CDC LEARNING [ 5 ]24 OCT 2025 Topik: PMOs: The Missing Link Between Projects and Strategy
Diselenggarakan oleh: Indonesian Project Management Association (IAMPI Indonesia)
Robert:
Dulu saya mengajar di Swiss Business School, tempat saya ikut mendirikan program
doktor pertama di bidang Strategy, Project Leadership, and PMO Management.
Kemudian saya berpindah ke Alamata, bekerja sama dengan Profesor Reinhard
Wagner, mantan Presiden IPMA.
Saat ini kami
tengah menjalankan beberapa inisiatif, termasuk mendukung mahasiswa doktoral
dalam riset dan publikasi mereka. Tantangan terbesar saya adalah manajemen
waktu, karena selain mengelola asosiasi, saya juga sedang menulis tiga buku —
salah satunya adalah PMO Management Standard.
Fokus utama saya
sekarang adalah bagaimana Artificial Intelligence (AI) memengaruhi dunia PMO.
Kami sedang memperbarui kursus praktisi kami untuk menambahkan modul baru
tentang penerapan AI. Ini bidang yang sangat menarik, dengan potensi besar
untuk diteliti dan dikembangkan.
Bahkan tadi
malam saya bekerja hingga pukul 8 untuk menyelesaikan materi presentasi dan dua
buku baru tentang AI dalam PMO. Dalam dua minggu ke depan, kami juga akan
meluncurkan kursus praktisi terbaru tersebut.
Selain itu, kami
telah mengembangkan PMO Maturity Model, yang sudah kami kembangkan selama tujuh
tahun terakhir — nanti akan saya jelaskan lebih lanjut.
Baru-baru ini, saya mempresentasikannya kepada para kepala proyek di Cape Town,
Afrika Selatan, dan kami berencana menilai 11 PMO menggunakan model ini.
Yang lebih
menarik, kami tengah menjalankan Program Benchmark PMO Internasional — yang
pertama di dunia. Kami telah mengembangkan perangkat lunak yang memungkinkan
perbandingan antara PMO lintas perusahaan, industri, bahkan negara.
Misalnya, PMO di
Indonesia dapat dibandingkan dengan PMO di Thailand, Singapura, atau Australia.
Program ini gratis dan manfaatnya sangat besar. Saya mengundang Indonesia untuk
ikut serta — nanti tautannya akan saya bagikan melalui Roz dan sekretariat.
Program ini
bersifat multi-tahun, sehingga penilaian dapat dilakukan secara berkala untuk
menghasilkan wawasan yang lebih dalam. Selain itu, data ini dapat digunakan
untuk riset akademik, dan asosiasi seperti IPMA Indonesia bisa memanfaatkannya
untuk menentukan fokus pelatihan — misalnya pada stakeholder engagement atau communication
management.
Proyek ini kami
kembangkan dengan sangat hati-hati selama tujuh tahun — sama seperti membuat
pesawat, kami memastikan semuanya diuji dengan matang sebelum diluncurkan.
Prinsip yang sama kami terapkan pada buku dan model kami — semua diuji di
proyek nyata sebelum dipublikasikan.
Selamat datang
di IMP Learning Series dengan topik:
“PMOs: The Missing Link Between Projects and Strategy.”
Acara ini
diselenggarakan oleh Indonesian Project Management Association (IAMPI Indonesia).
RANGKUMAN PMOs:
The Missing Link Between Projects and Strategy”.
Evolusi PMO,
Standar PMI, dan Tantangan Konsistensi dalam Manajemen Proyek
Ketika kita
membahas mandated services (layanan yang diwajibkan) dan non-mandated
services (layanan tidak wajib), tanggung jawab PMO (Project Management
Office) mencakup pengelolaan dan penyampaian kedua jenis layanan tersebut.
Dalam praktiknya, jumlah layanan bisa mencapai ratusan — karena pada dasarnya,
tidak ada batasan tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah PMO.
Sebagai contoh,
pernah ada PMO yang bahkan mengelola sistem pendingin udara (AC). Awalnya hal
ini terasa tidak umum, tetapi kemudian masuk akal — jika sebuah PMO memiliki
kemampuan manajerial yang baik, organisasi lain akan mempercayakan berbagai
masalah kepadanya. Ini justru menjadi tanda bahwa PMO tersebut berkinerja baik
dan diakui, karena semakin banyak tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Namun demikian,
setiap fungsi tetap perlu ditempatkan pada domain yang tepat. Di sinilah
pentingnya service catalog — alat untuk menyeimbangkan layanan yang
diberikan agar PMO memberikan dampak maksimal sesuai dengan mandatnya.
Dalam buku PMO
Capabilities Framework setebal 600 halaman yang disusun selama tiga tahun,
dijelaskan secara rinci 24 domain layanan, termasuk manajemen aset untuk
konstruksi. Buku ini juga memuat kerangka kerja dan standar kompetensi seperti ICB
4.0 (IPMA Competence Baseline), yang nantinya akan diintegrasikan ke versi
terbaru, ICB 5.
Standar-standar ini
berfokus pada domain pekerjaan proyek, bukan pada entitas proyek itu
sendiri, karena proyek adalah entitas sementara yang menghasilkan sesuatu yang
spesifik. PMO sering berkolaborasi dengan asosiasi besar seperti PMI, namun
beberapa publikasi dikembangkan secara independen untuk menyesuaikan konteks
organisasi yang lebih luas.
Perbedaan Antara
PMO Management dan Project Management
Secara tradisional,
PMO berfokus pada assurance (penjaminan mutu) dan compliance
(kepatuhan) — memastikan bahwa seluruh sistem dan persiapan proyek dijalankan
dengan benar. Sedangkan project management fokus pada pelaksanaan proyek
itu sendiri.
Namun, batas antara
keduanya kini semakin kabur. PMO tidak lagi hanya berperan sebagai pengawas,
tetapi mulai ikut terlibat dalam pelaksanaan proyek. Hal ini terjadi karena PMI
(Project Management Institute) memperkenalkan konsep Directive PMO —
model yang menggabungkan fungsi pengawasan dan pelaksanaan.
Masalahnya, hal ini
menimbulkan potensi konflik kepentingan. Ibarat di dunia perbankan: seseorang
tidak bisa sekaligus memberi nasihat investasi dan membeli saham yang sama,
karena itu tergolong insider trading.
Meski demikian,
konflik ini dapat diminimalkan melalui desain model operasi PMO yang tepat. Di
Inggris misalnya, kerangka kerja Axelos mendefinisikan PMO secara jelas
sebagai unit yang menangani compliance, assurance, dan support,
tanpa terlibat langsung dalam pelaksanaan proyek.
Evolusi Standar
PMI dan Kritik terhadap Konsistensi
Jika kita
menelusuri evolusi PMBOK Guide dari versi 1 hingga 7, terjadi perubahan
yang signifikan:
- Versi 1–6 berfokus pada proses.
Awalnya ada 47 proses, lalu bertambah menjadi 49.
- Saat tim Agile masuk, terjadi
perbedaan pandangan antara pendekatan tradisional dan Agile. Akhirnya
keduanya digabung, menghasilkan buku setebal hampir 1000 halaman.
- Versi 7 menjadi titik balik:
semua proses dihapus dan diganti dengan pendekatan berbasis prinsip.
PMI menyebutnya “revolusioner,” tetapi prinsip-prinsip tersebut tidak
dijelaskan dengan jelas, sehingga banyak praktisi kebingungan.
Setelah menerima
banyak kritik, PMI akhirnya mengembalikan proses ke dalam sistemnya. Jadi,
mereka sempat menghapus, lalu mengembalikan lagi — menimbulkan kesan bahwa
tidak ada konsistensi arah yang jelas.
Inilah pertanyaan
penting: apakah standar seperti ini benar-benar bisa disebut sebagai “gold
standard”?
Awalnya, standar
PMI menjelaskan apa dan bagaimana (the what and the how). Kini,
mereka hanya membahas apa tanpa bagaimana. Padahal, bagi
praktisi, standar yang baik seharusnya membantu mereka melakukan sesuatu,
bukan sekadar menjelaskan konsep teoritis.
Ketika saya menjadi
anggota portfolio committee, kami diberi batasan hanya boleh menulis
tentang apa itu manajemen portofolio, bukan bagaimana cara
melakukannya. Saya pun bertanya: “Kalau begitu, apa gunanya standar ini
kalau tidak menjelaskan bagaimana caranya?”
Hal ini menunjukkan
kelemahan mendasar dari standar PMI modern — terlalu fokus pada teori, tidak
cukup pada penerapan praktis.
Rencana Standar
Baru dan Tantangan Logika
PMI kini berencana
membuat standar baru tentang Artificial Intelligence (AI). Tetapi,
apakah masuk akal menstandarkan sesuatu yang masih baru dan terus berkembang?
AI hanyalah teknologi, bukan domain manajemen proyek. Menstandarkan sesuatu
yang masih cair dan berubah cepat justru berisiko mengekang inovasi.
Karena itu, penting
bagi kita untuk tidak hanya menerima apa pun yang diterbitkan lembaga besar
seperti PMI. Kita perlu berpikir kritis — membandingkan, mempertanyakan, dan
menilai apakah benar-benar sesuai untuk organisasi kita. Proses ini disebut sense-making:
menilai apa yang benar-benar masuk akal dan relevan.
Perdebatan Jenis
PMO dan Relevansi Model Lama
Dalam PMBOK
versi 1–5, PMI hanya mendefinisikan tiga tipe PMO:
- Supportive PMO – bersifat
administratif dan memberi dukungan.
- Controlling PMO – mengawasi dan
memastikan kepatuhan.
- Directive PMO – langsung
mengarahkan dan menjalankan proyek.
Namun dalam
praktiknya, model ini tidak pernah benar-benar bekerja secara murni. Tidak ada
PMO yang hanya cocok ke satu kategori. Sebagian besar merupakan campuran dari
ketiganya. Itulah sebabnya kami tidak pernah merekomendasikan organisasi untuk
memakai klasifikasi ini secara kaku.
PMO yang efektif
selalu berevolusi dan beradaptasi mengikuti perubahan organisasi dan
kebutuhan bisnis. Karena itu, istilah PMO maturity (tingkat kematangan)
kurang tepat. PMO tidak “matang” secara linear — mereka berkembang secara
dinamis. Bila tidak berevolusi, mereka akan menjadi usang dan kehilangan
relevansi.
Perbandingan
dengan Standar Lain
Jika kita
membandingkan berbagai standar besar dunia manajemen proyek:
- PMI berpindah dari Knowledge
Areas ke Performance Domains, lalu bolak-balik antara proses
dan prinsip.
- Axelos (PRINCE2) menggunakan themes
dan principles (8 tema, 7 prinsip) dengan pendekatan yang lebih
konsisten.
- IPMA fokus pada Competence
Baseline — menilai kemampuan dan perilaku praktisi.
Di lembaga kami,
pendekatannya lebih adaptif: kami memperbarui materi setiap tahun. Kini sudah
versi ke-8 setelah 10 tahun, dengan 10 frameworks, buku, prinsip,
katalog layanan, dan standar yang didukung oleh riset akademik.
Jadi, kalau PMI
ibarat masih memakai “iPhone 4”, kami terus memperbarui hingga setara dengan
“iPhone 17” — mengikuti zaman, kebutuhan, dan teknologi terkini.
Kesimpulan
- PMO adalah entitas dinamis,
bukan statis — harus berevolusi agar tetap relevan.
- Standar internasional seperti PMI
penting, tetapi tidak mutlak benar; perlu disesuaikan dengan konteks
organisasi.
- Pendekatan proses dan prinsip
harus seimbang: teori tanpa panduan praktis tidak berguna, tetapi praktik
tanpa kerangka teori juga tidak berkelanjutan.
- PMO modern perlu adaptif,
berorientasi layanan, dan mampu mengelola perubahan serta kompleksitas
proyek.
- Sense-making menjadi kunci:
bukan sekadar mengikuti standar, tetapi memahami apa yang paling masuk
akal dan berdampak nyata bagi organisasi.
PMOs: The
Missing Link Between Projects and Strategy
Diselenggarakan
oleh: Indonesian Project Management Association (IPMA Indonesia)
Pembicara Tamu: Professor Robert Joslin, President of AIPMO
(Association of International PMOs)
Moderator:
Di Indonesia, kita
sedang menyaksikan peningkatan pesat proyek-proyek infrastruktur dan investasi.
Namun demikian, masih banyak proyek yang menghadapi tantangan berulang — mulai
dari kesenjangan koordinasi, inefisiensi sumber daya, hingga lemahnya tata kelola
proyek.
Salah satu hal yang
kita sadari adalah bahwa prinsip-prinsip PMO (Project Management Office)
belum diterapkan secara efektif dan konsisten di banyak organisasi maupun
proyek nasional.
Oleh karena itu,
sesi hari ini menjadi sangat penting. Kita beruntung dapat menghadirkan Professor
Robert Joslin, seorang pakar internasional yang akan berbagi wawasan dan
pengalamannya untuk membantu memperkuat kapasitas nasional dalam hal tata
kelola proyek dan penyelarasan strategi.
Dengan ini, secara
resmi saya membuka sesi pembelajaran hari ini bertajuk “PMOs: The Missing
Link Between Projects and Strategy.”
Sesi ini akan dibawakan oleh Professor Robert Joslin, yang saat ini
mengajar di Alamata University dan menjabat sebagai Presiden dari
Association of International Project Management Offices (AIPMO).
Professor Robert,
apakah saat ini Anda bergabung bersama kami dari Slovenia?
Robert:
Sebenarnya, saya sedang berada di Swiss, meskipun saya juga mengajar di sebuah
universitas di Slovenia.
Moderator:
Ah, Swiss — negara yang indah. Baiklah, mari kita mulai sesi hari ini. Saya
serahkan kepada fasilitator untuk melanjutkan.
Fasilitator:
Terima kasih
banyak, Profesor, atas sambutan pembukaannya.
Selamat pagi semuanya, dan selamat datang di International Spinner Learning
Session, seri ke-9 tahun 2025, dengan tema “PMOs: The Missing Link
Between Projects and Strategy.”
Hari ini, kita
benar-benar beruntung karena kehadiran Professor Robert Joslin sebagai
pembicara utama.
Beliau bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga seorang profesional dengan
lebih dari 30 tahun pengalaman di berbagai industri dan proyek besar.
Professor Joslin
adalah penulis sejumlah buku dan juga merupakan salah satu arsitek utama dari PMO
Body of Knowledge (PMO-BoK) di bawah naungan AIPMO, yang kini
menjadi acuan global dalam pengelolaan PMO di banyak negara.
Kita sangat beruntung dapat belajar langsung dari beliau. Tanpa berpanjang lebar, saya persilakan Professor Robert Joslin untuk memulai presentasinya.
Professor Robert
Joslin:
Terima kasih
banyak, Dr. Mohammad. Saya sangat menghargainya.
Selamat pagi semuanya! Kita memiliki waktu sekitar dua jam untuk sesi ini.
Awalnya saya pikir durasinya sekitar 90 menit, tapi tampaknya hanya 30 menit.
Jadi, mungkin saya akan sedikit melewati waktu, namun tetap akan menyisihkan
waktu untuk sesi tanya jawab di akhir.
Saya sudah
membagikan slide presentasi dan laporan asesmen di kolom chat. Silakan
diunduh — laporan tersebut dapat membantu Anda menilai PMO di organisasi
masing-masing.
Inisiatif ini merupakan bagian dari proyek global untuk melakukan
benchmarking PMO di seluruh dunia, sehingga kita dapat membandingkan
antarnegara, industri, dan sektor.
Ketika saya diminta
memilih topik untuk hari ini, saya memilih tema yang menggabungkan konsep
klasik dengan perspektif baru. Presentasi ini merupakan versi pengembangan
dari beberapa sesi sebelumnya, dengan narasi dan data yang diperbarui.
Apakah semua sudah
dapat melihat layar saya?
(Peserta menjawab: Ya)
Baik, saya mulai
dengan sedikit latar belakang.
Sejak kecil, saya memiliki ketertarikan besar terhadap sistem yang kompleks dan
cara memperbaikinya. Ayah saya adalah seorang ilmuwan yang sering membangun
alat-alat inovatif, dan sejak usia tujuh tahun saya sudah membantu beliau
merakit perangkat elektronik penghitung.
Dari situlah saya kemudian menempuh studi sebagai insinyur elektronik,
dan berkarier di bidang metodologi dan benchmarking sistem untuk
Pemerintah Inggris pada tahun 1980-an.
Selama perjalanan
karier saya, saya aktif sebagai relawan di PMI (Project Management
Institute) dan berkontribusi dalam penyusunan standar manajemen portofolio
dan program.
Saya juga menempuh program doktor (PhD) di bidang metodologi, serta
terlibat dengan IPMA (International Project Management Association)
dalam berbagai inisiatif.
Pada tahun 2015,
saya mendirikan AIPMO (Association of International PMOs).
Salah satu alasan yang sangat pribadi adalah karena saya pernah menyaksikan
kasus tragis di Swiss, di mana dua eksekutif mengakhiri hidup mereka setelah
proyek besar yang mereka pimpin mengalami kegagalan.
Peristiwa itu sangat mengguncang dan membuat saya bertekad untuk mencari solusi
agar proyek dikelola lebih baik — dan PMO menjadi kunci utama dalam sistem
tersebut.
Di AIPMO, kami
mengembangkan standar yang berbasis pada riset nyata dan pengujian lapangan.
Semua kerangka kerja kami diuji langsung pada proyek aktif sebelum diterbitkan
— sama seperti pesawat yang harus diuji terbang sebelum benar-benar
dioperasikan.
Hari ini saya akan
membahas beberapa hal penting:
- Mengapa begitu banyak proyek masih
gagal, meskipun sudah banyak riset dan metodologi yang tersedia.
- Kesenjangan sistemik antara strategi
dan pelaksanaan proyek, serta bagaimana PMO dapat menjadi penghubung
efektif di antara keduanya.
- Pengembangan model kematangan dan
dampak PMO, serta proyek benchmarking global yang telah kami jalankan
selama tujuh tahun terakhir.
- Bagaimana Indonesia dan negara lain
dapat memanfaatkan alat ini untuk menilai dan memperkuat kinerja PMO
nasional.
Kita juga akan
melihat studi kasus nyata — misalnya di Cape Town, Afrika Selatan, di
mana kami sedang melakukan asesmen terhadap 11 PMO menggunakan model tersebut.
Kesempatan yang sama juga terbuka bagi Indonesia melalui kolaborasi ini.
Sebagai gambaran,
saya saat ini tinggal di Canton Schwyz, salah satu kanton pendiri Swiss.
Wilayah ini terkenal dengan inovasi, tingkat pendidikan tinggi, dan rasio PhD
serta paten per kapita tertinggi di dunia.
Visi AIPMO adalah
menjadikan manajemen PMO sebagai profesi global yang diakui, layaknya
akuntansi atau hukum.
Misinya adalah untuk mengembangkan teori dan praktik terbaik PMO melalui
pembentukan organisasi yang kolaboratif dan berdampak tinggi.
Seorang profesor
pernah berkata, “PMO itu seperti bagel — bagus di luar, tapi ada lubang di
tengahnya; mereka jarang berkolaborasi satu sama lain.”
Dan itulah yang sedang kami perbaiki.
Melalui kerangka kerja, benchmarking, dan pembelajaran bersama, tujuan kami adalah membangun komunitas PMO global yang lebih kuat, saling terhubung, dan memberikan dampak nyata yang berkelanjutan.
Apakah Anda ingin
saya lanjutkan ke bagian berikutnya (isi presentasi utama Prof. Robert tentang strategic
alignment model, PMO maturity, dan global benchmark results) dalam
Bahasa Indonesia juga?
Presentasi
Profesor Robert Joslin (lanjutan)
Dalam dua bulan ke depan, kami akan meluncurkan hasil dari riset terbaru kami — yaitu 10 kerangka kerja (framework) terintegrasi. Semua framework ini dikembangkan berdasarkan penelitian kolaboratif bersama perusahaan-perusahaan mitra di berbagai negara.
Tujuan utama kami adalah membangun fondasi yang kuat untuk menjadikan PMO
sebagai sebuah profesi yang diakui secara global.
Jika dibandingkan
dengan sepuluh tahun lalu, kami hanya memiliki satu framework dasar. Kini kami
telah memiliki sepuluh framework terintegrasi yang saling melengkapi.
Apa itu
framework?
Framework dapat
diibaratkan seperti template bertingkat, yang membantu kita memahami
konteks percakapan, posisi kita dalam suatu sistem, serta elemen-elemen apa
saja yang perlu dipertimbangkan untuk mengambil keputusan yang tepat.
Framework ini juga digunakan dalam kursus Consulting Frameworks yang saya ajarkan di AIPMO.
Beberapa
pencapaian AIPMO
Ada banyak “firsts”
atau pencapaian pertama di dunia yang telah dilakukan oleh AIPMO, antara lain:
- Organisasi pertama yang memperkenalkan
istilah PMO Management.
- Penulis buku pertama tentang
prinsip-prinsip PMO.
- Penulis buku pertama tentang
portofolio, program, dan governance proyek korporat.
- Penulis buku pertama tentang layanan
dan kapabilitas PMO.
- Penyusun standar resmi pertama untuk
manajemen PMO — standar ini telah ditulis dua tahun lalu dan saat ini
sedang diuji penerapannya.
- Pengembang pertama model siklus
hidup PMO (PMO Life Cycle) dan siklus hidup layanan PMO (PMO
Service Life Cycle).
Semua yang kami
kembangkan berbasis penelitian dan selalu diuji terlebih dahulu dalam
implementasi nyata sebelum dipublikasikan. Setelah diuji, kami mengajarkan
hasilnya melalui pelatihan, dan kemudian organisasi lain juga mulai
menggunakannya.
Kegiatan
Akademik dan Komunitas
Kami
menyelenggarakan berbagai program pelatihan, termasuk program doktor (PhD)
di bidang PMO Management.
Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih banyak, dapat bergabung dengan halaman
LinkedIn AIPMO, di mana kami rutin mengadakan:
- Webinar gratis dan ulasan
buku (book reviews) — kami telah mengembangkan sistem ulasan buku
dengan lebih dari 10 publikasi.
- Forum PhD terbesar di LinkedIn,
dengan lebih dari 5.000 anggota yang berdiskusi tentang manajemen proyek
dan manajemen PMO.
- Komunitas baru bernama Global
Community for Management Offices.
Kami sengaja
menggunakan istilah “Management Offices”, bukan “Project Management
Offices”, karena kini ada ratusan jenis PMO: mulai dari Strategy
Management Office, Transformation Management Office, hingga Program
Management Office.
Istilah ini juga telah diadopsi dalam standar terbaru AIPMO dan buku
baru kami tentang penerapan Artificial Intelligence dalam PMO.
Memahami Konsep
Dasar: Project, Program, Portfolio
Sekarang, mari kita
masuk ke beberapa konsep dasar.
Kadang orang masih bingung membedakan antara project, program, dan portfolio.
Ketiga istilah ini
sesungguhnya tidak ada secara alami — mereka adalah konstruksi sosial
buatan manusia. Definisinya pun bisa berbeda, tergantung pendekatan yang
digunakan oleh lembaga seperti PMI (Project Management Institute) di
Amerika atau APM di Inggris.
Secara sederhana:
- Portfolio adalah wadah besar
yang berisi proyek, program, atau inisiatif lain yang telah disetujui oleh
organisasi.
Segala sesuatu yang selesai atau dibatalkan akan dikeluarkan dari portofolio. - Program management berfungsi
untuk mengelompokkan proyek-proyek yang saling terkait, mengurangi
ketergantungan, dan meningkatkan peluang keberhasilan.
- Project management memastikan setiap
proyek dijalankan dengan baik, baik oleh manajer proyek profesional
maupun oleh manajer insidental yang berasal dari latar belakang non-teknis
(misalnya administratif).
Definisi PMO
(Project Management Office)
Menariknya, definisi
PMO terus berkembang seiring waktu.
Bagi kami di AIPMO, butuh waktu tujuh tahun untuk merumuskan definisi
yang paling akurat — hasil dari proses riset dan pemahaman yang terus
berevolusi.
Kami tidak
menyebut PMO sebagai “fungsi”, karena berbeda dengan fungsi tetap seperti
keuangan, pemasaran, atau produksi, PMO bersifat dinamis — dapat
dibentuk, diubah, atau bahkan dibubarkan sesuai kebutuhan organisasi.
Oleh karena itu,
kami menyebut PMO sebagai entitas, yang bisa beroperasi secara mandiri
atau berkolaborasi dengan PMO lainnya.
Selain itu, kami
melihat PMO sebagai penyedia layanan (service-oriented), bukan sekadar
fungsi organisasi.
Maka dari itu, kami mengembangkan katalog layanan (service catalog) yang
membedakan antara:
- Layanan wajib (mandatory services)
seperti compliance dan assurance, dan
- Layanan opsional yang
berorientasi pada hasil atau nilai (deliverable-oriented PMO).
Model baru ini menunjukkan bahwa PMO modern kini bergerak dari sekadar fungsi kepatuhan menjadi pusat nilai strategis organisasi.
Ketika kita
membahas mandated services (layanan yang diwajibkan) dan non-mandated
services (layanan tidak wajib), tanggung jawab PMO (Project Management
Office) mencakup pengelolaan dan penyampaian kedua jenis layanan tersebut.
Jumlah layanan yang dikelola bisa mencapai ratusan, karena pada dasarnya tidak
ada batasan tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah PMO.
Sebagai contoh,
pernah ada PMO yang bahkan mengelola sistem pendingin udara (AC). Awalnya hal
ini terasa tidak umum, tetapi kemudian masuk akal — jika sebuah PMO memiliki
kemampuan manajerial yang baik dan dapat diandalkan, organisasi lain akan
mempercayakan berbagai masalah kepadanya. Ini justru menjadi tanda bahwa PMO
tersebut berkinerja baik dan diakui, karena semakin banyak tanggung jawab yang
diberikan kepadanya. Namun tentu saja, tetap perlu ada evaluasi untuk
menempatkan setiap fungsi atau layanan ke tempat yang semestinya, seperti
menyeimbangkan kembali service catalog agar setiap layanan berada di
domain yang tepat dan menghasilkan dampak maksimal.
Dalam buku PMO
Capabilities Framework setebal 600 halaman yang disusun selama tiga tahun,
dijelaskan secara mendalam 24 domain layanan, termasuk manajemen aset untuk
konstruksi. Buku ini juga memuat kerangka kerja dan standar kompetensi seperti ICB
4.0 (IPMA Competence Baseline), yang nantinya akan diintegrasikan ke versi
terbaru, ICB 5.
Standar-standar ini
disusun berdasarkan domain pekerjaan (project management domain), bukan
berdasarkan entitas proyek itu sendiri. Sebab proyek adalah entitas sementara
yang berfungsi untuk menghasilkan sesuatu yang spesifik.
PMO sering
berkolaborasi dengan asosiasi manajemen proyek besar, namun dalam beberapa
kasus, publikasi dan pengembangannya dilakukan secara mandiri.
Lalu, apa perbedaan
antara PMO management dan project management?
Secara tradisional, PMO berfokus pada aspek assurance (penjaminan mutu)
dan compliance (kepatuhan). PMO memastikan semua sistem, proses, dan
persiapan proyek dijalankan dengan benar sebelum pekerjaan dimulai. Sementara project
management berfokus pada pelaksanaan — yaitu mengerjakan proyek itu
sendiri.
Namun kini, batas
antara keduanya mulai kabur. PMO tidak lagi hanya berperan dalam kepatuhan dan
penyiapan, tetapi juga mulai terlibat dalam pelaksanaan proyek. Hal ini terjadi
karena lembaga seperti PMI (Project Management Institute) mulai mengakui model directive
PMO yang menggabungkan fungsi keduanya.
Masalahnya, ketika
PMO bertindak sekaligus sebagai pihak pengawas dan pelaksana, timbul potensi
konflik kepentingan — mirip dengan situasi di dunia perbankan ketika seorang
penasihat investasi sekaligus membeli saham yang direkomendasikannya.
Meski demikian,
konflik ini sebenarnya dapat diminimalkan melalui desain model operasi PMO yang
tepat. Di Inggris, misalnya, kerangka kerja Axelos menghindari masalah
ini dengan cara mendefinisikan PMO secara jelas hanya sebagai unit yang
menangani compliance, assurance, dan support, tanpa
terlibat langsung dalam pelaksanaan proyek.
Banyak orang
menganggap organisasi seperti PMI sebagai sumber kebenaran utama dalam
manajemen proyek. Namun, ketika ditelusuri lebih dalam, ternyata ada
ketidakkonsistenan antarversi dalam standar portofolio mereka — versi pertama,
kedua, dan ketiga berbeda satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan
lembaga besar pun masih dalam proses penyempurnaan, dan sebagai profesional,
kita harus tetap kritis serta terus belajar dari perkembangan tersebut.
Kalau kita melihat
evolusi PMI PMBOK Guide dari versi 1 sampai versi 6, awalnya standar itu
berfokus pada proses. Versi pertama memuat 47 proses, lalu meningkat
menjadi 49. Namun, di versi berikutnya, ketika tim Agile mulai terlibat,
terjadi perbedaan pandangan antara tim Agile dan tim PMBOK. Akibatnya, dua
pendekatan ini digabungkan menjadi satu buku tebal setebal hampir seribu
halaman — sangat besar dan membingungkan.
Kemudian, saat
muncul PMBOK versi 7, mereka mengambil langkah radikal: seluruh proses
dihapus, diganti dengan pendekatan berbasis prinsip. Mereka menyebutnya
“revolusioner”. Tetapi masalahnya, prinsip-prinsip itu tidak didefinisikan
dengan jelas. Mereka sendiri tampak belum yakin apa yang dimaksud dengan
“prinsip”. Karena itu, saya pribadi lebih memilih menggunakan Brooklyn
Principles yang lebih terstruktur.
Namun, setelah
mendapat banyak kritik, PMI akhirnya mengembalikan elemen proses tersebut ke
dalam sistemnya. Jadi kalau ditarik garis besar — dulu mereka punya proses,
lalu dihapus, lalu dikembalikan lagi. Hasilnya, kini tidak ada konsistensi yang
jelas.
Hal ini menimbulkan
pertanyaan besar: apakah ini benar-benar bisa disebut sebagai gold standard?
Awalnya, PMI menekankan bahwa standar adalah tentang proses — yaitu
menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu dilakukan. Kini, mereka
hanya membahas apa, tanpa bagaimana. Padahal, menurut saya,
standar yang baik seharusnya membantu orang melakukan sesuatu, bukan
sekadar menjelaskan apa itu.
Sebagai contoh,
ketika saya menjadi anggota komite portofolio, kami diberi batasan bahwa kami
hanya boleh menulis tentang apa itu manajemen portofolio, bukan bagaimana
cara melakukannya. Saya lalu bertanya: “Kalau begitu, apa gunanya standar
ini kalau tidak menjelaskan bagaimana caranya?” Inilah kritik utama saya
terhadap standar PMI hari ini — terlalu teoritis, tidak cukup praktis.
Selanjutnya, PMI
berencana membuat standar tentang Artificial Intelligence (AI). Tapi
saya mempertanyakan logikanya — mengapa menstandarkan sesuatu yang masih baru
dan terus berkembang? AI hanyalah teknologi, bukan domain manajemen proyek.
Jadi, apakah masuk akal untuk menstandarkannya sekarang?
Pelajaran
pentingnya adalah: jangan hanya menerima begitu saja apa yang dikeluarkan oleh
asosiasi besar seperti PMI. Selalu tantang, bandingkan, dan gunakan sense-making
— pikirkan apakah hal itu benar-benar masuk akal bagi organisasi dan konteks
Anda sendiri.
Mari kita lihat
bagaimana PMI mendefinisikan PMO.
Dalam versi 1 sampai 5, PMI hanya menjelaskan tiga tipe PMO dalam setengah
halaman:
- Supportive PMO (pendukung
administratif)
- Controlling PMO (pengendali atau
pengawas)
- Directive PMO (pengarah atau
pelaksana langsung)
Masalahnya, directive
PMO menimbulkan konflik kepentingan karena unit yang seharusnya mengawasi
justru ikut mengerjakan proyek. Meskipun demikian, PMI tetap melegitimasi model
ini — dan banyak organisasi kemudian menirunya, tanpa menyadari potensi
masalahnya.
Ketika saya pertama
kali memberikan pelatihan di Riyadh pada tahun 2016, saya ditanya, “PMO
sebaiknya termasuk tipe yang mana?” Jawaban saya: “Tidak ada satu pun.”
Kenapa? Karena kalau PMO hanya melakukan pekerjaan administratif, mereka tidak
akan pernah berkembang. Dan kalau hanya mengontrol, itu terkesan otoriter.
Faktanya, PMO yang
efektif biasanya adalah kombinasi dari ketiganya. Dalam penelitian kami, tidak
pernah ada satu pun PMO yang cocok 100% ke dalam satu kategori. Semuanya
merupakan campuran — karena peran PMO sangat bergantung pada layanan yang
disediakan dan konteks organisasinya.
Selain itu, konsep PMO
maturity (tingkat kematangan PMO) juga sebenarnya kurang tepat. PMO tidak
“matang” secara linear; mereka berevolusi dan beradaptasi. Jika tidak,
mereka akan menjadi usang dan kehilangan relevansi.
Kalau kita
bandingkan berbagai lembaga:
- PMI dulu berbasis Knowledge
Areas, lalu berubah menjadi Performance Domains, padahal isinya
hampir sama. Mereka berpindah dari process-based ke principle-based,
lalu kembali ke process-based lagi.
- Axelos (PRINCE2) menggunakan
konsep themes dan principles — delapan tema dan tujuh
prinsip, lebih terstruktur.
- IPMA menggunakan Competence
Baseline (ICB), fokus pada kompetensi dan implementasi nyata.
Setiap lembaga
punya pendekatan berbeda, dan tugas kita adalah memahami mana yang paling
relevan untuk organisasi kita.
Di lembaga kami
sendiri, materi selalu diperbarui setiap tahun — kini sudah versi ke-8 setelah
10 tahun, dengan 10 kerangka kerja, buku, prinsip, katalog layanan, dan standar
yang dikembangkan profesional termasuk riset doktoral. Jadi, ibaratnya kalau Anda
menggunakan standar lama seperti PMBOK v3, itu seperti masih memakai iPhone 4,
padahal dunia sudah bergerak ke iPhone 17.


Comments
Post a Comment