How Donna Langley Became the Most Powerful Woman in Entertainment | Aspire with Emma Grede
How Donna Langley Became the Most Powerful Woman in
Entertainment | Aspire with Emma Grede
https://www.youtube.com/watch?v=1-CMT0dONBg
Anda tidak pernah menempuh pendidikan di sekolah film, tetapi banyak orang menyebut Anda sebagai “Ratu Hollywood”, perempuan paling berpengaruh di industri perfilman dunia. Dalam wawancara podcast pertamanya, Donna Langley membagikan perjalanan karier luar biasa yang ia jalani.
Donna mengaku, dirinya adalah sosok yang paling tidak mungkin untuk sukses. Dari awalnya hanya bekerja sebagai penjaga pintu di sebuah klub malam di Sunset Strip, ia kemudian memimpin salah satu studio film terbesar di dunia. Di bawah kepemimpinannya, Universal melahirkan sejumlah film blockbuster global seperti Oppenheimer, Wicked, hingga Fast and the Furious. Universal bahkan mencatatkan pencapaian paling besar sepanjang sejarahnya di masa kepemimpinan Donna.
Namun kisahnya tidak semata soal Hollywood. Ini adalah cerita tentang bagaimana seorang perempuan dari sebuah pulau kecil di luar Inggris bisa menembus puncak industri hiburan dunia. Kisah tentang berani mengambil risiko besar, memimpin dengan visi dan nilai, serta membuktikan bahwa kelembutan hati justru bisa menjadi kekuatan. Donna percaya, “Kesantunan adalah sebuah superpower. Itu bukan kelemahan. Membuat keputusan yang benar jauh lebih sulit daripada sekadar mengambil keputusan yang salah.”
Perjalanan Donna menjadi semacam “panduan karier Hollywood” yang sangat berharga. Bagaimana caranya seseorang bisa nyaman mengambil risiko besar? Menurutnya, tidak ada bala bantuan yang akan datang—“Kitalah kavaleri itu.”
Donna lahir di London dan dibesarkan di Isle of Wight, sebuah pulau kecil yang terletak di selatan Inggris. Pulau itu terpisah dari daratan utama, relatif terpencil, namun indah. Orang tuanya pindah ke sana saat Donna berusia tujuh tahun. Ayahnya bekerja di London, sementara ibunya adalah seorang perempuan berpikiran maju, sedikit hippie, vegetarian jauh sebelum itu menjadi tren, dan menerapkan pola hidup organik serta makrobiotik pada keluarganya.
Donna tumbuh dalam lingkungan yang agak berbeda dari kebanyakan anak lain—hingga kerap diejek di sekolah hanya karena membawa bekal roti gandum. Tetapi pengalaman itu justru membentuk ketahanan mental sejak dini. Ia juga tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan seni, sebab kakek-neneknya adalah seniman. Donna gemar membaca, menari, dan memiliki imajinasi yang aktif. Pulau kecil yang aman dan tenang memberi kebebasan, sekaligus menumbuhkan kecintaan pada cerita dan seni.
Ketika remaja, Donna tahu bahwa suatu hari ia akan meninggalkan pulau itu. Ia bersekolah di Kent, lalu pindah ke London setelah kuliah. Kehidupan di London penuh warna: musik, klub, dan pergaulan khas Camden. Di sanalah ia bertemu sahabat yang kelak menemaninya pindah ke Los Angeles.
Sebenarnya, Donna sama sekali tidak pernah bermimpi pindah ke Amerika. Ia bekerja di industri kebugaran dan sudah ditawari posisi manajerial dengan prospek karier bagus. Namun, di usia 22 tahun, ia justru memutuskan meninggalkan semua itu. Sang bos bahkan sempat menasihati bahwa ia sedang “membuang masa depan cerah”. Tetapi Donna hanya tahu satu hal: ia harus mencoba jalan lain, meskipun belum jelas apa.
Bersama sahabatnya, ia akhirnya memberanikan diri pindah ke Los Angeles. Saat itu ia sama sekali belum pernah ke Amerika, hanya sempat berkeliling Eropa. Kesan pertamanya tentang Los Angeles sangat mencolok—semuanya terasa besar: jalan raya, gedung, bahkan porsi makanan. Ia menyebutnya seperti “Wild West” modern, sebuah dunia yang sama sekali berbeda dari tempat asalnya di Isle of Wight.
Ketika pertama kali tiba di Los Angeles, Donna benar-benar merasa seperti masuk ke dunia lain. Segalanya tampak begitu besar dan berlebihan—porsi makanan yang seperti untuk empat orang, roti lapis dengan empat lembar roti, jalan raya dengan lima jalur. Bahkan pemandangan sebuah toko donat dengan replika donat raksasa di atapnya membuatnya berpikir, “Baiklah, orang Amerika benar-benar menyukai donat.” Semua itu memperkuat kesan bahwa ia tidak lagi berada di Inggris kecilnya; inilah “Wild West” modern.
Beruntung, sahabat yang menemaninya pindah ke LA memperkenalkannya pada beberapa orang di industri hiburan. Dari situlah Donna mulai “tergigit” oleh virus Hollywood. Awalnya, ia pulang-pergi dulu ke Inggris sebelum akhirnya menetap secara penuh. Pekerjaan pertamanya adalah magang tak dibayar untuk seorang produser. Pekerjaan itu sangat berat, tetapi justru menjadi pengalaman berharga. Sang produser dikenal keras, namun banyak mengajarkannya ketahanan mental. Di sanalah Donna memahami satu hal penting: industri film adalah industri manusia, yang sangat bergantung pada jaringan dan hubungan.
Tak lama kemudian, ia mendapat pekerjaan asisten berbayar. Untuk menutup kebutuhan hidup, Donna juga bekerja sebagai hostess di Roxbury, klub legendaris yang terkenal di Los Angeles. Semua orang ingin mendapatkan meja di restoran itu, dan posisi Donna membuatnya berada di posisi kunci. “Itu pekerjaan terbaik,” kenangnya, “karena semua orang harus bersikap baik padamu.” Siang ia bekerja di dunia produksi, malam ia berinteraksi dengan para selebritas di klub malam.
Kesempatan besar datang ketika ia bertemu dengan seorang presiden produksi termuda di industri film saat itu. Pertemuan itu terjadi secara kebetulan di restoran tempatnya bekerja, dan pria tersebut menawarkan pekerjaan di New Line Cinema. Menurut Donna, mungkin yang membuatnya menonjol adalah keberanian dan semangat pantang menyerah—meski masih naif, ia dan sahabatnya berani tampil percaya diri.
Di New Line Cinema, Donna akhirnya benar-benar mendapat pijakan karier. Target utama bagi seorang eksekutif muda adalah mendapatkan film yang bisa “greenlight”—diproduksi berkat dukungan dan advokasinya. Film pertamanya yang berhasil menembus tahap itu adalah Austin Powers. Pada film pertama, ia menjadi eksekutif junior, dan pada film kedua ia sudah naik menjadi eksekutif senior yang memimpin penuh proyek tersebut. Donna tertarik karena kecintaannya pada komedi, dan sebagai orang Inggris, ia langsung memahami humor khas Mike Myers yang banyak bersumber dari budaya Inggris.
Yang menarik, hampir semua studio lain menolak Austin Powers. Hanya New Line yang berani mengambilnya, sesuai karakter studio itu yang gemar memproduksi film berbeda dari arus utama. Keputusan itu terbukti tepat, dan proyek tersebut menjadi titik balik besar bagi Donna.
Namun, perjalanan kariernya tidaklah lurus. Ia tidak memiliki mentor khusus yang membimbing dari awal. Justru karena itu, kini Donna sangat menekankan pentingnya peran mentor bagi generasi berikutnya. Ia ingin menggunakan posisinya untuk membimbing orang lain, sebab menurutnya, “Kalau kita tidak tahu jalannya, bagaimana mungkin kita bisa membayangkan diri kita berada di posisi itu?”
Donna bertahan di New Line selama delapan tahun. Pada akhirnya, seperti banyak kisah di dunia korporat, masa itu pun mencapai titik jenuh. Namun pengalaman di studio tersebut membentuk fondasi yang kelak membawanya ke puncak karier industri film dunia.
Bagi Donna, bekerja di industri hiburan berarti menerima kenyataan bahwa perubahan adalah hal yang tak terelakkan. Perusahaan besar selalu bergerak dalam siklus: orang datang dan pergi, kepemimpinan berganti, strategi menyesuaikan zaman. Begitu pula dengan New Line, studio yang pernah menjadi rumah keduanya. Saat perusahaan itu berubah haluan dan akhirnya diakuisisi oleh Warner Media, Donna memutuskan keluar. Ia merasa sudah tiba saatnya melangkah ke panggung yang lebih besar. “Saya benar-benar bersyukur keluar di waktu yang tepat,” kenangnya. Delapan tahun di New Line baginya seperti masa magang panjang yang membekali keterampilan, intuisi, dan kepercayaan diri untuk naik level.
Langkah berikutnya adalah Universal. Dari situlah Donna menorehkan jejak luar biasa. Di bawah kepemimpinannya, Universal menikmati masa keemasan dalam sejarah seratus tahunnya. Daftar film yang lahir di era itu nyaris legendaris: Oppenheimer, Get Out, Straight Outta Compton, Wicked, serta waralaba raksasa seperti Fast & Furious, Despicable Me, Jurassic World, dan Bourne. Karya-karya ini bukan hanya sukses finansial, tetapi juga budaya—membentuk selera penonton di seluruh dunia. Tak heran, Donna masuk dalam daftar Fortune’s Most Powerful Women dan dipuji seakan-akan memiliki “sentuhan Midas.”
Menanggapi hal itu, Donna selalu merendah. Ia mengingatkan bahwa film adalah kerja kolektif. Ia punya tim yang hebat dan kolaborator luar biasa. “Perjalanan ini memang luar biasa, tapi itu semua hasil kerja bersama,” ujarnya. Meski begitu, ia tak menutup mata: masa kepemimpinannya memang istimewa. Lebih dari satu dekade, Universal bukan hanya bertahan menghadapi guncangan teknologi, pandemi, dan disrupsi industri, tetapi justru tumbuh semakin kuat. Donna menyamakan kisahnya dengan catatan Barry Diller di Paramount yang tengah ia baca: masa penuh terobosan, perubahan, dan keberanian mengambil langkah berbeda.
Sebagai perempuan Inggris di dunia yang didominasi pria, Donna membawa perspektif unik. Ia melihat peluang yang sering diabaikan. Misalnya Mamma Mia!—lahir dari kecintaannya pada ABBA sekaligus kepekaannya bahwa penonton perempuan kurang terlayani. Demikian juga dengan Girls Trip atau Bridesmaids, komedi perempuan yang sebelumnya dianggap berisiko namun ternyata meledak. Donna menyebutnya sebagai seni “melihat white space”: mengidentifikasi ruang kosong yang tidak disadari audiens, lalu mengisinya dengan karya yang justru ditunggu tanpa mereka sadari.
Selain visi, kunci suksesnya adalah memilih kolaborator terbaik. Ia menggandeng Chris Meledandri, sosok yang melahirkan Despicable Me dan Minions, hingga Universal mampu menyaingi dominasi Disney dan Pixar. Di dunia horor, ia mempercayakan Jason Blum—produser yang jenius di genre yang bahkan tidak ia sukai pribadi. Strateginya jelas: serahkan bidang pada ahli terbaik, lalu beri mereka ruang untuk berkarya maksimal.
Kemampuannya menarik talenta besar juga terbukti saat Christopher Nolan pindah dari studio lain untuk membuat Oppenheimer bersama Universal. Rahasianya, kata Donna, adalah stabilitas. “Kalau Anda membuat film, Anda ingin melakukannya dengan orang-orang yang tahu apa yang mereka lakukan, yang bekerja dengan integritas, dan dalam lingkungan minim politik.” Budaya itu yang Donna bangun bersama timnya. Stabilitas, profesionalisme, dan rasa saling percaya—sesuatu yang jarang diasosiasikan dengan Hollywood yang terkenal kacau dan penuh intrik. Namun, justru itulah yang membuat Universal menjadi tempat pilihan bagi para kreator papan atas.
Bagi Donna, budaya perusahaan selalu dimulai dari atas. Ia percaya bahwa keterampilan utama seorang pemimpin adalah membuat orang merasa nyaman sekaligus menaruh kepercayaan pada integritas sang pemimpin. “Decency is a superpower,” tegasnya. Menurutnya, dalam industri yang keras seperti film, kebaikan dan ketulusan sering dipandang sebagai kelemahan. Padahal sebaliknya—membuat keputusan yang benar, bertahan dalam integritas, dan tampil otentik jauh lebih sulit daripada sekadar mengikuti arus.
Sikap itulah yang membuatnya berani mengambil keputusan tidak populer. Salah satunya adalah Mamma Mia!, film yang banyak diragukan namun kemudian terbukti menjadi hit besar. Contoh lain muncul di masa pandemi. Saat banyak orang masih yakin bahwa lockdown hanya berlangsung dua minggu, Donna sudah melihat kenyataan lain. Ia berkoordinasi dengan tim global—termasuk kantor di China—dan memahami bahwa ini bisa berlangsung dua tahun. Maka ia mengambil langkah yang sangat kontroversial: memindahkan jadwal rilis besar-besaran, termasuk Fast & Furious yang seharusnya tayang musim panas.
Keputusan itu ditentang keras. “Itu benar-benar ‘boo besar’,” katanya sambil tertawa. Begitu beratnya, sampai ia harus menenangkan diri di depan cermin setelah rapat. Namun, intuisi dan keberaniannya terbukti tepat.
Bagaimana ia bisa mengambil risiko sebesar itu? Donna menjelaskan bahwa setiap kali meluncurkan film, sebenarnya ia sedang meluncurkan sebuah bisnis baru. Setiap film butuh model bisnis, strategi pemasaran, hingga dukungan penuh dari banyak pihak. Karena itu, kuncinya adalah membangun konsensus sejak awal. Ia tidak percaya pada gaya kepemimpinan yang datang ke rapat dengan keputusan sudah final. “Kalau begitu, orang akan menolak hanya karena merasa tidak diajak dalam proses,” jelasnya.
Menurut Donna, membangun konsensus berarti menyatukan semua elemen sejak awal—dari tim kreatif, pemasaran, distribusi, hingga keuangan—agar merasa menjadi bagian dari keputusan. Prosesnya iteratif: ide kreatif melahirkan perhitungan bisnis, lalu disesuaikan kembali dengan visi kreator, hingga semua pihak merasa memiliki film tersebut. Inilah, menurutnya, seni sebenarnya dari “greenlighting” sebuah film. Bukan hanya soal memberi lampu hijau dari satu orang berkuasa, melainkan hasil dari kolaborasi lintas tim yang terjalin dalam budaya perusahaan yang sehat.
Menurut Donna, proses greenlighting bukan sekadar keputusan satu orang, melainkan perjalanan kolektif. Setiap film melibatkan begitu banyak orang—mulai dari tim kreatif, pemasaran, distribusi global, hingga yang mengurus dubbing. Karena itu, membangun konsensus sejak awal sangat penting.
“Bukan berarti keputusan diambil lewat komite, karena pada akhirnya tetap ada satu pemimpin yang harus bertanggung jawab,” jelas Donna. “Tapi berbagi proses, memberi orang suara, dan melibatkan mereka sejak tahap awal menciptakan rasa memiliki. Itu sehat untuk organisasi.”
Ia memberi contoh sederhana: sebuah presentasi di kantor. Jarang sekali seseorang bisa membuat semua orang langsung setuju pada hari-H. Karena itu, menurut Donna, penting untuk terlebih dahulu “menyemai ide” dengan berbagai pihak, mendengar umpan balik, dan menyesuaikan gagasan agar orang merasa ikut dalam perjalanan.
“Intinya adalah empati,” katanya. “Kita harus menempatkan diri pada posisi orang lain—bertanya apa yang mereka butuhkan, apa risikonya bagi mereka jika mendukung ide kita. Dengan begitu, ide kita jadi lebih kuat, karena kita sudah memikirkan tantangan sebelum muncul.”
Tentang kepemimpinan, Donna mengakui bahwa gaya empatiknya banyak dibentuk oleh ibunya. Namun, sebagian besar pelajaran datang lewat trial and error, terutama dari pengalaman menghadapi kegagalan. “Adversitas adalah guru terbesar,” ujarnya. Ia bercerita tentang masa ketika ia bekerja di bawah seorang bos yang buruk. Saat itu, ia mencoba melawannya dengan cara mengikis otoritas sang bos—sampai menyadari bahwa perilakunya justru memperburuk suasana tim dan bertentangan dengan nilai pribadinya.
“Setelah itu, saya sadar saya tidak suka dengan siapa diri saya ketika berperilaku seperti itu. Jadi ketika menghadapi situasi serupa lagi, saya memilih jalan berbeda. Saya ambil jalan yang lebih tinggi—dan rasanya jauh lebih benar.”
Baginya, mengambil “jalan tinggi” bukan berarti pasif, tapi memilih cara yang selaras dengan nilai diri. Donna bahkan bercanda dengan mengutip pepatah favorit: “Take the high road. There’s less traffic up there.”
Ketika ditanya soal kegagalan, Donna menekankan pentingnya refleksi. Ia selalu mencoba kembali ke pertanyaan: mengapa hal itu gagal? Hampir selalu jawabannya sama—karena ia mengabaikan intuisi. “Setiap kali saya menentang naluri saya, hasilnya buruk. Jadi sekarang saya selalu mulai dengan intuisi, lalu mencari data untuk mendukungnya. Angka hanyalah cara lain untuk menceritakan sebuah kisah.”
Namun tentu saja, ia tidak selalu benar. “Ya, saya pernah salah besar. Dan dalam bisnis ini, taruhannya sangat tinggi, jadi Anda harus benar lebih sering daripada salah. Tapi kegagalan itu bagian dari perjalanan.”
Ketika ditanya bagaimana ia bisa nyaman membuat keputusan besar—dengan begitu banyak uang, orang, dan kredibilitas yang dipertaruhkan—Donna menjawab dengan tenang. “Saya tidak pernah benar-benar melihatnya sebagai risiko,” ujarnya. Meski banyak orang menilai keputusan studionya, seperti mendukung Oppenheimer atau film-film lain, sebagai pertaruhan besar, bagi Donna, sejak awal ia tak melihatnya demikian. “Mungkin saya hanya melihatnya secara berbeda. Dan sejauh ini, saya jarang terkejut ke arah yang salah.”
Bagi Donna, kuncinya adalah mengikuti intuisi dan bertaruh pada brilliance. Ketika proyek gagal sekalipun, ia bisa berdamai selama prosesnya benar: tim mengikuti insting, menjaga integritas, dan membuat keputusan terbaik. “Terkadang, dewa film tidak berpihak. Tapi kalau kita sudah melakukan segalanya dengan benar, saya bisa menerimanya,” katanya. “Tidak semua taruhan hebat akan berhasil. Kadang ide bagus tetap layak, tapi waktunya salah atau faktor eksternal tidak bisa dikendalikan.”
Mengenai gaya kepemimpinan, Donna mengakui ia memang berbeda. “Ya, saya merasa seperti outlier,” katanya. Di industri di mana mobilitas karier sangat tinggi, ia justru bertahan lama di satu perusahaan. Bukan karena takut berubah, tapi karena selalu ada tantangan baru yang membuatnya tidak pernah bosan. “Setiap film berbeda. Setiap pembuat film membawa dinamika baru. Saya tumbuh di dalam proses kreatif itu,” jelasnya. Ditambah lagi, perusahaannya beberapa kali berganti kepemilikan, sehingga setiap fase terasa seperti bekerja di perusahaan baru.
Saat ditanya apa yang membuatnya efektif sebagai pemimpin, Donna menjawab dengan lugas: ia bukan pemimpin berbasis rasa takut. “Kita hanya bisa mengendalikan hal-hal yang bisa kita kendalikan,” katanya. Ia memberi contoh tentang pandemi, disrupsi industri, hingga munculnya AI. Alih-alih panik, Donna memilih melihatnya sebagai peluang.
Ada pepatah yang sering ia ulang pada timnya: “The cavalry is not coming. We are the cavalry.” Baginya, tidak ada yang akan datang menyelamatkan, jadi tim sendirilah yang harus bergerak dan menemukan jalan keluar.
Pendekatannya kadang ia sebut sebagai “sedikit penyangkalan sehat.” Dalam industri kreatif yang penuh distraksi, ia percaya penting untuk tetap terpusat, fokus pada visi, dan tidak membiarkan kebisingan luar menggoyahkan poros tim. “Ketika bekerja dengan orang-orang kreatif, kita harus tetap jernih: apa visi kita, apa yang ingin kita sampaikan pada audiens, dan bagaimana cara mencapainya,” ujarnya.
Bagi Donna, kesuksesan bukan soal menghindari kegagalan, tapi tentang stamina—kemampuan tetap teguh pada nilai, fokus pada misi, dan terus melangkah maju meskipun dunia di sekeliling berubah cepat.
Ketika ditanya apakah perjalanannya mungkin terjadi di luar Amerika, Donna mengakui bahwa jawabannya tidak. “Saya tidak yakin saya bisa melakukan semua ini di Inggris,” ujarnya jujur. Menurutnya, ada sesuatu yang khas Amerika: ketika seseorang punya ide besar, responnya bukan, “Kenapa mau lakukan itu?” melainkan, “Bagaimana saya bisa membantu?” Bagi Donna, itulah roh American Dream yang masih nyata hingga sekarang.
Namun, ia tetap merasa bangga dengan identitasnya sebagai orang Inggris. Gelar kebangsawanan yang ia terima sebagai Dame menjadi momen istimewa. Ia bahkan sempat bercanda ketika anaknya bertanya apakah itu sesuatu yang ia impikan sejak kecil. “Tentu saja tidak,” katanya sambil tertawa. Tapi pengakuan itu, apalagi diserahkan langsung oleh Raja Charles, membuatnya merasa dihargai atas kontribusinya bagi industri film dengan cara yang indah dan mendalam.
Perbincangan lalu beralih ke gerakan #MeToo. Apakah gerakan itu benar-benar mengubah Hollywood? Donna percaya jawabannya: ya, meski dengan nuansa. Ia mengutip Gloria Steinem yang pernah berkata bahwa setiap gerakan tidaklah linear, melainkan bergerak seperti pendulum—maju, lalu mundur sedikit, sebelum kembali bergerak maju. Menurut Donna, selama beberapa tahun terakhir banyak kemajuan dicapai, baik dalam organisasinya maupun di industri secara luas.
Salah satu dampak paling nyata, katanya, adalah terbentuknya komunitas perempuan yang sebelumnya jarang ada. “Dulu kami dibesarkan untuk bersaing satu sama lain, karena peluang sangat terbatas. Kami selalu ditempatkan dalam posisi mendukung laki-laki. Semua itu runtuh, dan kami mulai membangun solidaritas,” jelasnya. Kini, ia melihat para perempuan berkumpul bukan sebagai kompetitor, melainkan sebagai sekutu dengan tujuan bersama.
Meski begitu, ia menekankan bahwa pekerjaan belum selesai. “Akan ada momen berikutnya di mana kita bisa maju lebih jauh. Sementara itu, kita bisa mulai dari hal-hal kecil. Tidak perlu program besar. Satu tindakan kecil bisa sangat berarti bagi orang lain—baik di film, mode, maupun pekerjaan korporat.”
Lalu bagaimana rasanya menjadi satu-satunya perempuan di ruang rapat berpengaruh? Apakah itu menakutkan? Donna mengakui bahwa dulu, di awal karier, ia sempat merasa canggung. Namun seiring waktu, ia melatih pola pikirnya hingga tak lagi merasa terintimidasi. “Seseorang pernah memberi saya nasihat bagus: Anda tidak perlu menjadi orang paling keras di ruangan. Tidak perlu bicara sampai Anda benar-benar punya sesuatu untuk dikatakan,” jelasnya. Prinsip itu membuatnya menjadi pendengar yang baik—sebuah keterampilan yang menurutnya jarang dimiliki, tapi sangat berharga.
Donna menekankan pentingnya keterampilan mendengarkan. “Kadang kita merasa harus selalu mengisi kekosongan, padahal diam sejenak lalu mendengarkan justru memberi ruang untuk pemahaman,” katanya. Ia mengakui, di awal karier sering muncul rasa tidak aman: jika tidak berbicara, maka dianggap tidak terlihat. Namun, seiring waktu ia belajar bahwa kekuatan justru ada pada kesiapan. “Datanglah dengan persiapan. Itu memberi rasa percaya diri dan membuat kita tahu kapan saat tepat untuk bicara—seringkali cukup dalam satu kalimat, bukan berjam-jam diskusi yang penuh tumpang tindih,” ujarnya.
Bagi mereka yang merasa terisolasi di lingkungan kerja—karena gender, ras, atau identitas lain—Donna memberi saran sederhana namun kuat: temukan komunitas di luar. “Akan selalu ada ruang di mana Anda merasa menjadi ‘satu-satunya’. Itu tidak terhindarkan. Jadi penting membangun daya tahan dengan menemukan dukungan dari luar, lalu bawa kekuatan itu ke dalam ruangan bersama Anda.”
Perbincangan lalu menyentuh sisi personal: pengalaman Donna sebagai ibu. Ia mengaku tidak mengambil cuti melahirkan yang panjang, meskipun kini ia menyesalinya. “Sejujurnya, karier saya tidak akan terpengaruh jika saya mengambil lebih banyak waktu. Tapi saat itu saya merasa terlalu rentan, terlalu lemah untuk menetapkan batas,” katanya dengan jujur. Ia tidak menyesalinya, tapi mengakui bahwa seandainya ia lebih kuat memegang batas, ia akan melakukannya berbeda.
Tentang waktu memiliki anak, Donna bercerita bahwa perjalanannya tidak mudah. Sebuah operasi yang gagal memperlambat kesempatannya menjadi ibu, hingga akhirnya ia melahirkan anak pertamanya pada usia 41 dan anak keduanya pada usia 43. “Saya seorang ‘geriatric mother’, begitu istilah resmi di sini,” ujarnya sambil tertawa. Meski istilah itu terasa merendahkan, ia mengaku bersyukur. “Saya membawa pengalaman hidup yang luas ke dalam peran sebagai ibu. Itu membuat saya bisa menyeimbangkan karier, pernikahan, dan keluarga dengan perspektif yang berbeda.”
Ia juga berbagi pesan penting bagi perempuan muda: rencanakan keluarga seperti Anda merencanakan karier. “Manfaatkan teknologi yang ada sekarang. Bekukan sel telur, buat perencanaan. Tidak ada salahnya menempatkan hal itu sebagai bagian dari strategi hidup, bukan sekadar pikiran sampingan,” tegasnya.
Bagi Donna, kejujuran terhadap diri sendiri—tentang keinginan, batasan, dan rencana hidup—adalah fondasi yang membantu perempuan menjalani peran ganda tanpa kehilangan arah.
Donna bercerita bahwa di masa lalu ia sempat menyembunyikan proses IVF yang dijalaninya, bahkan dari sahabat-sahabat dekatnya. Ada rasa malu yang melekat, seakan-akan ia harus selalu bisa melakukan segalanya sendiri. Padahal, menurutnya, hal itu tidak seharusnya menjadi sesuatu yang memalukan. Begitu ia akhirnya berbagi, respons yang ia terima justru mengejutkan—tiga teman perempuan yang bersamanya saat itu langsung berkata, “Aku juga.” Dari situ Donna menyadari betapa pentingnya menemukan komunitas, dan sering kali komunitas itu ada di sekitar kita tanpa kita sadari.
Setelah jeda iklan, percakapan kembali ke topik seputar kepemimpinan dan karier. Donna ditanya, apa nasihat yang akan ia berikan kepada seseorang yang ingin meniti karier seperti dirinya. Ia menekankan pentingnya “terjun langsung” dengan sepenuh hati, bekerja di mana saja, dan belajar secepat mungkin. Menurutnya, transisi dari posisi asisten ke level eksekutif junior memang sulit, bisa memakan waktu beberapa tahun, tetapi setelah itu jalannya akan lebih terbuka.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia media kini sangat dinamis, sehingga generasi muda harus fleksibel. Apakah ingin bekerja di perusahaan teknologi yang membuat konten, atau perusahaan media tradisional—semuanya memberi pengalaman berharga. Donna mencontohkan asistennya, Juliet, yang saat ditanya tentang ambisi lima tahun ke depan menjawab, “Pekerjaan yang saya inginkan belum tercipta.” Jawaban ini membuat Donna yakin Juliet adalah sosok visioner yang siap menghadapi masa depan industri. Juliet memilih bekerja di perusahaan media tradisional bukan karena ketinggalan zaman, melainkan karena ia ingin mempelajari sistem dan proses dasar yang menopang industri ini, sesuatu yang tidak akan hilang begitu saja.
Bagi Donna, itulah sikap yang tepat: jangan terburu-buru mencari jalan pintas. Banyak anak muda sekarang kembali ke pola lama, misalnya magang di agensi atau program pelatihan, karena mereka paham bahwa di balik industri kreatif, fondasi terpenting adalah relasi, sistem, dan proses. Semua itu akan sangat berguna bahkan jika kelak seseorang bekerja dengan teknologi baru atau AI.
Obrolan kemudian bergeser ke sisi pribadi. Donna ternyata penggemar musik rap, meski selera musiknya sangat beragam—mulai dari ABBA hingga hip-hop. Ia mengaku masih setia mendengarkan album-album rap 90-an seperti Straight Outta Compton dan The Chronic. Menurutnya, musik pada era itu memiliki kekuatan lirik dan nuansa yang lebih ia pahami dibanding musik rap generasi sekarang, meski ia tetap mengagumi artis seperti Kendrick Lamar yang dianggap membawa semangat lama ke era modern.
Untuk menjaga keseimbangan hidup, Donna memilih cara sederhana: ia rutin melakukan pilates, latihan beban, dan hiking—sebuah keistimewaan yang menurutnya sangat ia syukuri di Los Angeles. Ia bahkan memiliki rumah di Ojai dengan jalur hiking indah tepat di depan pintu. Aktivitas itu bukan hanya menyehatkan, tapi juga menenangkan jiwa.
Uniknya, Donna juga menemukan ketenangan dalam membaca naskah film. Meskipun sudah puluhan tahun bekerja di dunia perfilman, membaca naskah tetap terasa terapeutik baginya. Di tengah kesibukan manajerial yang penuh distraksi, duduk tenang dengan sebuah naskah mengembalikannya pada proses kreatif yang pertama kali membuatnya jatuh cinta pada industri ini.
Donna mengatakan bahwa membaca naskah selalu memberinya ketenangan. Kadang ia bahkan sempat tertidur sebentar, hanya 10 menit, sebelum kembali menyelami cerita di dalamnya. Menurutnya, proses itu begitu menenangkan—dan itulah salah satu alasan ia masih betah di industri ini. Baginya, jika suatu hari kehilangan ketertarikan membaca naskah, mungkin saat itulah ia harus meninggalkan dunia film.
Namun, jelas sekali ia belum ingin pergi. Ketika ditanya tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya, Donna menjawab bahwa fokus utamanya adalah mengamati ke mana arah industri media bergerak. Perubahan besar sudah lama ditunggu, dan kini hal itu benar-benar terasa dengan menjamurnya streaming, kebiasaan baru orang mengonsumsi konten, serta kehadiran AI yang akan mengubah banyak hal. Ia tidak percaya film dan serial sepenuhnya akan digantikan oleh mesin, karena elemen manusia—empati, perasaan, dan kepekaan—tetap menjadi inti dari bercerita. Storytelling adalah hal paling mendasar dalam kemanusiaan, dan itu tidak akan hilang.
Bagi Donna, kuncinya adalah terbuka pada perubahan. Ia bersemangat mencari peluang untuk terus melakukan hal-hal yang ia cintai, sambil tidak terlalu keras berpegang pada hal-hal yang mungkin memang akan hilang selamanya. Menurutnya, rasa keterbukaan terhadap masa depan itulah yang membuat ia siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Di bagian akhir, percakapan bergeser ke sesi pertanyaan cepat. Donna mengungkapkan bahwa hal pertama yang ia lakukan saat bangun tidur adalah membuat secangkir teh English Breakfast lengkap dengan susu dan gula. Sebelum tidur, ia selalu mencium kedua putranya—meski kini mereka lebih sering tidur lebih larut darinya.
Dalam urusan pekerjaan, aspirasinya sederhana: terus meraih kesuksesan dengan bekerja bersama orang-orang terbaik. Sementara dalam kehidupan pribadi, ia ingin tetap membumi di tengah hiruk pikuk dunia, terutama karena kini pikirannya banyak tertuju pada masa depan anak-anaknya.
Ketika ditanya tentang buku yang mengubah hidupnya, ia menyebut Love in the Time of Cholera karya Gabriel García Márquez. Novel itu dibacanya di masa ketika ia sangat terbuka menerima hal-hal baru, dan sejak itu selalu punya tempat khusus di hatinya.
Menengok kembali perjalanan karier, Donna mengakui bahwa dulu ia lebih terdorong ego—ingin mendapat pengakuan dan kredit. Namun kini ia belajar menerima bahwa tidak selalu akan mendapat “tepukan di bahu”, dan itu tidak masalah. Sebaliknya, yang kini paling ia hargai adalah persahabatan serta hubungan dekat, baik pribadi maupun profesional, yang memberi dukungan nyata.
Wawancara ditutup dengan rasa kagum sang host terhadap keteguhan dan kesuksesan Donna. Percakapan ini menunjukkan bukan hanya sisi profesionalnya sebagai pemimpin studio besar, tetapi juga sisi manusiawinya sebagai ibu, sahabat, dan pencinta cerita.
Comments
Post a Comment