CDC [1] : Empowerment dalam Tim dan Organisasi [1]

SUMBER Hadjar Seti Adji , Membedah Pola Pikir Direktur Millennial Telkom (34 tahun) Part#1

https://www.youtube.com/watch?v=GzKvbSiNkBM

Empowering: Perjalanan Mas Fajrin Rasyid Menuju Puncak Digital Telkom

 “Empowering SDM dan Budaya Perusahaan”

Dari Startup hingga Korporasi – Kisah Inspiratif Mas Fajrin Rasyid

Pendahuluan: Menggali Potensi SDM di Era Digital

Di dunia yang bergerak cepat, kemampuan sebuah perusahaan ditentukan bukan hanya oleh teknologi atau modal, tetapi oleh sumber daya manusia (SDM) yang kreatif, adaptif, dan berdedikasi. SDM yang empowered tidak hanya mampu bekerja dengan efisien, tetapi juga berinovasi, berkolaborasi, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Kisah Mas Muhammad Fajrin Rasyid, yang di usia 34 tahun menjadi Direktur Digital Telkom setelah membangun Bukalapak, menjadi pelajaran berharga. Perjalanan kariernya menunjukkan bagaimana pengalaman, ketekunan, visi yang jelas, dan semangat kontribusi sosial dapat membentuk SDM yang empowered.

1: Dari Dunia Startup yang Dinamis ke Korporasi yang Kompleks

Perjalanan Mas Fajrin dimulai di dunia startup, Bukalapak, yang penuh dinamika, ketidakpastian, dan kebutuhan untuk bergerak cepat. “Startup adalah dunia ekstrem. Kreativitas dan kecepatan menjadi kunci,” ujarnya.

Setiap hari di Bukalapak adalah eksperimen: mencoba ide baru, memvalidasi konsep dengan pengguna, dan menyesuaikan strategi berdasarkan feedback. Dalam dunia startup, kegagalan adalah guru terbaik; namun kesuksesan datang pada mereka yang tidak mudah menyerah dan fokus pada visi jangka panjang.

Ketika diajak bergabung dengan Telkom, tantangan baru muncul: sebuah perusahaan BUMN besar dengan birokrasi dan prosedur yang mapan. Ia harus menyeimbangkan inovasi ala startup dengan tata kelola korporasi besar. Di sinilah muncul prinsip penting pertama: kemampuan beradaptasi dengan konteks baru. Mas Fajrin tidak menolak birokrasi, tetapi melihat peluang untuk menggabungkan kecepatan inovasi dengan disiplin sistem korporasi.

2: Visi Besar dan Dampak Sosial

Saat membangun Bukalapak, Mas Fajrin menyadari bahwa kesuksesan bukan hanya soal keuntungan finansial. “Kalau ingin membuat startup sukses, miliki visi yang jelas. Fokus bukan hanya pada peluang ekonomi, tetapi bagaimana digitalisasi dapat membantu masyarakat, khususnya UKM,” ujarnya.

Visi besar ini menjadi kompas bagi setiap keputusan: produk, strategi, hingga inovasi. Bukalapak bukan sekadar platform e-commerce, tetapi alat pemberdayaan ekonomi bagi jutaan pelaku UMKM di Indonesia.

Ketika bergabung dengan Telkom, semangat kontribusi sosial tetap dijaga. Ia melihat pekerjaan bukan sekadar mengelola perusahaan besar, tetapi memberikan dampak positif bagi bangsa. Hal ini mengajarkan SDM PT CDC bahwa bekerja dengan tujuan yang lebih besar akan meningkatkan motivasi intrinsik dan kesetiaan karyawan.

3: Daya Tahan Mental dan Pantang Menyerah

Perjalanan membangun Bukalapak tidak mudah. Mas Fajrin dan tim menghadapi:

  • Ketidakpastian pasar dan teknologi yang terus berubah.
  • Sulitnya mendapatkan kepercayaan awal dari pengguna dan investor.
  • Beban pekerjaan yang berat dan tekanan tinggi.

Namun, visi besar menjadi bahan bakar semangat. “Kalau kita menyerah, siapa yang akan membantu jutaan UMKM Indonesia? Tetapi jika kita terus berinovasi, kita bisa membantu lebih banyak orang,” katanya.

Budaya ini menjadi prinsip penting untuk membangun SDM: ketahanan mental, ketekunan, dan pantang menyerah. Karyawan diajarkan untuk melihat masalah sebagai peluang belajar dan tetap fokus pada tujuan jangka panjang.

4: Memberdayakan Orang Lain sebagai Motivasi

Mas Fajrin menekankan bahwa salah satu motivasi terbesar adalah memberikan dampak nyata bagi orang lain. Di Bukalapak, hal ini diwujudkan melalui:

  • Kopdar dan pertemuan komunitas pelaku UMKM.
  • Video testimoni dari pelapak sukses sebagai inspirasi.
  • Data nyata yang menunjukkan pertumbuhan omzet dari jutaan menjadi ratusan juta rupiah.

Salah satu cerita yang paling menyentuh: seorang pelapak bisa memberangkatkan keluarganya umrah setelah beberapa tahun berjualan. Kisah seperti ini menjadi motivasi tim untuk terus berkembang dan berinovasi.

Pelajaran penting untuk SDM PT CDC: fokus pada dampak, bukan sekadar pencapaian pribadi. Ketika orang merasakan manfaat nyata dari pekerjaan mereka, motivasi dan loyalitas meningkat secara alami.

5: Kesabaran dan Proses Bertahap dalam Dunia Digital

Kesuksesan digital tidak instan. Bukalapak membutuhkan beberapa tahun sebelum menunjukkan hasil signifikan. Mas Fajrin menekankan:

  • Pendanaan dan pertumbuhan membutuhkan waktu.
  • Return on investment (ROI) bisa ratusan hingga ribuan kali lipat jika strategi dijalankan konsisten.
  • Kesabaran dan ketekunan menjadi kunci.

Budaya perusahaan yang menekankan proses bertahap dan kesabaran memungkinkan SDM untuk tidak terburu-buru, tetap teliti, dan fokus pada kualitas hasil kerja.

6: Menjemput Peluang dan Keberuntungan

Tidak semua peluang datang sesuai rencana. Banyak momen keberuntungan terjadi tidak sengaja, misalnya investor yang tertarik setelah melihat portofolio tim. Kunci Mas Fajrin: siap menjemput kesempatan.

  • Banyak peluang muncul karena energi positif dan sikap proaktif.
  • Profesionalisme, kesiapan, dan kejelasan visi memungkinkan peluang menjadi nyata.
  • SDM harus diajarkan untuk bertindak cepat dan percaya diri ketika kesempatan muncul.

7: Strategi Belajar Efektif dan Mengenal Diri Sendiri

Mas Fajrin menekankan pentingnya belajar dengan strategi:

  1. Kenali Kelebihan dan Kekurangan:
    • Fokus lebih banyak pada kelemahan.
    • Alokasikan waktu lebih cepat untuk bidang yang sudah dikuasai.
  2. Hubungkan Ilmu dengan Praktik:
    • Belajar akan lebih maksimal jika dapat diterapkan di pekerjaan atau kehidupan nyata.
  3. Belajar dari Lingkungan:
    • Gunakan prinsip learn by doing.
    • Sintesis informasi penting dari pengalaman.
    • Jangan sungkan bertanya atau berdiskusi, bahkan jika ide terdengar sederhana.

8: Adaptasi Gaya Komunikasi dan Kolaborasi Digital

Generasi milenial dan era digital menuntut adaptasi komunikasi:

  • Kolaborasi lebih banyak dilakukan secara digital.
  • Gaya komunikasi harus fleksibel, terbuka, dan interaktif.
  • SDM diajarkan untuk mudah bertanya, berdiskusi, dan menyerap pengetahuan dari lingkungan sekitar.

Budaya ini memastikan perusahaan tetap inovatif, dan SDM mampu berkolaborasi secara efektif di tim besar atau lintas divisi.

9: Fondasi Pendidikan dan Keahlian Teknis

Pendidikan formal dan kompetensi teknis menjadi fondasi penting:

  • Mas Fajrin menempuh Teknik Informatika ITB, memberi bekal analitis dan problem solving.
  • Fondasi ini memudahkan adaptasi di startup maupun korporasi.
  • Pendidikan bukan hanya gelar, tetapi bekal untuk keputusan tepat dan inovatif.

Untuk SDM PT CDC, ini menekankan pentingnya: pengembangan kompetensi teknis dan continuous learning sebagai bagian dari budaya perusahaan.

10: Prinsip Empowering SDM

Dari perjalanan Mas Fajrin, prinsip pemberdayaan SDM yang dapat diterapkan di PT CDC meliputi:

  1. Visi Besar dan Tujuan Jelas: Motivasi intrinsik muncul dari arah yang jelas.
  2. Fokus pada Dampak Sosial: Kerja bermakna meningkatkan motivasi.
  3. Ketahanan Mental dan Pantang Menyerah: Karyawan mampu bertahan dalam tantangan.
  4. Mengenal Diri Sendiri: Belajar efektif berdasarkan kekuatan dan kelemahan.
  5. Belajar dari Pengalaman dan Lingkungan: Learn by doing dan diskusi aktif.
  6. Adaptasi Gaya Komunikasi: Kolaborasi efektif di era digital.
  7. Kesabaran dan Proses Bertahap: Fokus pada kualitas dan pertumbuhan berkelanjutan.
  8. Menjemput Peluang: Siap bertindak ketika kesempatan muncul.
  9. Continuous Improvement: Budaya inovasi dan pengembangan diri.

Dengan prinsip ini, SDM PT CDC tidak hanya produktif, tetapi juga empowered, siap menghadapi tantangan, berinovasi, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

 


 

Comments

Popular Posts