkan menjaga rasa aman, harga diri, dan martabat orang yang sedang mengalami penurunan fungsi kognitif.


Anda semua bukan peneliti, jadi mari kita buat sesederhana mungkin.

Kalau berbicara tentang gangguan kognitif, saya menyederhanakannya menjadi satu hal:

Gangguan memori jangka pendek (short-term memory loss).

Selesai.

Saya tidak terlalu peduli apa penyebabnya.

Apakah karena stroke.

Apakah karena Alzheimer.

Apakah karena cedera kepala.

Apakah karena penyakit lain.

Bagi saya, intinya tetap sama:

Orang tersebut mengalami kehilangan memori jangka pendek.


Kisah yang Mengubah Cara Pandang Saya

Hari ketika saya benar-benar menyadari hal ini terjadi ketika saya sedang menjadi pembicara utama di North Dakota.

Di sana ada pembicara utama lainnya.

Kami sama-sama memiliki buku, sehingga setelah acara kami duduk berdampingan sambil menandatangani buku.

Namanya Carl Mecklenburg.

Kalau Anda penggemar sepak bola Amerika, mungkin mengenalnya sebagai mantan pemain Denver Broncos.

Saya sendiri tidak mengerti sepak bola.

Jadi saya duduk di sampingnya dan ingin mengajak ngobrol, tetapi saya tidak tahu harus mengatakan apa.

Saya melihat ia memakai cincin besar.

Kemungkinan besar cincin juara Super Bowl.

Saya tidak yakin, tetapi itulah yang saya lihat.

Saya mulai merasa canggung.

Akhirnya saya berkata,

"Hei Carl, bagaimana kalau kita saling bertukar buku?"

Bukunya berbicara tentang bagaimana menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Sedangkan buku saya membahas bagaimana berkomunikasi dengan orang yang mengalami gangguan memori.

Kami saling menandatangani buku lalu menukarnya.

Namun saya masih merasa canggung.

Lalu saya berkata,

"Mungkin sekarang Anda belum membutuhkan buku saya, tetapi siapa tahu Anda punya kakek, nenek, atau anggota keluarga yang bisa mendapatkan manfaat darinya."

Saat saya mengatakan itu, saya sedang melihat ke bawah.

Kemudian Carl menjawab pelan,

"Istri saya membutuhkannya sekarang."

Saya mengira ia sedang bercanda.

Saya menoleh.

Namun sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan candaan.

Saya bertanya,

"Carl... maksudmu apa?"

Ia menjawab,

"Saya sudah mengalami lima gegar otak yang sangat serius."

"Sekarang saya mulai kehilangan ingatan."

"Dan saya sangat ketakutan."

Saya terdiam.

Lalu saya teringat bahwa seminggu sebelumnya seorang pemain NFL lain, Junior Seau, meninggal karena bunuh diri.

Saya berkata,

"Sungguh menyedihkan apa yang terjadi pada Junior minggu lalu."

Carl menjawab,

"Dia teman saya."

Lalu ia bertanya,

"Tahukah kamu mengapa dia menembak dirinya di dada, bukan di kepala?"

Saya mulai merasa pembicaraan ini menjadi sangat dalam.

Padahal awalnya saya hanya mengajak bertukar buku.

Saya menjawab,

"Tidak."

Carl berkata,

"Karena dia juga mengalami gangguan memori."

"Dia ingin otaknya tetap utuh agar bisa dipakai untuk penelitian."

Saat itulah saya benar-benar tersadar.


Penyebab Boleh Berbeda, Dampaknya Sama

Hari itu saya memahami sesuatu.

Tidak terlalu penting apa penyebabnya.

Apa pun yang mengurangi aliran darah atau merusak fungsi otak berpotensi menyebabkan gangguan memori.

Itulah sebabnya sangat sulit menemukan satu solusi yang berlaku untuk semua orang.

Karena penyebabnya berbeda-beda.

Yang jauh lebih penting adalah:

Bagaimana kita belajar hidup dan merawat seseorang dengan kondisi tersebut sebaik mungkin.


Jangan Mengajukan Pertanyaan yang Menguji Memori Jangka Pendek

Saya sudah mengatakan hal ini kepada staf mungkin satu juta dua puluh tujuh kali.

Jangan pernah mengajukan pertanyaan memori jangka pendek kepada orang yang mengalami gangguan memori jangka pendek.

Itu sama sekali tidak membantu.

Kalau pun tidak merugikan, pertanyaan itu tidak memberikan manfaat apa pun.

Dalam banyak situasi bahkan terasa kejam.


Contoh yang Sangat Sering Terjadi

Kita menyapa seseorang dengan berkata,

"Apa kabar?"

Bagi kita, itu hanyalah sapaan.

Kita sebenarnya tidak sedang meminta laporan kesehatan secara lengkap.

Misalnya, saya yakin ketika Anda bertanya,

"Apa kabar?"

Anda sebenarnya tidak ingin mendengar cerita tentang jamur di kuku kaki saya.

Bukan?

Tentu tidak.

Namun bagi seseorang yang mengalami gangguan memori jangka pendek, pertanyaan itu benar-benar dipahami sebagai sebuah pertanyaan yang harus dijawab.

Masalahnya...

Mereka tidak tahu jawabannya.

Otak mereka kemudian bekerja keras mencari jawaban yang masuk akal.

Mereka mungkin berkata,

"Perut saya sedang tidak enak."

Atau,

"Saya sedang kesakitan."

Kadang-kadang memang benar.

Namun sering kali jawaban itu hanyalah hasil otak yang sedang berusaha mengisi kekosongan informasi.

Ingat kembali fungsi otak tadi.

Otak selalu berusaha menciptakan jawaban yang paling masuk akal.


Tanpa Disadari Kita Membuat Mereka Gagal

Sebagai anggota keluarga, kita sering hanya ingin mengobrol.

Namun tanpa sadar, pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat orang dengan demensia mengalami kegagalan berulang kali.

Lalu kita bertanya lagi,

"Sarapan tadi makan apa?"

Mereka menjawab,

"Saya tidak ingat."

Padahal sarapan baru satu jam yang lalu.

Karena tidak mampu mengingatnya, mereka kemudian berkata,

"Mereka tidak pernah memberi saya makan di sini."

"Saya sudah berminggu-minggu tidak makan."

Lalu keluarga panik.

Mereka langsung mendatangi pengelola panti atau rumah sakit.

"Mengapa ibu saya tidak diberi makan?"

Pihak panti menjawab,

"Kami memberi makan beliau setiap hari."

Keluarga berkata,

"Tidak mungkin. Ibu saya sendiri yang mengatakan tidak pernah diberi makan."

Padahal sebenarnya masalahnya bukan pada pelayanan.

Masalahnya adalah kemampuan mengingat yang sudah terganggu.

Karena itulah pertanyaan-pertanyaan yang menguji memori jangka pendek justru sering menimbulkan kesalahpahaman, konflik, dan rasa frustrasi.


Pelajaran Penting (Key Lessons)

  1. Dalam praktik sehari-hari, penyebab gangguan memori sering kali kurang penting dibandingkan cara kita meresponsnya.

  2. Banyak kondisi—seperti stroke, cedera kepala, Alzheimer, atau gangguan aliran darah ke otak—dapat menghasilkan gejala kehilangan memori jangka pendek.

  3. Cedera otak berulang, seperti gegar otak pada atlet, dapat meningkatkan risiko gangguan memori di kemudian hari.

  4. Fokus utama caregiver sebaiknya bukan mencari penyebab setiap saat, tetapi membantu orang tersebut menjalani hidup dengan kualitas terbaik.

  5. Jangan mengajukan pertanyaan yang menguji kemampuan mengingat seseorang jika Anda sudah tahu kemampuan itu telah menurun.

  6. Sapaan sederhana seperti "Apa kabar?" dapat menjadi pertanyaan yang membingungkan bagi seseorang dengan demensia bila mereka mengartikannya secara harfiah.

  7. Ketika tidak dapat mengingat, otak sering berusaha mengisi kekosongan dengan jawaban yang terasa masuk akal bagi orang tersebut.

  8. Pernyataan yang terdengar keliru, seperti "Saya tidak pernah diberi makan," sering kali mencerminkan keterbatasan memori, bukan kebohongan.

  9. Mengoreksi atau memaksa seseorang mengingat kejadian yang baru berlalu biasanya hanya meningkatkan rasa frustrasi dan mempermalukan mereka.

  10. Komunikasi yang baik dalam perawatan demensia berfokus pada menjaga rasa aman, martabat, dan hubungan emosional, bukan menguji akurasi ingatan.


Setiap kali saya mengajukan pertanyaan yang menguji memori jangka pendek, orang yang saya cintai kembali mengalami kegagalan.

Lalu kita bertanya lagi,

"Kemarin kamu melakukan apa?"

Pada titik itu, kemungkinan besar mereka berharap kita segera pergi.

Bukan karena mereka tidak menyayangi kita.

Tetapi karena tanpa sadar kita membuat mereka merasa bodoh.

Padahal mereka bukan orang bodoh.

Mereka mungkin pernah menjadi:

  • seorang guru,

  • pembicara,

  • profesional yang sukses,

  • ibu rumah tangga yang luar biasa.

Namun sekarang mereka tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Itulah yang membuat mereka merasa kehilangan harga diri.

Kelihatannya memang mudah.

Tetapi dalam praktiknya, sangat sulit.


"Kalau Tidak Bertanya Itu, Lalu Saya Harus Bicara Apa?"

Pertanyaan itu sangat sering muncul.

Kalau saya tidak boleh bertanya tentang hari ini...

Kalau saya tidak boleh bertanya apa yang dimakan saat sarapan...

Kalau saya tidak boleh bertanya apa yang dilakukan kemarin...

Lalu saya harus berbicara tentang apa?

Sebelum menjawab itu, saya ingin menyampaikan satu hal yang sangat sulit dilakukan keluarga.


Belajarlah Melepaskan Harapan Lama

Saya sering berkata,

"Anda harus belajar melepaskan mereka."

Orang sering langsung terkejut.

"Melepaskan?"

"Bukankah itu berarti menyerah?"

Bukan.

Yang saya maksud adalah:

Lepaskan harapan lama terhadap kemampuan mereka.

Misalnya...

Dulu ayah selalu mengurus seluruh tagihan rumah.

Dulu ibu selalu mengatur semua keuangan.

Dulu pasangan Anda selalu menjadi tempat meminta nasihat.

Saya sendiri mengalami hal yang sama dengan ibu saya.

Percaya atau tidak...

Kadang-kadang mulut saya berbicara terlalu cepat.

Kadang saya mengatakan sesuatu yang membuat orang lain marah.

Dulu setiap kali itu terjadi saya menelepon ibu.

Saya berkata,

"Bu... coba tebak apa yang baru saja saya lakukan."

Beliau selalu menjawab,

"Tidak apa-apa, Sayang."

Beliau selalu tahu bagaimana menenangkan saya.

Beliau adalah tempat saya kembali ketika saya mengalami masalah.

Namun suatu hari saya menelepon lagi.

Semua yang saya ceritakan tidak lagi masuk akal bagi beliau.

Beliau bahkan tidak dapat memahami apa yang sedang saya bicarakan.

Bagi saya, itu sangat menyakitkan.

Karena saya harus melepaskan harapan bahwa beliau masih bisa menjadi tempat saya bersandar seperti dulu.


Setelah Melepaskan Harapan, Carilah Kekuatan Mereka

Begitu kita melepaskan ekspektasi lama, kita memiliki ruang untuk melihat sesuatu yang baru.

Saya sering bertanya kepada keluarga maupun staf:

"Apa kekuatan mereka sekarang?"

Karena kehilangan memori sering kali begitu besar sehingga kita lupa...

Orang itu masih ada.

Kepribadiannya masih ada.

Kekuatannya masih ada.

Kita hanya perlu menemukannya.


Kekuatan Terbesar: Memori Jangka Panjang

Salah satu kekuatan terbesar adalah memori jangka panjang.

Saya memberi subjudul:

"Saya masih ada di sini. Datanglah temui saya."

Mari kita bayangkan saya mengalami gangguan memori.

Kemarin Irene menelepon.

Ia berkata,

"Besok jam sepuluh saya jemput ya. Kita sarapan bersama."

Saya menjawab,

"Baik."

Bayangkan otak saya memiliki dua laci.

Laci pertama adalah memori jangka pendek.

Laci kedua adalah memori jangka panjang.

Informasi bahwa Irene akan datang saya simpan di laci memori jangka pendek.

Masalahnya...

Laci itu tidak memiliki dasar.

Semua informasi langsung jatuh keluar.

Sedangkan laci memori jangka panjang memiliki dasar yang kuat.

Semuanya tetap tersimpan.

Keesokan paginya Irene datang pukul sepuluh.

Saya masih memakai piyama.

Ia bertanya,

"Kenapa belum siap?"

Saya menjawab,

"Seandainya kamu menelepon kemarin dan memberi tahu kita mau keluar, tentu saya sudah siap."

Irene berkata,

"Tapi saya memang sudah menelepon."

Lalu kami mulai berdebat.

Karena saya sungguh-sungguh tidak mengingatnya.

Bukan karena saya berbohong.

Informasi itu memang sudah hilang.


Tetapi Cerita Masa Kecil Masih Sangat Jelas

Lalu kami pergi sarapan.

Kami duduk di restoran.

Saya suka berbicara.

Tiba-tiba saya berkata,

"Tahukah kamu? Hari pertama saya masuk taman kanak-kanak, ibu selalu membuatkan sandwich bologna dengan saus tomat."

Saya mulai menceritakan bagaimana saus tomat kadang-kadang meresap ke dalam roti.

Irene mungkin berpikir,

"Aneh sekali."

"Tadi pagi dia tidak ingat saya menelepon kemarin."

"Tetapi sekarang dia bisa menceritakan isi bekal sekolahnya puluhan tahun yang lalu."

Ya.

Karena cerita itu tersimpan di laci memori jangka panjang.

Dan laci itu masih utuh.


Inilah Informasi yang Sangat Dibutuhkan Caregiver

Sebagai staf atau caregiver, kami sangat ingin mengetahui isi laci memori jangka panjang itu.

Apa yang mereka sukai?

Apa cerita hidup mereka?

Apa kenangan indah mereka?

Karena semua itulah yang dapat kami gunakan untuk membangun hubungan.

Melalui percakapan itu kami sedang mengatakan,

"Saya mengenal Anda."

"Saya ada di pihak Anda."


Kekuatan-Kekuatan Lain yang Masih Bertahan

Selain memori jangka panjang, masih banyak kekuatan lain.

Humor

Apa yang menurut mereka lucu?

Pria mungkin lebih menyukai lelucon.

Wanita mungkin lebih menikmati cerita.

Kalau kami tahu hal itu, kami bisa membuat mereka tersenyum.


Musik

Lagu favorit memiliki kekuatan luar biasa.

Saya tidak perlu menyanyikan seluruh lagu.

Cukup beberapa bait.

Cukup beberapa kalimat.

Ketika saya mulai menyanyikan lagu favorit mereka, pesan yang mereka rasakan adalah:

"Orang ini mengenal saya."

Kalau tidak mengenal saya, bagaimana mungkin ia tahu lagu kesukaan saya?


Spiritualitas

Kalau seseorang memiliki kehidupan rohani yang kuat, bagian itu hampir seperti sudah "tertanam permanen" di otak.

Saya banyak bekerja dalam program pencegahan jatuh.

Salah satu intervensi paling sederhana ternyata...

Sebuah Alkitab.

Tentu saja hanya bagi orang yang memang memiliki iman Kristen.

Kalau seseorang ateis, jangan berikan Alkitab.

Itu tidak akan membantu.

Namun bagi orang yang memang bertumbuh dalam iman, sejak kecil mereka belajar menghormati Alkitab.

Kita diajarkan,

"Jangan biarkan Alkitab jatuh ke lantai."

Maka misalnya Irene hendak berdiri sebelum saya sempat membantunya.

Saya cukup meletakkan Alkitab di pangkuannya.

Ketika ia hendak berdiri, refleks pertama yang muncul adalah mengambil Alkitab dengan hati-hati.

Beberapa detik tambahan itu memberi saya waktu untuk datang membantu.

Kedengarannya sederhana.

Bahkan mungkin terdengar lucu.

Tetapi cara itu berhasil.

Mengapa?

Karena kita memanfaatkan memori lama yang masih sangat kuat.


Lagu Rohani, Ayat Alkitab, dan Puisi

Hal yang sama berlaku untuk:

  • lagu-lagu rohani,

  • ayat-ayat Alkitab,

  • puisi yang memiliki makna spiritual.

Semua itu memberikan rasa damai dan nyaman bagi orang yang memiliki dasar iman.

Tetapi sekali lagi...

Kami sebagai caregiver tidak mungkin mengetahuinya tanpa bantuan keluarga.

Misalnya keluarga berkata,

"Ibu saya sangat menyukai puisi Footprints in the Sand."

Informasi sederhana seperti itu bisa menjadi jembatan untuk membangun hubungan yang hangat dan menenangkan.


Pelajaran Penting (Key Lessons)

  1. Orang dengan demensia bukan kehilangan kecerdasan mereka; mereka kehilangan akses terhadap sebagian kemampuan mengingat, sehingga pertanyaan sederhana pun dapat terasa seperti ujian yang memalukan.

  2. Salah satu langkah tersulit bagi keluarga adalah melepaskan harapan lama terhadap kemampuan yang dulu dimiliki orang yang mereka cintai.

  3. Melepaskan ekspektasi bukan berarti menyerah, melainkan menerima kondisi saat ini agar hubungan dapat dibangun dengan cara yang baru.

  4. Daripada berfokus pada apa yang telah hilang, fokuslah pada kekuatan yang masih dimiliki.

  5. Memori jangka panjang sering kali tetap utuh dan menjadi pintu terbaik untuk menjalin komunikasi.

  6. Kenangan masa kecil, pekerjaan, keluarga, dan pengalaman hidup dapat menjadi bahan percakapan yang bermakna.

  7. Humor yang sesuai dengan kepribadian seseorang tetap dapat menghadirkan kegembiraan dan memperkuat hubungan.

  8. Musik, terutama lagu-lagu yang akrab sejak lama, mampu membangkitkan emosi positif dan rasa dikenal.

  9. Nilai-nilai spiritual, doa, lagu rohani, kitab suci, atau puisi yang bermakna sering kali tetap melekat kuat dan dapat memberikan rasa aman serta penghiburan.

  10. Informasi yang dibagikan keluarga tentang riwayat hidup, kesukaan, kebiasaan, dan keyakinan orang yang mengalami demensia merupakan "kunci" yang membantu caregiver berkata melalui tindakan mereka: "Saya mengenal Anda, saya menghargai Anda, dan saya ada untuk Anda."


Kalau Anda tidak pernah masuk ke rumah ibu mertua saya, Anda tidak akan pernah tahu bahwa hampir di setiap sudut rumahnya terdapat gambar dan hiasan bertema "Footprints" (Footprints in the Sand).

Saya sendiri tidak akan pernah mengetahuinya.

Tetapi begitu seseorang menyebut puisi atau gambar itu...

Wajahnya langsung berbinar.

Beliau benar-benar menyukainya.

Hal-hal seperti itulah yang dapat kami manfaatkan sebagai staf untuk membangun hubungan.

Tetapi kami membutuhkan bantuan keluarga untuk mengetahuinya.


Bermain dengan Kekuatan yang Masih Dimiliki

Itulah kekuatan-kekuatan yang masih ada.

Dan kita harus memanfaatkannya.

Sayangnya, banyak keluarga begitu sedih karena melihat apa yang telah hilang...

Sampai lupa bahwa masih banyak hal yang belum hilang.

Masih banyak kemampuan.

Masih banyak kenangan.

Masih banyak kesukaan.

Masih banyak kebahagiaan yang bisa dibangun.

Dan melalui hal-hal itulah kita dapat membuat sisa perjalanan hidup mereka tetap menyenangkan dan bermakna.


Kalimat yang Sebaiknya Tidak Diucapkan

Saya pernah membahas hal ini sebelumnya.

Apa saja yang sebaiknya tidak kita katakan?

1. Jangan Mengatakan "Tidak."

Siapa di sini yang senang diberi tahu,

"Tidak."

Silakan angkat tangan.

(Hampir tidak ada yang mengangkat tangan.)

Benar.

Tidak ada seorang pun yang suka dikoreksi dengan kata "tidak."

Namun itulah yang sering kita lakukan.

Orang dengan demensia berusaha menjawab pertanyaan kita.

Lalu kita berkata,

"Tidak."

"Bukan begitu."

"Ingat dong..."

Padahal kita tidak bermaksud jahat.

Tetapi yang mereka dengar hanyalah:

"Saya salah."

Dan tidak ada orang yang senang dibuat merasa salah.

Kalau kita terus memaksa, mereka bahkan bisa menjadi marah atau defensif.

Mengapa?

Karena dari sudut pandang mereka...

Mereka merasa mereka benar.


2. Jangan Bertanya "Apakah Kamu Ingat...?"

Kalimat kedua yang sebaiknya dihindari adalah:

"Apakah kamu ingat...?"

Ini sangat berat.

Terutama bagi seseorang yang masih berada pada tahap awal kehilangan memori.

Mereka sadar bahwa ingatan mereka mulai menurun.

Begitu mereka mendengar kata-kata,

"Apakah kamu ingat..."

Bahkan sebelum kalimat selesai...

Tekanan darah mereka mungkin meningkat.

Detak jantung menjadi lebih cepat.

Mereka sudah dipenuhi rasa takut.

"Bagaimana kalau saya gagal menjawab?"

Akibatnya mereka bahkan tidak lagi mendengar sisa pertanyaan.

Karena rasa cemas sudah mengambil alih.


Gantilah dengan "Saya Sedang Teringat..."

Judul buku saya sebenarnya berasal dari prinsip ini.

Daripada berkata,

"Apakah kamu ingat waktu kita pergi ke Kanada dan makan Tiger Ice Cream?"

Lebih baik katakan,

"Saya tadi sedang teringat ketika kita pernah pergi ke Kanada dan mencoba es krim bernama Tiger Ice Cream."

Isi ceritanya sama.

Tetapi pembuka kalimatnya berbeda.

Kalau saya berkata,

"Apakah kamu ingat?"

Saya sedang menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada orang yang mengalami gangguan memori.

Namun ketika saya berkata,

"Saya sedang teringat..."

Itu menjadi cerita saya.

Mereka bebas menjawab:

"Ya, saya ingat."

atau

"Saya tidak ingat."

Tidak ada yang dipermalukan.

Tidak ada yang kehilangan harga diri.


Lalu Harus Bicara Tentang Apa?

Kalau tidak boleh mengatakan:

  • "Tidak."

  • "Apakah kamu ingat?"

  • pertanyaan yang menguji memori...

Lalu apa yang harus kita bicarakan?

Di sinilah kami benar-benar membutuhkan bantuan keluarga.

Kami ingin mengetahui berbagai pembuka percakapan yang menyenangkan.


Cari Hal-Hal yang Mereka Senang Lihat

Misalnya...

Apa yang mereka senang lihat?

Hal-hal sederhana.

Mungkin mereka senang melihat:

  • langit mendung dengan sedikit cahaya matahari,

  • bunga,

  • taman,

  • burung,

  • anak kecil,

  • laut.

Semuanya bisa menjadi bahan percakapan.


Contoh dengan Anjing Labrador

Misalnya Anda mengenal saya.

Anda tahu bahwa sejak kecil saya memelihara seekor Labrador Retriever.

Namanya Harley.

Lalu hari ini Anda datang mengunjungi saya.

Daripada bertanya,

"Masih ingat Harley?"

Anda cukup berkata,

"Tadi pagi saya melihat seseorang sedang berjalan-jalan dengan seekor Labrador hitam yang sangat cantik."

Padahal sebenarnya Anda tidak melihat Labrador sama sekali.

Tetapi cerita itu bisa menjadi pemicu.

Saya mungkin langsung berkata,

"Dulu saya juga punya Labrador."

Lalu percakapan pun mengalir.

Atau mungkin saya hanya berkata,

"Oh... bagus ya."

Lalu kita beralih ke topik lain.

Tidak masalah.

Karena setiap hari berbeda.

Hari ini mungkin berhasil.

Besok mungkin tidak.

Sama seperti saya menyukai Tiger Ice Cream.

Bukan berarti saya ingin memakannya setiap kali makan.

Karena itu kita membutuhkan banyak pilihan pembuka percakapan.

Semakin banyak yang kita miliki, semakin besar peluang salah satunya berhasil membangun hubungan.


Semakin Banyak Cerita yang Diketahui Keluarga, Semakin Mudah Caregiver Membangun Hubungan

Semakin banyak informasi yang diberikan keluarga kepada kami, semakin mudah kami mengatakan hal-hal seperti,

"Tadi saya melihat Labrador yang cantik."

Padahal mungkin saya sebenarnya tidak melihat Labrador itu.

Yang penting bukan akurasi ceritanya.

Yang penting adalah membuka pintu menuju percakapan yang membuat orang tersebut merasa:

"Orang ini mengenal saya."

"Orang ini memahami hidup saya."

"Saya tidak sendirian."


Pelajaran Penting (Key Lessons)

  1. Keluarga adalah sumber informasi terbaik tentang riwayat hidup, minat, dan kenangan yang masih bermakna bagi orang dengan demensia.

  2. Jangan terlalu terpaku pada kemampuan yang telah hilang hingga melupakan banyak kekuatan yang masih tersisa.

  3. Hindari kata "tidak" karena dapat membuat seseorang merasa dikoreksi, dipermalukan, atau kehilangan harga diri.

  4. Hindari pertanyaan yang diawali dengan "Apakah kamu ingat...?" karena dapat memicu kecemasan bahkan sebelum pertanyaan selesai diucapkan.

  5. Mengawali cerita dengan "Saya sedang teringat..." menghilangkan tekanan dan memberi ruang bagi orang dengan demensia untuk ikut berbagi tanpa takut gagal.

  6. Pembuka percakapan terbaik berasal dari hal-hal yang pernah mereka sukai: hewan peliharaan, bunga, cuaca, hobi, makanan favorit, pekerjaan, atau pengalaman hidup.

  7. Percakapan yang baik tidak bertujuan menguji ingatan, tetapi membangun rasa nyaman dan koneksi emosional.

  8. Tidak semua topik akan berhasil setiap hari; karena itu caregiver perlu memiliki banyak pilihan pembuka percakapan yang sesuai dengan riwayat hidup orang tersebut.

  9. Keberhasilan komunikasi tidak diukur dari benar atau salahnya jawaban, melainkan dari apakah orang tersebut merasa dihargai, dipahami, dan tetap memiliki martabat.

  10. Dalam perawatan demensia, tujuan utama bukan memulihkan ingatan yang hilang, melainkan membantu seseorang tetap mengalami hubungan yang hangat, rasa aman, dan kualitas hidup yang bermakna melalui kenangan serta kekuatan yang masih mereka miliki.


Yang paling saya inginkan adalah agar orang tersebut merasakan satu hal:

"Orang ini mengenal saya."

"Orang ini ada di pihak saya."

Itulah tujuan kita.


Apa yang Mereka Suka Cium?

Indra penciuman memiliki kekuatan yang luar biasa.

Tadi pagi, siapa yang akhirnya tertarik untuk makan karena mencium aroma sarapan?

Aroma makanan bisa membangkitkan selera makan.

Karena itu kami sering melakukan hal-hal sederhana seperti:

  • membuat popcorn,

  • memanggang roti,

  • memasak makanan dengan aroma khas.

Mengapa?

Karena aroma membawa kita kembali ke memori jangka panjang.

Setiap aroma memiliki sebuah cerita.

Misalnya saya.

Kalau Anda mengenal saya, Anda akan tahu bahwa saya tidak tahan dengan aroma bunga mawar.

Saya tidak menyukainya.

Menurut saya baunya seperti kaki yang kotor.

Bunganya memang cantik.

Tetapi jangan berikan kepada saya.

Kalau benar-benar ingin membuat saya bahagia...

Belikan saya bunga anyelir (carnation).

Harganya bahkan lebih murah.

Namun hampir semua kenangan indah dalam hidup saya selalu berkaitan dengan aroma bunga anyelir.

Karena itu, bagi saya, anyelir jauh lebih berarti daripada mawar.


Apa yang Mereka Suka Rasakan?

Lalu bagaimana dengan makanan?

Di sini kita harus berhati-hati.

Kalau Anda bertanya kepada saya,

"Mau makan apa?"

Saya akan langsung menjawab,

"Roti gandum hitam (rye bread), irisan bawang Bermuda yang tebal, dan keju Limburger."

Saya sangat menyukai keju Limburger.

Harus diberi garam dan lada.

Masalahnya...

Sebagian besar panti jompo, rumah sakit, bahkan restoran tidak menyediakan makanan seperti itu.

Lalu orang berkata,

"Tidak apa-apa."

"Nanti dia juga lupa."

Nah, di sinilah yang menarik.

Mungkin saya lupa banyak hal.

Tetapi ketika Anda bertanya makanan favorit saya...

Saya benar-benar mengingatnya.

Saya menjadi sangat bersemangat.

Kemudian makanan itu tidak pernah datang.

Tentu saya akan kecewa.


Berikan Pilihan, Jangan Pertanyaan Terbuka

Daripada bertanya,

"Mau makan apa?"

Lebih baik bertanya,

"Hari ini ingin sosis atau bacon?"

Berikan dua pilihan yang realistis.

Kalau saya masih kesulitan memilih, Anda bisa membantu dengan berkata,

"Sosis hari ini enak sekali."

Tetapi jangan mengambil seluruh hak saya untuk membuat keputusan.

Saya tetap ingin merasa memiliki kendali atas hidup saya.


Apa yang Mereka Suka Sentuh?

Bagaimana dengan sentuhan?

Apakah mereka memiliki:

  • selimut favorit,

  • pakaian favorit,

  • kain tertentu yang terasa nyaman?

Banyak orang mengenakan pakaian tertentu bukan hanya karena tampilannya.

Tetapi karena rasanya nyaman ketika dipakai.

Hal-hal sederhana seperti ini bisa menjadi pembuka percakapan.

Misalnya saya berkata,

"Boleh saya menyentuh baju Anda?"

"Wah... bahannya lembut sekali."

Lihat apa yang terjadi.

Hubungan mulai terbangun.

Sedikit demi sedikit.

Tidak perlu menguji ingatan.


Apa yang Mereka Suka Dengar?

Bagaimana dengan suara?

Apakah mereka menyukai:

  • lelucon,

  • lagu,

  • suara burung,

  • musik tertentu,

  • doa,

  • suara cucu-cucu mereka?

Pagi ini kami duduk di teras.

Masih sangat pagi.

Irene berkata,

"Dengarkan burung-burung itu."

Kami berhenti sejenak.

Mendengarkan suara burung yang mulai berkicau.

Kami minum kopi.

Kami berbincang.

Saya menyukai suara itu.

Dan ketika saya nanti meninggalkan tempat ini...

Mungkin itulah yang akan saya ingat.

Hal-hal sederhana seperti itu justru membuat hidup terasa berharga.


Semua Ini Berasal dari Lima Indra

Sekarang mungkin Anda berpikir,

"Saya mengerti."

"Semua yang Anda jelaskan sebenarnya adalah panca indera."

Benar sekali.

Begitulah cara kita semua berinteraksi dengan dunia.

Melalui:

  • apa yang kita lihat,

  • apa yang kita dengar,

  • apa yang kita cium,

  • apa yang kita rasakan,

  • apa yang kita kecap.

Karena itu keluarga memiliki peran yang sangat penting.

Keluargalah yang dapat membantu kami mengumpulkan semua informasi tersebut.

Semakin banyak kami tahu...

Semakin baik kami dapat merawat orang yang Anda cintai.


Tujuan Utama Caregiver

Saya sudah berkali-kali mengatakan kepada para staf selama pelatihan minggu ini.

Tugas kita sebagai caregiver sangat sederhana.

Membantu setiap orang merasa berguna dan berhasil setiap hari.

Misalnya saya bertanya,

"Ceritakan kepada saya, di mana Anda membeli keju Limburger itu?"

Sekarang saya mempunyai kesempatan untuk berhasil.

Saya dapat menceritakan dengan bangga bahwa:

"Ada satu toko di Wisconsin."

"Ada satu toko di Toledo yang menjual keju itu."

"Saya membeli empat kotak sekaligus."

"Saya takut suatu hari toko itu berhenti menjualnya."

Sekarang saya merasa berhasil.

Saya merasa masih memiliki sesuatu yang dapat saya bagikan.

Saya masih mampu bercerita.

Saya masih mampu mengajar seseorang.

Semua itu membuat saya merasa berguna.


Kumpulkan Daftar "Pembuka Percakapan"

Karena itulah saya selalu berkata kepada keluarga,

Sebelum datang berkunjung...

Buatlah daftar.

Tuliskan semua hal yang dapat menjadi pembuka percakapan.

(Sambil bercanda...)

"Makanya beli buku saya."

"Tidak... tidak... anggap saja saya tidak mengatakan itu."

Sebenarnya isi buku saya hanyalah sebuah buku kerja (workbook) untuk membantu keluarga mencatat semua informasi penting tersebut.

Karena informasi kecil itulah yang nantinya menjadi jembatan menuju hubungan yang penuh makna.


Pelajaran Penting (Key Lessons)

1. Tujuan komunikasi adalah membuat seseorang merasa dikenal dan dihargai.

Pertanyaan bukan untuk menguji ingatan, tetapi untuk menyampaikan pesan: "Saya mengenal Anda dan saya peduli kepada Anda."

2. Panca indera adalah pintu menuju memori jangka panjang.

Penglihatan, penciuman, pendengaran, sentuhan, dan rasa dapat membangkitkan kenangan yang tetap hidup meskipun memori jangka pendek telah menurun.

3. Aroma memiliki kekuatan emosional yang luar biasa.

Bau roti yang baru dipanggang, popcorn, kopi, bunga favorit, atau makanan rumahan dapat membangkitkan rasa nyaman dan kenangan masa lalu.

4. Berikan pilihan yang sederhana.

Daripada mengajukan pertanyaan terbuka seperti "Mau makan apa?", berikan dua pilihan yang nyata agar orang tersebut tetap merasa memiliki kendali tanpa merasa kewalahan.

5. Jangan menghilangkan hak mereka untuk mengambil keputusan.

Meskipun pilihan dibatasi agar lebih mudah, tetap libatkan mereka dalam proses memilih sehingga harga diri mereka tetap terjaga.

6. Sentuhan yang akrab dapat menjadi pembuka hubungan.

Pakaian favorit, selimut kesayangan, atau tekstur yang nyaman dapat memunculkan rasa aman sekaligus menjadi topik percakapan yang alami.

7. Suara yang bermakna dapat menenangkan.

Musik, suara alam, doa, lagu favorit, atau suara orang yang dicintai sering kali tetap memiliki kekuatan emosional yang besar.

8. Informasi dari keluarga adalah aset terbesar bagi caregiver.

Tidak ada buku medis yang dapat menggantikan pengetahuan keluarga tentang apa yang disukai, dibenci, dan bermakna bagi orang yang mengalami demensia.

9. Setiap percakapan sebaiknya memberi kesempatan untuk berhasil.

Ajukan pertanyaan yang memungkinkan mereka berbagi pengalaman, kenangan, atau kesukaan sehingga mereka merasa masih mampu memberi sesuatu kepada orang lain.

10. Kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh kondisi medis.

Momen sederhana—mencium aroma kopi, mendengar burung berkicau, menyentuh kain favorit, atau bercerita tentang makanan kesukaan—sering kali menjadi pengalaman yang membuat hari seseorang terasa bermakna, bahkan ketika kemampuan mengingat telah banyak berkurang.



Siapkan Dua atau Tiga Cerita Sebelum Berkunjung

Sebelum Anda datang mengunjungi orang yang mengalami demensia, siapkan dua atau tiga cerita sederhana yang ingin Anda bicarakan.

Tidak perlu lebih dari tiga.

Mengapa?

Karena kalau terlalu banyak, Anda sendiri akan bingung.

Misalnya Anda datang.

Anda mencoba cerita pertama.

Kalau tidak berhasil...

Coba cerita kedua.

Kalau masih belum berhasil...

Coba cerita ketiga.

Kalau salah satunya berhasil...

Pegang topik itu.

Biarkan percakapan mengalir.

Namun kalau ketiga-tiganya tidak berhasil...

Tidak apa-apa.

Mungkin memang saat itu mereka sedang lelah.

Mungkin mereka perlu ke kamar kecil.

Mungkin mereka ingin minum kopi.

Tidak setiap hari akan sama.


Mengetahui Tahap Demensia Sangat Penting

Salah satu hal yang sedang kami bicarakan dengan fasilitas perawatan adalah pentingnya mengetahui:

"Sebenarnya memori yang masih dimiliki seseorang ada di tahap mana?"

Saat seseorang mengalami penyakit jantung...

Kita melakukan banyak pemeriksaan.

Kalau ada masalah paru-paru...

Kita melakukan banyak tes.

Kalau ada gangguan pankreas...

Tes dilakukan secara menyeluruh.

Tetapi ketika berbicara tentang demensia...

Sering kali pendekatannya hanya dua pilihan:

"Punya demensia."

atau

"Tidak punya."

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Demensia memiliki tahapan.

Ada perkembangan penyakit.

Dan menurut saya kita belum cukup banyak menghabiskan waktu untuk memahami:

"Saat ini mereka berada di tahap mana?"

Karena setelah kita mengetahui posisi mereka...

Barulah kita bisa memperkuat kemampuan yang masih tersisa.

Persis seperti kita menangani penyakit lain.

Kalau jantung melemah...

Dokter memberikan obat untuk mendukung fungsi jantung.

Pada demensia mungkin bukan obat yang menjadi jawaban.

Tetapi dukungan yang tepat.

Membantu seseorang tetap merasa:

  • berguna,

  • berhasil,

  • dihargai.

Itulah yang dapat memperlambat penurunan kualitas hidup.

Saya tidak bisa menghentikan penyakitnya.

Saya tidak bisa menghilangkannya.

Tetapi saya bisa membantu mereka menjalani hidup dengan lebih baik.


Gunakan Foto Sebagai Pemicu Memori

Hal lain yang sering kami minta dari keluarga adalah foto-foto.

Saya pribadi sangat menyukai menggunakan gambar.

Misalnya keluarga berkata,

"Ini foto Ayah."

Mengapa foto ini begitu istimewa?

Karena ketika Angkatan Udara Amerika terbang melintas, pesawat-pesawat itu membentuk tulisan USA di langit.

Saya tidak perlu tahu semua detail sejarahnya.

Yang saya perlukan hanya satu kalimat pembuka.

Misalnya,

"Saya sedang melihat foto ini..."

Lalu biarkan mereka bercerita.

Sering kali mereka akan mulai menghidupkan kembali kenangan yang masih tersimpan.


Cerita Lucu Sangat Berharga

Saya sangat menyukai cerita-cerita lucu.

Misalnya seorang wanita pernah menceritakan kisah ini.

Suaminya sedang membuat tuna patties (perkedel tuna).

Tetapi adonannya tidak pernah menyatu.

Ia terus mencoba menekannya.

Tetap gagal.

Akhirnya istrinya pergi ke garasi.

Ternyata suaminya mengambil wadah yang salah.

Yang digunakan bukan tuna.

Melainkan makanan kucing.

Begitu saja.

Cerita sederhana.

Tetapi setiap kali saya berkata kepada wanita itu,

"Saya sedang teringat tuna patties."

Beliau langsung tertawa.

Lalu menceritakan kembali kisah tersebut.

Lihat apa yang terjadi.

Beliau merasa:

  • berhasil,

  • berguna,

  • mampu membuat orang lain tertawa.

Itulah yang ingin kita bangun.


Keluarga Memiliki Cerita yang Tidak Akan Pernah Diketahui Staf

Cerita-cerita seperti itu tidak mungkin diketahui oleh staf.

Hanya keluarga yang mengetahuinya.

Karena itu kami akan sering meminta bantuan Anda.

Bukan karena kami ingin tahu semua detail kehidupan mereka.

Tetapi karena cerita-cerita itulah yang dapat membangun hubungan yang hangat.


Saya Lebih Suka Mengatakan "Sampai Nanti"

Ini adalah pendapat pribadi saya.

Saya biasanya menyarankan keluarga:

Jangan mengatakan "Selamat tinggal."

Bagi saya...

Kata goodbye terdengar terlalu final.

Terlalu seperti perpisahan.

Saya lebih suka mengatakan:

"Aku sayang kamu."

"Sampai nanti."

"Kita bertemu lagi."

Kalimat-kalimat seperti itu terasa jauh lebih menenangkan.


Berikan Alasan yang Masuk Akal Saat Akan Pulang

Ingat kembali fungsi utama otak.

Otak selalu berusaha mencari penjelasan yang masuk akal.

Karena itu ketika hendak pulang, berikan alasan yang sederhana dan logis.

Misalnya:

"Saya harus mampir membayar tagihan listrik."

atau

"Saya masih ada urusan yang harus saya selesaikan."

Kalau kita hanya berkata,

"Selamat tinggal."

Orang tersebut bisa langsung berkata,

"Jangan pergi."

Lalu situasinya menjadi canggung.

Namun kalau kita memberi alasan yang masuk akal, otak mereka lebih mudah menerima bahwa memang ada alasan mengapa kita harus pergi.


Kisah "Kitty Litter" dari Hawaii

Saya pernah mengajar di Hawaii.

(Seseorang memang harus melakukannya, dan saya dengan senang hati menjadi sukarelawan.)

Di sana saya mengenal seorang Ombudsman bernama John.

Suatu hari kami mengadakan konferensi melalui telepon bersama para mahasiswa pekerjaan sosial.

Kami berbicara cukup lama.

Kalau Anda sudah mengenal saya...

Anda pasti tahu saya suka berbicara.

Dan kadang-kadang terlalu banyak berbicara.

Saya terus berbicara.

Terus berbicara.

Akhirnya John berkata,

"Diana, maaf sekali."

"Kita harus mengakhiri percakapan."

Saya bertanya,

"Kenapa?"

Ia menjawab,

"Saya harus pergi membeli pasir kucing sebelum toko tutup."

Saya langsung berkata,

"Oh... tentu saja."

Baru beberapa saat kemudian saya berpikir.

"Tunggu dulu."

"Di sana baru tengah hari."

Saya berkata,

"John..."

"Bukankah sekarang masih siang?"

Ia menjawab,

"Ya."

Lalu ia tersenyum.

Saya kemudian sadar.

John bahkan tidak memelihara kucing.

Ia hanya memberikan alasan yang terdengar masuk akal agar percakapan dapat berakhir dengan nyaman.

Dan saya mempercayainya sepenuhnya.

Mengapa?

Karena otak saya mendapatkan penjelasan yang logis.


Pelajaran Penting (Key Lessons)

1. Datanglah dengan persiapan.

Sebelum berkunjung, siapkan dua atau tiga topik percakapan yang berhubungan dengan kenangan jangka panjang orang tersebut.

2. Jangan memaksakan satu topik.

Jika sebuah cerita tidak membangun respons, beralihlah ke cerita lain. Bila tidak ada yang berhasil, mungkin saat itu bukan waktu yang tepat untuk berbincang.

3. Demensia memiliki tahapan.

Perawatan akan lebih efektif bila disesuaikan dengan kemampuan yang masih dimiliki pada tahap tersebut, bukan hanya berdasarkan label diagnosis.

4. Fokuslah memperkuat kemampuan yang masih ada.

Meskipun penyakit tidak dapat dihentikan, dukungan yang tepat dapat membantu mempertahankan kualitas hidup, rasa percaya diri, dan keterlibatan sosial.

5. Foto adalah pemicu memori yang sangat kuat.

Foto-foto lama dapat membuka percakapan, membangkitkan kenangan, dan memberi kesempatan bagi seseorang untuk bercerita dengan bangga.

6. Cerita lucu adalah terapi emosional.

Kenangan yang membuat seseorang tertawa dapat menumbuhkan rasa berhasil, berguna, dan mempererat hubungan dengan caregiver maupun keluarga.

7. Cerita pribadi merupakan "harta karun" bagi caregiver.

Informasi yang tampak sepele bagi keluarga sering kali menjadi alat komunikasi yang sangat berharga bagi staf perawatan.

8. Akhiri kunjungan dengan cara yang menenangkan.

Daripada menggunakan kata "selamat tinggal" yang terdengar final, gunakan ungkapan yang memberi harapan untuk bertemu kembali, seperti "Sampai nanti" atau "Aku akan datang lagi."

9. Berikan alasan yang sederhana dan masuk akal saat berpamitan.

Alasan yang logis membantu orang dengan demensia memahami mengapa Anda harus pergi dan dapat mengurangi kecemasan atau penolakan.

10. Tujuan utama komunikasi adalah membuat seseorang merasa berguna, berhasil, dan tetap dihargai. Ketika seseorang masih dapat berbagi cerita, membuat orang lain tertawa, atau menceritakan kenangan yang bermakna, mereka tetap merasakan bahwa hidupnya memiliki nilai dan tujuan.



Best Lessons Learned: Berkomunikasi dengan Orang yang Mengalami Demensia

1. Tidak Ada Teknik yang Berhasil 100% Setiap Saat

Pembicara mengingatkan bahwa tidak ada pendekatan yang selalu berhasil.

Semua orang adalah manusia. Ada hari-hari ketika komunikasi berjalan baik dan ada hari-hari ketika tidak.

Yang terpenting bukanlah kesempurnaan, melainkan memperbaiki kualitas interaksi sedikit demi sedikit.

"Kalau saya bisa memperbaiki 1%, 10%, atau 20% interaksi kita, lalu kita pulang dengan sama-sama tersenyum, itu sudah sangat berarti."

Pelajaran:

Kemajuan kecil yang konsisten jauh lebih berharga daripada mengejar kesempurnaan.


2. Lakukan "Pekerjaan Rumah" Mengenal Dunia Orang yang Mengalami Demensia

Keluarga dan pengasuh perlu mengumpulkan informasi tentang hal-hal yang masih membawa kebahagiaan bagi orang tersebut.

Misalnya:

  • cerita favorit

  • pekerjaan dahulu

  • hobi

  • makanan kesukaan

  • aroma favorit

  • musik favorit

  • hewan peliharaan

  • tempat yang pernah dikunjungi

  • kenangan masa kecil

Semua informasi ini menjadi "jembatan" komunikasi.


3. Jangan Bertanya Tentang Hal yang Baru Terjadi

Pembicara mengakui dirinya sendiri pernah melakukan kesalahan.

Ia bertemu seorang teman yang mengalami gangguan memori di restoran.

Secara spontan ia bertanya,

"Tadi makan apa?"

Pertanyaan itu ternyata membuat temannya langsung kebingungan.

Matanya kosong.

Ia mencari jawaban.

Akhirnya ia berbalik kepada suaminya untuk meminta bantuan.

Pembicara langsung sadar,

"Saya baru saja menanyakan pertanyaan memori jangka pendek."


4. Kesalahan Bisa Diperbaiki

Untungnya ia segera mengubah pendekatan.

Alih-alih bertanya lagi, ia berkata,

"Saya dengar makanan di sini enak sekali."

Temannya mulai kembali rileks.

Lalu ia berkata,

"Saya lapar sekali."

Temannya kemudian memegang tangannya dan berkata,

"Kalau begitu cepat masuk supaya tidak kelaparan."

Percakapan kembali mengalir.

Pelajaran:

Daripada meminta mereka mengingat sesuatu, lebih baik membuat komentar yang bisa mereka tanggapi secara alami.


5. Semua Orang Akan Melakukan Kesalahan

Tidak ada pengasuh yang sempurna.

Yang penting adalah:

  • cepat menyadari

  • segera memperbaiki arah percakapan

  • tidak menyalahkan diri sendiri

Kemampuan memperbaiki komunikasi jauh lebih penting daripada tidak pernah salah.


6. Latihan Sangat Penting

Mengetahui teori saja tidak cukup.

Kita perlu melatihnya setiap hari.

Misalnya saat:

  • membantu mandi

  • membantu berpakaian

  • menemani makan

  • berjalan bersama

Daripada bertanya,

"Masih ingat?"

lebih baik mengatakan,

"Saya tadi teringat dulu Bapak senang membuat selimut quilting."

Kalimat seperti ini mengaktifkan memori jangka panjang tanpa memberikan tekanan.


7. Keluarga Adalah Guru Terbaik

Pembicara mengatakan bahwa keluarga memiliki pengalaman nyata yang tidak dimiliki oleh siapa pun.

Mereka tahu:

  • apa yang berhasil

  • apa yang tidak berhasil

  • bagaimana karakter orang yang mereka cintai

Karena itu keluarga juga dapat mengajarkan keluarga lain.

Pengalaman nyata sering kali lebih berharga daripada teori.


8. Kita Belum Mengetahui Penyebab Semua Demensia

Saat ini ada ratusan penyebab gangguan memori.

Sebagian dapat diobati.

Sebagian tidak.

Masih banyak hal yang belum dipahami ilmu kedokteran.

Karena itu fokusnya adalah meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar mencari obat.


9. Tetap Aktif Secara Fisik

Salah satu hal yang hampir selalu direkomendasikan adalah aktivitas fisik.

Olahraga:

  • memperbaiki aliran darah

  • menjaga fungsi otak

  • meningkatkan suasana hati

  • mendukung kesehatan secara umum

Mungkin bukan obat, tetapi sangat mungkin membantu.


10. Latih Otak Secara Teratur

Selain tubuh, otak juga perlu dilatih.

Pembicara menyebut adanya permainan latihan otak (brain games) yang sedang diteliti oleh para peneliti.

Namun ia memberi satu pesan penting.

Jangan hanya mengulang jenis latihan yang sama setiap hari.


11. Gunakan Berbagai Bagian Otak

Hari ini:

  • latihan matematika.

Besok:

  • latihan bahasa.

Lusa:

  • latihan kecepatan berpikir.

Kemudian:

  • latihan perhatian.

Setelah itu:

  • latihan memori visual.

Semakin beragam aktivitasnya, semakin banyak jaringan otak yang digunakan.


12. "Tidak Pasti Membantu" Bukan Berarti "Jangan Dilakukan"

Pembicara berkata,

"Apakah latihan ini pasti memperbaiki demensia? Kami tidak tahu. Tetapi juga tidak akan merugikan."

Karena itu, jika ada aktivitas yang aman dan berpotensi membantu, layak untuk dicoba.

Prinsipnya sederhana:

"Tidak ada ruginya mencoba sesuatu yang sehat."


13. Keluarga Adalah Kunci Kualitas Hidup Penderita Demensia

Pesan paling kuat dari sesi ini adalah bahwa keluarga memegang peranan terbesar.

Mereka dapat membantu menciptakan hari yang:

  • tenang

  • nyaman

  • penuh rasa aman

  • bebas konflik

Kesuksesan bukan diukur dari kemampuan mengembalikan ingatan, tetapi dari kualitas hidup yang masih dapat dinikmati.


14. Tujuan Terbesar Bukan Mengembalikan Memori, Melainkan Memberikan Hari yang Tenang

Kalimat penutup pembicara sangat menyentuh.

Ia mengatakan bahwa tujuan mereka adalah membantu setiap orang yang mengalami demensia memiliki:

"A calm, content today."

Artinya:

  • hari yang damai,

  • hati yang tenang,

  • merasa dicintai,

  • merasa aman,

  • merasa dihargai.

Itulah ukuran keberhasilan yang paling realistis dan paling bermakna dalam perawatan demensia.


Ringkasan 14 Pelajaran Utama

  1. Tidak ada teknik komunikasi yang berhasil 100% setiap saat.

  2. Perbaikan kecil dalam interaksi sudah merupakan keberhasilan.

  3. Kenali cerita, minat, dan kenangan yang disukai orang dengan demensia.

  4. Hindari pertanyaan yang menguji memori jangka pendek.

  5. Jika salah bertanya, segera alihkan ke percakapan yang lebih nyaman.

  6. Komunikasi yang baik membutuhkan latihan setiap hari.

  7. Keluarga adalah sumber pengetahuan terbaik tentang orang yang mereka rawat.

  8. Masih banyak penyebab demensia yang belum dipahami sepenuhnya.

  9. Aktivitas fisik penting untuk menjaga kesehatan otak.

  10. Otak juga perlu terus dilatih melalui berbagai aktivitas.

  11. Gunakan beragam jenis latihan agar banyak fungsi otak tetap aktif.

  12. Aktivitas yang aman dan mungkin bermanfaat layak dicoba meskipun manfaatnya belum pasti.

  13. Peran keluarga sangat menentukan kualitas hidup penyandang demensia.

  14. Sasaran utama perawatan bukan mengembalikan ingatan, melainkan menciptakan "hari yang tenang, nyaman, dan penuh makna" bagi orang yang hidup dengan demensia.

Comments