How to live a meaningful life

Hidup itu luar biasa.
Hidup itu menakjubkan.

Pengalaman yang bisa kita jalani, kemungkinan pencapaian pribadi yang terbuka di hadapan kita—semuanya nyaris tak terbatas.
Anda bisa mendaki Everest.
Anda bisa membangun bisnis besar dan sukses.
Anda bisa berdiri di panggung TED Talk.

Dan ketika Anda berhasil, rasanya sungguh luar biasa.
Kesuksesan menghadirkan ledakan emosi—antusiasme, perayaan, rasa bangga.
Dan memang seharusnya dirayakan.
Ucapan selamat berdatangan.
Unggahan di Instagram atau platform mana pun tempat Anda membagikan pencapaian itu.
Semua terasa menyenangkan.

Namun ketika perasaan itu mulai memudar—kadang perlahan, kadang tiba-tiba—sebuah pertanyaan muncul:

“Apakah ini saja?
Apakah ini seluruhnya?”

Izinkan saya menceritakan sedikit kisah tentang diri saya.

Bagi yang belum mengenal saya, saya adalah seorang profesor di Stanford. Ketika pertama kali mendapatkan pekerjaan itu, saya sangat bahagia—sangat bahagia—dan sekaligus sedikit ketakutan.
Ketakutan itu muncul karena ketika Anda mendapatkan pekerjaan seperti itu, Anda tahu satu hal: sekitar tujuh tahun kemudian, Anda akan dievaluasi.
Dan hasilnya hanya dua:
Anda mendapatkan tenure—pekerjaan yang nyaris seumur hidup—atau Anda diberhentikan.

Sedikit seperti adegan dalam film Glengarry Glen Ross, ketika karakter Alec Baldwin menyampaikan pidato motivasi:
“Ini kompetisi.
Hadiah pertama, Cadillac Eldorado.
Hadiah kedua, satu set pisau steak.
Hadiah ketiga, Anda dipecat.”

Kurang lebih seperti itu—bedanya, tidak ada hadiah kedua.

Dan seperti yang bisa Anda bayangkan, situasi seperti itu benar-benar memfokuskan pikiran.
Saya sangat, sangat fokus: meneliti dengan baik, menerbitkan makalah, mengajar dengan optimal, dan melakukan semua hal kecil lain yang diperlukan untuk mendapatkan tenure.

Tujuh tahun kemudian, saya berhasil.

Itu adalah kelegaan yang luar biasa. Saya sangat bersemangat.
Namun pertanyaan itu kembali muncul:
“Apakah ini saja?
Apakah ini benar-benar semuanya?”

Saya pun merenung ke belakang.
Saya teringat masa kuliah sarjana, lima tahun sekolah pascasarjana—dengan air mata, dan jumlahnya tidak sedikit.
Tujuh tahun berikutnya mengejar tenure.

Saya berharap—bahkan meyakini—bahwa setelah melewati ambang itu, setelah berhasil, hidup akan terasa berbeda.
Saya akan merasa utuh.
Hidup akan terasa bermakna.

Namun ternyata, bukan itu yang terjadi.

Dalam psikologi, ketika kita berbicara tentang makna hidup, yang dimaksud adalah perasaan bahwa hidup kita berarti, bahwa dunia masuk akal, bahwa kita lebih dari sekadar kumpulan menit, hari, dan tahun di planet ini.

Penelitian menunjukkan bahwa makna hidup memiliki tiga pilar besar.

Yang pertama adalah koherensi.
Dunia perlu terasa runtut dan bisa dipahami.
Setelah musim dingin datang musim semi.
Setelah musim semi datang musim panas.
Kita bangun pagi, menyikat gigi, sarapan, mengantar anak ke sekolah, pergi bekerja.
Rutinitas-rutinitas kecil ini membuat dunia terasa dapat diprediksi, masuk akal, dan stabil.

Pencapaian pribadi sering kali memberi rasa koherensi karena kita berprestasi dalam sebuah kerangka yang jelas.
Saya tahu apa yang diharapkan untuk mendapatkan tenure.
Jika saya menerbitkan makalah, mengajar dengan baik, membangun relasi, melakukan jejaring—ada peluang besar saya berhasil.

Jika Anda ingin menurunkan berat badan, Anda tahu: ubah pola makan, berolahraga, dan berat badan akan turun.
Setidaknya, kita berharap begitu.

Kerangka seperti ini membuat dunia terasa tertata.

Pilar kedua dari makna hidup adalah tujuan.
Tujuan bukanlah sinonim dari makna.
Tujuan adalah cara kita memandang masa depan—tentang apa hidup kita bisa dan seharusnya menjadi.
Tujuan mengarahkan tindakan kita.
Ia memberi sasaran.

Ketika Anda memiliki tujuan, Anda tahu apa yang harus dilakukan saat bangun pagi.
Dorongan pencapaian pribadi paling kuat di sini.
Saat saya mengejar tenure, saya tahu persis apa yang harus saya lakukan setiap hari.

Pilar ketiga—yang oleh banyak orang dianggap paling penting—adalah signifikansi.
Signifikansi adalah perasaan bahwa Anda bisa melampaui diri sendiri.
Bahwa Anda lebih dari siapa Anda saat ini.
Bahwa keberadaan Anda akan tetap berarti di masa depan, melampaui momen ini.

Di sinilah pencapaian pribadi sering kali gagal.
Karena secara definisi, pencapaian pribadi berfokus pada diri sendiri.
Dan jika itu satu-satunya pusat hidup kita, maka signifikansi menjadi sulit diraih.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah kutipan yang sering dikaitkan dengan Leonardo da Vinci.
Konon, di ranjang kematiannya, ia berkata:

“Aku telah menyinggung Tuhan dan umat manusia, karena karyaku tidak mencapai kualitas yang seharusnya.”

Saya tidak berada di sana, jadi saya tidak tahu apakah ia benar-benar mengucapkannya persis seperti itu.
Namun kita memahaminya.
Kita bisa membayangkannya.

Bahkan dengan pencapaian paling gemilang sekalipun, seseorang masih bisa bertanya:
“Apakah ini cukup?
Apakah ini seluruh nilai diriku?”

Ketika saya menoleh ke awal karier saya, dan bertanya kapan hidup terasa paling bermakna, jawaban saya bukanlah publikasi atau gelar.
Yang terlintas adalah para mahasiswa PhD saya.

Salah satu tugas dosen adalah membentuk generasi berikutnya.
Hubungan dengan mahasiswa PhD berlangsung lama—lima hingga enam tahun—dan sangat intens.

Mahasiswa pertama saya bernama Miguel Unzueta.
Ia lahir di El Paso, Texas, dari lingkungan berpenghasilan rendah.
Sangat cerdas.
Berhasil masuk University of Texas di Austin.
Kemudian diterima di program PhD Stanford.

Ia tiba setahun sebelum saya, dan menurut pengakuannya sendiri, ia mengalami masa yang sulit.
Ia tidak memiliki cultural capital seperti banyak orang di Stanford.
Ia belum memahami “aturan tak tertulis” di sana.

Ketika saya tiba, saya terkesan.
Ia cerdas, ambisius, dan tertarik pada hal-hal yang sama dengan saya.
Kami bekerja bersama selama empat tahun—hampir setiap hari.
Kadang sepuluh hingga dua belas jam sehari.

Yang saya ingat dari masa itu adalah kecemasan saya:
“Apakah saya sudah cukup membantu?
Apakah saya menjadi pembimbing yang baik?
Apakah saya memberi dia apa yang ia butuhkan untuk melanjutkan perjalanannya?”

Padahal saat itu saya sendiri masih takut dipecat.

Miguel berhasil.
Ia kini telah menjadi profesor di UCLA selama lebih dari 15 tahun dan memegang berbagai peran kepemimpinan.
Dan saya sangat bangga pernah menjadi bagian kecil dari perjalanannya.

Dari situ saya belajar satu hal:
Hubunganlah yang memberi makna pada hidup.

Lebih dari itu:
Makna datang ketika kita menjadi bagian dari kisah yang bukan tentang diri kita sendiri.

Lalu, di mana posisi pencapaian pribadi?
Pencapaian pribadi itu baik.
Saya menyukainya.
Saya bersyukur atas hidup saya.

Saya berharap pencapaian luar biasa bagi Anda semua.

Namun masalah muncul ketika kita menggantikan kebutuhan manusia yang paling dalam akan makna dengan sekadar mengejar pencapaian pribadi.
Keduanya mudah tertukar karena pencapaian pribadi mudah diukur.
Anda tahu apakah Anda mendapat pekerjaan itu, rumah itu, gaji itu.

Dan pencapaian pribadi terasa menyenangkan.
Ia memberi ledakan kebahagiaan.

Makna tidak selalu demikian.
Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang lebih banyak terlibat dalam pengasuhan anak melaporkan hidup yang lebih bermakna—tetapi tidak selalu lebih bahagia.

Jadi, jika Anda menginginkan lebih banyak makna dalam hidup:

Pertama, carilah kesempatan untuk ikut serta dalam kisah hidup orang lain.
Kurangi sedikit energi “tokoh utama”.
Cobalah menjadi pemeran pendukung dalam kehidupan orang lain.

Kedua, terimalah bahwa pencarian makna mungkin tidak menghasilkan kebahagiaan.
Makna sering kali lahir dari memberi, bukan menerima.
Dan itu bisa melelahkan.

Namun justru di situlah makna tumbuh.

Makna hidup adalah sesuatu yang indah dan mendalam.
Karena setiap makna yang kita miliki berasal dari seseorang yang memberi kita kesempatan untuk ikut dalam kisah mereka.

Dan ketika kita membuka hidup kita bagi orang lain, kita memberi mereka kesempatan untuk menemukan makna.

Di situlah manusia terhubung—dalam lingkaran kedermawanan dan rasa syukur.

Tema konferensi ini adalah The Brave and the Brilliant.
Salah satu bentuk keberanian adalah menerima bahwa pencapaian pribadi kita tidak sebanding dengan dampak yang kita berikan pada orang lain.

Ketika Anda berjalan dengan seluruh cahaya Anda, dan membantu orang lain bersinar lebih terang, dunia menjadi lebih terang.

Dan ketika kita pergi—karena kita semua akan pergi suatu hari nanti—yang tersisa bukanlah pencapaian kita, melainkan peran yang kita mainkan dalam kisah hidup orang lain.

Dan itu adalah sesuatu yang indah.

Saya mengharapkan semua itu untuk Anda.


SUMBER

How to live a meaningful life, Brian S. Lowery TED2024, April 2024

“The only thing that will be left of you when you're gone — and we all will be gone eventually — is the role you played in other people's stories, what you leave with other people [and] how that reverberates through time.” http://t.ted.com/FzK0QmX

Comments

Popular Posts