KERETA LAOS

Selamat datang di China Discoveries Official,

tempat kita menelusuri kisah di balik kebangkitan dan transformasi Tiongkok, serta proyek-proyek bersejarah yang membentuk masa depan Asia.

Hari ini kita membahas satu proyek infrastruktur yang secara mendasar mengubah nasib sebuah negara kecil di Asia Tenggara: Kereta Api China–Laos.

Ini bukan sekadar jalur kereta. Ini adalah bukti nyata dari visi strategis jangka panjang, kemampuan rekayasa teknik tingkat tinggi, dan ambisi Tiongkok membangun sistem kawasan yang saling terhubung secara mendalam.

Selama puluhan tahun, Laos adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara tanpa jaringan kereta api modern. Terkurung daratan dan dikelilingi pegunungan terjal, Laos menghadapi hambatan geografis yang tampak hampir mustahil diatasi. Akibatnya, biaya logistik di Laos sering kali dua kali lebih tinggi dibandingkan negara-negara pesisir tetangganya.

Selama beberapa generasi, pemandangannya selalu sama: truk-truk bergerak lambat melewati jalan pegunungan berliku. Perjalanan antarkota atau lintas batas memakan waktu berhari-hari, bukan jam. Realitas ini membentuk cara Laos dipandang, baik oleh rakyatnya sendiri maupun oleh dunia luar.

Lalu, hampir dalam semalam, gambaran itu berubah.

Kereta listrik kini melaju membelah lembah hijau dan menembus terowongan di bawah pegunungan tinggi. Wilayah yang dulu terasa tak terjangkau kini terhubung. Negara yang lama absen dari peta logistik Asia tiba-tiba muncul di panggung utama.

Pertanyaannya: bagaimana negara kecil yang terkurung daratan dengan infrastruktur terbatas bisa masuk ke rantai pasok Asia hanya dalam beberapa tahun?

Laos sebenarnya tidak miskin karena kekurangan potensi. Negara ini kaya sumber daya alam dan dikenal dengan lanskap alaminya yang masih asri. Masalah utamanya adalah isolasi. Medan pegunungan membuat transportasi domestik lambat dan mahal, serta memutus Laos dari pasar internasional utama.

Sebelum tahun 2021, Laos praktis tidak memiliki sistem perkeretaapian yang berfungsi, selain satu jalur rel peninggalan kolonial yang panjangnya kurang dari 8 kilometer. Jalur itu tidak memberikan konektivitas yang berarti. Isolasi ini sangat membatasi perkembangan ekonomi. Eksportir bergantung hampir sepenuhnya pada truk yang harus melewati jalan pegunungan sempit selama berjam-jam. Biaya naik, waktu kirim bertambah lama, dan pariwisata pun terhambat.

Secara sederhana, Laos tidak masuk dalam peta perdagangan global.

Padahal, gagasan tentang kereta api modern sudah muncul sejak awal 2000-an. Pemerintah Laos mulai membahas kemungkinan jalur rel yang menghubungkan ibu kota Vientiane dengan Provinsi Yunnan di Tiongkok. Tujuannya ambisius: mengubah Laos dari negara terkurung daratan menjadi negara penghubung daratan, mengurangi ketergantungan pada jalan raya, dan terhubung langsung dengan salah satu kawasan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia.

Namun bertahun-tahun rencana itu mandek. Pendanaan tidak pasti, biayanya sangat besar dibanding ukuran ekonomi Laos, dan berbagai kendala di sektor perkeretaapian Tiongkok pada awal 2010-an ikut memperlambat kemajuan. Bagi banyak pihak, proyek miliaran dolar di negara sekecil Laos terasa tidak realistis.

Segalanya berubah pada tahun 2013, ketika Tiongkok meluncurkan Belt and Road Initiative (BRI). Dalam kerangka strategi ini, Laos tiba-tiba menjadi titik yang sangat penting secara geografis. Laos terletak di antara Tiongkok selatan dan Asia Tenggara daratan. Jalur kereta yang melintasi Laos bukan hanya menghubungkan dua negara, tetapi menjadi bagian dari visi yang jauh lebih besar: koridor rel berkelanjutan dari Kunming di Tiongkok menuju Asia Tenggara hingga Singapura.

Tiongkok tidak hanya melihat rel kereta, tetapi melihat negara yang terhambat oleh geografi — dan peluang untuk membukanya.

Pada tahun 2016, kedua pemerintah memfinalisasi proyek. Tiongkok membiayai sebagian besar biaya melalui pinjaman, sementara Laos berkontribusi melalui skema usaha patungan. Total investasi mencapai sekitar US$5,96 miliar — hampir setengah dari PDB Laos saat itu. Risikonya besar, tetapi potensi transformasinya juga luar biasa.

Jalur kereta ini membentang sekitar 422 kilometer di wilayah Laos, dari Vientiane di selatan hingga kota perbatasan Boten di utara, lalu tersambung langsung ke jaringan rel Tiongkok hingga Kunming. Ini adalah jalur rel listrik standar modern, dengan kecepatan kereta penumpang hingga 160 km/jam dan kereta barang sekitar 120 km/jam. Perjalanan yang dulu memakan waktu berhari-hari kini hanya beberapa jam.

Namun pembangunannya sangat menantang. Lebih dari separuh jalur terdiri dari terowongan dan jembatan: 75 terowongan dan 167 jembatan. Ribuan bom sisa Perang Vietnam juga harus dibersihkan sebelum konstruksi dimulai.

Kereta ini resmi dibuka pada 3 Desember 2021. Sejak itu, dampaknya terasa cepat. Hingga awal 2025, puluhan juta perjalanan penumpang telah tercatat. Masyarakat kini bisa bepergian lebih mudah untuk pendidikan, bisnis, dan wisata. Kota-kota seperti Luang Prabang mengalami lonjakan kunjungan.

Angkutan barang tumbuh lebih cepat lagi, dengan puluhan juta ton kargo diangkut dan ribuan jenis produk diperdagangkan. Biaya logistik turun signifikan. Laos kini terhubung langsung dengan salah satu ekonomi terbesar dunia.

Bagi Tiongkok, jalur ini membuka akses darat ke Asia Tenggara dan mengurangi ketergantungan pada jalur laut yang rawan kemacetan seperti Selat Malaka. Bagi Laos, ini adalah jalan keluar dari isolasi — sekaligus tantangan baru terkait utang dan ketergantungan ekonomi.

Ke depan, jika Thailand menyelesaikan sambungan relnya, koridor ini bisa memanjang dari Kunming hingga Singapura dan berpotensi mengubah rantai pasok Asia Tenggara secara besar-besaran.

Pada akhirnya, sejarah mungkin tidak akan bertanya berapa banyak Laos meminjam untuk membangun rel ini —
tetapi seberapa jauh Laos melangkah karenanya.


SUMBER , China’s $20 Billion High Speed Railway Will Change Southeast Asia Forever, China Discoveries Official

Comments

Popular Posts