STROKE

Stroke: Causes, Risk Factors, Treatment, and Prevention | Mass General Brigham

Stroke: Causes, Risk Factors, Treatment, and Prevention | Mass General Brigham

https://www.youtube.com/watch?v=E_3LSi8QOKA


Understanding Stroke

Ada sekitar 800.000 kasus stroke yang terjadi setiap tahun di Amerika Serikat — itu berarti satu terjadi setiap 45 detik.
Perkenalkan, saya Dr. Natalia Rost, Kepala Divisi Stroke di Massachusetts General Hospital dan Profesor Neurologi di Harvard Medical School. Kali ini kita akan membahas tentang stroke.

Stroke bukanlah sebuah kecelakaan. Otak kita adalah yang membuat kita menjadi manusia — pikiran, kata-kata, emosi, cara kita terhubung dengan orang lain dan dunia, semuanya terjadi karena kerja otak. Namun otak juga adalah organ yang terdampak saat stroke terjadi.
Sering kita mendengar stroke disebut sebagai “serangan otak,” namun juga kerap dianggap sebagai kecelakaan. Sebagai ahli saraf, kami tahu ini jauh dari kenyataan. Semua stroke memiliki penyebab yang mendasarinya. Hari ini saya akan membagikan informasi agar Anda memahami stroke, cara mencegahnya, dan bagaimana mengatasinya.

Stroke terjadi akibat gangguan mendadak aliran darah ke otak. Ada dua tipe utama stroke.

  • Stroke iskemik, terjadi karena pembuluh darah tersumbat atau terhalang oleh gumpalan darah.
  • Stroke hemoragik, terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak.

Otak manusia adalah organ yang sangat membutuhkan pasokan darah. Ketika aliran darah terganggu, misalnya karena gumpalan kecil yang menyumbat pembuluh darah otak, sel-sel otak mulai mati hanya dalam hitungan menit.
Itulah mengapa stroke adalah keadaan darurat. Segera hubungi layanan medis darurat setempat agar Anda secepatnya dibawa ke rumah sakit.
Pasien dengan gejala stroke — sekecil apapun — harus segera dievaluasi medis untuk meningkatkan peluang mencegah kerusakan lebih lanjut, mengurangi risiko disabilitas, atau bahkan kematian.

Stroke dan Faktor Risiko

Stroke sebenarnya hanya puncak gunung es. Stroke bukanlah penyakit tunggal, melainkan manifestasi dari masalah yang mendasari di tubuh. Lebih dari 75% stroke memiliki penyebab yang jelas dan dapat ditelusuri ke kerusakan pembuluh darah di otak.

Faktor-faktor risiko paling umum untuk stroke adalah kondisi yang sebenarnya sudah kita kenal dan sangat bisa diobati, antara lain:

  • tekanan darah tinggi,
  • diabetes,
  • kolesterol tinggi,
  • merokok,
  • konsumsi alkohol berlebihan.

Semua ini dapat ditangani dengan baik sehingga sebagian besar kasus stroke sebenarnya bisa dicegah.
Pada sebagian kecil pasien, kami tidak dapat menemukan penyebabnya meski sudah dicari dengan sangat teliti. Ini disebut stroke kriptogenik, artinya penyebabnya tidak diketahui. Namun kemungkinan besar terkait faktor genetik atau paparan lingkungan yang belum dapat kita identifikasi.
Pada kasus demikian, kami fokus memberikan edukasi dan bimbingan agar pasien dapat mencegah stroke di masa depan dan mengoptimalkan perawatan medisnya.

Kami juga tahu bahwa usia adalah faktor risiko stroke. Setiap dekade setelah usia 55 tahun, risiko stroke meningkat secara proporsional.
Selain itu, stroke juga lebih sering terjadi pada individu keturunan Afrika-Amerika dan Hispanik di Amerika Serikat, yang menunjukkan adanya kesenjangan kesehatan.

Pada sebagian orang, risiko stroke meningkat karena riwayat keluarga, disebut familial meskipun stroke bukan penyakit genetik. Apa pun kisah Anda, satu hal penting untuk diingat: Anda bukan korban stroke.
Stroke memang menjadi penyebab utama disabilitas dan kematian di AS dan seluruh dunia, namun ini juga alasan kenapa kami optimis.

Kami punya ungkapan:
Stroke dapat dicegah, dapat diobati, dapat dikalahkan.
Ribuan profesional medis di seluruh dunia bekerja sama memastikan agar disabilitas dan kematian akibat stroke dapat menjadi hal di masa lalu.
Fakta bahwa kita bisa mengidentifikasi sebagian besar penyebab stroke membuat kami yakin. Jika kita bisa mendiagnosisnya, kita bisa mengobatinya dengan efektif dan mencegah stroke di masa depan.

Namun meski segala upaya dilakukan, stroke tetap akan terjadi. Maka hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah mendidik diri sendiri dan orang-orang terdekat tentang stroke. Kenali risiko Anda, lakukan langkah pencegahan, dan ketahui tanda serta gejala stroke untuk bertindak cepat guna memaksimalkan peluang pemulihan.

Kenali Gejala: FAST

FAST adalah akronim yang dikembangkan Departemen Kesehatan untuk meningkatkan kesadaran tentang gejala stroke:

  • Face (wajah) — lihat apakah ada sisi wajah yang menurun.
  • Arm (lengan) — apakah ada kelemahan pada satu lengan.
  • Speech (bicara) — kesulitan bicara.
  • Time (waktu) — segera hubungi layanan darurat.

Jangan menunggu gejala stroke menghilang. Kami punya ungkapan di neurologi: “time is brain” — setiap menit yang terlewat, sel otak mati dan menyebabkan kerusakan permanen.

Kesalahan umum lainnya adalah meminum aspirin, seperti pada serangan jantung. Untuk stroke, ini salah dan bisa berbahaya. Jika stroke yang terjadi adalah hemoragik, ini dapat menjadi keputusan yang fatal.
Sebaliknya, segera pergi ke rumah sakit untuk diagnosis dini dan akurat. Salah satu pemeriksaan penting adalah CT scan, yang membantu membedakan apakah stroke karena perdarahan atau karena sumbatan. Dengan menambahkan pewarna kontras, kadang kita bahkan bisa melihat gumpalan darahnya.

Jika Anda tiba di rumah sakit lebih awal, kami mungkin dapat memberikan obat penghancur bekuan darah yang sangat kuat bernama TPA, yang harus diberikan dalam jangka waktu sempit — maksimal 4,5 jam setelah gejala mulai.
Ada juga prosedur thrombectomy, mirip kateterisasi jantung, tetapi kateternya diarahkan ke pembuluh darah otak untuk langsung mengambil bekuan. Ini dilakukan oleh dokter yang sangat terlatih di pusat stroke.

Perawatan dan Pemulihan

Setelah stroke didiagnosis dan ditangani di tahap awal, dokter akan menyusun rencana perawatan, pencegahan, dan pemulihan khusus untuk Anda. Anda kemungkinan juga memerlukan terapi fisik, okupasi, atau bicara untuk membantu pemulihan, karena setiap orang pulih dengan kecepatan berbeda. Sangat penting untuk tetap berkonsultasi dengan dokter umum dan ahli saraf Anda.

Stroke pada Wanita

Sering saya ditanya, apakah stroke pada wanita berbeda dengan pada pria? Jawabannya ya dan tidak.
Tidak, karena stroke ditentukan oleh area otak yang terkena, apakah karena sumbatan atau perdarahan. Jadi, sulit bicara atau lumpuh terjadi sama pada pria maupun wanita.

Namun ya, karena wanita sering mengalami stroke dengan gejala lebih ringan, kadang disertai sakit kepala atau merasa tidak enak badan, sehingga sering diremehkan.
Wanita juga cenderung menjadi perawat utama keluarga, menyepelekan gejala mereka, bahkan tenaga medis pun kadang meremehkannya. Ini membuat diagnosis terlambat dan hasil akhirnya lebih buruk.

Pesan saya pada wanita: kenali gejala stroke, proaktif mencari bantuan darurat, dan ingat Anda perlu menjaga diri sendiri agar dapat menjaga orang lain. Segera bertindak.

Stroke pada Usia Muda

Sungguh tidak adil jika stroke terjadi pada usia muda. Setiap kali saya melihat pasien usia 20 atau 30-an dirawat karena stroke, saya tahu hidup mereka takkan lagi sama. Tapi merawat mereka juga memberi harapan, karena keteguhan mereka dan peluang pemulihan yang lebih besar.

Meski stroke sering dianggap penyakit orang tua, sekarang kita melihat faktor risiko yang sama pada usia 40, 30, bahkan 20-an, seperti: tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, merokok.
Ada juga faktor lain seperti penggunaan narkoba, infeksi (termasuk COVID-19), serta konsumsi suplemen bebas dan minuman energi.
Tentu ada kondisi langka yang meningkatkan risiko stroke pada usia muda yang tidak bisa dikendalikan, tapi kita tetap harus mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan.

Pencegahan Stroke

Mencegah stroke lebih mudah dari yang Anda kira. Berdasarkan puluhan tahun penelitian, American Heart Association dan American Stroke Association mengembangkan panduan Life’s Simple 7, yaitu:

  1. Berhenti merokok.
  2. Kendalikan tekanan darah.
  3. Makan lebih sehat.
  4. Kendalikan kolesterol.
  5. Tetap aktif bergerak.
  6. Jaga kadar gula darah.
  7. Turunkan berat badan.

Semua ini didukung bukti ilmiah dengan target yang jelas. Contohnya, kami menganjurkan olahraga minimal 150 menit per minggu, cukup jalan kaki, lebih baik lagi jika dilakukan setiap hari. Mindfulness juga dapat membantu mengendalikan stres.

Target lain mencakup tekanan darah, gula, dan kolesterol yang disesuaikan kondisi individu. Untuk mempermudah, bicarakanlah dengan dokter Anda dan pahami risiko stroke Anda.

Ingat, stroke dapat dicegah, diobati, dikalahkan. Anda bukan korban. Bersama-sama kita bisa mengalahkan stroke.


Comments

Popular Posts