CDC [3]: YOUR FUTUTRE HERE
SUMBER https://www.youtube.com/watch?v=8G6p8GAbXMA&t=358s
Dalam webinar yang menghadirkan Mas Hadjar Seti Adji, kita diajak menyelami perjalanan perubahan industri dari masa ke masa dan memahami bagaimana kita bisa mempersiapkan masa depan di era new normal.
Perjalanan
Era Industri
Mas Hadjar memulai dengan garis besar evolusi industri:
- Industri 0.0: pertanian dan
agrikultur.
- 1.0: muncul mesin uap dan mekanisasi.
- 2.0: era listrik dan standarisasi.
- 3.0: komputerisasi dan otomasi.
- 4.0: Internet of Things dan
digitalisasi.
- 5.0: era Artificial Intelligence,
kolaborasi manusia-mesin, dan big data.
Setiap
transisi era semakin cepat, menghadirkan ketidakpastian tinggi. Kemampuan
beradaptasi (agility) menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang. Ia
mencontohkan perubahan dramatis daftar 10 perusahaan terbesar dunia: dari
perusahaan konvensional di 2008, menjadi raksasa teknologi seperti Apple,
Google, Amazon, Facebook, dan Alibaba pada 2018.
Makna New
Normal
Mas Hadjar menegaskan bahwa new normal bukan sekadar memakai masker atau
jaga jarak. Menurut versi “Palace Normal”, new normal adalah saat masyarakat
membangun budaya baru — lebih sehat, disiplin, dan sadar diri. Jika setelah
krisis besar kita kembali hidup seperti dulu, ia menyebutnya donkey man
— orang yang tidak belajar dari pengalaman.
Dampak
Positif Krisis
Pandemi membawa kesadaran baru: hidup bersih, pola makan teratur, dan perhatian
pada kesehatan meningkat. Data Kementerian BUMN menunjukkan penurunan angka
kematian non-COVID, karena masyarakat lebih peduli pada kebersihan dan
kesehatan diri. Kesadaran ini, bila terus dipertahankan, bisa meningkatkan
harapan hidup di era pasca-pandemi.
Empat
Pergeseran Sosial
- Empati Sosial Meningkat: Budaya
gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan inklusivitas meningkat.
Contohnya, alumni Ikateksi cepat merespon donasi untuk tenaga medis dan
korban terdampak pandemi.
- Stay Home Lifestyle: Bekerja dan
belajar dari rumah menjadi norma. Dunia pendidikan dan pekerjaan digital
berkembang permanen.
- Aktivitas Virtual dan Digital: Rapat
daring, Zoom, Teams, Google Meet menjadi kebiasaan. Transformasi digital
menjadi keharusan.
- Kebutuhan Dasar Menjadi Prioritas:
Fokus manusia kembali ke kesehatan, makanan, dan keamanan, daripada
mengejar prestasi dan hiburan.
Industri
yang Menang dan Kalah
Beberapa sektor meningkat pesat selama pandemi: medical supply, food &
beverage, personal health care, e-commerce, agriculture, dan renewable energy.
Sebaliknya, konstruksi, oil & gas, perbankan tradisional, pendidikan
konvensional, serta pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak. Meski
konstruksi menurun, sektor infrastruktur tetap vital dan penuh peluang.
Dua Tahap
Perubahan Hidup
Perubahan mental manusia terjadi dalam empat zona:
- Comfort Zone: hidup santai dan cuek.
- Fear Zone: muncul panik dan stres.
- Learning Zone: mulai beradaptasi,
eksplorasi digital.
- Growth Zone: percaya diri, menemukan
ritme hidup baru, berkomitmen untuk berkembang.
Mas Hadjar
menekankan bahwa saat ini kita berada di zona belajar dan tumbuh, nyaman dengan
kebiasaan baru, dan siap menghadapi tantangan global.
Perubahan
Pola Konsumsi
Pandemi mengubah perilaku manusia dari konsumtif menjadi lebih sadar kesehatan
dan kualitas hidup. Fokus kini adalah hidup sehat, bukan sekadar membeli dan
bepergian.
Pesan Utama
New normal bukan hambatan, melainkan kesempatan untuk membangun masa depan yang
adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Kesadaran, empati, dan kemampuan
belajar menjadi fondasi utama bagi generasi yang siap menghadapi dunia yang
terus berubah.
Prepare
Your Future in the New Normal Era
Pandemi
COVID-19 telah mengubah cara kita melihat dunia, mempercepat perubahan sosial,
ekonomi, dan teknologi, serta menuntut kesiapan mental dan profesional yang
lebih tinggi. Webinar ini membahas strategi menghadapi new normal,
bagaimana mempersiapkan diri, dan mengenali peluang di era yang terus berubah.
1.
Perkembangan Era Industri: Dari 0.0 hingga 5.0
Mas Hadjar
Seti Adji mengawali materi dengan menelusuri evolusi industri:
- Industri 0.0: pertanian dan
agrikultur.
- Industri 1.0: mesin uap dan
mekanisasi.
- Industri 2.0: era listrik dan
standarisasi.
- Industri 3.0: komputerisasi dan
otomasi.
- Industri 4.0: Internet of Things dan
digitalisasi.
- Industri 5.0: Artificial
Intelligence, kolaborasi manusia-mesin, dan penggunaan big data.
Beliau
menekankan bahwa setiap era berlangsung lebih cepat dari sebelumnya (shorter
cycle), sehingga ketidakpastian meningkat. Kemampuan beradaptasi (agility)
menjadi kunci utama. Ilustrasinya adalah perubahan 10 perusahaan terbesar
dunia: dari perusahaan non-IT pada 2008 menjadi raksasa teknologi seperti
Apple, Google, Amazon, Facebook, dan Alibaba pada 2018. Hal ini menunjukkan
bahwa digitalisasi menjadi arah utama dunia, dan kemampuan belajar hal baru
menjadi sangat penting.
2. Makna
“New Normal”
Mas Hadjar
memperkenalkan konsep Palace Normal:
- New normal bukan sekadar memakai
masker atau menjaga jarak sosial.
- Ini adalah budaya baru yang lebih
sehat, disiplin, dan sadar diri, bahkan sebelum vaksin ditemukan.
Jika
setelah vaksin ditemukan masyarakat kembali ke kebiasaan lama, beliau
menyebutnya sebagai donkey man — seperti keledai yang tidak belajar dari
pengalaman. Pesan ini menekankan pentingnya mengambil hikmah dari krisis untuk
menjadi lebih baik.
3. Dampak
Positif Krisis: Kesadaran Kesehatan dan Hidup Bersih
Data
Kementerian BUMN menunjukkan penurunan angka kematian non-COVID, karena
meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan pola hidup sehat. Mas
Hadjar menekankan:
“Orang jadi
rajin cuci tangan, makan lebih teratur, dan menjaga diri. Kesadaran ini bisa
meningkatkan harapan hidup manusia pasca-pandemi.”
4. Empat
Pergeseran Sosial di Era COVID-19
- Meningkatnya Empati Sosial
Krisis meningkatkan kepedulian dan solidaritas. Contoh nyata: alumni Ikateksi cepat merespon donasi untuk tenaga medis dan korban terdampak pandemi. Empati ini juga membuka ruang inklusivitas bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan. - Lahirnya “Stay Home Lifestyle”
WFH (work from home) dan belajar dari rumah menjadi norma. Pendidikan dan pekerjaan digital berkembang permanen, membentuk gaya hidup baru. - Meningkatnya Aktivitas Virtual dan
Digital
Rapat tatap muka digantikan Zoom, Teams, Google Meet, bahkan di kantor pun rapat daring lebih efisien. Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. - Kebutuhan Dasar Menjadi Prioritas
Fokus manusia kembali pada kebutuhan dasar: makan, kesehatan, dan keamanan. Aktualisasi diri dan kemewahan menjadi prioritas kedua. Pandemi mengingatkan bahwa kesehatan adalah aset utama kehidupan.
5. Industri
yang Menang dan Kalah di Era Pandemi
Industries
that Win (Pemenang):
- Medical Supply & Services –
kebutuhan APD, alat kesehatan, vaksin meningkat.
- Food & Beverage – layanan makanan
dan delivery melonjak.
- Personal Health Care – sanitizer,
masker, vitamin, suplemen meningkat.
- E-commerce – transaksi online
meningkat.
- Agriculture & Food Supply Chain –
sektor pangan stabil dan vital.
- Renewable Energy – energi bersih
menjadi tren masa depan.
Industries
that Lose (Paling Terdampak):
- Manufacturing & Construction –
proyek tertunda, investasi menurun.
- Oil & Gas – harga minyak turun
drastis.
- Banking & Financial Services –
tergantikan sistem digital/fintech.
- Education (konvensional) – sekolah
tatap muka kehilangan relevansi.
- Tourism & Hospitality – sektor
paling terdampak, hotel dan pariwisata lumpuh.
Meski
konstruksi terdampak berat, sektor infrastruktur tetap dianggap vital dan penuh
peluang.
6. Dua
Tahap Perubahan Hidup: dari “Comfort Zone” ke “Growth Zone”
Perubahan
mental manusia selama pandemi terjadi dalam empat zona:
- Comfort Zone – hidup santai dan cuek.
- Fear Zone – panik, takut, stres.
- Learning Zone – mulai beradaptasi,
belajar hal baru, eksplorasi digital.
- Growth Zone – percaya diri, menemukan
ritme hidup baru, dan berkomitmen tumbuh.
Saat ini,
kita sudah berada di learning dan growth zone, nyaman dengan
kebiasaan baru dan siap menghadapi tantangan global.
7.
Perubahan Pola Konsumsi Global
Sebelum
pandemi, gaya hidup manusia digerakkan konsumsi: membeli, bepergian, mengejar
kemewahan. Pasca-pandemi, fokus bergeser ke kesadaran kesehatan dan kualitas
hidup. Mas Hadjar menegaskan:
“Sebelum
COVID kita konsumtif, setelah COVID fokusnya kesehatan dan kualitas hidup.”
Kesimpulan
dan Pesan Utama
New normal
bukan hambatan, melainkan kesempatan untuk membangun masa depan yang adaptif,
kolaboratif, dan berkelanjutan. Kesadaran diri, empati sosial, kemampuan
belajar, dan adaptasi teknologi menjadi fondasi utama generasi siap menghadapi
dunia yang terus berubah.
Dengan growth
mindset, keberanian menghadapi perubahan, dan konsistensi belajar, setiap
individu dapat mempersiapkan masa depan yang lebih tangguh, produktif, dan
bermanfaat bagi diri sendiri, almamater, dan bangsa.
Menyiapkan Diri di Era New Normal dan Industri 4.0–5.0
Pandemi
COVID-19 membawa manusia ke fase adaptasi yang menuntut kesiapan mental,
kemampuan belajar cepat, dan penguasaan teknologi. Banyak orang awalnya
mengalami stres berlebihan (overestimate) hingga ketakutan yang
memuncak. Namun, seiring waktu, masyarakat mulai belajar menyesuaikan diri dan
bergerak naik dalam siklus pembelajaran (learning cycle).
1. Fase
Post-COVID dan Realitas New Normal
Masa
post-COVID, terlepas dari apakah vaksin telah ditemukan atau belum, tetap akan
diwarnai dinamika naik-turun karena virus terus bermutasi. Stabilitas absolut
tidak akan terjadi, sehingga adaptasi menjadi kunci utama.
New normal
adalah tatanan baru yang berbeda secara fundamental:
- Budaya memakai masker, mencuci
tangan, dan menjaga jarak kemungkinan besar tetap ada.
- Kesadaran terhadap penyebaran droplet
penting, tidak hanya terkait COVID-19 tetapi juga penyakit lain seperti
TBC.
- Pandemi mendorong percepatan
transformasi industri dan gaya hidup digital.
Intinya,
new normal merupakan proses pembelajaran kolektif: dari underestimate,
kemudian overestimate, dan akhirnya menjadi realistis, sehingga
masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru yang adaptif dan
kreatif.
2. Era VUCA
dan Learning Agility
Kita hidup
di dunia VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous) yang penuh
ketidakpastian dan kompleksitas. Kondisi ini menuntut:
- Kemampuan belajar cepat dan adaptif (learning
agility).
- Pemahaman bahwa ilmu dan keterampilan
hari ini bisa jadi sudah tidak relevan dalam 2–3 tahun ke depan.
Contoh di
industri dan pendidikan:
- Mahasiswa masih belajar menggunakan
alat ukur konvensional (theodolite, waterpass) untuk peta topografi.
- Industri kini menggunakan teknologi
baru seperti terrestrial laser scanner (TLS) dan drone mapping, yang bisa
menyelesaikan pekerjaan lebih cepat (dua hari vs dua minggu) dan lebih
akurat.
- Pendidikan harus mengejar
ketertinggalan teknologi industri, dan learning agility menjadi
keterampilan kunci.
3. Tiga
Cara Belajar Utama
Menurut
buku Learning Beyond the Sky is the Limit karya Pak Alex Denni,
pembelajaran saat ini bisa dibagi menjadi tiga:
- Formal Learning – kelas, pelatihan,
kurikulum; efektivitas ~10%.
- Social Learning – mentoring,
coaching, diskusi; efektivitas ~20%.
- Experiential Learning – pembelajaran
berbasis pengalaman langsung; efektivitas ~70%.
Contoh:
- Formal Learning: belajar teori
pondasi di kelas.
- Social Learning: berdiskusi dengan
praktisi dan membuat tugas bersama.
- Experiential Learning: langsung turun
ke lapangan membangun pondasi nyata.
Pengalaman
nyata lebih efektif daripada sekadar teori atau diskusi. Namun, banyak
perusahaan dan kampus masih terlalu fokus pada formal learning, padahal
experiential learning adalah inti penguasaan keterampilan.
4.
Preferensi Belajar Individu
Setiap
orang belajar berbeda:
- Visual learner – belajar melalui
gambar, video.
- Auditory learner – belajar melalui
penjelasan dan diskusi.
- Kinesthetic learner – belajar paling
efektif melalui praktik langsung.
Kasus
nyata:
- Anak Mas Hadjar menjuarai lomba
pidato bahasa Inggris tanpa kursus formal, belajar melalui game online dan
film, menunjukkan bahwa pembelajaran bisa terjadi di mana saja (learning
is everywhere).
Pendekatan
ini mendukung gagasan Merdeka Belajar, memberi kebebasan individu menemukan
gaya belajar masing-masing.
5. Generasi
yang Bekerja Bersama dan Durasi Fokus
Saat ini
ada tiga generasi bekerja bersamaan:
- Generasi X: fokus ~10 menit.
- Generasi Y: fokus ~5 menit.
- Generasi Z: fokus ~3 menit.
Video
edukatif di YouTube rata-rata durasinya 4 menit 20 detik, menyesuaikan pola
fokus generasi baru.
Studi Kasus
Waskita:
- Program Exploring and Sharing
Experience menggabungkan belajar, praktik, eksperimen, dan mengajar
kembali.
- Dokumentasi pembelajaran dijadikan
database untuk generasi berikutnya.
- Prinsip: “When you listen, you may
forget. When you do, you understand. But when you teach, you master.”
Sistem ini
memungkinkan setiap individu menjadi learning center bagi dirinya sendiri,
belajar sesuai kebutuhan dan gaya masing-masing, bukan hanya bergantung pada
corporate university yang kaku.
6. Nilai
Abadi: Karakter dan Profesionalisme
Selain
learning agility, karakter dasar tetap penting. Buku The Millionaire Next
Door oleh Thomas J. Stanley menyebut 10 perilaku dominan orang sukses:
- Jujur dan berintegritas tinggi.
- Disiplin dan konsisten.
- Mudah bergaul dan menghargai orang
lain.
- Senang memiliki mentor.
- Pekerja keras dan mencintai
pekerjaan.
- Memiliki jiwa kepemimpinan.
- Kompetitif dan menyukai tantangan.
- Hidup teratur dan terencana.
- Pandai mengelola waktu dan prioritas.
- Mampu menjual ide dengan meyakinkan.
Kebiasaan
sederhana: datang tepat waktu, menyelesaikan tugas rapi, menjaga komitmen,
adalah fondasi profesionalisme. Manajemen waktu klasik menekankan prioritas:
- Penting & Mendesak
- Penting & Tidak Mendesak
- Tidak Penting & Mendesak
- Tidak Penting & Tidak Mendesak
Kesimpulan
Era new
normal dan industri 4.0–5.0 menuntut kita:
- Menguasai learning agility.
- Memanfaatkan experiential learning
untuk penguasaan kompetensi.
- Menemukan gaya belajar pribadi (applied
learning principles).
- Mengembangkan karakter profesional
yang disiplin, terencana, dan integritas tinggi.
Dengan
kombinasi kemampuan adaptasi, pengalaman nyata, dan karakter kuat, setiap
individu mampu menavigasi ketidakpastian, memanfaatkan peluang, dan tumbuh di
era industri yang terus berubah.
Menjadi
Profesional dan Adaptif di Era Society 5.0
Pandemi
COVID-19, kemajuan teknologi, dan dinamika industri memaksa mahasiswa dan
karyawan muda untuk memiliki prioritas yang tepat, integritas tinggi, serta
kemampuan belajar adaptif. Dokumen ini membahas strategi menjadi profesional
yang tangguh dan siap menghadapi era teknologi tinggi.
1. Memahami
“New Normal” Pasca COVID-19
Saat ini
banyak orang mengalami stres berlebihan (overestimate) terhadap situasi,
sehingga muncul ketakutan yang memburuk. Namun, seiring waktu, kita belajar
menyesuaikan diri. Masa post-COVID tidak otomatis stabil, karena virus terus
bermutasi.
New normal:
- Kehidupan berubah secara fundamental,
termasuk budaya memakai masker, cuci tangan, dan menjaga jarak.
- Kesadaran akan penyebaran droplet
penting bukan hanya untuk COVID-19, tetapi juga penyakit lain (TBC,
influenza).
- Percepatan era industri 4.0: pandemi
menjadi katalis bagi adopsi teknologi dan pembelajaran kolektif.
Learning
cycle:
- Awalnya underestimate.
- Kemudian overestimate.
- Akhirnya menjadi realistis,
menyesuaikan diri dengan tatanan baru.
2. Era VUCA
dan Learning Agility
Kita hidup
di era VUCA: volatile, uncertain, complex, ambiguous.
- Perubahan cepat membuat ilmu hari ini
bisa tidak relevan dalam dua tahun.
- Learning agility menjadi kemampuan
vital: kelincahan belajar, adaptasi, dan implementasi cepat.
Contoh
teknologi di dunia sipil:
- Mahasiswa masih belajar theodolite
dan waterpass, padahal industri menggunakan terrestrial laser scanner
(TLS) dan drone mapping.
- Pembuatan peta topografi yang dulu
butuh dua minggu kini cukup dua hari dengan hasil lebih detail.
- Pendidikan harus mengejar
ketertinggalan dunia industri.
3. Learning
Beyond the Sky: Pembelajaran Tanpa Batas
Buku Learning
Beyond the Sky is the Limit (Alex Denni) menekankan:
- Pembelajaran tidak lagi terbatas
ruang kelas; belajar terjadi di mana saja.
- Setiap individu memiliki preferensi
belajar:
- Visual learner → gambar/video
- Auditory learner → verbal &
diskusi
- Kinesthetic learner → praktik
langsung
Prinsip
Applied Learning:
- Pusat pembelajaran adalah individu
itu sendiri.
- Mahasiswa dan karyawan harus menjadi learning
center bagi dirinya sendiri.
4. Metode
Pembelajaran Efektif
- Formal Learning: kelas, pelatihan;
efektivitas ~10%.
- Social Learning: mentoring, coaching,
diskusi; efektivitas ~20%.
- Experiential Learning: praktik nyata;
efektivitas ~70%.
Contoh
experiential learning:
- Mahasiswa melakukan praktik lapangan,
membangun pondasi, menghitung analisis struktur, mempresentasikan hasil ke
konsultan.
- Lebih efektif daripada teori karena
pengalaman langsung membentuk pemahaman mendalam.
5.
Prioritas Waktu: Empat Kuadran Manajemen
- Q1 – Penting & Mendesak:
pekerjaan mendesak, ujian dekat.
- Q2 – Penting tapi Tidak Mendesak:
persiapan jangka panjang, latihan, kesehatan. Fokus di sini membentuk
pertumbuhan berkelanjutan.
- Q3 – Tidak Penting tapi Mendesak:
membantu orang lain tanpa prioritas utama.
- Q4 – Tidak Penting & Tidak
Mendesak: aktivitas sia-sia.
Fokuslah
pada Q2: hal penting yang tidak harus dilakukan hari ini, tetapi akan berdampak
besar di masa depan.
6. Menjadi
Karyawan Baru yang Hebat
Tahap
pertumbuhan: Belajar → Memahami → Berkualitas → Berprestasi → Menginspirasi
Langkah
praktis:
- Pelajari latar belakang & budaya
perusahaan.
- Pahami peraturan & prosedur.
- Pelajari pekerjaan secara menyeluruh.
- Rencanakan karier: susun roadmap,
belajar mandiri, mentoring.
- Kenali tim & temukan mentor
aktif.
Tiga
kualitas utama:
- Integrity (Integritas): fondasi
utama, seperti akar pohon.
- Intelligence (Intelijensi): analisis,
berpikir kritis, belajar dari kesalahan.
- Energy (Energi & Semangat):
pantang menyerah, positif, produktif.
Integritas
nomor satu; tanpa itu, kecerdasan dan energi bisa menjadi bumerang.
7. Skill
Baru untuk Mahasiswa Teknik Sipil di Era Society 5.0
Kebutuhan
utama: digitalisasi, khususnya Building Information Modeling (BIM):
- Desain 3D, kuantitas material,
estimasi biaya, jadwal proyek, manajemen konstruksi terintegrasi.
- Mahasiswa yang menguasai BIM memiliki
keunggulan kompetitif.
Social
learning: berdiskusi dengan senior, alumni, praktisi industri.
Experiential learning: magang nyata, ambil tanggung jawab penuh, jangan takut
gagal.
Contoh
pengalaman nyata:
- Menghitung analisis struktur jembatan
sementara, mempresentasikan ke Project Manager & konsultan, memperoleh
pembelajaran langsung.
8.
Wirausaha dan Pengalaman di Lingkungan Besar
- Pengalaman di perusahaan besar
penting sebelum menjadi pengusaha.
- Belajar sistem manajemen, keuangan,
strategi, dan jaringan di lingkungan terstruktur sebelum berdiri sendiri.
- Analog: “Buntut ikan paus vs kepala
ikan teri” – lebih bijak menjadi bagian dari perusahaan besar untuk
belajar dulu.
9. Sinergi
Kampus dan Industri
Konsep Link
and Match & Merdeka Belajar:
- Kurikulum kampus disesuaikan dengan
kebutuhan industri.
- Magang diperpanjang hingga enam
bulan, seleksi seperti calon karyawan.
- Dosen dilatih memahami praktik
industri 4.0.
- Outcome: mahasiswa siap kerja,
industri mendapat tenaga terlatih.
Center of
Excellence: platform kampus-industri untuk pembelajaran terbaik.
10. Nilai
Dasar dan Kompetensi Abadi
Meskipun
teknologi dan generasi berubah, karakter dan perilaku profesional tetap
relevan:
- Jujur dan berintegritas.
- Disiplin dan konsisten.
- Mudah bergaul, menghargai orang lain.
- Memiliki mentor/pembimbing.
- Pekerja keras, mencintai pekerjaan.
- Jiwa kepemimpinan.
- Kompetitif, menyukai tantangan.
- Hidup teratur dan terencana.
- Pandai mengelola waktu &
prioritas.
- Mampu menjual ide dengan meyakinkan.
Manajemen
waktu: fokus pada hal penting, hindari kuadran Q4 yang tidak produktif.
11. Pesan
Penutup
- Jadilah pembelajar mandiri, pusat
pembelajaran adalah diri sendiri.
- Maksimalkan experiential learning dan
social learning.
- Jaga integritas, asah kecerdasan,
pertahankan energi.
- Kuasai skill digital dan adaptif
dengan perubahan industri.
- Sinergi pendidikan dan industri
menjadi kunci kesiapan kerja.
Dengan
prinsip-prinsip ini, mahasiswa dan karyawan muda dapat bertahan dan berkembang
di era Society 5.0 dan dunia kerja digital yang kompetitif.

Comments
Post a Comment