Neurosains, Otak, dan Perilaku Manusia

Podcast Suara Berkelas bersama Associate Professor Dr. Rizki Edm Edison, Ph.D.

Tema: Neurosains, Otak, dan Perilaku Manusia


Pembukaan

“Saya tidak mau menghabiskan hidup saya untuk mengerjakan sesuatu yang bukan hal yang paling saya sukai,” begitu kalimat yang diucapkan oleh Associate Professor Dr. Rizki Edm Edison, Ph.D., seorang pakar neuroscience yang kini dikenal luas karena karyanya dalam bidang cognitive neuroscience dan penerapannya di dunia nyata.

Baginya, passion sejatinya ada pada ilmu tentang otak dan perilaku manusia—bukan hanya memahami struktur biologisnya, tapi juga bagaimana cara manusia berpikir dan bereaksi terhadap lingkungannya. Ia ingin memahami otak bukan lewat kuesioner atau wawancara, melainkan melalui observasi langsung terhadap aktivitas otak itu sendiri.

“Setiap hari, otak kita disuguhi konten-konten yang tidak bermakna,” ujarnya. “Bagaimana bisa kita menyamakan orang yang setiap hari mengonsumsi konten tidak bergizi itu dengan mereka yang mengisi pikirannya dengan informasi yang bermanfaat? Ini sederhana, tapi di situlah masalah besar tentang ‘brain road’ bermula.”

Menurutnya, banyak orang kini kehilangan kemampuan untuk “mengendalikan rem” dalam pikirannya—sebuah fungsi vital yang diatur oleh bagian depan otak. Ia menjelaskan, “Kalau dilihat dari struktur otak manusia, hippocampus ada di sisi kanan dan kiri bagian dalam otak. Tepat di depannya ada amygdala, pusat emosi manusia. Sementara hippocampus itu pusat memori. Jadi secara sederhana, emosi dan memori itu berdampingan.”
Dan rasa ingin tahu—curiosity—muncul ketika seseorang memiliki tujuan. Tanpa arah hidup, otak sulit terpicu untuk ingin tahu lebih dalam.


Perkenalan dan Latar Belakang

Podcast Suara Berkelas hari itu menghadirkan sosok luar biasa: Associate Professor Dr. Rizki Edm Edison, pakar neuroscience dari Institute for Leadership Innovation and University Brunei Darussalam, sekaligus bagian dari Neuroscience Center Universitas Prima Indonesia.

“Selamat datang, Dokter Edison,” sambut Bilal, sang pembawa acara.

“Terima kasih banyak sudah diundang,” jawabnya dengan senyum.

Ketika diminta menggambarkan dirinya dalam dua menit, Edison tertawa. “Saya ini orangnya agak gabutan,” ujarnya jujur. “Saya senang belajar hal baru, tapi cepat bosan. Dalam dua-tiga tahun, saya biasanya ingin mencoba sesuatu yang baru lagi. Tapi saya senang berbagi—dan di situlah saya merasa diri saya berharga.”


Perjalanan Hidup dan Titik Balik

Edison kemudian bercerita tentang perjalanan akademiknya. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (UNAND) tahun 2003, lulus sebagai sarjana kedokteran tahun 2008, dan menyelesaikan masa koas hingga resmi menjadi dokter pada Februari 2010.
Tak lama kemudian, ia melanjutkan pendidikan doktoral di bidang bedah saraf di Department of Neurosurgery, Gifu Medical University, Jepang.

Di sanalah titik balik kehidupannya bermula.

“Setiap hari Selasa, kami para staf berkumpul untuk makan siang sambil mendengarkan presentasi dari medical representatives dan tim Center for Advanced Medical Imaging. Suatu hari di tahun 2010, mereka membawakan presentasi tentang neuromarketing. Saya langsung tertarik—karena saya memang suka tentang otak manusia dan perilaku.”

Sejak kuliah di kedokteran, dua mata kuliah yang paling disukainya adalah neurologi dan psikiatri. Ia pun mengaku sangat menikmati dunia bedah saraf, melakukan ratusan operasi selama studi di Jepang. Namun, pertemuan dengan konsep neuromarketing membuatnya sadar bahwa ada bidang yang lebih sesuai dengan jiwanya: ilmu yang memadukan neurosains dan perilaku sosial manusia.

“Saat itu saya merasa seperti ikan yang bertemu air,” ujarnya.

Edison sebenarnya sempat ingin masuk jurusan Hubungan Internasional (HI) saat SMA, karena ia menyukai bidang sosial. Namun nasib membawanya ke kedokteran. Ketika akhirnya menemukan keterkaitan antara neurosains dan ilmu sosial, ia tahu bahwa inilah panggilan hidupnya.


Keputusan Besar: Meninggalkan Dunia Klinis

Setelah menyelesaikan Ph.D.-nya tahun 2015, Edison kembali ke Indonesia. Meski sudah berpengalaman di ruang operasi, ia membuat keputusan besar: meninggalkan dunia klinis.

“Saya tidak bilang saya tidak suka bedah saraf,” katanya, “tapi saya tidak mau menghabiskan hidup untuk hal yang bukan paling saya sukai.”

Ia pun mulai mengembangkan bidang baru di Indonesia—cognitive neuroscience terapan. Bersama tim CCLABS di Tangerang, ia meneliti dan mengembangkan instrumen pencitraan otak. Ia juga sempat menjadi Kepala Pusat Neurosains di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), mengembangkan riset-riset seperti neuroleadership dan neuromarketing. Kini, ia aktif di University Brunei Darussalam dan Universitas Prima Indonesia di Medan.

“Alasannya sederhana,” ucapnya. “Saya ingin mengerjakan hal yang paling saya sukai.”


Apa Itu Neuromarketing?

Mendengar istilah neuromarketing, Bilal tampak antusias. “Ada kata ‘neuro’ dan ‘marketing’ di situ. Menarik sekali! Kenapa dua bidang ini bisa menikah?”

Edison menjelaskan, di dunia marketing memang sudah lama dikenal studi tentang perilaku konsumen (consumer behavior). Namun neuromarketing membawa pendekatan baru, terutama pada metodologi riset.

“Selama ini, untuk mengetahui perilaku konsumen kita menggunakan wawancara, kuesioner, atau diskusi kelompok. Metode itu tidak salah, tapi punya kelemahan besar: bias.”

Ia memberi contoh:
“Andaikan dosen membuat kue dan menawarkannya pada mahasiswa. Ketika ditanya ‘enak tidak?’ — hampir pasti 99% akan menjawab enak, walau sebenarnya tidak. Karena ada faktor subjektif: sungkan, ingin sopan, takut menyinggung. Nah, di sinilah kita belajar: mulut manusia bisa berbohong, tapi otak belum tentu.”

Neuromarketing mengubah pendekatan itu. Alih-alih percaya pada ucapan, riset ini melihat apa yang benar-benar terjadi di otak manusia. Caranya? Dengan instrumen pencitraan otak seperti:

  • EEG (Electroencephalography)

  • fNIRS (Functional Near-Infrared Spectroscopy)

  • atau alat pelacak pandangan mata seperti Eye Tracker.

“Misalnya saat orang menonton podcast,” jelasnya. “Kita tidak tahu mata mereka fokus ke wajah siapa, atau bahkan tidak melihat sama sekali. Dengan eye tracker, kita bisa tahu secara real-time ke mana arah perhatian mereka.”

Hasilnya, kita memperoleh data objektif dan nyata tentang perilaku manusia—tanpa kebohongan, tanpa interpretasi subyektif.


Aplikasi Nyata dalam Dunia Bisnis

Bilal lalu bertanya, apakah neuromarketing sudah diterapkan di dunia nyata?

Edison menjawab, sudah ada beberapa penelitian menarik. Salah satunya dilakukan oleh koleganya, Pak Deni, dosen di Jakarta yang menempuh studi S3 di Sekolah Bisnis IPB, di mana Edison menjadi ko-promotor disertasinya.

Penelitian itu membandingkan atensi visual penonton terhadap dua jenis iklan:

  1. Iklan dengan aktor manusia nyata.

  2. Iklan dengan aktor digital hasil kreasi AI (Artificial Intelligence).

“Dan hasilnya mengejutkan,” ujar Edison.
“Tingkat atensi visual penonton ternyata sama persis. Tidak ada perbedaan signifikan antara aktor manusia dan aktor AI.”

Implikasinya besar: biaya produksi iklan bisa ditekan jauh lebih rendah, karena tidak perlu lagi membayar bintang iklan mahal—selama dampaknya ke perhatian audiens tetap sama.
“Tentu nanti ada perdebatan etik dan industri di sana,” tambahnya, “tapi ini menunjukkan potensi besar dari neuromarketing di masa depan.”


(Transkrip berhenti di menit 12:45, bagian selanjutnya bisa saya lanjutkan bila kamu ingin seluruh episode ditulis ulang lengkap.)


Podcast Suara Berkelas

Topik: Neurosains, Otak, dan Perilaku Manusia
Tamu: Associate Professor Dr. Rizki Edmy Edison, Ph.D


Pembawa Acara (Bilal):
Halo semuanya! Selamat datang kembali di Podcast Suara Berkelas. Hari ini kita kedatangan tamu luar biasa, seorang pakar di bidang neuroscience — Associate Professor Dr. Rizki Edmy Edison, Ph.D. Beliau berasal dari Institute for Leadership Innovation di Universiti Brunei Darussalam dan juga menjabat di Pusat Neurosains Universitas Prima Indonesia. Selamat datang, Dokter!

Dr. Edmy Edison:
Terima kasih banyak, Bang Bilal. Suatu kehormatan bisa hadir di sini.

Bilal:
Wah, ini pertama kalinya aku mengundang seseorang yang benar-benar ahli di bidang neurosains. Pasti seru banget karena kita akan belajar memahami diri sendiri dari sudut pandang otak. Sebagai pembuka, kalau dokter diminta memperkenalkan diri hanya dalam dua menit — bagaimana dokter menggambarkan siapa diri dokter dan misi hidup dokter?

Dr. Edmy:
Kalau saya harus menggambarkan diri sendiri, saya mungkin akan bilang: saya orangnya agak gabutan — dalam arti, saya sulit konsisten hanya di satu hal untuk waktu yang sangat lama. Saya senang mempelajari hal baru, tapi juga cepat bosan. Biasanya setiap dua atau tiga tahun saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Namun ada satu hal yang tetap: saya merasa hidup saya berharga ketika bisa berbagi. Di situ saya merasa punya nilai (value).

Bilal:
Lalu kenapa akhirnya memutuskan untuk menekuni dunia neuroscience?

Dr. Edmy:
Kalau ditelusuri, latar belakang akademik saya sebenarnya adalah kedokteran. Saya kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada tahun 2003. Lulus sarjana tahun 2008, lalu menjalani masa koas dan internship sampai 2010, dan resmi menjadi dokter pada Februari 2010.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya April 2010, saya melanjutkan pendidikan doktoral di bidang bedah saraf di Departemen Bedah Saraf, Jichi Medical University, Jepang. Setiap hari Selasa di departemen kami ada tradisi makan siang bersama staf dan mahasiswa. Biasanya disertai presentasi dari pihak medical representative atau dari Center for Advanced Medical Imaging.

Nah, satu kali, sekitar tahun 2010 sebelum libur musim panas, mereka mempresentasikan topik tentang neuromarketing. Saya langsung tertarik. Sejak awal saya memang suka hal-hal yang berhubungan dengan otak dan manusia. Bahkan saat kuliah kedokteran, dari sekian banyak mata kuliah, yang paling saya sukai cuma dua: neurologi dan psikiatri.

Waktu menjalani internship, saya pertama kali mengenal istilah bedah saraf dan merasa bidang itu keren sekali. Maka saya lanjut doktoral di sana, dan saya jujur saja, saya menyukai dunia operasi. Tapi ketika saya mendengar tentang neuromarketing — bagaimana ilmu tentang otak dan perilaku bisa diterapkan di dunia pemasaran — saya merasa seperti “ikan yang bertemu air”.

Sebelum masuk kedokteran, cita-cita saya sebenarnya ingin kuliah di Hubungan Internasional. Saya sudah ikut tryout dan nilainya lolos, tapi takdir membawa saya ke dunia medis. Jadi ketika menemukan bahwa neuroscience bisa dikaitkan dengan ilmu sosial seperti marketing dan leadership, rasanya seperti dua dunia saya bertemu.

Saya menyelesaikan Ph.D pada tahun 2015. Meskipun sudah terlibat dalam ratusan operasi di Jepang, begitu pulang ke Indonesia saya memutuskan meninggalkan dunia klinis. Ada satu prinsip yang saya pegang:

“I don’t want to spend my whole life doing something that I’m not passionate most.”
Saya tidak bilang saya tidak suka bedah saraf, tapi saya tidak mau menghabiskan hidup di bidang yang bukan paling saya cintai. Dan ternyata yang paling saya sukai adalah cognitive neuroscience — memahami bagaimana cara berpikir manusia dan bagaimana otak bekerja dalam konteks perilaku.

Saya juga lebih suka ranah terapan (applied neuroscience), bukan yang murni teoretis. Jadi sejak 2015, saya fokus mengembangkan berbagai hal baru, termasuk instrumen pencitraan otak bersama tim dari CCLabs di Tangerang, kemudian diangkat sebagai Kepala Pusat Neurosains di UHAMKA untuk mengembangkan bidang neuroleadership dan neuromarketing. Sekarang saya melanjutkan karier di Brunei dan juga di Medan.

Bilal:
Wah, menarik banget! Aku langsung tertarik ketika dengar istilah neuromarketing. Jujur, aku sendiri belum pernah mempelajarinya. Ada kata “neuro” dan “marketing” — bagaimana dua hal yang kelihatannya berbeda itu bisa menikah?

Dr. Edmy:
Pertanyaan bagus. Dalam dunia marketing sebenarnya sudah lama ada cabang ilmu bernama consumer behavior, yaitu studi tentang perilaku konsumen. Tapi neuromarketing menawarkan pendekatan yang berbeda.

Perbedaannya terletak pada metodologi. Studi perilaku konsumen biasanya menggunakan metode konvensional seperti wawancara, kuesioner, atau focus group discussion. Itu tidak salah, tapi ada potensi bias yang tinggi. Misalnya, kalau seorang dosen membuat kue dan menawarkannya pada mahasiswa, lalu bertanya “enak tidak kuenya?”, 99% mahasiswa akan menjawab “enak”, walau sebenarnya tidak. Karena ada faktor sosial dan perasaan tidak enak hati.

Nah, di situlah neuromarketing masuk. Prinsipnya sederhana:

“Mulut bisa berbohong, tapi otak belum tentu.”

Jadi, daripada hanya percaya pada ucapan manusia, kita langsung melihat apa yang terjadi di otaknya. Untuk itu digunakan instrumen pencitraan otak seperti EEG (electroencephalography) atau fNIRS (functional near-infrared spectroscopy).

Misalnya saat seseorang menonton sebuah iklan, kita bisa melihat bagian otak mana yang aktif — apakah bagian emosi, perhatian, atau memori. Selain itu ada juga teknologi eye-tracker, alat untuk mengetahui ke mana arah pandangan seseorang secara real-time. Dengan itu, kita bisa tahu apakah penonton melihat wajah aktor, logo merek, atau justru tidak fokus sama sekali.

Teknologi ini sangat berguna di dunia iklan dan branding, karena memberi data objektif tentang atensi visual konsumen — sesuatu yang tidak bisa diukur hanya dengan wawancara.

Bilal:
Jadi kalau aku sedang jalan di mall dan melihat sebuah papan iklan yang menarik perhatianku, itu berarti sudah termasuk fenomena yang dipelajari dalam neuromarketing?

Dr. Edmy:
Betul sekali. Bahkan sekarang eye-tracker banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar untuk menilai desain iklan. Ada versi eye-tracker yang dipasang di laptop, ada juga yang berupa perangkat yang dikenakan di kepala, sehingga kita bisa tahu arah pandangan seseorang saat bergerak.

Bilal:
Apakah sudah ada penelitian nyata di Indonesia yang menggunakan pendekatan ini?

Dr. Edmy:
Ada. Salah satunya dilakukan oleh seorang kolega saya, Pak Deni, yang sedang menempuh S3 di Sekolah Bisnis IPB. Kebetulan saya menjadi ko-promotor dalam penelitiannya. Ia meneliti bagaimana perbedaan perhatian visual penonton antara iklan yang menggunakan aktor manusia nyata dan iklan yang menggunakan aktor buatan AI.

Hasilnya mengejutkan: tingkat atensi visual penonton ternyata sama.
Artinya, baik aktor nyata maupun aktor AI menghasilkan keterlibatan otak yang setara. Implikasi ekonominya besar — karena biaya produksi iklan dengan aktor manusia nyata jauh lebih mahal. Jadi, kalau dampaknya sama, kenapa tidak menggunakan AI saja?

Tentu masih ada isu etika dan preferensi industri, tapi secara ilmiah, hasilnya membuka mata banyak pihak di dunia marketing.

Bilal:
Menarik sekali, Dok. Jadi masyarakat itu memang harus bergerak bersama-sama. Tapi sekarang masih banyak orang yang beranggapan bahwa sekolah tidak terlalu penting. Terlepas dari pendidikan perilaku atau ilmu-ilmu lain seperti yang dokter jelaskan tadi, menurut dokter sendiri — seberapa penting sebenarnya sekolah dalam membentuk cara pikir manusia dan otak manusia? Dan apakah sekolah di masa sekarang ini masih relevan, mengingat akses informasi sudah luar biasa luas — dari podcast, bootcamp, sampai pelatihan daring?

Dr. Edmy:
Pertanyaannya sangat bagus, tapi juga sangat kompleks. Jawabannya tidak bisa sesederhana “ya” atau “tidak”.

Menurut saya, justru di era sekarang pendidikan nonformal seperti podcast-podcast semacam ini sangat krusial. Karena kita seringkali mendapatkan pengetahuan yang lebih aplikatif dan langsung dari diskusi semacam ini.

Tapi ketika kita bicara soal relevansi sekolah, pertanyaannya bukan lagi “apakah sekolah masih relevan?”, melainkan “apa yang sebenarnya dilakukan oleh lembaga pendidikan di sekolah atau kampus itu sendiri?”

Saya sebagai dosen sering melakukan eksperimen kecil di kelas. Setiap kali pertemuan pertama, saya selalu membuka dengan pertanyaan template yang sama:

“Menurut kamu, neuroscience itu apa?”

Biasanya mahasiswa pertama langsung menjawab, “Tidak tahu, Dok.”
Saya lanjutkan ke mahasiswa berikutnya — diam juga. Entah karena memang tidak tahu, atau karena takut salah.

Lalu saya tanya mahasiswa ketiga, dan biasanya ada satu orang yang berani menjawab, “Menurut saya, neuroscience itu ilmu tentang otak dan saraf manusia, Dok.”
Saya selalu bilang, “Bagus! Soal benar atau salah, itu nanti. Tapi berani dulu, itu penting.”

Ketika saya tanya mahasiswa keempat, biasanya jawabannya, “Sama seperti dia, Dok.” — entah apanya yang sama, saya juga tidak tahu, tapi lucu saja karena mereka spontan meniru.

Saya lalu sampaikan kepada seluruh kelas:

“Kalian semua mahasiswa, bukan orang bodoh. Kalian sudah melalui SD, SMP, SMA, lalu masuk perguruan tinggi. Artinya kalian sudah teruji. Tapi kenapa kalian diam? Karena sistem pendidikan kita membuat kalian takut salah.”

Selama ini, sistem kita membentuk mindset bahwa ketika guru bertanya, murid harus memberikan jawaban yang benar.
Dan “benar” itu artinya sesuai dengan buku teks atau ucapan dosen.

Padahal pertanyaan saya bukan “menurut buku”, tapi “menurut kamu”.
Di sinilah persoalannya.

Ilmu pengetahuan itu tidak pernah absolut. Ia selalu berkembang.
Dulu orang percaya bumi itu datar — sekarang kita tahu bumi bulat.
Dulu orang percaya otak manusia berhenti berkembang di usia 20-an — sekarang kita tahu otak bisa terus bertumbuh hingga akhir hayat.

Jadi yang perlu ditanamkan di kampus adalah keberanian untuk beropini dan berpikir mandiri, bukan sekadar menghafal kebenaran versi teks.
Tentu saja bukan asal bicara, tapi opini yang bertanggung jawab.

Masalahnya, sistem pendidikan kita sangat bergantung pada KPI (Key Performance Indicator).
Nilai mahasiswa rendah bisa menurunkan nilai akreditasi kampus. Mahasiswa lulus terlambat juga bisa berpengaruh buruk pada penilaian lembaga.
Akibatnya, dosen terbebani luar biasa: harus mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat, tapi dengan gaji dan waktu yang terbatas.

Maka yang terjadi, banyak dosen berpikir pragmatis:

“Yang penting mahasiswa lulus saja.”
Kalau nilainya jelek, ya diberi tugas tambahan supaya bisa naik.

Inilah yang membuat orang kemudian bertanya:

“Jadi gunanya kuliah apa?”

Kita berharap mahasiswa bisa berpikir kritis, tapi pada akhirnya yang dikejar tetap nilai A di kertas.

Saya masih ingat tahun 2003, ketika saya kuliah S1. Waktu itu IP di atas 3 itu langka sekali. Rata-rata mahasiswa IP-nya 2 koma sekian. Saya sendiri dulu IP pertama saya cuma 1,9.
Sekarang malah sebaliknya: hampir semua mahasiswa IP-nya tinggi, bahkan banyak yang cum laude.

Jadi sekarang muncul pertanyaan baru: apakah generasi sekarang jauh lebih pintar, ataukah ada degradasi standar penilaian akademik?
Kalau semua orang punya IP 3,9, lalu apa yang membuat seseorang menonjol? Tidak ada lagi yang istimewa.

Maka wajar orang mulai meragukan relevansi sekolah.
Karena output-nya tidak lagi mencerminkan kualitas berpikir, tapi sekadar angka di atas kertas.

Padahal tujuan pendidikan itu bukan mencetak pekerja, tapi membentuk karakter.
Filosofi pendidikan nasional kita pun tidak pernah dimaksudkan untuk “mencari kerja”, melainkan “mencerdaskan kehidupan bangsa” — agar manusia berani berpikir, berdialog, dan berargumen dengan sehat.

Sayangnya, kemampuan-kemampuan seperti itu makin jarang muncul di kampus.
Di satu sisi, memang benar bahwa informasi nonformal lewat podcast, YouTube, atau platform daring jauh lebih cepat dan aktual dibanding buku teks universitas.
Tapi fungsi sekolah bukan hanya memberi informasi — fungsi utamanya adalah membentuk karakter dan cara berpikir.

Dan itulah yang kini mulai hilang dari sistem pendidikan kita.
Karakter tidak bisa diukur dengan angka, karena sifatnya tak kasat mata (intangible).
Tapi justru itu yang paling penting.


Bilal:
Wah, saya jadi flashback ke masa kuliah dulu. Saya juga bukan mahasiswa berprestasi. Bahkan sering ranking paling bawah di kelas! IP saya waktu itu juga di bawah tiga. Dan itu sempat bikin saya merasa rendah diri secara akademis.

Tapi yang menolong saya justru keinginan untuk terus belajar di luar kampus — mengasah skill, ikut kegiatan, eksplor hal-hal baru. Nah, menurut dokter, apakah hal seperti ini penting bagi mahasiswa atau anak muda sekarang?

Dr. Edmy:
Sangat penting, Bang. Justru rasa ingin tahu (curiosity) seperti itu seharusnya tumbuh dari sekolah atau kampus.

Sayangnya, sekarang saya sering menemui mahasiswa yang IPK-nya tinggi tapi tidak tahu apa passion atau rasa ingin tahunya. Mereka hanya fokus pada nilai.
Padahal dunia kerja saat ini menuntut jauh lebih banyak dari sekadar nilai akademik.

Skill-skill praktis seperti kemampuan komunikasi, problem solving, kolaborasi, hingga adaptasi — semua itu tidak diajarkan secara eksplisit di kurikulum formal. Jadi mahasiswa harus mencari sendiri.

Sekarang, hampir semua orang sudah punya gelar S1 atau bahkan S2. Jadi yang membedakan seseorang bukan lagi ijazah, tapi dua hal:

Skill dan portofolio.

Dan dua hal itu hanya bisa muncul kalau seseorang punya curiosity dan tujuan yang jelas.

Kalau seseorang sudah tahu tujuannya, misalnya ingin menjadi diplomat, maka ia akan otomatis terdorong untuk mempelajari skill yang relevan — seperti menulis email profesional, berkomunikasi formal, atau berbicara dengan sopan dalam berbagai konteks.

Sayangnya, skill komunikasi ini jarang diajarkan secara langsung kecuali di jurusan komunikasi.
Padahal di dunia kerja, komunikasi yang buruk sering jadi sumber konflik, kesalahpahaman, bahkan lingkungan kerja yang toksik.

Kemampuan berdialog, menyampaikan ide dengan tenang, dan memahami bahasa nonverbal — semua itu bagian dari komunikasi yang sehat.

Dan ngomong-ngomong soal otak dan komunikasi, saya ingin luruskan satu hal yang sering disalahpahami orang:

Banyak yang bilang seseorang itu “dominannya otak kanan” atau “otak kiri”. Katanya, yang kanan lebih kreatif, yang kiri lebih logis.
Itu hoaks.

Dalam dunia bedah saraf, dominansi kanan atau kiri tidak ada hubungannya dengan kreativitas atau logika. Itu berkaitan dengan pusat bahasa di otak.

Dalam praktik operasi otak, kami harus tahu letak pusat bahasa seseorang sebelum mengoperasi bagian depan otaknya. Untuk mengetahuinya, kami menggunakan prosedur medis bernama Wada test melalui angiografi.

Hasilnya, berdasarkan konsensus ilmiah, orang-orang non-kidal (yang menggunakan tangan kanan) hampir semuanya memiliki pusat bahasa di otak kiri.
Sedangkan pada orang kidal, pusat bahasanya bisa di kanan, kiri, atau bahkan tersebar di kedua sisi.


Kira-kira 30% orang kidal memiliki pusat bahasa di otak sebelah kanan. Karena itu, jika ada pasien dengan tumor di bagian depan otak kiri, kami sebagai dokter bedah saraf harus sangat berhati-hati — jangan sampai tumor berhasil diangkat, tetapi pasien kehilangan kemampuan berbicara.

Nah, berbicara tentang pusat bahasa ini, penting untuk dipahami bahwa komunikasi tidak hanya soal kata-kata yang diucapkan secara verbal, melainkan juga tentang bahasa nonverbal. Bahasa nonverbal bukan soal apa yang kita katakan, melainkan bagaimana kita mengatakannya — intonasi suara, ekspresi wajah, hingga gestur tubuh.

Dalam interaksi sehari-hari, justru bahasa nonverbal memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada kata-kata itu sendiri. Misalnya, ketika seorang laki-laki bertanya pada pacarnya, “Sayang, mau makan apa?” dan si pacar menjawab dengan nada datar, “Terserah,” — kata “terserah” di sini sama secara verbal dengan ketika teman laki-laki menjawab “terserah,” tapi nuansanya sangat berbeda. Yang satu menegangkan, yang satu santai. Itulah kekuatan bahasa nonverbal.

Begitu juga ketika seseorang berkata, “Aku enggak apa-apa,” padahal nada suaranya, ekspresinya, dan gesturnya menunjukkan sebaliknya. Kita tahu, sebenarnya ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja. Bahasa nonverbal bisa menegaskan, atau bahkan membatalkan makna dari kata-kata verbal.

Sayangnya, kemampuan memahami dan menggunakan bahasa nonverbal jarang diajarkan di sekolah. Kita lebih sering diajarkan struktur kalimat, majas, dan bahasa tulis — tapi tidak dilatih membaca emosi dan konteks di balik kata-kata.

Komunikasi bukan sekadar bicara atau menulis. Cara berpakaian, cara berjalan, nada bicara, bahkan cara menulis pesan di WhatsApp atau email — semuanya adalah bagian dari komunikasi nonverbal. Kemampuan semacam ini adalah soft skill penting yang seharusnya dilatih di sekolah dan perguruan tinggi, bukan hanya didapat dari pengalaman pahit di dunia kerja.

Saya selalu bilang: kampus adalah tempat terbaik untuk berbuat salah. Di situlah mahasiswa seharusnya belajar, bereksperimen, dan memperbaiki diri. Jangan tunggu sampai salah di dunia nyata, karena risikonya bisa jauh lebih besar.


Tadi Bang Bilal juga menyinggung soal perbedaan otak manusia zaman dulu dan zaman sekarang. Apakah otak kita benar-benar berubah? Jawabannya: ya, berbeda.

Ada penelitian dari seorang ilmuwan Selandia Baru bernama James Flynn, yang kemudian dikenal dengan istilah Flynn Effect. Penelitian ini menunjukkan bahwa skor IQ manusia meningkat rata-rata 3 poin setiap dekade. Artinya, generasi sekarang secara umum lebih cerdas dibandingkan generasi sebelumnya.

Namun, peningkatan ini bukan karena kita “lahir lebih pintar,” melainkan karena lingkungan hidup kita berubah. Faktor-faktor seperti gizi ibu hamil, kualitas pendidikan, akses terhadap informasi, serta stimulasi dari lingkungan sosial — semuanya membentuk otak dan kecerdasan manusia. Inilah yang disebut dengan neuroplastisitas, kemampuan otak untuk terus berkembang dan beradaptasi sepanjang hidup.

Gizi sekarang lebih baik, metode pendidikan lebih modern, informasi lebih cepat — wajar bila kecerdasan manusia ikut meningkat. Tapi di sisi lain, muncul fenomena baru yang disebut “brain rot”.

Brain rot terjadi ketika otak terlalu sering disuguhi informasi yang dangkal dan tidak bermakna — seperti konten hiburan tanpa nilai, gosip, atau scroll media sosial tanpa arah. Otak yang setiap hari diberi “asupan sampah” tentu akan berbeda dengan otak yang terstimulasi oleh informasi berkualitas.

Ibarat tubuh, kalau setiap hari makan junk food, lama-lama jadi lemas. Begitu juga dengan otak — kalau setiap hari “makan” konten kosong, lama-lama kemampuan berpikir kritis dan fokusnya menurun.

Jadi, otak manusia zaman sekarang memang lebih berkembang, tetapi arah perkembangan itu sangat tergantung pada “makanan” mental yang kita konsumsi setiap hari. Jika kita terus memberi asupan yang bergizi — seperti membaca buku, mendengarkan diskusi berkualitas, dan melatih fokus — otak akan tumbuh sehat. Tapi jika sebaliknya, ya… jadilah generasi dengan brain rot.

Media sosial sekarang makin lama makin pendek durasinya — he-he — dari yang dulu orang bisa betah menonton video satu jam, sekarang fokusnya sudah berubah drastis. Bahkan ada istilah yang disebut Pomodoro Technique, sebuah metode belajar yang menekankan pentingnya istirahat setiap 20 menit.

Jadi idealnya, manusia hanya bisa fokus penuh sekitar dua puluh menit sebelum perlu jeda. Karena itu, kita tidak heran jika dalam sebuah seminar yang berlangsung dari pagi sampai sore, suasananya berubah seiring waktu. Satu jam pertama peserta masih tenang dan fokus, jam kedua mulai terdengar bisik-bisik, jam ketiga suasananya seperti pasar, dan di jam keempat, pembicara dan peserta sama-sama berbicara sendiri.

Fenomena ini terjadi karena rentang perhatian manusia (attention span) memang semakin pendek. Tantangan bagi para pendidik atau pembicara sekarang adalah bagaimana menyampaikan hal yang bermakna dalam waktu yang singkat — karena itulah cara kerja otak manusia modern.

Kalau orang bisa betah menonton konten yang tidak bermanfaat dalam 30 detik, seharusnya mereka juga bisa tertarik dengan konten yang bermanfaat dalam durasi yang sama. Jadi tantangan kita bukan hanya apa yang disampaikan, tapi bagaimana menyampaikan sesuatu yang bernilai dalam waktu yang sangat terbatas.

Itulah sebabnya format konten di media sosial kini makin pendek: video pendek, reels, dan potongan tiga detik pertama yang sangat menentukan apakah seseorang akan menonton sampai habis atau langsung menggulir ke bawah. Dulu, untuk mengganti channel TV saja kita malas mencari remote yang hilang di bawah sofa, tapi sekarang cukup satu gerakan jempol — konten berikutnya langsung muncul. Semudah itu perhatian manusia berpindah.


Lalu, Bang Bilal menyinggung soal istilah neuroplastisitas, kemampuan otak untuk beradaptasi dan berubah sesuai pengalaman serta lingkungan. Ia bertanya, “Kalau begitu, apakah Bilal yang tiga tahun lalu dan Bilal yang sekarang itu otaknya benar-benar berubah? Atau cuma mindset-nya saja yang berbeda?”

Jawabannya menarik. Saat kita berbicara tentang otak manusia, ada dua hal penting yang perlu dibedakan: anatomi (struktur fisik) dan fisiologi (fungsi). Dua aspek ini saling berkaitan erat. Struktur otak memengaruhi perilaku dan kebiasaan, sementara perilaku dan kebiasaan justru bisa mengubah kembali struktur serta fungsi otak.

Jadi, perubahan karakter seseorang bukan hanya karena “perubahan mindset” yang sifatnya abstrak, tapi benar-benar karena terjadi perubahan biologis di dalam otaknya — bagaimana ia merespons rangsangan, membentuk kebiasaan baru, dan memutuskan kebiasaan lama.

Namun faktor terbesar yang menentukan perubahan itu bukan semata-mata otaknya, melainkan lingkungan. Lingkungan bukan hanya alam sekitar, tapi juga lingkungan sosial dan pergaulan.

Makanya, ketika keluarga muda mencari rumah, seharusnya yang pertama diperhatikan bukan harga rumahnya, tapi bagaimana lingkungan sosialnya. Begitu juga saat memilih sekolah untuk anak, yang perlu dilihat bukan hanya SPP-nya murah atau mahal, tapi bagaimana karakter orang-orang di sana. Karena lingkunganlah yang membentuk perilaku manusia.

Seperti yang sudah disebut di awal: benar atau salah, baik atau buruk — semuanya sangat ditentukan oleh norma sosial. Kalau kita hidup di lingkungan yang terbiasa datang tepat waktu, kita akan merasa malu kalau datang terlambat. Kalau kita tinggal di masyarakat yang terbiasa menjaga kebersihan, kita akan enggan membuang sampah sembarangan. Akhirnya, perubahan perilaku pun terjadi karena pengaruh lingkungan.

Maka tantangan terbesar kita bukan “bagaimana mengubah otak,” tapi bagaimana memilih lingkungan yang akan membentuk kita menjadi lebih baik.


Lalu muncul pertanyaan terakhir dari Bang Bilal:
“Bagaimana dengan orang-orang yang sudah ‘meracuni’ otaknya dengan konten-konten receh di media sosial? Apa tanda-tandanya dan apa efeknya?”

Jawabannya sederhana tapi dalam.
Biasanya, orang menonton konten tidak bermanfaat karena bosan atau tidak punya tujuan. Tapi begitu seseorang punya target, punya impian, dan tahu apa yang ingin dicapai, ia otomatis akan mulai meninggalkan hal-hal yang tidak berguna. Ia akan mencari informasi yang relevan dan memperkaya dirinya.

Ingat, dunia media sosial dikendalikan oleh algoritma. Kalau kita terbiasa menonton hal-hal yang tidak berfaedah, maka algoritma akan terus menampilkan hal serupa. Tapi kalau kita mulai memilih konten yang bermanfaat, algoritma pun akan berubah menyesuaikan diri.

Masalahnya, bagaimana kalau kita sedang tidak punya tujuan? Misalnya sedang menganggur, bingung mau ngapain, atau kehilangan arah. Di fase seperti itu, saran terbaik adalah fokus pada diri sendiri dulu.

Jadikan diri sendiri sebagai tujuan.
Bukan pasangan, bukan pekerjaan, bukan dunia luar. Fokuslah untuk menjadi lebih sehat, lebih cerdas, lebih beriman, lebih kuat secara mental.

Perbaiki pola hidup, perbanyak ibadah, olahraga, baca buku. Ketika kita fokus memperbaiki diri, otak dan perilaku kita akan ikut berubah. Secara perlahan, kita akan mulai menolak konten yang tidak berguna — bukan karena dipaksa, tapi karena otak kita sudah “kenyang” dengan hal-hal bernilai.

Algoritma media sosial menghitung berapa detik kita bertahan pada suatu video. Kalau kita menonton konten bermanfaat sampai habis, sistem akan terus menampilkan konten serupa. Tapi kalau kita cepat menggulir hal yang tidak berfaedah, algoritma juga akan menyingkirkannya. Dengan kata lain, kita sendirilah yang melatih otak dan algoritma untuk bekerja selaras dengan tujuan hidup kita.

Tentu saja setiap orang boleh mengklaim dirinya ahli — self-claim itu sah-sah saja. Tapi pada akhirnya, yang akan membuktikan adalah hasil riset dan kontribusinya di lapangan. Apakah selama ini ia benar-benar memberikan sumbangsih nyata di bidang neurosains? Sebab kalau hanya bermodal membaca dari Google, semua orang bisa melakukannya. Namun, rekam jejak dan latar belakang seseorang akan selalu berbicara pada akhirnya.

Berbicara soal neurosains, pertanyaannya: apakah pelajar bisa mempelajari perilaku manusia? Jawabannya: sangat bisa — bahkan sangat penting untuk dilakukan agar mereka tidak terjebak dalam pseudoscience atau ilmu semu, seperti mitos otak kiri dan otak kanan.

Bilal kemudian menimpali bahwa kadang orang-orang yang berkecimpung di dunia neurosains itu bahasanya berat, sehingga sulit dipahami. Ia merasa mungkin para psikolog bisa menjadi jembatan agar topik seperti ini lebih mudah dimengerti.

Dr. Edmy mengangguk. Ia mengatakan sekarang memang muncul jembatan baru — yaitu para storyteller dan content creator yang membawa konsep neurosains ke publik dengan cara yang ringan dan menarik. Beberapa di antaranya punya latar belakang NLP (Neuro-Linguistic Programming).

Bilal lalu bertanya, tanpa bermaksud menyerang siapa pun, apakah NLP benar-benar berakar dari ilmu neurosains, atau justru termasuk pseudoscience?

Dr. Edmy menjawab dengan tenang. Ia menjelaskan bahwa banyak rekannya dulu memang aktif di dunia NLP, dan dari awal mereka sudah tahu bahwa NLP bukanlah ilmu akademis. NLP tidak lahir dari laboratorium ilmiah, melainkan dari kebutuhan praktis — bagaimana seseorang berkomunikasi, bagaimana pikiran memengaruhi perilaku, dan bagaimana prinsip-prinsip itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi, bukan soal ilmiah atau tidak,” katanya. “NLP sejak awal dirancang untuk keperluan praktis, bukan untuk diuji secara saintifik.”

Namun, kata “neuro” di dalam Neuro-Linguistic Programming membuatnya terdengar sangat ilmiah. Padahal, istilah itu hanya menjelaskan bahwa bidang ini berfokus pada hubungan antara otak (neuro) dan bahasa (linguistik).

Dr. Edmy bahkan bercerita, ia dan koleganya di Bank Indonesia Institute pernah bercanda, “Sekarang apa-apa dikasih embel-embel ‘neuro’ supaya terdengar keren. Suatu saat kita bikin saja istilah ‘Neuro Martabak’, pasti laku!”

Ia lalu menegaskan, yang membuat sesuatu disebut ilmiah adalah proses pengujiannya. Ilmiah berarti ada metodologi yang jelas — mulai dari cara menentukan partisipan, menganalisis data, hingga menarik kesimpulan yang terukur dan objektif. Sementara NLP tidak berangkat dari proses itu, sehingga tidak bisa disebut sains dalam pengertian akademik.

Karena itu, ketika seseorang mencoba mencari “pembenaran ilmiah” untuk membuktikan bahwa NLP adalah ilmu, di situlah letak kesalahannya. Ranah ilmiah memang selalu berbasis materialistis dan objektif, sedangkan NLP berada di ranah praktis. Jadi, selama metode NLP bisa membantu seseorang berkomunikasi lebih baik, bersikap lebih tenang, dan membuat keputusan yang lebih sadar — itu sudah cukup. Tidak semua hal harus divalidasi dengan gelar PhD atau penelitian laboratorium.


Selanjutnya, Bilal membacakan pertanyaan dari penonton:
“Aku punya pasangan yang emosian. Apakah ada kaitannya dengan dominasi bagian otak tertentu yang membuat dia sulit mengontrol emosi?”

Pertanyaan ini menarik, kata Dr. Edmy, karena dalam cognitive science pembahasan tentang emosi selalu berkaitan dengan dua bagian utama otak: frontal lobe (bagian depan otak) dan sistem limbik (bagian dalam otak).

Segala hal yang berhubungan dengan berpikir kritis, logika, dan kreativitas dikendalikan oleh prefrontal cortex, yaitu bagian otak tepat di atas alis. Sedangkan pengaturan emosi diatur oleh sistem limbik, termasuk amigdala.

Masalahnya, kata Dr. Edmy, dua sistem ini tidak bisa aktif secara bersamaan. Ketika seseorang sedang emosional, aktivitas sistem limbik meningkat, sementara bagian otak depan — tempat berpikir rasional — melemah. Itulah sebabnya orang yang sedang marah sulit berpikir logis.

“Makanya kalau seseorang sedang sangat bahagia, sangat sedih, atau sangat marah — jangan buat keputusan penting dulu,” ujarnya. “Karena lebih dari 90% keputusan manusia sebenarnya didorong oleh emosi, bukan logika.”

Ia menambahkan, kemampuan seorang pemimpin atau individu bijak bukan diukur dari seberapa logis ia berpikir, tapi seberapa baik ia bisa mengendalikan emosinya agar pikirannya tetap jernih.


Tentang orang yang mudah emosian — biasanya itu wajar di usia muda. Seiring bertambahnya usia, orang jadi lebih tenang karena punya banyak pengalaman. Tapi pengalaman saja tidak cukup; seseorang menjadi bijaksana hanya jika ia mau merefleksikan pengalamannya.

“Experience itu bukan jaminan seseorang akan jadi bijak,” kata Dr. Edmy. “Yang membuatnya bijak adalah refleksi atas pengalaman itu.”

Orang yang emosional perlu belajar mengenali dan menerima emosinya terlebih dahulu. Sama seperti anak kecil yang sedang tantrum, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menunggu hingga emosinya reda. Tidak ada orang yang lahir dengan kebijaksanaan — semuanya hasil dari pengalaman dan refleksi diri.

Bila seseorang bisa belajar dari setiap emosi yang ia alami, lama-lama ia akan memahami pola dirinya sendiri dan tahu bagaimana mengendalikannya.


Bilal tertawa dan menambahkan candaan, “Berarti kalau cewek lagi marah disodorin makanan terus, enggak akan menyelesaikan masalah ya?”

Dr. Edmy ikut tertawa. “Betul, apalagi kalau itu dilakukan terus sampai tua — berarti dia tidak belajar dari pengalaman!”

Ia menegaskan, refleksi hanya bisa terjadi kalau seseorang punya tujuan. Misalnya, setelah gagal presentasi, seseorang hanya akan memperbaiki diri kalau ia punya niat menjadi presenter yang lebih baik. Tanpa tujuan itu, pengalaman sebanyak apa pun tidak akan mengubah apa pun.


Menjelang akhir, Bilal bertanya,
“Dok, apa nasihat paling buruk (the worst advice) yang pernah Anda dengar?”

Dr. Edmy tersenyum.
Katanya, salah satu nasihat terburuk yang sering ia dengar adalah:

“Saya tidak mau melakukan itu karena bukan passion saya.”

Banyak orang salah paham tentang passion. Mereka mengira passion berarti sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Padahal, setiap bidang yang benar-benar kita cintai pasti akan menghadirkan kesulitan.

“Passion bukan tentang gampang atau susah,” katanya. “Justru passion adalah kesediaan untuk melewati kesulitan di bidang yang kamu cintai.”

Orang-orang sukses bukanlah mereka yang hidupnya mudah, melainkan mereka yang berani menghadapi rintangan dan tetap bertahan. Jadi, bukti sejati dari passion adalah keberanian untuk terus maju meski dihadang kesulitan.

Bilal kemudian menyimpulkan,
“Berarti kuncinya adalah berani nyaman dengan ketidaknyamanan.”

Dr. Edmy mengangguk.
“Iya, dan itu tidak mudah. Tapi di situlah letak pertumbuhan manusia.”

SUMBER 

Neuroscientist: OTAK KAMU Lebih GENIUS Dari Yang Kamu Bayangkan! | SUARA BERKELAS #85

https://www.youtube.com/watch?v=vhahqGkXR1U


Comments

Popular Posts