WEBINAR INTERNASIONAL Virtual Disaster Management for Geohazard Investigation and Monitoring [ PII DAN HK] 19 FEB 2026
SUMBER , HK ExperTalk “Virtual Disaster Management for Geohazard Investigation and Monitoring”
Kami Insinyur Indonesia
Membuka cakrawala dunia.
Memajukan bangsa.
Mensejahterakan masyarakat.
Untuk kemanusiaan semesta.
Kami insinyur Indonesia, siap membangun bangsa.
Sambutan MC
Terima kasih, hadirin sekalian.
Webinar hari ini memiliki arti yang sangat penting, mengingat kita sedang menghadapi tantangan yang semakin meningkat terkait bahaya alam dan ketahanan infrastruktur. Perkembangan infrastruktur yang pesat harus berjalan seiring dengan penguatan manajemen risiko bencana, khususnya di wilayah yang rawan geohazard seperti:
Longsor
Gempa bumi
Ketidakstabilan tanah
Kemajuan teknologi telah membuka peluang baru dalam manajemen bencana secara virtual. Melalui:
Pemodelan digital
Remote sensing
Sistem monitoring
Integrasi data
Kini kita mampu melakukan investigasi geohazard secara lebih akurat, efisien, dan proaktif.
Namun pertanyaan pentingnya adalah:
Bagaimana kita mengoptimalkan teknologi virtual untuk meningkatkan proses investigasi, memperkuat sistem monitoring, serta meningkatkan ketahanan dan keselamatan infrastruktur?
Para Narasumber dan Undangan
Webinar ini menghadirkan para pakar dan profesional, antara lain:
Perwakilan Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BK Sipil PII)
PT Hutama Karya (Persero)
PT Hutama Karya Infrastruktur
PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik
Nippon Koei Co., Ltd.
Peserta yang hadir berasal dari:
Kementerian dan lembaga pemerintah
BUMN
Sektor swasta
Akademisi
Komunitas profesional di seluruh Indonesia
Sambutan Ketua Transportasi BK Sipil PII
Ir. Dedi Gunawan, ST, MS
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang.
Atas nama BK Sipil PII, kami menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta dalam webinar internasional ini.
Webinar ini merupakan bagian dari program berkelanjutan PII untuk:
Meningkatkan jejaring profesional
Memperluas pengetahuan teknik sipil
Memperkuat kolaborasi nasional dan internasional
Kami mengucapkan terima kasih kepada:
PT Hutama Karya (Persero)
PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik
Nippon Koei Jepang
Tantangan Infrastruktur di Indonesia
Infrastruktur jalan merupakan tulang punggung aktivitas ekonomi dan sosial. Namun kita menghadapi tantangan besar berupa:
Geohazard
Gangguan struktur
Peningkatan biaya siklus hidup
Risiko keselamatan
Indonesia berada di Ring of Fire, dengan:
Kompleksitas geologi tinggi
Tantangan geoteknik
Permasalahan hidrologi dan hidrometeorologi
Dampak perubahan iklim
Contoh kasus:
Sitinjau Lauik – Sumatera Barat
Sumedang – Dawuan
Wilayah Aceh dan Medan
Banyak kejadian geoteknik sebenarnya dipicu oleh faktor air (drainase dan hidrologi) yang kurang diperhatikan dalam desain.
Karena itu diperlukan:
Integrasi geoteknik dan hidrologi sejak tahap perencanaan
Monitoring lebih cepat
Deteksi dini
Sistem respon yang lebih baik
Desain drainase dan proteksi lereng yang lebih kuat
Tujuan Webinar
Memperkuat pemahaman risiko geohazard
Berbagi praktik terbaik teknologi monitoring
Meningkatkan kolaborasi antar stakeholder
Mendukung infrastruktur jalan yang:
Tangguh
Berkelanjutan
Memberikan manfaat ekonomi jangka panjang
Moderator
Webinar dimoderatori oleh:
Dr. Ir. Alfa Adib, MSI, IPM
Direktorat Jenderal Bina Marga – Kementerian PUPR
Ahli manajemen aset jalan dan keselamatan transportasi.
Narasumber 1
Tomoyuki Nishikawa
Senior Manager – International Geohazard Management Department
Nippon Koei Co., Ltd., Jepang
Beliau merupakan insinyur geoteknik lulusan University of Tsukuba, Jepang, serta profesional engineer terdaftar di Jepang.
Topik yang dibawakan:
Advanced Technology Tools for Geohazard Monitoring
Identifikasi dan Assessment Risiko
AI dan Simulasi Digital
Sistem Monitoring Infrastruktur Jalan
Presentasi Narasumber 1
Tomoyuki Nishikawa
Senior Manager – International Geohazard Management Department
Nippon Koei Co., Ltd.
Hari ini saya akan membahas mengenai peta bahaya longsor (landslide hazard map) serta pemanfaatan teknologi canggih di Jepang.
Saya meyakini bahwa longsor merupakan salah satu geohazard paling serius di Indonesia, baik dalam konteks perlindungan jiwa manusia maupun dampak terhadap perekonomian. Jepang juga menghadapi tantangan serupa. Oleh karena itu, saya berharap presentasi ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta.
1. Sistem Peta Bahaya Longsor di Jepang
Jepang memiliki beberapa jenis peta bahaya. Yang paling umum disusun berdasarkan:
π Undang-Undang Pengendalian Bencana Longsor dan Sedimen (2000)
Undang-undang ini diberlakukan sekitar 25 tahun lalu, setelah terjadinya bencana longsor besar di wilayah Hiroshima.
Tujuan utama regulasi ini:
Membatasi pembangunan di area rawan longsor
Mengurangi risiko baru
Mengendalikan risiko yang sudah ada
Dua Dampak Utama Regulasi
1️⃣ Mencegah Timbulnya Risiko Baru
Pembangunan baru dibatasi di zona bahaya
Bangunan baru hanya diizinkan jika terdapat langkah mitigasi struktural
2️⃣ Mengurangi Risiko yang Sudah Ada
Implementasi struktur pengendali
Perkuatan lereng
Pengaturan relokasi jika diperlukan
2. Klasifikasi Jenis Longsor
Pemerintah prefektur bertanggung jawab menetapkan zona bahaya berdasarkan tiga tipe pergerakan massa tanah:
π΄ 1. Fall Type (Runtuhan)
Lereng curam runtuh karena gravitasi
Dipicu oleh air tanah
Material jatuh dan kehilangan bentuk aslinya
π‘ 2. Slide Type (Longsoran)
Tanah bergerak sebagai satu massa
Umumnya akibat kenaikan muka air tanah
π΅ 3. Flow Type (Aliran Debris)
Campuran sedimen dan air
Mengalir cepat mengikuti sungai
Menyebar di hilir
3. Sistem Zonasi: Red Zone & Yellow Zone
Peta bahaya di Jepang menggunakan dua kategori sederhana namun efektif:
π΄ Red Zone
Potensi kerusakan serius terhadap bangunan dan manusia
Pembangunan baru dibatasi ketat
Wajib ada sistem peringatan dan evakuasi
π‘ Yellow Zone
Area rawan longsor
Pengawasan dan kesiapsiagaan ditingkatkan
Data Nasional Jepang
Saat ini telah ditetapkan:
± 604.000 Red Zone
± 72.000 Yellow Zone
Sebagai contoh, Prefektur Hiroshima menyediakan portal daring agar masyarakat dapat mengecek risiko longsor di sekitar rumahnya.
Pelajaran Penting untuk Indonesia
Jepang memulai regulasi ketika kawasan permukiman sudah berkembang luas di area rawan. Akibatnya:
Biaya mitigasi struktural sangat besar
Penanganan menjadi kompleks
Indonesia masih memiliki peluang untuk:
Mengendalikan risiko sejak awal
Menghindari biaya besar di masa depan
Mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan
4. Identifikasi Longsor Menggunakan AI
Untuk tipe slide, hal terpenting adalah mengidentifikasi bidang gelincir (slip surface) secara akurat.
Metode Tradisional:
Interpretasi kontur topografi
Identifikasi scarp, deformasi, dan uplift
Membutuhkan pengalaman tinggi
Subjektif dan memakan waktu
π‘ Penggunaan AI
Kini dikembangkan sistem interpretasi berbasis AI yang:
Mengolah data topografi
Menghasilkan identifikasi dalam hitungan menit
Mengurangi perbedaan subjektif antar engineer
Cocok untuk respons cepat saat kondisi darurat
Engineer tetap melakukan verifikasi detail berdasarkan hasil AI.
5. Identifikasi Longsor Menggunakan Satelit SAR
Teknologi yang digunakan:
Synthetic Aperture Radar (SAR)
Satelit yang melintasi orbit sama pada waktu berbeda dapat mendeteksi:
Perubahan elevasi
Penurunan tanah (subsidence)
Pergerakan lereng
Akurasi:
π Hingga tingkat sentimeter
Area stabil ditunjukkan warna hijau
Area penurunan ditunjukkan warna biru
Kombinasi SAR dan interpretasi topografi meningkatkan akurasi identifikasi zona bahaya.
6. Mitigasi Debris Flow – Sistem Sabo Dam
Untuk tipe aliran debris, digunakan struktur pengendali:
π Sabo Dam (Sediment Control Dam)
Istilah "Sabo" kini dikenal secara internasional.
Dua Tipe:
1️⃣ Impermeable – menahan air dan sedimen
2️⃣ Permeable – menyaring material besar, membiarkan air dan sedimen halus lewat
Sistem Otomatis Desain Sabo Dam
Saat ini dikembangkan sistem yang dapat:
Menghitung kebutuhan jumlah dan tipe bendung
Menentukan lokasi optimal
Mengestimasi volume beton
Menghasilkan model 3D
Mendukung perencanaan cepat dan efisien
7. Multi-Hazard Map & Augmented Reality (AR)
Negara pegunungan menghadapi risiko gabungan:
Longsor
Gempa bumi
Erupsi gunung api
Curah hujan ekstrem (akibat perubahan iklim)
Karena itu diperlukan:
πΊ Multi-Hazard Map
Peta terpadu berbagai ancaman
π± Visualisasi Menggunakan Augmented Reality (AR)
Masalah:
Masyarakat umum dan anak-anak sulit memahami peta 2D.
Solusi:
Tablet diarahkan ke peta cetak
Muncul model 3D topografi
Zona bahaya terlihat jelas
Informasi lokasi evakuasi muncul
Manfaat:
Edukasi kebencanaan
Peningkatan kesadaran publik
Pemahaman spasial yang lebih baik
Penutup
Nippon Koei memiliki kantor di Jakarta dan telah menjalankan banyak proyek di Indonesia.
“Kami terbuka untuk kolaborasi dan diskusi lebih lanjut.”
Tanggapan Moderator
Moderator menyoroti:
Akurasi teknologi SAR hingga sentimeter
Potensi AI dalam analisis geohazard
Pemanfaatan AR untuk edukasi publik
Perbandingan sederhana dengan aplikasi berbasis AR seperti permainan visual interaktif, namun kini digunakan untuk mitigasi bencana
Presentasi Narasumber 2
Michael Rumanser
Project Director – PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik
Penekanan Awal: Bukan Rehabilitasi, Tetapi Pencegahan
Judul awal yang diberikan adalah:
Best Practice for Infrastructure Rehabilitation to Build Disaster Resilience
Namun beliau menyampaikan bahwa istilah rehabilitasi kurang tepat dalam konteks geohazard.
Menurut beliau:
Kerusakan akibat geohazard (gempa, longsor, dsb.) seringkali sangat parah.
Upaya rehabilitasi setelah kejadian menjadi sangat sulit dan mahal.
Perbaikan pasca-bencana tidak selalu mengembalikan kondisi struktural secara optimal.
Pendekatan yang lebih tepat adalah:
✅ Identifikasi risiko sejak awal
✅ Mitigasi sejak tahap perencanaan
✅ Desain bangunan yang tahan terhadap potensi geohazard
Artinya, ketahanan infrastruktur harus dibangun sejak tahap desain, bukan setelah terjadi kerusakan.
Konteks Geohazard di Indonesia
Indonesia berada di kawasan:
π Ring of Fire (Cincin Api Pasifik)
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, sehingga rentan terhadap:
Gempa tektonik
Gempa vulkanik
Letusan gunung api
Tanah longsor
Karena itu, sebelum membangun infrastruktur, perlu dilakukan:
π Risk Assessment Geohazard
Identifikasi kondisi lingkungan
Analisis potensi gempa
Evaluasi kondisi geoteknik
Analisis hidrologi dan hidrometeorologi
Mitigasi harus sudah terakomodasi dalam desain struktur.
Jika mitigasi dilakukan setelah bangunan berdiri, maka:
Biaya meningkat drastis
Kompleksitas teknis bertambah
Risiko tetap tinggi
Studi Kasus 1
Jembatan Dr. Ir. Soekarno – Manado
Lokasi: Manado, Sulawesi Utara
Tipe: Cable Stayed Bridge (1 pylon)
Panjang total: ± 1,1 km
Tujuan pembangunan:
Mengatasi kemacetan pusat kota
Mendukung Manado Outer Ring Road
Mendukung sektor pariwisata
Sulawesi Utara merupakan wilayah rawan gempa berdasarkan peta gempa nasional.
Tantangan Desain Gempa
Dalam proses desain dan konstruksi, terjadi beberapa penyesuaian signifikan akibat evaluasi beban gempa.
Tahap 1 – Desain Awal Pondasi
Pondasi kaison
Second pile diameter 880 mm
Beton bertulang tebal 4 m
Kedalaman ± 29 m
Tahap 2 – Evaluasi Ulang
Setelah analisis ulang beban gempa:
Ditambahkan bore pile diameter 1,5 m
Sebanyak 16 titik tambahan
Tahap 3 – Pengujian Kapasitas
Dilakukan:
O-Cell Test
PDA Test
Hasil menunjukkan kapasitas belum memenuhi (sekitar 50%).
Tahap 4 – Investigasi Tanah Baru
Dilakukan soil investigation tambahan.
Ditambahkan:
Steel pipe pile diameter 1 m
Tebal 16 mm
Sebanyak 32 titik
Setelah pengujian ulang, kapasitas pondasi memenuhi perencanaan.
π Ini menunjukkan bahwa desain awal harus terus diuji dan divalidasi terhadap risiko gempa aktual.
Pelaksanaan Struktur Pylon
Tulangan diameter 32 mm
Penulangan sangat rapat
Tantangan utama: pengecoran beton karena kepadatan tulangan
Namun seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai evaluasi desain gempa.
Evaluasi Main Span
Saat pengerjaan bentang utama (main span), dilakukan evaluasi ulang struktur.
Beberapa penyesuaian desain dilakukan untuk:
Menyesuaikan respons struktur terhadap beban gempa
Meningkatkan faktor keamanan
Pelajaran Penting (Lesson Learned)
Dari proyek ini dapat ditarik beberapa poin penting:
1️⃣ Risk Assessment Tidak Boleh Sekadar Formalitas
Analisis gempa harus diuji ulang secara serius.
2️⃣ Desain Bisa Berubah Secara Signifikan
Hasil investigasi tanah tambahan dapat mengubah desain pondasi secara drastis.
3️⃣ Pengujian Lapangan Sangat Krusial
PDA Test dan O-Cell Test menjadi validasi utama.
4️⃣ Mitigasi Lebih Murah di Tahap Desain
Penambahan pondasi di tahap awal jauh lebih efisien dibanding rehabilitasi pasca kerusakan.
Studi Kasus 2
Flyover Sitinjau Lauik – Sumatera Barat
Lokasi:
Sitinjau Lauik
Wilayah ini dikenal:
Topografi curam
Rawan longsor
Rawan gempa
Struktur:
Balanced cantilever bridge
Cable stayed dengan pylon pendek
Di proyek ini, Pak Michael berperan sebagai pihak owner.
Pendekatan utama yang diterapkan:
Identifikasi risiko geoteknik dan geohazard sejak awal
Evaluasi desain struktur terhadap beban gempa
Perencanaan ketahanan jangka panjang
Kesimpulan Utama dari Presentasi
Pak Michael menekankan:
“Disaster resilience tidak dimulai saat bencana terjadi, tetapi dimulai saat kita menyusun desain.”
Fokus utama:
Perencanaan
Mitigasi
Penguatan desain awal
Evaluasi berlapis
Pendekatan ini jauh lebih efektif dibanding rehabilitasi setelah terjadi kerusakan besar.
Best Practice Infrastruktur untuk Membangun Ketahanan terhadap Geohazard
Studi Kasus: Jembatan Dr. Ir. Soekarno (Manado) & Flyover Panorama I Sitinjau Lauik (Sumatera Barat)
Pendahuluan
Indonesia merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap bahaya geologi (geohazard) karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik dan termasuk dalam kawasan Ring of Fire Pasifik. Ancaman utama meliputi:
Gempa bumi (tektonik dan vulkanik)
Letusan gunung api
Tanah longsor
Pendekatan yang ditekankan bukan pada rehabilitasi setelah kerusakan, melainkan pada mitigasi risiko sejak tahap perencanaan dan desain awal.
Rehabilitasi pascabencana sering kali:
Sulit dilakukan,
Memerlukan biaya sangat besar,
Tidak mampu mengembalikan kondisi seperti semula.
Karena itu, langkah paling efektif adalah:
Identifikasi risiko sejak awal,
Integrasi hasil asesmen risiko dalam desain,
Perhitungan detail beban gempa,
Pengujian dan evaluasi berulang sebelum konstruksi.
Studi Kasus 1
Jembatan Dr. Ir. Soekarno
Lokasi
Manado
Wilayah dengan tingkat kerawanan gempa tinggi.
Tipe Jembatan
Cable-stayed bridge dengan satu pylon.
Panjang Total
± 1,1 km
Lebar: 17 meter (2 x 6 m lalu lintas + trotoar 2,5 m)
Tujuan Pembangunan
Mengurai kemacetan pusat kota
Mendukung Manado Outer Ring Road
Mendukung pariwisata kota
Penyesuaian Desain akibat Evaluasi Gempa
Desain awal mengalami beberapa perubahan signifikan setelah evaluasi ulang terhadap beban gempa:
1️⃣ Perubahan Pondasi
Awalnya:
Pondasi caisson dengan secondary pile diameter 880 mm
Beton bertulang 4 m pada kedalaman -29 m
Setelah evaluasi:
Ditambahkan 16 bored pile diameter 1,5 m
Masih belum memenuhi kapasitas (hasil O-Cell & PDA Test ±50%)
Langkah lanjutan:
Investigasi tanah ulang
Penambahan 32 steel pipe pile diameter 1 m
Setelah pengujian ulang → kapasitas memenuhi desain.
Pelajaran penting:
Desain fondasi di zona gempa memerlukan evaluasi berulang dan fleksibilitas untuk penyesuaian.
2️⃣ Penyesuaian Struktur Main Span
Dilakukan:
Perubahan layout tendon
Penambahan perkuatan pada span
Penyesuaian gaya tendon post-tension
Penebalan edge beam
Semua bertujuan meningkatkan ketahanan terhadap beban gempa.
Uji Nyata oleh Gempa
Pada tahun 2013, saat konstruksi belum selesai, terjadi gempa besar di Manado. Main span sempat terlihat berayun.
Hasil inspeksi oleh tim Kementerian PU:
Struktur dinyatakan aman
Konstruksi dilanjutkan
Artinya: desain yang kuat langsung teruji oleh kondisi nyata.
Structural Health Monitoring System (SHMS)
Sistem SHMS dipasang sejak masa konstruksi.
Fungsi:
Monitoring kesehatan struktur
Early warning system
Evaluasi kesesuaian desain dan kondisi aktual
Saat ini SHMS menjadi praktik umum untuk jembatan strategis.
Studi Kasus 2
Flyover Panorama I Sitinjau Lauik
Lokasi: Jalan Raya Padang–Solok, Sumatera Barat
Wilayah dengan:
Risiko gempa tinggi
Material tanah sangat beragam
Tikungan ekstrem (radius ±7 m)
Gradien vertikal hingga 22%
Tingkat kecelakaan tinggi
Skema Proyek
Kerja sama KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha) dengan skema:
Design – Build – Finance – Operate – Maintenance – Transfer
Masa kerja sama:
12 tahun 6 bulan
2,5 tahun konstruksi
10 tahun masa layanan
Spesifikasi Utama
Panjang total ±2,7 km
Terdiri dari:
Jembatan 1 & 2 → PCI girder
Jembatan 3 → Balanced cantilever melengkung (±382 m)
Jembatan 4 → Extradosed bridge (stay cable dengan pylon pendek)
Jembatan 3 & 4 termasuk kategori jembatan khusus.
Proses Desain yang Ketat
Tahapan:
Penyusunan kriteria desain
Basic design
RTT (Rencana Teknik Terperinci)
Review oleh KKJTJ (Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan)
Proses review RTT:
Intensif ±6 bulan
Diskusi teknis mingguan
Melibatkan ahli universitas dan pakar konstruksi
Untuk jembatan khusus:
Wajib memperoleh Sertifikat Keamanan Jembatan
Ditandatangani oleh Menteri PUPR
Monitoring Sistem
Jembatan 3 & 4 dilengkapi SHMS untuk:
Monitoring performa struktur
Evaluasi dampak gempa
Verifikasi kesesuaian desain vs kondisi lapangan
Kesimpulan Utama
Mitigasi gempa harus dimulai sejak tahap desain awal.
Identifikasi risiko geologi wajib dilakukan sebelum pembangunan.
Evaluasi desain harus dilakukan berulang.
Pengujian teknis (PDA, O-Cell, dll.) sangat penting.
Monitoring sistem meningkatkan keamanan jangka panjang.
Rehabilitasi pascabencana jauh lebih mahal dan sulit dibandingkan mitigasi sejak awal.
Intinya:
Ketahanan infrastruktur terhadap geohazard bukan dibangun saat rehabilitasi, tetapi dirancang sejak tahap perencanaan awal.
Penutup – Kesimpulan Presentasi
Sebagai kesimpulan, terkait dengan bahaya gempa (geohazard), hal yang paling krusial adalah tahap perencanaan dan desain awal. Pada tahap inilah seluruh potensi risiko—terutama risiko gempa di daerah rawan—harus dimitigasi dan diakomodasi secara komprehensif dalam desain.
Desain harus dibuat seakurat dan sedetail mungkin. Penyesuaian dan perbaikan desain pada tahap awal jauh lebih efektif dibandingkan melakukan rehabilitasi setelah terjadi kerusakan.
Apabila struktur sudah mengalami kerusakan akibat gempa, proses rehabilitasi akan:
Sangat sulit dilakukan,
Memerlukan biaya yang sangat besar,
Dan hasilnya belum tentu dapat mengembalikan kondisi struktur seperti semula.
Oleh karena itu, pendekatan terbaik adalah mitigasi sejak tahap perencanaan, bukan perbaikan setelah kegagalan terjadi.
Ringkasan Moderator
Dari dua proyek yang disampaikan:
Jembatan Soekarno di Manado
Flyover Panorama I Sitinjau Lauik di Sumatera Barat
Poin pentingnya adalah bahwa keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada:
Expert judgement (penilaian para ahli)
Kepatuhan terhadap prosedur dan dasar hukum
Proses persetujuan teknis yang ketat (seperti melalui komisi teknis terkait)
Di Indonesia, pengambilan keputusan teknis sangat mengandalkan:
Penilaian para ahli,
Prosedur resmi,
Dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan dari Rahajeng kepada Mr. Tomoyuki Nishikawa:
Bagaimana Jepang menangani perbedaan peta bahaya (hazard map) yang dihasilkan oleh berbagai instansi atau diperbarui dengan pendekatan teknologi yang berbeda?
Versi mana yang diprioritaskan dalam pengambilan keputusan?
Apakah ada mekanisme untuk mengevaluasi false positive dan false negative dalam peta bahaya longsor?
Bagaimana kesalahan tersebut memengaruhi kepercayaan publik dan kepatuhan terhadap arahan evakuasi?
Jawaban Mr. Nishikawa (Diringkas dan Dirapikan)
Di Jepang, pemerintah memiliki tanggung jawab utama dalam pelaksanaan langkah-langkah penanggulangan bencana.
Pemerintah prefektur (setingkat provinsi) menjadi lembaga utama yang bertanggung jawab atas pengelolaan risiko bencana di wilayahnya.
Untuk bencana berskala nasional, kementerian terkait di tingkat pusat akan mengambil peran utama dalam koordinasi dan penanganan.
Jawaban Mr. Tomoyuki Nishikawa (Dirapikan)
Di Jepang, tanggung jawab penanggulangan bencana dibagi berdasarkan skala kejadian:
Untuk bencana berskala kecil, pemerintah kota/kabupaten (municipality) yang menangani langsung.
Untuk bencana berskala menengah, pemerintah prefektur (setingkat provinsi) menjadi penanggung jawab utama.
Untuk bencana berskala nasional, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang (MLIT) membantu serta melakukan koordinasi secara nasional.
Dalam pelaksanaan teknis, pemerintah biasanya menunjuk konsultan teknis khusus melalui mekanisme outsourcing untuk melakukan kajian dan pekerjaan teknis. Namun, pengambilan keputusan tetap berada pada pemerintah prefektur, dan untuk skala nasional dilakukan oleh kementerian terkait.
Terkait Akurasi Zonasi Longsor
Di Jepang terdapat sistem zonasi erosi/longsor yang dibagi menjadi zona kuning dan zona merah.
Sekitar 90% kejadian longsor aktual terjadi di dalam zona tersebut. Artinya, sekitar 10% kejadian masih terjadi di luar zona yang dipetakan.
Untuk mengurangi kesalahan (false negative), pemerintah Jepang terus memperbarui metodologi dan sistem analisis agar pemetaan risiko semakin akurat.
Jawaban Mr. Nishikawa – AI di Wilayah Pegunungan Berhutan Lebat
Terkait pertanyaan tentang keandalan AI di wilayah pegunungan dengan vegetasi lebat:
Analisis AI menggunakan data Digital Terrain Model (DTM) yang telah menghilangkan pengaruh vegetasi dan tutupan hutan. Dengan demikian, kepadatan vegetasi tidak menjadi kendala dalam analisis topografi berbasis AI.
Jawaban Pak Michael – Keseimbangan Tekanan Ekonomi dan Mitigasi Risiko
Menurut Pak Michael:
Risiko geohazard memiliki dampak yang sangat besar, sehingga tidak dapat diabaikan demi percepatan proyek.
Memang benar bahwa mitigasi risiko dapat menambah waktu pelaksanaan proyek, seperti yang terjadi pada pembangunan Jembatan Dr. Ir. Soekarno, yang mengalami penambahan durasi konstruksi. Namun, tambahan waktu tersebut diperlukan untuk memastikan keamanan struktur terhadap gempa.
Prinsipnya adalah:
Lebih baik memperpanjang waktu di tahap desain dan perencanaan, daripada menghadapi kegagalan struktur setelah proyek selesai.
Jika desain awal telah mempertimbangkan risiko secara presisi dan komprehensif, maka potensi keterlambatan besar di tahap konstruksi dapat diminimalkan.
Monitoring Selama Masa Konstruksi (SHMS)
Pak Michael menjelaskan bahwa:
Structural Health Monitoring System (SHMS) tidak hanya dipasang saat fase operasi dan pemeliharaan (O&M), tetapi dapat dipasang sejak masa konstruksi.
Pada proyek Jembatan Soekarno, SHMS digunakan selama pemasangan kabel dan pembangunan bentang utama. Sistem ini berfungsi sebagai:
Monitoring perilaku struktur saat konstruksi
Early warning system
Dasar pengambilan keputusan cepat jika terjadi anomali
Untuk proyek Flyover Panorama I Sitinjau Lauik, mitigasi longsor telah diperhitungkan dalam desain pondasi dan analisis geoteknik. Namun, fokus risiko utama di lokasi tersebut justru adalah gempa bumi.
Integrasi Data Geospasial Multi-Hazard
Menanggapi pertanyaan dari akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Pak Michael menjelaskan bahwa:
Pada tahap studi kelayakan (feasibility study) dan basic design, seluruh data geospasial digunakan, termasuk:
Peta gempa
Peta batuan
Peta geologi regional
Peta sejarah geomorfologi
Data tanah dan investigasi geoteknik
Semua data tersebut menjadi input utama dalam desain dan didiskusikan secara intensif bersama Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ), termasuk verifikasi lapangan terhadap jenis batuan dan kondisi geologi setempat.
Pernyataan Penutup Pembicara
Mr. Nishikawa
Beliau menyampaikan apresiasi atas diskusi yang berlangsung dan berharap pengalaman Jepang dapat bermanfaat bagi Indonesia. Ia juga menyatakan komitmennya untuk terus bekerja sama mendukung pengelolaan risiko bencana di Indonesia.
Pak Michael
Beliau kembali menekankan pentingnya:
Asesmen risiko sejak awal
Mitigasi yang diintegrasikan dalam desain detail
Pengumpulan data selengkap mungkin sebelum konstruksi
Karena rehabilitasi infrastruktur akibat gempa sangat sulit dan mahal, maka pencegahan melalui desain adalah pendekatan paling efektif.
Ringkasan Moderator
Diskusi hari ini menghadirkan dua perspektif utama:
Pendekatan teknologi:
AI
Simulasi virtual
Remote monitoring
Sistem peringatan dini
Pendekatan implementatif di Indonesia:
Expert judgement
Kepatuhan terhadap prosedur hukum
Evaluasi teknis melalui lembaga resmi
Pesan utama yang dapat disimpulkan:
Manajemen geohazard membutuhkan pendekatan siklus hidup penuh (full life cycle approach): investigasi, desain, monitoring, dan tindakan.
Kolaborasi lintas institusi sangat penting untuk membangun infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan.

Comments
Post a Comment