In Her View Season 2 | Episode 4 - Pursuit of Happiness, Pancatera

In Her View Season 2 | Episode 4 - Pursuit of Happiness, Pancatera

https://www.youtube.com/watch?v=n29XD8EMvb0

✨ 20 Kunci Bahagia & Tenang ✨

🌿 Detaching dari drama = jaga energi
😊 Contentment = bahagia dalam suka & duka
🧘 Mindfulness = hadir penuh di saat ini
πŸ”¬ Hormon bahagia (dopamin, oksitosin, endorfin, adrenalin)
🀝 Relasi sehat = sumber utama bahagia
πŸ”Ž Refleksi diri = syukur sederhana
🌸 Kebahagiaan itu simple, bukan ribet
πŸ›‘ Batasi energi negatif, fokus ke A-team
πŸ”₯ Kelola emosi kuat dengan sehat
πŸŒ‹ Friend your anger, jangan dipendam
πŸ’« Healing itu naik-turun, nikmati prosesnya
🏑 Quality time & humor di keluarga
🧩 Teknik napas & komunikasi sehat
πŸ‘©‍πŸ‘§ Parenting lewat contoh nyata
🌊 Emosi hanya sementara, seperti ombak
πŸƒ Lepas emosi lewat aktivitas fisik
πŸ™ Doa, surrender, gratitude = damai batin
🌈 Micro joys untuk survive big grief
⚖ Seimbangkan highs & lows hidup
🌟 Autentik & self-love = fondasi bahagia


1. Detaching dan Berani Melepaskan

  • Pentingnya memiliki keberanian untuk melepaskan diri dari orang-orang yang banyak dramanya.
  • Detaching bukan berarti cuek, tapi memilih energi dan lingkungan yang sehat untuk diri sendiri.
  • Menjadi diri sendiri jauh lebih ringan daripada mencoba menjadi orang lain.
  • Contoh pribadi: menghadapi PTSD di usia 20-an, kemarahan bisa ekstrem, tapi belajar mengelola diri itu proses penting.

2. Kebahagiaan dan Contentment

  • Kebahagiaan itu sangat personal dan tidak selalu soal sensasi atau dopamin instan.
  • Contentment atau rasa puas penting; bisa merasa tenang di saat bahagia maupun sedih.
  • Memiliki “north star” atau jangkar kebahagiaan membantu kembali ke perasaan positif ketika hidup terasa sulit.
  • Kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal sederhana:
    • Anak-anak, keluarga, pasangan, teman.
    • Rutinitas kecil sehari-hari, misal menelpon orang tua, mendengar suara orang terkasih.
    • Memperhatikan hal-hal kecil yang bisa disyukuri (gratitude).

3. Mindfulness dan Kehadiran

  • Being present / mindfulness adalah kunci kebahagiaan.
  • Fokus pada momen sekarang, tidak terlalu memikirkan masa lalu atau masa depan.
  • Meditasi adalah salah satu cara efektif:
    • Membawa pikiran ke saat ini, menghargai keberadaan.
    • Membantu menenangkan emosi dan meningkatkan kepuasan batin.

4. Hormon dan Kebahagiaan

  • Empat hormon utama terkait perasaan bahagia: dopamin, endorfin, oksitosin, adrenalin.
  • Aktivitas ekstrem atau olahraga bisa menstimulasi adrenalin.
  • Oksitosin berperan dalam bonding, kasih sayang, dan meningkatkan perasaan bahagia secara fisik (contoh: produksi ASI meningkat ketika ibu merasa senang).

5. Hubungan dan Energi Positif

  • Hubungan yang sehat dengan orang lain maupun hewan peliharaan mendukung kebahagiaan.
  • Studi Harvard 80 tahun menunjukkan bahwa hubungan sosial adalah faktor utama kebahagiaan.
  • Energi positif dari hewan peliharaan membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan mood.

6. Refleksi Pribadi

  • Dulu kebahagiaan dianggap hanya sensasi atau excitement; sekarang menyadari bahwa hal-hal sederhana dan rasa syukur adalah inti kebahagiaan sejati.
  • Tidak perlu selalu “happy-happy” untuk merasa hidup berarti.
  • Mengelola highs & lows hidup dengan kesadaran membuat kita lebih stabil dan damai.

7. Kebahagiaan itu Simple

  • Hadir sepenuhnya di saat ini (mindfulness).
  • Menghargai hal-hal kecil yang bisa disyukuri (gratitude).
  • Menjaga kualitas hubungan dengan orang dan hewan peliharaan.
  • Memahami peran hormon (dopamin, oksitosin, endorfin, adrenalin) dalam perasaan bahagia.
  • Interaksi dengan hewan peliharaan secara ilmiah dapat meningkatkan sistem imun dan memberikan efek terapi.

8. Detaching & Energi Pribadi

  • Berani menegakkan batasan dan detaching dari orang-orang “drama” atau yang menyerap energi negatif.
  • Fokus energi pada keluarga, teman dekat, dan orang-orang yang benar-benar peduli.
  • Lingkaran inti/A-team membantu menjaga keseimbangan emosional.
  • Selective hearing: belajar menyaring informasi yang tidak relevan agar energi tidak terserap.

9. Manajemen Emosi Kuat

  • Name the emotion: beri label pada emosi untuk mengurangi intensitasnya.
  • Teknik: tarik napas, tanya diri sendiri sumber emosi, validate perasaan.
  • Wudhu atau doa sebagai cara spiritual memberi jeda untuk mengelola emosi.
  • Menangis, berteriak di bantal, atau olahraga (boxing, aktivitas fisik) sebagai outlet sehat.
  • Mengajarkan anak tentang ekspresi emosi yang aman, dan menunjukkan unconditional love.

10. Anger Management / Friending Anger

  • Menghadapi kemarahan dengan cara sehat: acknowledge, beri label, release melalui aktivitas fisik atau ekspresi kreatif.
  • Contoh: frustration atau kekecewaan bisa dilepas dengan “slamming door” atau ritual release sederhana.

11. Healing & Self-Reflection

  • Healing bersifat dinamis: ada hari “spirit 100%” tapi besok bisa turun lagi.
  • Belajar menerima dan meresapi emosi, bukan menekan, agar proses penyembuhan berjalan penuh.
  • Pengalaman masa kecil (bullying, disassociation) bisa melatih kemampuan menjaga energi dan kebahagiaan sendiri.

12. Praktik Kehidupan Nyata

  • Quality time dengan pasangan, bermain, atau kegiatan fisik adalah bentuk kebahagiaan praktis.
  • Humor dan self-awareness dalam keluarga membantu meredakan konflik dan mengajarkan anak menghadapi emosi.
  • Vulnerability itu kekuatan: menunjukkan emosi secara sehat membantu membangun koneksi dan keamanan emosional bagi anak.

13. Regulasi Emosi dan Anger Management

  • Frustrasi & Kelelahan: Sering muncul saat diskusi mentok atau menghadapi orang defensif.
  • Teknik 4-7-8 Breathing: Inhale 4 detik, tahan 7 detik, exhale 8 detik → memberi jarak antara stimulus dan respons.
  • Ekspresikan perasaan dengan jelas: Katakan “Aku merasa… karena A, B, C” tanpa menyerang orang lain → tone penting untuk komunikasi sehat.
  • Friending anger: Belajar menghadapi kemarahan secara sehat, tidak menahan tapi mengelola reaksi.
  • Waktu untuk diri sendiri / me-time: Memberi ruang untuk meresapi emosi dan mencegah reaksi berlebihan.

14. Parenting & Modeling Emosi

  • Anak belajar regulasi emosi dari orang tua → penting memberi contoh.
  • Bisa bilang ke anak: “Ibu marah, butuh 10 menit sendiri” → mengajarkan time-out & self-regulation.
  • Menunjukkan emosi secara sehat mengajarkan vulnerability dan keamanan emosional.

15. Emosi Bersifat Sementara

  • Emosi datang dan pergi, seperti ombak → tidak permanen.
  • Jika tidak “disuap” oleh pikiran berulang, emosi berlangsung sekitar 90 detik.
  • Memahami ini membantu melepaskan frustrasi dan marah tanpa menahan hidup sendiri.

16. Pentingnya Physical Outlet

  • Aktivitas fisik (lari, yoga, menari, boxing) membantu melepas frustrasi & meningkatkan endorfin.
  • Tubuh menyimpan emosi → pelepasan fisik membantu menjaga keseimbangan emosional.
  • Analogi Cesar Millan: “A tired dog is a happy dog.”

17. Spiritual & Mindfulness

  • Doa, surrender, dan mengingat kekuatan lebih tinggi menenangkan emosi.
  • Memvalidasi perasaan, menangis, atau bereaksi secara manusiawi tetap penting → emotional release sehat.
  • Fokus pada hal-hal kecil yang disyukuri meningkatkan ketenangan dan rasa bersyukur.

18. Micro Joys & Kebahagiaan Sehari-hari

  • “Micro joys are how we survive macro grief.” → kebahagiaan kecil membantu menghadapi kesulitan besar.
  • Bisa muncul dari buku, minuman, aktivitas sederhana, interaksi dengan orang atau hewan peliharaan.
  • Mengumpulkan micro joys memberi makna dan energi positif dalam hidup sehari-hari.

 

 

Detaching myself from people… dan memiliki keberanian untuk melepaskan diri dari orang-orang yang banyak dramanya. Nanti kita akan bahas lebih dalam soal let them, let me itu gimana. Tapi aku penasaran juga, bagaimana sih cara kalian menghadapi emosi yang kuat? Mari kita jujur, mencoba menjadi seseorang yang bukan diri kita sendiri itu melelahkan dan sia-sia. Aku, contohnya, kan PTSD. Waktu umur 20-an, kalau aku marah, bisa sangat ekstrem. Aku bisa jadi monstrous. Iya, sakaka banget.

Hello viewers, selamat datang kembali di interview kami. Kembali lagi bersama kami-kami di sini. Hai semuanya! Oke, seperti biasa, hari ini kita akan ngobrolin satu hal yang menurutku sangat relevan buat semua orang, yaitu tentang kebahagiaan—arti kebahagiaan itu buat kita sebenarnya apa sih? Ini pasti sangat personal, dan nanti kita juga pasti minta pendapat dari viewers.

Sebelum mulai, aku ingin memperkenalkan teman-teman yang ada di sini. Kita punya Kais Surya, ibu tiga anak—thank you, loh. Caroline Rahmat, ibu tiga anak juga, exactly. Makanya kita akan bicara tentang kebahagiaan, karena menarik nih, kita harus mencuri-curi, mencari kebahagiaan kecil-kecil tiap hari. Berikutnya, kita memperkenalkan Karina Basrewan. Oke, dan Marisanita, ibu dua anjing. Parents, ya. Oh my God, love. Makanya kita akan ngobrol banyak soal kebahagiaan yang kita temui tiap hari.

Ngomongin arti kebahagiaan atau happiness, tentu sangat personal. Ada orang yang ingin banyak hal, ada yang senang dengan hal-hal sederhana. Jadi aku ingin tahu dari kalian semua, apa definisi kebahagiaan menurut kalian?

Ibu K bilang, “I need a dose of coffee right now.” Itu yang membuatnya bahagia. Sebelum punya Ness, dia selalu berusaha mencari kebahagiaan. Tapi sekarang, dia lebih fokus pada contentment, karena kebahagiaan itu tidak selalu bertahan lama. Ada saat-saat kita bahagia, tapi ada juga saat kecewa atau sedih. Jika kita bisa merasa puas (content) di kedua kondisi itu, kita akan lebih tenang. InsyaAllah, kita tahu Allah selalu ada menemani saat susah maupun senang.

Tentu, ada saat-saat puncak kebahagiaan—highs, seperti dosis dopamin yang luar biasa. Tapi ibunya selalu mengingatkan, jangan terlalu bahagia berlebihan, karena harus siap menghadapi hari-hari sedih. Maka sekarang, aku berusaha mengontrol diri saat menghadapi highs maupun lows.

Kalau ditanya apa yang membuat bahagia, Ibu K bilang anak-anaknya. Tapi juga paddle dengan suaminya—bermain air, tertawa. Karina Basrewan menambahkan, untuknya kebahagiaan sehari-hari adalah hal-hal kecil, misalnya bisa menelpon ibu beberapa kali sehari hanya untuk menanyakan kabar, atau mendengar suara suami. Kebiasaan ini dia pelajari sejak kecil dari ayahnya.

Ketika kita menemukan contentment, kita bisa mengembalikan pikiran kita ke hal-hal yang membuat bahagia, meski sedang menghadapi hari yang sulit. Kita bisa punya “north star” atau jangkar yang menuntun kembali ke rasa bahagia.

Marisa Anita menambahkan, menurutnya, containment atau rasa damai itu penting. Kalau sudah ada rasa damai dan keselarasan, naik turunnya hidup tetap bisa kembali seimbang.

Aku sendiri dulu mengira kebahagiaan itu apa pun yang membuatku senang atau excited. Tapi sekarang, setelah pengalaman terkurung selama sekitar 40 hari, aku menyadari, kebahagiaan bukan soal dopamin instan atau sensasi sesaat. Kebahagiaan sejati muncul ketika kita menemukan hal-hal yang bisa disyukuri. Tidak peduli seberapa sulit situasinya, ketika kita sadar masih punya sesuatu untuk disyukuri, otomatis perasaan kita bisa beralih, merasa “Ah, aku masih oke.”

Jadi, kuncinya adalah kepekaan kita untuk memaknai hal-hal yang kita temui setiap hari, dan menemukan kebahagiaan di situ.

Terkadang topik kebahagiaan itu menurutku overrated banget. Banyak orang bilang, “I’m in the pursuit of happiness,” seakan-akan kebahagiaan itu adalah sesuatu yang harus dikejar terus-menerus. Dulu, aku berpikir bahwa manusia memang default-nya merasakan emosi negatif. Ada beberapa teori yang mendukung pemikiran itu. Jadi, kebahagiaan seakan menjadi tujuan besar yang harus selalu dikejar, padahal hidup itu nggak harus seperti itu. Aku akhirnya berpikir, nggak apa-apa kok kalau kita nggak selalu happy-happy banget.

Tapi makin dewasa, aku menyadari bahwa kebahagiaan itu ternyata simple banget. Kebahagiaan itu being present, mindfulness. Ketika aku benar-benar ada di momen ini, tidak terlalu memikirkan masa depan atau masa lalu, aku merasa jauh lebih bahagia. Dengan menghentikan pikiran untuk melompat ke hal-hal di luar apa yang aku lihat, dengar, cium, atau rasakan sekarang, aku belajar untuk benar-benar memaknai kebahagiaan.

Sas, bagaimana denganmu?
“Cara aku itu meditasi. Meditasi itu membawa kita ke present moment, nggak mikir ke depan atau ke belakang. Semakin sering kita melatih otak untuk berhenti berpikir ke masa lalu atau masa depan, kita belajar untuk benar-benar menghargai keberadaan kita saat ini.”

Nah, itu salah satu cara aku meditasi. Lalu, bagaimana kalian masing-masing mengejar kebahagiaan? Kalau kita bicara secara ilmiah, sebenarnya ada empat hormon utama yang terkait dengan perasaan bahagia: dopamin, endorfin, oksitosin, dan adrenalin. Makanya banyak orang mencari sensasi adrenaline junky untuk merasa bahagia. Misalnya, dengan paddle atau aktivitas ekstrem lainnya, itu juga salah satu cara menyiasati kebahagiaan setiap hari.

Aku mau sharing dulu, ya. Oksitosin itu hormon utama untuk kemampuan mengasihi. Dulu, hidup terasa sangat stres, tapi sekarang aku merasa bahagia bahkan dengan hal sederhana, misalnya melihat freezer penuh ASI. Itu sudah membuatku bahagia. Kebahagiaan itu bukan hanya soal bonding ibu dan bayi, tapi selama kita bahagia, tubuh kita pun merespon positif. Misalnya, saat hati senang, produksi ASI jadi lebih banyak. Ini bukti nyata bahwa kebahagiaan memanifestasikan efek fisik.

Selain itu, meditasi juga penting. Marisanita juga meditasi, dan itu membantunya berada di momen saat ini. Bagaimana kita mengejar kebahagiaan, selain melalui hormon, juga melalui kualitas hubungan dengan orang lain. Hubungan yang baik, baik dengan teman maupun orang terdekat, memberi energi positif dan merupakan kunci penting kebahagiaan. Studi Harvard selama 80 tahun juga menunjukkan hal ini.

Selain hubungan antar manusia, kebahagiaan bisa juga datang dari hubungan kita dengan hewan peliharaan. Misalnya, memiliki anjing atau kucing bisa menurunkan kecemasan, meningkatkan imun, dan memperbaiki mood, bahkan hanya dengan mengelus atau melihat mereka. Energi positif dari hewan peliharaan itu nyata, dan itulah salah satu cara kita bisa merasa bahagia setiap hari, terutama saat pandemi banyak orang mencari stress relief dari pets.

 

 

Jadi intinya, kebahagiaan itu simple: hadir di saat ini, menghargai hal-hal kecil yang bisa disyukuri, kualitas hubungan dengan orang dan hewan, serta memahami bagaimana hormon-hormon kita berperan dalam perasaan bahagia.

 

Tapi tetap therapeutic, ya. Hanya dengan melihatnya saja bisa bikin kita zone out dan merasa lebih tenang. Menariknya, ada juga efek positif terhadap sistem imun kita. Aku punya kebiasaan—entah orang lain juga—suka banget sama hewan peliharaan, bahkan kadang membawa bau-bau khas mereka. Misalnya, aku suka hidung-hidungnya anjingku atau kaki mereka yang kadang aku tempel-tempel di hidung. Iya, secara ilmiah ini meningkatkan sistem imun karena ada bakteri-bakterinya, tapi tetap menyenangkan.

Apalagi setelah main basket atau aktivitas fisik lain, interaksi dengan hewan peliharaan itu benar-benar bikin happy.

Nah, kalau Carol sendiri, punya tiga anak, suami yang harus diurus, bisnis, pekerjaan, dan banyak hal lainnya, bagaimana caramu mengejar kebahagiaan?

Carol: “Kalau aku, quality time dengan suami itu penting, misalnya main paddle bareng. Tapi untuk kehidupan secara keseluruhan, aku menemukan kebahagiaan dalam detaching dari orang-orang. Dulu aku suka berada di tengah banyak orang dan takut sendirian. Sekarang, aku merasa bahagia ketika sendiri, karena sudah berdamai dengan diri sendiri. Dulu aku selalu ingin menyenangkan orang lain dan merasa harus punya solusi untuk semua orang. Tapi seringkali masalah itu bukan masalahku. Aku di tengah-tengah, tapi energi habis untuk orang lain. Jadi sekarang aku punya keberanian untuk detaching dari orang-orang yang banyak drama. Aku bisa tetap ramah, tapi ada batasan yang jelas. Energi dan waktu aku lebih aku fokuskan untuk keluarga, teman dekat, dan orang-orang yang benar-benar peduli padaku. Energi yang terbuang ke orang yang nggak peduli itu sama dengan vampire energi.”

Setuju banget. Semakin tua dan punya anak, prioritas menjaga kebahagiaan dan peace itu nomor satu. Aku nggak bisa lagi membagi-bagi energi untuk hal-hal yang nggak penting. Aku jadi lebih preserve energi, fokus ke orang-orang yang benar-benar membutuhkan aku dan membuat aku bahagia.

Sas: “Me time itu happy time aku. Tempat di mana aku bisa benar-benar jadi diri sendiri, pergi dengan ritme sendiri. Sekarang aku berani menegakkan batasan, tidak lagi selalu bilang ‘ya’ untuk semua orang. Aku pilih fokus pada hal-hal yang membuatku bahagia, entah itu waktu dengan suami, anak, latihan, atau nongkrong santai dengan teman. Mencoba menjadi orang yang bukan dirimu adalah usaha yang sia-sia. Sekarang aku punya lingkaran inti dan A-team-ku. Jika sesuatu tidak mendukung energi aku, aku pilih untuk hanya menjadi pendengar atau tidak terlibat terlalu jauh.”

Dan makin tua, aku punya selective hearing. Kalau ada orang yang venting atau ngomong banyak, aku bisa jadi screen saver, masuk kanan keluar kiri—aku dengar sebentar, tapi nggak terserap emosinya. Sebagai introvert, ini kekuatan; kita bisa membuat stage di kepala kita, membentengi diri sendiri.

Dulu waktu SMA, aku sering dibully. Mereka marah-marah di depan aku, tapi aku nggak tahu harus bereaksi bagaimana. Di kepala aku, aku nyanyi, mendengar lagu-lagu untuk mengalihkan perhatian dari kemarahan mereka. Aku hanya disociating. Dari pengalaman kecil seperti ini, aku terlatih untuk bisa menjaga energi dan kebahagiaan sendiri hingga sekarang.

 

Senior itu sampai bilang, “Oh my God…” sampai ada yang memang seperti itu orangnya. Aku dulu kalau gitu, yaudah aku diem aja. Tapi di dalam hati, aku hanya masuk kanan, keluar kiri. Bahkan kadang aku nyanyi di kepala biar nggak terserap emosi mereka.

Gue: “Good for you guys. Untuk gue, itu datang dari hati karena gue pernah mengalami hal yang sama. Apalagi kalau lagi banyak penolakan dalam hidup, kadang gue mikir, ‘Ini nggak bikin gue lebih bahagia atau lebih baik, tapi mungkin bikin lebih kuat.’ Tapi kadang gue nggak tahu apakah benar-benar lebih kuat, karena mulut mereka ngomong tapi gue nggak ngerti apa yang mereka bilang. Jadi di kepala gue, aku nyanyi.”

Nis: “Iya, Kak. Tapi kalau itu, itu memang sengaja. Kalau ada gencetan atau tekanan, aku sengaja nggak memasukkan itu ke hati. Jadi buat kakak kelas gue dulu, mohon maaf tapi gue nggak bisa disakiti. Let them, let me.

Gue: “Betul. Nanti kita bahas ya, ‘Let them, let me’. Tapi penasaran juga, gimana kalian menghadapi emosi yang kuat?”

Dalam perjalanan healing gue, ada hari-hari di mana gue merasa, “Wow, gue oke hari ini.” Spirit 100%. Tapi besoknya bangun dengan perasaan ‘wah, man…’ Dulu gue suka mikir, jangan dirasain. Tapi enggak bisa. Kalau nggak dirasain, proses healing nggak jalan sepenuhnya.

Jadi, gimana kalian deal dengan strong emotions?

Salah satu cara gue: Name the emotion. Dari kecil gue selalu merasa penuh dengan emosi kuat, sampai orang bilang, “K, kamu terlalu intense.” Baru dewasa ini gue belajar, ada cara untuk mengurangi power dari emosi itu. Caranya: gue biarkan diriku merasakannya, tapi gue beri nama emosinya.

Misal gue mulai hyperventilating dan emosi kuat muncul, gue tarik napas dalam, dan tanya diri sendiri: “Ini datang dari mana? Kesedihan? Marah? Kenapa ini muncul?” Setelah tahu nama emosinya, gue bilang, “Oke, ini yang gue rasakan sekarang. Gue validate diri sendiri.” Dari situ, gue keluar dari emotional distress dan masuk ke keadaan yang lebih tenang.

Reaksi kita biasanya muncul karena kita nggak tahu apa yang kita rasakan. Kita bereaksi dulu, baru sadar. Kalau kita bisa memberi label pada emosi, prosesnya lebih manageable. Ada teori wheels of emotion yang bilang cuma ada 4–5 emosi besar, turunan reaksinya berbeda-beda.

Gue selalu mencoba, tapi gue manusia. Konsistensi nggak bisa dijamin. Sekarang, gue juga pakai cara spiritual: wudhu, berdoa, bukan untuk menekan emosi, tapi memberi waktu untuk diri sendiri. Kadang gue reaktif, tapi sekarang gue coba tenang dulu, beri label emosi, dan kalau perlu menangis, ya menangis.

Caroline: “Benar. Menangis itu manusiawi. Terkadang gue teriak di bantal, melepaskan amarah, dan setelah itu rasanya lega, bisa bernapas. Dulu suami jadi ‘punching bag’, sekarang bantal. Progres, kan?”

Boxing class juga membantu, tapi kadang nggak bisa karena anak-anak. Misal kemarin ada sedikit disagreement sama suami. Ryan, anak pertama, tanya, “Mommy, kamu nggak mau bilang hi ke Bapak?” Aku jawab hi, terus dia bilang, “Aku ngobrol nanti ya.” Anak bisa merasakan ketegangan. Saat suami pulang, kami saling minta maaf dan memeluk di depan anak-anak, lalu bicara satu per satu dengan Ryan. Ini ngajarin anak-anak: orang tua bisa nggak setuju, bertengkar, tapi tetap saling cinta.

Ini juga berbeda dari conditional love. Generasi orang tua kadang ngajarin: “Aku hanya akan mencintaimu kalau kamu baik.” Tapi kita tunjukkan: “Nak, ibu dan bapak bisa nggak setuju, tapi tetap cinta kamu. Nakal atau tidak, kami tetap sayang.”

Vulnerability juga kekuatan. Bahkan laki-laki kadang nggak mau share perasaan. Dengan menunjukkan itu, anak-anak belajar aman untuk mengekspresikan emosi mereka.

  Anak gue pernah bilang, “Ibu, dia lagi suka nonton Spongebob kan? Kalau ibu tuh kayak Squidward.” Kenapa? “Ibu suka marah-marah.” Gue cuma mikir, iya juga, kalau menyebalkan memang bikin gue marah. Gue bilang ke dia, “Iya, aku Patrick juga kok,” lalu kita ketawa bareng.

Emosi besar yang sering gue temui adalah marah. Gue harus belajar friending anger alias menghadapi kemarahan dengan cara yang sehat. Nanti gue akan bahas anger lebih jauh.

Dua yang di sebelah sana, KB dan Marisa, kelihatan jarang marah. Gue penasaran, emosi kuat apa yang paling challenging buat kalian?

KB: “Untuk gue, campuran frustrasi dan kekecewaan ketika sesuatu nggak sesuai ekspektasi, terutama kalau PMS. Misal suami nggak melakukan sesuatu yang gue harapkan tapi nggak gue bilang, gue jadi frustrasi. Biasanya hilang dalam 5 menit, tapi kalau lebih tinggi levelnya, gue punya pintu di rumah—jadi tempat slamming punching. Gue nggak teriak, tapi cukup buat release. Setelah itu gue bilang, ‘Terima kasih pintu’ dan ‘Maaf, Max’.”

Gue: [Tertawa] “Pintu dapat permintaan maaf pertama, ya? Lucu banget. Bayi baru lahir, pintu nggak berfungsi lagi.”

 

Marisa: “Mirip sama KB. Frustrasi dan kelelahan. Kalau capek, aku kasih tahu orang di sekitar, ‘Hari ini aku mungkin bakal nangis, nggak ada hubungannya sama kamu, aku cuma capek.’ Kadang mereka bilang, ‘Ya udah nangis sekarang aja.’ Terus aku nangis. Frustrasi biasanya muncul saat diskusi mentok sama orang yang defensif. Cara aku atasi: tarik napas dulu—metode 4-7-8. Inhale 4, tahan 7, exhale 8. Ini membantu bikin jarak antara stimulus dan respons.”

“Selain itu, ekspresikan perasaan dengan jelas. Misal kecewa sama seseorang karena tindakannya. Jangan marah-marah, tapi bilang: ‘Aku merasa begini, aku kecewa, aku kesal karena A, B, C, D.’ Tone-nya dijaga biar mereka nggak merasa diserang. Gue nggak selalu bisa jaga tone, tapi sadar penting buat komunikasi sehat.”

Gue: “Setuju. Aku waktu 20-an marah bisa monstrous. Orang nggak mau dengerin, akhirnya gue belajar: orang lain cuma mau denger kalau mereka nggak merasa diserang. Jadi tone harus dijaga. Itu juga penting buat public speaking.”

“Kadang gue juga begitu ke orang terdekat. Misal teman marah sama gue, mereka uring-uringan sendiri, terus ngobrol sama terapisnya, baru sadar marahnya sama gue. Besoknya dia bilang, ‘Mar, aku marah sama kamu.’ Kami ngobrol, minta maaf, selesai. Weightless.

Gue juga mulai lakukan ini ke anak-anak. Sekarang gue bilang, “Mas, ibu marah karena kamu bikin ibu marah. Kamu mau bikin terus? Do that again.” Anak mulai sadar reaksi suara dan tindakan. Gue juga belajar sebagai orang tua harus memberi contoh. Kadang gue lelah, capek, tapi tetap mencoba mengelola reaksi, bukan perasaan. Feeling tetap ada, tapi reaksi bisa dikendalikan.

Anak gue pernah bilang, “Ibu, dia lagi suka nonton Spongebob kan? Kalau ibu tuh kayak Squidward.” Kenapa? “Ibu suka marah-marah.” Gue cuma mikir, iya juga, kalau menyebalkan memang bikin gue marah. Gue bilang ke dia, “Iya, aku Patrick juga kok,” lalu kita ketawa bareng.

Emosi besar yang sering gue temui adalah marah. Gue harus belajar friending anger alias menghadapi kemarahan dengan cara yang sehat. Nanti gue akan bahas anger lebih jauh.

Dua yang di sebelah sana, KB dan Marisa, kelihatan jarang marah. Gue penasaran, emosi kuat apa yang paling challenging buat kalian?

KB: “Untuk gue, campuran frustrasi dan kekecewaan ketika sesuatu nggak sesuai ekspektasi, terutama kalau PMS. Misal suami nggak melakukan sesuatu yang gue harapkan tapi nggak gue bilang, gue jadi frustrasi. Biasanya hilang dalam 5 menit, tapi kalau lebih tinggi levelnya, gue punya pintu di rumah—jadi tempat slamming punching. Gue nggak teriak, tapi cukup buat release. Setelah itu gue bilang, ‘Terima kasih pintu’ dan ‘Maaf, Max’.”

Gue: [Tertawa] “Pintu dapat permintaan maaf pertama, ya? Lucu banget. Bayi baru lahir, pintu nggak berfungsi lagi.”

Marisa: “Mirip sama KB. Frustrasi dan kelelahan. Kalau capek, aku kasih tahu orang di sekitar, ‘Hari ini aku mungkin bakal nangis, nggak ada hubungannya sama kamu, aku cuma capek.’ Kadang mereka bilang, ‘Ya udah nangis sekarang aja.’ Terus aku nangis. Frustrasi biasanya muncul saat diskusi mentok sama orang yang defensif. Cara aku atasi: tarik napas dulu—metode 4-7-8. Inhale 4, tahan 7, exhale 8. Ini membantu bikin jarak antara stimulus dan respons.”

“Selain itu, ekspresikan perasaan dengan jelas. Misal kecewa sama seseorang karena tindakannya. Jangan marah-marah, tapi bilang: ‘Aku merasa begini, aku kecewa, aku kesal karena A, B, C, D.’ Tone-nya dijaga biar mereka nggak merasa diserang. Gue nggak selalu bisa jaga tone, tapi sadar penting buat komunikasi sehat.”

Gue: “Setuju. Aku waktu 20-an marah bisa monstrous. Orang nggak mau dengerin, akhirnya gue belajar: orang lain cuma mau denger kalau mereka nggak merasa diserang. Jadi tone harus dijaga. Itu juga penting buat public speaking.”

“Kadang gue juga begitu ke orang terdekat. Misal teman marah sama gue, mereka uring-uringan sendiri, terus ngobrol sama terapisnya, baru sadar marahnya sama gue. Besoknya dia bilang, ‘Mar, aku marah sama kamu.’ Kami ngobrol, minta maaf, selesai. Weightless.

Gue juga mulai lakukan ini ke anak-anak. Sekarang gue bilang, “Mas, ibu marah karena kamu bikin ibu marah. Kamu mau bikin terus? Do that again.” Anak mulai sadar reaksi suara dan tindakan. Gue juga belajar sebagai orang tua harus memberi contoh. Kadang gue lelah, capek, tapi tetap mencoba mengelola reaksi, bukan perasaan. Feeling tetap ada, tapi reaksi bisa dikendalikan.

 

Gue kesal, tapi pertanyaannya: reaksi gue harus gimana sih? Ini membawa gue ke poin berikutnya: regulasi emosi. Kita nggak bisa menenangkan orang lain kalau kita sendiri masih naik-turun emosinya.

Gue ingat banget dengar satu podcast The Happiness Project. Di satu episode, mereka bilang: “In order to be happy, you have to be sad better.” Jadi kita dilatih untuk merasakan emosi negatif supaya bisa menghargai emosi positif dengan lebih baik. Nggak mungkin kita mengabaikan emosi negatif, karena kita manusia.

Selain itu, gue belajar bahwa emosi gue sangat menular ke anak-anak. Gue nggak bisa ngajarin regulasi emosi kalau gue sendiri nggak bisa mencontohkan. Jadi pertanyaannya: bagaimana kalian meregulasi emosi yang meledak-ledak tapi nggak perlu dikeluarkan?

KB: “Aku gampang overstimulated dan jadi snappy, apalagi 40 hari terakhir manage tiga anak di rumah. Kadang aku WhatsApp suami, bilang, ‘Oh my God, aku overstimulated banget, mau nangis, nggak bisa, mau ini.’ Anak-anak melihat kita untuk belajar regulasi emosi karena kita yang menuntun mereka. Tapi aku harus bilang ke diri sendiri: not to be triggered. Emosi mereka bukan milikku.”

Ini juga pengalaman postpartum kedua gue—lebih berat daripada pertama. Hormon acakadut banget, ditambah ADHD, bikin semuanya lebih intens. Tapi dari pengalaman pertama, gue belajar pentingnya melepaskan emosi dengan cara aman. Anak-anak masih mengandalkan kita, jadi gue harus ingat: aku nggak boleh ter-trigger oleh emosi mereka, karena itu emosi mereka, bukan milikku.

Gue menerapkan hal ini juga ke anak: gue bilang, “Mas, ibu marah banget, ibu butuh 10 menit sendiri.” Anak belajar time-out sendiri, meditasi, atau pause. Kita nggak bisa ikut meledak, harus cari cara untuk remove diri dari situasi itu.

Marisa: “Aku pakai mindset: nggak ada yang permanen di dunia ini, termasuk emosi. Kalau aku lagi frustrasi, aku ingat besok juga akan berlalu. Secara ilmiah, emosi berlangsung sekitar 90 detik jika kita nggak menyuapnya dengan pikiran yang makin memanaskan. Emosi itu datang dan pergi, seperti ombak di pantai. Semua situasi dan momen di dunia ini tidak permanen, termasuk emosi.”

KB: “Aku juga belajar nggak menghukum diri sendiri karena emosi. Kalau lagi marah, ya marah aja, namanya juga manusia. Healthy anger itu penting, asal bisa diregulasi dan diekspresikan dengan cara aman. Kalau kita menekan semua emosi, nanti meledak, atau malah jadi emotionless, seolah teflon, nggak punya perasaan—padahal sebenarnya kita menekan hidup kita sendiri. Anger itu proteksi diri, menjaga dari disakiti lagi.”

Pertanyaannya sekarang: bagaimana cara merasakan emosi, menemukan kebahagiaan kecil, dan tetap bersyukur?

Marisa: “Aku cuma ingat bahwa aku masih bernapas, masih hidup. Bersyukur untuk apa pun yang terjadi. Aku tahu Tuhan selalu bersama, menenangkan aku dan emosiku. Meski marah, frustrasi, kecewa sama manusia—termasuk anak-anak—itu wajar. Semua manusia pasti akan mengecewakan di beberapa titik, tapi itu bukan akhir dari segalanya.”

Yang nggak akan mengecewakan gue itu adalah Tuhan, kekuatan yang lebih besar. Jadi, gue serahkan hidup gue kepada-Nya. Meski gue masih manusia—masih bisa marah, nangis, teriak—gue mencoba fokus pada hal itu dan memahami bahwa dalam setiap rasa sakit ada kemudahan, dan dalam setiap kemudahan ada gangguan di sana-sini. Hidup itu siklus: nggak akan terlalu bahagia, nggak akan terlalu sedih, cukup bersyukur. Semua ada musimnya.

Beberapa orang bilang, “Hidupmu membosankan,” tapi gue lebih memilih hidup stabil dan tenang daripada roller coaster yang kacau.

Carol menambahkan, doa sangat membantu menenangkan emosi yang kuat. Dalam doanya, dia mengingat bahwa jasmani lemah, tapi ada roh dan kekuatan yang lebih tinggi yang bisa menenangkan. Kita harus menyerahkan diri (surrender), meminta bantuan Tuhan ketika kita merasa terlalu lemah mengendalikan emosi.

Gue sendiri merasa perlu mengekspresikan emosi secara fisik juga. Tubuh kita menyimpan kemarahan dan kekecewaan. Postpartum jadi lebih menantang karena gue belum boleh olahraga berbulan-bulan setelah melahirkan. Sebelumnya, gue aktif menari dan melakukan banyak aktivitas fisik untuk manage my cup of emotions. Tanpa itu, tubuh gue merasa menahan semuanya.

Selain itu, aktivitas fisik seperti lari atau yoga membantu melepas frustrasi. Seperti analogi Cesar Millan tentang anjing: “A tired dog is a happy dog.” Kalau gue capek secara fisik, biasanya lebih bahagia. Endorphin dari gerakan tubuh bisa meningkatkan mood, sebagaimana saran Dr. Lori Santos.

Selain fisik, penting juga untuk jujur dengan emosi yang kita rasakan. Kadang dulu kita nggak boleh marah karena dibesarkan dengan cara tertentu, sehingga muncul persepsi negatif tentang emosi. Sekarang, dengan parenting generasi baru, biarkan anak mengekspresikan emosi mereka supaya dewasa nanti tidak meledak-ledak.

Kedua, bagaimana mengekspresikan emosi itu juga penting. Menahan marah, frustrasi, atau kecewa memang menantang. Tapi kalau kita sudah punya tools untuk mengekspresikan emosi secara sehat, kualitas hidup akan meningkat. Buku yang gue baca bilang bahwa vibrasi terbaik dalam tubuh berasal dari hati, bukan otak. Saat kita bisa merasakan dan menularkan emosi positif, energi itu menular ke orang-orang di sekitar kita.

Pertanyaannya sekarang: bagaimana kalian menemukan little happiness, kebahagiaan kecil yang membuat kalian sangat bersyukur?

Untuk menutup sesi ini, gue ingin share satu kutipan dari Instagram Glphics:
“Micro joys are how we survive macro grief.”

Micro joys artinya kebahagiaan kecil yang hadir dari mana saja—buku, minuman, aktivitas sederhana—yang memberi makna dalam hidup kita. Buatlah hidup kita fokus pada hal-hal kecil ini.

Terima kasih banyak karena kalian bukan hanya micro joy, tapi juga macro joy. Semoga kebahagiaan kita menular ke orang lain. Jangan lupa subscribe YouTube channel untuk lebih banyak konten.

Season dua sudah hadir, diceritakan dari perspektif wanita tapi untuk semua orang, melalui hati, humor, dan sudut pandang berbeda, untuk rasa ingin tahu, koneksi, dan keberanian. Ikuti kami di YouTube, Instagram, Spotify, X, dan TikTok untuk lebih banyak momen ajaib di setiap episode.


 

Comments

Popular Posts