WEBINAR INTERNASIONAL Virtual Disaster Management for Geohazard Investigation and Monitoring [ PII DAN HK] 19 FEB 2026

SUMBER , HK ExperTalk “Virtual Disaster Management for Geohazard Investigation and Monitoring”Sahabat Tama 

Kami Insinyur Indonesia

Membuka cakrawala dunia.
Memajukan bangsa.
Mensejahterakan masyarakat.
Untuk kemanusiaan semesta.
Kami insinyur Indonesia, siap membangun bangsa.


Sambutan MC

Terima kasih, hadirin sekalian.

Webinar hari ini memiliki arti yang sangat penting, mengingat kita sedang menghadapi tantangan yang semakin meningkat terkait bahaya alam dan ketahanan infrastruktur. Perkembangan infrastruktur yang pesat harus berjalan seiring dengan penguatan manajemen risiko bencana, khususnya di wilayah yang rawan geohazard seperti:

  • Longsor

  • Gempa bumi

  • Ketidakstabilan tanah

Kemajuan teknologi telah membuka peluang baru dalam manajemen bencana secara virtual. Melalui:

  • Pemodelan digital

  • Remote sensing

  • Sistem monitoring

  • Integrasi data

Kini kita mampu melakukan investigasi geohazard secara lebih akurat, efisien, dan proaktif.

Namun pertanyaan pentingnya adalah:
Bagaimana kita mengoptimalkan teknologi virtual untuk meningkatkan proses investigasi, memperkuat sistem monitoring, serta meningkatkan ketahanan dan keselamatan infrastruktur?


Para Narasumber dan Undangan

Webinar ini menghadirkan para pakar dan profesional, antara lain:

  • Perwakilan Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BK Sipil PII)

  • PT Hutama Karya (Persero)

  • PT Hutama Karya Infrastruktur

  • PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik

  • Nippon Koei Co., Ltd.

Peserta yang hadir berasal dari:

  • Kementerian dan lembaga pemerintah

  • BUMN

  • Sektor swasta

  • Akademisi

  • Komunitas profesional di seluruh Indonesia

Sambutan Ketua Transportasi BK Sipil PII

Ir. Dedi Gunawan, ST, MS

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang.

Atas nama BK Sipil PII, kami menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta dalam webinar internasional ini.

Webinar ini merupakan bagian dari program berkelanjutan PII untuk:

  • Meningkatkan jejaring profesional

  • Memperluas pengetahuan teknik sipil

  • Memperkuat kolaborasi nasional dan internasional

Kami mengucapkan terima kasih kepada:

  • PT Hutama Karya (Persero)

  • PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik

  • Nippon Koei Jepang


Tantangan Infrastruktur di Indonesia

Infrastruktur jalan merupakan tulang punggung aktivitas ekonomi dan sosial. Namun kita menghadapi tantangan besar berupa:

  • Geohazard

  • Gangguan struktur

  • Peningkatan biaya siklus hidup

  • Risiko keselamatan

Indonesia berada di Ring of Fire, dengan:

  • Kompleksitas geologi tinggi

  • Tantangan geoteknik

  • Permasalahan hidrologi dan hidrometeorologi

  • Dampak perubahan iklim

Contoh kasus:

  • Sitinjau Lauik – Sumatera Barat

  • Sumedang – Dawuan

  • Wilayah Aceh dan Medan

Banyak kejadian geoteknik sebenarnya dipicu oleh faktor air (drainase dan hidrologi) yang kurang diperhatikan dalam desain.

Karena itu diperlukan:

  • Integrasi geoteknik dan hidrologi sejak tahap perencanaan

  • Monitoring lebih cepat

  • Deteksi dini

  • Sistem respon yang lebih baik

  • Desain drainase dan proteksi lereng yang lebih kuat


Tujuan Webinar

  1. Memperkuat pemahaman risiko geohazard

  2. Berbagi praktik terbaik teknologi monitoring

  3. Meningkatkan kolaborasi antar stakeholder

  4. Mendukung infrastruktur jalan yang:

    • Tangguh

    • Berkelanjutan

    • Memberikan manfaat ekonomi jangka panjang


Moderator

Webinar dimoderatori oleh:

Dr. Ir. Alfa Adib, MSI, IPM
Direktorat Jenderal Bina Marga – Kementerian PUPR
Ahli manajemen aset jalan dan keselamatan transportasi.


Narasumber 1

Tomoyuki Nishikawa
Senior Manager – International Geohazard Management Department
Nippon Koei Co., Ltd., Jepang

Beliau merupakan insinyur geoteknik lulusan University of Tsukuba, Jepang, serta profesional engineer terdaftar di Jepang.

Topik yang dibawakan:

  • Advanced Technology Tools for Geohazard Monitoring

  • Identifikasi dan Assessment Risiko

  • AI dan Simulasi Digital

  • Sistem Monitoring Infrastruktur Jalan

Presentasi Narasumber 1

Tomoyuki Nishikawa

Senior Manager – International Geohazard Management Department
Nippon Koei Co., Ltd.


Hari ini saya akan membahas mengenai peta bahaya longsor (landslide hazard map) serta pemanfaatan teknologi canggih di Jepang.

Saya meyakini bahwa longsor merupakan salah satu geohazard paling serius di Indonesia, baik dalam konteks perlindungan jiwa manusia maupun dampak terhadap perekonomian. Jepang juga menghadapi tantangan serupa. Oleh karena itu, saya berharap presentasi ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta.


1. Sistem Peta Bahaya Longsor di Jepang

Jepang memiliki beberapa jenis peta bahaya. Yang paling umum disusun berdasarkan:

πŸ“œ Undang-Undang Pengendalian Bencana Longsor dan Sedimen (2000)

Undang-undang ini diberlakukan sekitar 25 tahun lalu, setelah terjadinya bencana longsor besar di wilayah Hiroshima.

Tujuan utama regulasi ini:

  • Membatasi pembangunan di area rawan longsor

  • Mengurangi risiko baru

  • Mengendalikan risiko yang sudah ada


Dua Dampak Utama Regulasi

1️⃣ Mencegah Timbulnya Risiko Baru

  • Pembangunan baru dibatasi di zona bahaya

  • Bangunan baru hanya diizinkan jika terdapat langkah mitigasi struktural

2️⃣ Mengurangi Risiko yang Sudah Ada

  • Implementasi struktur pengendali

  • Perkuatan lereng

  • Pengaturan relokasi jika diperlukan


2. Klasifikasi Jenis Longsor

Pemerintah prefektur bertanggung jawab menetapkan zona bahaya berdasarkan tiga tipe pergerakan massa tanah:

πŸ”΄ 1. Fall Type (Runtuhan)

  • Lereng curam runtuh karena gravitasi

  • Dipicu oleh air tanah

  • Material jatuh dan kehilangan bentuk aslinya

🟑 2. Slide Type (Longsoran)

  • Tanah bergerak sebagai satu massa

  • Umumnya akibat kenaikan muka air tanah

πŸ”΅ 3. Flow Type (Aliran Debris)

  • Campuran sedimen dan air

  • Mengalir cepat mengikuti sungai

  • Menyebar di hilir


3. Sistem Zonasi: Red Zone & Yellow Zone

Peta bahaya di Jepang menggunakan dua kategori sederhana namun efektif:

πŸ”΄ Red Zone

  • Potensi kerusakan serius terhadap bangunan dan manusia

  • Pembangunan baru dibatasi ketat

  • Wajib ada sistem peringatan dan evakuasi

🟑 Yellow Zone

  • Area rawan longsor

  • Pengawasan dan kesiapsiagaan ditingkatkan


Data Nasional Jepang

Saat ini telah ditetapkan:

  • ± 604.000 Red Zone

  • ± 72.000 Yellow Zone

Sebagai contoh, Prefektur Hiroshima menyediakan portal daring agar masyarakat dapat mengecek risiko longsor di sekitar rumahnya.


Pelajaran Penting untuk Indonesia

Jepang memulai regulasi ketika kawasan permukiman sudah berkembang luas di area rawan. Akibatnya:

  • Biaya mitigasi struktural sangat besar

  • Penanganan menjadi kompleks

Indonesia masih memiliki peluang untuk:

  • Mengendalikan risiko sejak awal

  • Menghindari biaya besar di masa depan

  • Mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan


4. Identifikasi Longsor Menggunakan AI

Untuk tipe slide, hal terpenting adalah mengidentifikasi bidang gelincir (slip surface) secara akurat.

Metode Tradisional:

  • Interpretasi kontur topografi

  • Identifikasi scarp, deformasi, dan uplift

  • Membutuhkan pengalaman tinggi

  • Subjektif dan memakan waktu


πŸ’‘ Penggunaan AI

Kini dikembangkan sistem interpretasi berbasis AI yang:

  • Mengolah data topografi

  • Menghasilkan identifikasi dalam hitungan menit

  • Mengurangi perbedaan subjektif antar engineer

  • Cocok untuk respons cepat saat kondisi darurat

Engineer tetap melakukan verifikasi detail berdasarkan hasil AI.


5. Identifikasi Longsor Menggunakan Satelit SAR

Teknologi yang digunakan:

Synthetic Aperture Radar (SAR)

Satelit yang melintasi orbit sama pada waktu berbeda dapat mendeteksi:

  • Perubahan elevasi

  • Penurunan tanah (subsidence)

  • Pergerakan lereng

Akurasi:

πŸ“ Hingga tingkat sentimeter

Area stabil ditunjukkan warna hijau
Area penurunan ditunjukkan warna biru

Kombinasi SAR dan interpretasi topografi meningkatkan akurasi identifikasi zona bahaya.


6. Mitigasi Debris Flow – Sistem Sabo Dam

Untuk tipe aliran debris, digunakan struktur pengendali:

πŸ— Sabo Dam (Sediment Control Dam)

Istilah "Sabo" kini dikenal secara internasional.

Dua Tipe:

1️⃣ Impermeable – menahan air dan sedimen
2️⃣ Permeable – menyaring material besar, membiarkan air dan sedimen halus lewat


Sistem Otomatis Desain Sabo Dam

Saat ini dikembangkan sistem yang dapat:

  • Menghitung kebutuhan jumlah dan tipe bendung

  • Menentukan lokasi optimal

  • Mengestimasi volume beton

  • Menghasilkan model 3D

  • Mendukung perencanaan cepat dan efisien


7. Multi-Hazard Map & Augmented Reality (AR)

Negara pegunungan menghadapi risiko gabungan:

  • Longsor

  • Gempa bumi

  • Erupsi gunung api

  • Curah hujan ekstrem (akibat perubahan iklim)

Karena itu diperlukan:

πŸ—Ί Multi-Hazard Map

Peta terpadu berbagai ancaman


πŸ“± Visualisasi Menggunakan Augmented Reality (AR)

Masalah:
Masyarakat umum dan anak-anak sulit memahami peta 2D.

Solusi:

  • Tablet diarahkan ke peta cetak

  • Muncul model 3D topografi

  • Zona bahaya terlihat jelas

  • Informasi lokasi evakuasi muncul

Manfaat:

  • Edukasi kebencanaan

  • Peningkatan kesadaran publik

  • Pemahaman spasial yang lebih baik


Penutup

Nippon Koei memiliki kantor di Jakarta dan telah menjalankan banyak proyek di Indonesia.

“Kami terbuka untuk kolaborasi dan diskusi lebih lanjut.”


Tanggapan Moderator

Moderator menyoroti:

  • Akurasi teknologi SAR hingga sentimeter

  • Potensi AI dalam analisis geohazard

  • Pemanfaatan AR untuk edukasi publik

  • Perbandingan sederhana dengan aplikasi berbasis AR seperti permainan visual interaktif, namun kini digunakan untuk mitigasi bencana


Presentasi Narasumber 2

Michael Rumanser

Project Director – PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik


Penekanan Awal: Bukan Rehabilitasi, Tetapi Pencegahan

Judul awal yang diberikan adalah:

Best Practice for Infrastructure Rehabilitation to Build Disaster Resilience

Namun beliau menyampaikan bahwa istilah rehabilitasi kurang tepat dalam konteks geohazard.

Menurut beliau:

  • Kerusakan akibat geohazard (gempa, longsor, dsb.) seringkali sangat parah.

  • Upaya rehabilitasi setelah kejadian menjadi sangat sulit dan mahal.

  • Perbaikan pasca-bencana tidak selalu mengembalikan kondisi struktural secara optimal.

Pendekatan yang lebih tepat adalah:

✅ Identifikasi risiko sejak awal
✅ Mitigasi sejak tahap perencanaan
✅ Desain bangunan yang tahan terhadap potensi geohazard

Artinya, ketahanan infrastruktur harus dibangun sejak tahap desain, bukan setelah terjadi kerusakan.


Konteks Geohazard di Indonesia

Indonesia berada di kawasan:

πŸŒ‹ Ring of Fire (Cincin Api Pasifik)

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, sehingga rentan terhadap:

  • Gempa tektonik

  • Gempa vulkanik

  • Letusan gunung api

  • Tanah longsor

Karena itu, sebelum membangun infrastruktur, perlu dilakukan:

πŸ”Ž Risk Assessment Geohazard

  • Identifikasi kondisi lingkungan

  • Analisis potensi gempa

  • Evaluasi kondisi geoteknik

  • Analisis hidrologi dan hidrometeorologi

Mitigasi harus sudah terakomodasi dalam desain struktur.

Jika mitigasi dilakukan setelah bangunan berdiri, maka:

  • Biaya meningkat drastis

  • Kompleksitas teknis bertambah

  • Risiko tetap tinggi


Studi Kasus 1

Jembatan Dr. Ir. Soekarno – Manado

Lokasi: Manado, Sulawesi Utara
Tipe: Cable Stayed Bridge (1 pylon)
Panjang total: ± 1,1 km

Tujuan pembangunan:

  • Mengatasi kemacetan pusat kota

  • Mendukung Manado Outer Ring Road

  • Mendukung sektor pariwisata

Sulawesi Utara merupakan wilayah rawan gempa berdasarkan peta gempa nasional.


Tantangan Desain Gempa

Dalam proses desain dan konstruksi, terjadi beberapa penyesuaian signifikan akibat evaluasi beban gempa.

Tahap 1 – Desain Awal Pondasi

  • Pondasi kaison

  • Second pile diameter 880 mm

  • Beton bertulang tebal 4 m

  • Kedalaman ± 29 m

Tahap 2 – Evaluasi Ulang

Setelah analisis ulang beban gempa:

  • Ditambahkan bore pile diameter 1,5 m

  • Sebanyak 16 titik tambahan

Tahap 3 – Pengujian Kapasitas

Dilakukan:

  • O-Cell Test

  • PDA Test

Hasil menunjukkan kapasitas belum memenuhi (sekitar 50%).

Tahap 4 – Investigasi Tanah Baru

Dilakukan soil investigation tambahan.

Ditambahkan:

  • Steel pipe pile diameter 1 m

  • Tebal 16 mm

  • Sebanyak 32 titik

Setelah pengujian ulang, kapasitas pondasi memenuhi perencanaan.

πŸ‘‰ Ini menunjukkan bahwa desain awal harus terus diuji dan divalidasi terhadap risiko gempa aktual.


Pelaksanaan Struktur Pylon

  • Tulangan diameter 32 mm

  • Penulangan sangat rapat

  • Tantangan utama: pengecoran beton karena kepadatan tulangan

Namun seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai evaluasi desain gempa.


Evaluasi Main Span

Saat pengerjaan bentang utama (main span), dilakukan evaluasi ulang struktur.

Beberapa penyesuaian desain dilakukan untuk:

  • Menyesuaikan respons struktur terhadap beban gempa

  • Meningkatkan faktor keamanan


Pelajaran Penting (Lesson Learned)

Dari proyek ini dapat ditarik beberapa poin penting:

1️⃣ Risk Assessment Tidak Boleh Sekadar Formalitas

Analisis gempa harus diuji ulang secara serius.

2️⃣ Desain Bisa Berubah Secara Signifikan

Hasil investigasi tanah tambahan dapat mengubah desain pondasi secara drastis.

3️⃣ Pengujian Lapangan Sangat Krusial

PDA Test dan O-Cell Test menjadi validasi utama.

4️⃣ Mitigasi Lebih Murah di Tahap Desain

Penambahan pondasi di tahap awal jauh lebih efisien dibanding rehabilitasi pasca kerusakan.


Studi Kasus 2

Flyover Sitinjau Lauik – Sumatera Barat

Lokasi:
Sitinjau Lauik

Wilayah ini dikenal:

  • Topografi curam

  • Rawan longsor

  • Rawan gempa

Struktur:

  • Balanced cantilever bridge

  • Cable stayed dengan pylon pendek

Di proyek ini, Pak Michael berperan sebagai pihak owner.

Pendekatan utama yang diterapkan:

  • Identifikasi risiko geoteknik dan geohazard sejak awal

  • Evaluasi desain struktur terhadap beban gempa

  • Perencanaan ketahanan jangka panjang


Kesimpulan Utama dari Presentasi

Pak Michael menekankan:

“Disaster resilience tidak dimulai saat bencana terjadi, tetapi dimulai saat kita menyusun desain.”

Fokus utama:

  • Perencanaan

  • Mitigasi

  • Penguatan desain awal

  • Evaluasi berlapis

Pendekatan ini jauh lebih efektif dibanding rehabilitasi setelah terjadi kerusakan besar.


Best Practice Infrastruktur untuk Membangun Ketahanan terhadap Geohazard

Studi Kasus: Jembatan Dr. Ir. Soekarno (Manado) & Flyover Panorama I Sitinjau Lauik (Sumatera Barat)

Pendahuluan

Indonesia merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap bahaya geologi (geohazard) karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik dan termasuk dalam kawasan Ring of Fire Pasifik. Ancaman utama meliputi:

  • Gempa bumi (tektonik dan vulkanik)

  • Letusan gunung api

  • Tanah longsor

Pendekatan yang ditekankan bukan pada rehabilitasi setelah kerusakan, melainkan pada mitigasi risiko sejak tahap perencanaan dan desain awal.

Rehabilitasi pascabencana sering kali:

  • Sulit dilakukan,

  • Memerlukan biaya sangat besar,

  • Tidak mampu mengembalikan kondisi seperti semula.

Karena itu, langkah paling efektif adalah:

  1. Identifikasi risiko sejak awal,

  2. Integrasi hasil asesmen risiko dalam desain,

  3. Perhitungan detail beban gempa,

  4. Pengujian dan evaluasi berulang sebelum konstruksi.


Studi Kasus 1

Jembatan Dr. Ir. Soekarno

Lokasi

Manado
Wilayah dengan tingkat kerawanan gempa tinggi.

Tipe Jembatan

Cable-stayed bridge dengan satu pylon.

Panjang Total

± 1,1 km
Lebar: 17 meter (2 x 6 m lalu lintas + trotoar 2,5 m)

Tujuan Pembangunan

  • Mengurai kemacetan pusat kota

  • Mendukung Manado Outer Ring Road

  • Mendukung pariwisata kota


Penyesuaian Desain akibat Evaluasi Gempa

Desain awal mengalami beberapa perubahan signifikan setelah evaluasi ulang terhadap beban gempa:

1️⃣ Perubahan Pondasi

Awalnya:

  • Pondasi caisson dengan secondary pile diameter 880 mm

  • Beton bertulang 4 m pada kedalaman -29 m

Setelah evaluasi:

  • Ditambahkan 16 bored pile diameter 1,5 m

  • Masih belum memenuhi kapasitas (hasil O-Cell & PDA Test ±50%)

Langkah lanjutan:

  • Investigasi tanah ulang

  • Penambahan 32 steel pipe pile diameter 1 m

Setelah pengujian ulang → kapasitas memenuhi desain.

Pelajaran penting:
Desain fondasi di zona gempa memerlukan evaluasi berulang dan fleksibilitas untuk penyesuaian.

2️⃣ Penyesuaian Struktur Main Span

Dilakukan:

  • Perubahan layout tendon

  • Penambahan perkuatan pada span

  • Penyesuaian gaya tendon post-tension

  • Penebalan edge beam

Semua bertujuan meningkatkan ketahanan terhadap beban gempa.

Uji Nyata oleh Gempa

Pada tahun 2013, saat konstruksi belum selesai, terjadi gempa besar di Manado. Main span sempat terlihat berayun.

Hasil inspeksi oleh tim Kementerian PU:

  • Struktur dinyatakan aman

  • Konstruksi dilanjutkan

Artinya: desain yang kuat langsung teruji oleh kondisi nyata.


Structural Health Monitoring System (SHMS)

Sistem SHMS dipasang sejak masa konstruksi.

Fungsi:

  • Monitoring kesehatan struktur

  • Early warning system

  • Evaluasi kesesuaian desain dan kondisi aktual

Saat ini SHMS menjadi praktik umum untuk jembatan strategis.


Studi Kasus 2

Flyover Panorama I Sitinjau Lauik

Lokasi: Jalan Raya Padang–Solok, Sumatera Barat

Wilayah dengan:

  • Risiko gempa tinggi

  • Material tanah sangat beragam

  • Tikungan ekstrem (radius ±7 m)

  • Gradien vertikal hingga 22%

  • Tingkat kecelakaan tinggi


Skema Proyek

Kerja sama KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha) dengan skema:

Design – Build – Finance – Operate – Maintenance – Transfer

Masa kerja sama:
12 tahun 6 bulan

  • 2,5 tahun konstruksi

  • 10 tahun masa layanan


Spesifikasi Utama

Panjang total ±2,7 km
Terdiri dari:

  • Jembatan 1 & 2 → PCI girder

  • Jembatan 3 → Balanced cantilever melengkung (±382 m)

  • Jembatan 4 → Extradosed bridge (stay cable dengan pylon pendek)

Jembatan 3 & 4 termasuk kategori jembatan khusus.


Proses Desain yang Ketat

Tahapan:

  1. Penyusunan kriteria desain

  2. Basic design

  3. RTT (Rencana Teknik Terperinci)

  4. Review oleh KKJTJ (Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan)

Proses review RTT:

  • Intensif ±6 bulan

  • Diskusi teknis mingguan

  • Melibatkan ahli universitas dan pakar konstruksi

Untuk jembatan khusus:

  • Wajib memperoleh Sertifikat Keamanan Jembatan

  • Ditandatangani oleh Menteri PUPR


Monitoring Sistem

Jembatan 3 & 4 dilengkapi SHMS untuk:

  • Monitoring performa struktur

  • Evaluasi dampak gempa

  • Verifikasi kesesuaian desain vs kondisi lapangan


Kesimpulan Utama

  1. Mitigasi gempa harus dimulai sejak tahap desain awal.

  2. Identifikasi risiko geologi wajib dilakukan sebelum pembangunan.

  3. Evaluasi desain harus dilakukan berulang.

  4. Pengujian teknis (PDA, O-Cell, dll.) sangat penting.

  5. Monitoring sistem meningkatkan keamanan jangka panjang.

  6. Rehabilitasi pascabencana jauh lebih mahal dan sulit dibandingkan mitigasi sejak awal.

Intinya:

Ketahanan infrastruktur terhadap geohazard bukan dibangun saat rehabilitasi, tetapi dirancang sejak tahap perencanaan awal.


Penutup – Kesimpulan Presentasi

Sebagai kesimpulan, terkait dengan bahaya gempa (geohazard), hal yang paling krusial adalah tahap perencanaan dan desain awal. Pada tahap inilah seluruh potensi risiko—terutama risiko gempa di daerah rawan—harus dimitigasi dan diakomodasi secara komprehensif dalam desain.

Desain harus dibuat seakurat dan sedetail mungkin. Penyesuaian dan perbaikan desain pada tahap awal jauh lebih efektif dibandingkan melakukan rehabilitasi setelah terjadi kerusakan.

Apabila struktur sudah mengalami kerusakan akibat gempa, proses rehabilitasi akan:

  • Sangat sulit dilakukan,

  • Memerlukan biaya yang sangat besar,

  • Dan hasilnya belum tentu dapat mengembalikan kondisi struktur seperti semula.

Oleh karena itu, pendekatan terbaik adalah mitigasi sejak tahap perencanaan, bukan perbaikan setelah kegagalan terjadi.



Ringkasan Moderator


Dari dua proyek yang disampaikan:

  1. Jembatan Soekarno di Manado

  2. Flyover Panorama I Sitinjau Lauik di Sumatera Barat

Poin pentingnya adalah bahwa keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada:

  • Expert judgement (penilaian para ahli)

  • Kepatuhan terhadap prosedur dan dasar hukum

  • Proses persetujuan teknis yang ketat (seperti melalui komisi teknis terkait)

Di Indonesia, pengambilan keputusan teknis sangat mengandalkan:

  • Penilaian para ahli,

  • Prosedur resmi,

  • Dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.


Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan dari Rahajeng kepada Mr. Tomoyuki Nishikawa:

  1. Bagaimana Jepang menangani perbedaan peta bahaya (hazard map) yang dihasilkan oleh berbagai instansi atau diperbarui dengan pendekatan teknologi yang berbeda?

  2. Versi mana yang diprioritaskan dalam pengambilan keputusan?

  3. Apakah ada mekanisme untuk mengevaluasi false positive dan false negative dalam peta bahaya longsor?

  4. Bagaimana kesalahan tersebut memengaruhi kepercayaan publik dan kepatuhan terhadap arahan evakuasi?


Jawaban Mr. Nishikawa (Diringkas dan Dirapikan)

Di Jepang, pemerintah memiliki tanggung jawab utama dalam pelaksanaan langkah-langkah penanggulangan bencana.

  • Pemerintah prefektur (setingkat provinsi) menjadi lembaga utama yang bertanggung jawab atas pengelolaan risiko bencana di wilayahnya.

  • Untuk bencana berskala nasional, kementerian terkait di tingkat pusat akan mengambil peran utama dalam koordinasi dan penanganan.


Jawaban Mr. Tomoyuki Nishikawa (Dirapikan)

Di Jepang, tanggung jawab penanggulangan bencana dibagi berdasarkan skala kejadian:

  • Untuk bencana berskala kecil, pemerintah kota/kabupaten (municipality) yang menangani langsung.

  • Untuk bencana berskala menengah, pemerintah prefektur (setingkat provinsi) menjadi penanggung jawab utama.

  • Untuk bencana berskala nasional, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang (MLIT) membantu serta melakukan koordinasi secara nasional.

Dalam pelaksanaan teknis, pemerintah biasanya menunjuk konsultan teknis khusus melalui mekanisme outsourcing untuk melakukan kajian dan pekerjaan teknis. Namun, pengambilan keputusan tetap berada pada pemerintah prefektur, dan untuk skala nasional dilakukan oleh kementerian terkait.

Terkait Akurasi Zonasi Longsor

Di Jepang terdapat sistem zonasi erosi/longsor yang dibagi menjadi zona kuning dan zona merah.

Sekitar 90% kejadian longsor aktual terjadi di dalam zona tersebut. Artinya, sekitar 10% kejadian masih terjadi di luar zona yang dipetakan.

Untuk mengurangi kesalahan (false negative), pemerintah Jepang terus memperbarui metodologi dan sistem analisis agar pemetaan risiko semakin akurat.


Jawaban Mr. Nishikawa – AI di Wilayah Pegunungan Berhutan Lebat

Terkait pertanyaan tentang keandalan AI di wilayah pegunungan dengan vegetasi lebat:

Analisis AI menggunakan data Digital Terrain Model (DTM) yang telah menghilangkan pengaruh vegetasi dan tutupan hutan. Dengan demikian, kepadatan vegetasi tidak menjadi kendala dalam analisis topografi berbasis AI.


Jawaban Pak Michael – Keseimbangan Tekanan Ekonomi dan Mitigasi Risiko

Menurut Pak Michael:

Risiko geohazard memiliki dampak yang sangat besar, sehingga tidak dapat diabaikan demi percepatan proyek.

Memang benar bahwa mitigasi risiko dapat menambah waktu pelaksanaan proyek, seperti yang terjadi pada pembangunan Jembatan Dr. Ir. Soekarno, yang mengalami penambahan durasi konstruksi. Namun, tambahan waktu tersebut diperlukan untuk memastikan keamanan struktur terhadap gempa.

Prinsipnya adalah:

Lebih baik memperpanjang waktu di tahap desain dan perencanaan, daripada menghadapi kegagalan struktur setelah proyek selesai.

Jika desain awal telah mempertimbangkan risiko secara presisi dan komprehensif, maka potensi keterlambatan besar di tahap konstruksi dapat diminimalkan.


Monitoring Selama Masa Konstruksi (SHMS)

Pak Michael menjelaskan bahwa:

Structural Health Monitoring System (SHMS) tidak hanya dipasang saat fase operasi dan pemeliharaan (O&M), tetapi dapat dipasang sejak masa konstruksi.

Pada proyek Jembatan Soekarno, SHMS digunakan selama pemasangan kabel dan pembangunan bentang utama. Sistem ini berfungsi sebagai:

  • Monitoring perilaku struktur saat konstruksi

  • Early warning system

  • Dasar pengambilan keputusan cepat jika terjadi anomali

Untuk proyek Flyover Panorama I Sitinjau Lauik, mitigasi longsor telah diperhitungkan dalam desain pondasi dan analisis geoteknik. Namun, fokus risiko utama di lokasi tersebut justru adalah gempa bumi.


Integrasi Data Geospasial Multi-Hazard

Menanggapi pertanyaan dari akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Pak Michael menjelaskan bahwa:

Pada tahap studi kelayakan (feasibility study) dan basic design, seluruh data geospasial digunakan, termasuk:

  • Peta gempa

  • Peta batuan

  • Peta geologi regional

  • Peta sejarah geomorfologi

  • Data tanah dan investigasi geoteknik

Semua data tersebut menjadi input utama dalam desain dan didiskusikan secara intensif bersama Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ), termasuk verifikasi lapangan terhadap jenis batuan dan kondisi geologi setempat.


Pernyataan Penutup Pembicara

Mr. Nishikawa

Beliau menyampaikan apresiasi atas diskusi yang berlangsung dan berharap pengalaman Jepang dapat bermanfaat bagi Indonesia. Ia juga menyatakan komitmennya untuk terus bekerja sama mendukung pengelolaan risiko bencana di Indonesia.

Pak Michael

Beliau kembali menekankan pentingnya:

  • Asesmen risiko sejak awal

  • Mitigasi yang diintegrasikan dalam desain detail

  • Pengumpulan data selengkap mungkin sebelum konstruksi

Karena rehabilitasi infrastruktur akibat gempa sangat sulit dan mahal, maka pencegahan melalui desain adalah pendekatan paling efektif.


Ringkasan Moderator

Diskusi hari ini menghadirkan dua perspektif utama:

  1. Pendekatan teknologi:

    • AI

    • Simulasi virtual

    • Remote monitoring

    • Sistem peringatan dini

  2. Pendekatan implementatif di Indonesia:

    • Expert judgement

    • Kepatuhan terhadap prosedur hukum

    • Evaluasi teknis melalui lembaga resmi

Pesan utama yang dapat disimpulkan:

Manajemen geohazard membutuhkan pendekatan siklus hidup penuh (full life cycle approach): investigasi, desain, monitoring, dan tindakan.
Kolaborasi lintas institusi sangat penting untuk membangun infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan.


Comments

Popular Posts