The Urgency of Living Your Purpose Before It’s Too Late | Les Brown
1. Kesadaran akan Waktu dan Kematian
-
Hidup terbatas; waktu yang tersisa tidak pasti.
-
Kesadaran bahwa perjalanan hidup yang sudah ditempuh lebih panjang dari yang tersisa menjadi pemicu urgensi.
-
Tujuan: gunakan sisa waktu untuk hal-hal bermakna, bukan rutinitas kosong.
2. Hidup dengan Rasa Urgensi
-
Fokus pada hal-hal yang penting, bukan sekadar aktivitas.
-
Rasa urgensi memotivasi kita untuk bertindak sekarang, memaksimalkan potensi diri, dan memberi dampak.
3. Pentingnya Alasan / “Why”
-
Alasan kuat (why) menjadi bahan bakar menghadapi rintangan, kegagalan, dan kesulitan.
-
Tanpa alasan yang jelas, orang mudah menyerah.
-
Contoh: janji kepada orang tua menjadi motivasi terbesar untuk bertahan.
4. Misi Hidup dan Warisan
-
Hidup untuk memberi dampak dan meninggalkan warisan berarti.
-
“I aspire to inspire until I expire” → menginspirasi orang lain hingga akhir hayat.
-
Semua orang memiliki sesuatu unik dalam diri masing-masing, ditugaskan untuk sebuah misi.
5. Kekuatan Cerita dan Pengalaman
-
Pengalaman pribadi, kegagalan, perjuangan, dan kemenangan yang dibagikan secara emosional lebih mengubah daripada sekadar informasi.
-
Storytelling adalah alat utama untuk menginspirasi, membangun hubungan, dan mempengaruhi orang lain.
6. Pembelajaran dari Les Brown
-
Ketekunan dan kegigihan: terus berusaha meski ditolak, belajar dari proses.
-
Lingkungan dan kondisi sulit bukan batasan, tetapi peluang untuk menentukan visi dan tujuan hidup.
-
Coaching dan mentor penting; orang yang sukses selalu terbuka untuk belajar.
-
Keyakinan orang lain bisa menjadi katalis pertumbuhan diri sendiri.
7. Pendidikan dan Legacy
-
Membagikan pengetahuan, memberdayakan orang lain, dan membantu generasi berikutnya menemukan suara dan tujuan mereka adalah bentuk warisan hidup.
-
Tujuan hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk memberi dampak bagi komunitas dan dunia.
8. Hidup Seutuhnya
-
Hidup dengan penuh energi spiritual dan semangat, meski usia bertambah.
-
Melampaui ketakutan, melompat dulu baru sayap tumbuh → personal power.
-
Hidup adalah tentang menjadi versi terbaik diri kita, menulis bab baru, dan membangun cerita yang bermakna.
9. Prinsip Inspiratif
-
“Persist until you succeed” → bertahan sampai berhasil.
-
“Hidup adalah petualangan berani, atau membosankan.”
-
Jangan habiskan waktu mengejar semua orang; fokus pada pertumbuhan diri dan dampak.
Apa yang ingin kamu lakukan dengan hidupmu? Saya percaya percakapan yang akan saya bagikan ini dapat membantu kamu bergerak dengan rasa urgensi yang lebih besar, menjadi lebih terarah, dan lebih bijak dalam menggunakan waktu. Karena waktu adalah darah kehidupan. Apa yang kita lakukan dengan sisa waktu yang kita miliki di bumi akan menentukan kualitas hidup kita.
Pandemi virus korona memberi saya sebuah pelajaran besar: saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya memiliki tanggal kedaluwarsa. Bukan dalam arti yang suram, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari kehidupan ini hidup-hidup.
Baru-baru ini saya berbincang dengan Jerry, salah satu rekan bisnis saya. Ia mengatakan sesuatu yang begitu dalam sehingga membuat saya terjaga semalaman. Katanya:
“Perjalanan yang sudah saya tempuh lebih panjang dibandingkan perjalanan yang masih tersisa.”
Kalimat itu menghantam saya keras. Ia berusia 75 tahun. Semua pengalaman, pembelajaran, dan pencapaian yang ia jalani—semuanya sudah jauh lebih panjang dibandingkan jalan yang masih tersisa di depan.
Pertanyaannya: berapa lama lagi waktu yang kita punya? Kita tidak pernah tahu.
Karena itu, saya ingin berbicara pada orang-orang yang lapar untuk memberi dampak, yang ingin menjadikan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya sebagai bagian terbaik dari perjalanan hidup mereka. Sebab kematian adalah bagian dari proses, salah satu musim kehidupan. Dan di antara musim itu ada masa pencerahan, masa perjuangan, masa terobosan besar.
Bagi saya pribadi, ini adalah momen terobosan. Saya mulai meninjau kembali apa yang ingin saya capai di tahun ini. Bukan sekadar menyambut tahun baru dengan ucapan selamat, melainkan sungguh-sungguh memaknai waktu. Sebagai ayah, kakek, sekaligus buyut, saya memikirkan bagaimana saya menjalani hidup, bagaimana saya menggunakan waktu, dengan siapa saya menghabiskannya, bahkan siapa saja yang masih layak mendapat telepon dari saya.
Saya menuliskan satu tujuan besar: saya ingin menyelesaikan hidup ini dengan kuat. Saya tidak ingin hanya sampai di ujung dan berkata, “ya sudah, perjalanan yang lumayan.” Tidak. Saya ingin menutup hidup ini dengan pencapaian yang bermakna.
Dan saya bertanya pada kamu: berapa banyak dari kalian yang juga ingin menyelesaikan hidup ini dengan kuat?
Kehidupan penuh ketidakpastian. Tak pernah saya alami masa di mana bahkan untuk bernapas saja kita begitu sadar. Dan memang, ada dua hal utama yang dibutuhkan untuk bertahan hidup: yang pertama adalah napas. Tanpa napas, kita tidak ada. Baik bernapas sendiri maupun dibantu mesin, itu yang membuat kita tetap di sini.
Saya sampai di titik ini hanya karena kasih karunia dan rahmat Tuhan. Saya menyadari bahwa perjalanan yang sudah saya tempuh lebih panjang dari perjalanan yang tersisa. Karena itu, komitmen saya adalah menggunakan sisa waktu untuk mengajar orang lain bagaimana menjalani tahun ini dan tahun-tahun mendatang sebaik mungkin.
Kita semua pernah melewati hal-hal sulit, melakukan kesalahan, menghadapi masalah, sekaligus menciptakan cerita. Saya percaya kita semua lahir membawa kisah besar dalam diri kita. Hingga suatu saat kita terbangun dan bertanya: ke mana perginya waktu?
Sekarang, di usia 75, saya bahkan sering lupa hari. Saya sampai bertanya tiga kali sehari pada anak saya, “Hari apa ini?” Inilah bagian dari hidup. Saya jadi teringat jawaban ibu saya dulu, ketika saya bertanya mengapa setiap minggu beliau mengucapkan syukur bisa bangun dengan akal sehat. Ia berkata, “Kamu akan mengerti ketika hidupmu lebih panjang.” Dan benar adanya.
Jadi, pertanyaannya: apa yang akan kita lakukan dengan sisa perjalanan ini? Saya percaya kuncinya adalah hidup dengan rasa urgensi.
Orang yang hidup dengan rasa urgensi menggunakan waktunya untuk hal-hal penting, bukan sekadar rutinitas. Inilah yang saya lakukan sekarang. Bagi saya, ini bukan pekerjaan. Ini adalah panggilan.
Saya pernah mengalami kondisi tubuh yang lemah, sakit parah karena saraf terjepit, sampai harus dibawa dengan kursi roda ke belakang panggung. Saat itu saya hampir tidak bisa berdiri, namun tetap bersiap untuk berbicara di hadapan ribuan orang.
Mengapa? Karena berbagi pesan hidup, membangkitkan semangat, dan menginspirasi orang lain bukan sekadar profesi bagi saya—itu adalah misi.
Saat itu saya duduk di kursi roda di belakang panggung. Saya bertanya-tanya, kenapa Calvin, anak saya, tidak memberi saya dorongan semangat? Biasanya, sebelum saya naik ke panggung, dia akan berbicara sesuatu untuk menguatkan saya. Tapi kali ini dia diam. Saya pikir, “Saya juga manusia. Saya juga butuh motivasi.”
Ketika nama saya dipanggil, tirai terbuka. Mikrofon sudah disiapkan tepat di depan. Saya hanya perlu berjalan tiga atau empat langkah. Dengan tertatih, saya meraih mikrofon itu, lalu mulai berbicara. Dan benar saja, saya berhasil memberikan presentasi dengan baik hingga mendapat standing ovation.
Setelahnya, saat Calvin mendorong kursi roda saya kembali ke kamar, saya bertanya, “Nak, kenapa tadi kamu tidak berkata apa pun untuk menyemangati ayah?”
Ia menjawab, “Daddy, begitu saya melihat jarak mikrofon dari tirai, saya tahu itu jarak yang bisa ayah tempuh. Dan saya yakin, begitu tangan ayah memegang mikrofon, selesai sudah—tidak ada yang bisa menghentikan ayah. Bahkan sakit pun tidak akan bisa. Saya tahu ayah pasti akan menyampaikan pidato itu.”
Dan ia benar. Begitu tangan saya menyentuh mikrofon, saya masuk ke dalam zona saya. Saya merasa hidup kembali, karena saya melakukan apa yang memang saya datang untuk lakukan.
Lalu, saya ingin bertanya: apa warisan yang ingin kamu tinggalkan di dunia ini?
Saya punya satu prinsip: “I aspire to inspire until I expire.” Saya ingin terus menginspirasi hingga akhir hayat saya. Itu tujuan saya. Karena saya percaya kita semua di sini dipilih—dari 400 juta kemungkinan, kita yang terlahir. Itu berarti ada sesuatu yang unik di dalam diri kita masing-masing. Kita ditugaskan, kita diutus untuk sebuah misi.
Pertanyaan berikutnya: bagaimana dengan orang-orang yang belum tahu misinya? Misalnya, saya mengenal seorang wanita. Ia bekerja di perusahaan besar, Oracle. Pekerjaannya bergaji tinggi, tapi ia tidak bahagia. Ia ingin memberi dampak positif bagi anak-anak, namun tidak punya rencana atau arah.
Masalahnya bukan pada rencana—melainkan pada alasan. Ia belum menemukan reason-nya.
Saya percaya, alasan adalah bahan bakar hidup. Karena dalam perjalanan, kita akan menghadapi kegagalan, kesulitan, bahkan jatuh bangun. Tetapi alasan yang kuatlah yang membuat kita bangkit kembali. Alasan yang membuat kita bertahan.
Saya sendiri pernah menghadapi banyak rintangan. Namun menyerah bukanlah pilihan. Saya teringat janji saya kepada ibu: “Mama, saya janji, Ibu tidak akan pernah masuk panti jompo. Saya akan menjaga dan merawat Ibu.” Itu menjadi alasan terbesar saya untuk terus berjuang, tidak peduli seberapa sulitnya hidup.
Seperti yang pernah dikatakan Nietzsche: “He who has a why to live can bear almost any how.”
Jika seseorang belum menemukan alasan yang cukup besar, ia akan mudah menyerah. Maka tugas kita adalah membantu mereka menemukan alasan itu—apa yang paling penting bagi mereka, apa yang membakar jiwa mereka.
Sebelum acara ini dimulai, saya juga berbincang soal perjalanan hidup. Saya percaya satu hal: kita tidak pernah terlalu tua untuk belajar, dan tidak pernah terlalu muda untuk mengajar. Itu sebabnya saya terus membuka diri untuk belajar, bahkan meminta anak-anak muda membimbing saya di fase hidup berikutnya. Karena saya belum selesai—masih ada banyak hal untuk dilakukan.
Saya pernah membaca buku Future Shock karya Alvin Toffler. Ia menulis bahwa saat dunia bergeser dari ekonomi domestik menuju ekonomi global, bahkan ke ekonomi berbasis pendidikan, kita dituntut untuk berubah. Orang harus berpikir lebih kreatif, bekerja lebih cepat, lebih efisien, dengan sumber daya yang terbatas. Dan benar, kita hidup di zaman itu.
Itulah mengapa saya percaya: kita belajar, kita menghasilkan, lalu kita teruskan pengetahuan itu. Itulah cara membangun warisan. Karena tujuan kita bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk memberdayakan generasi berikutnya—mereka yang akan melanjutkan perjuangan kita menuju masa depan yang mungkin tidak akan kita saksikan.
Sepanjang hidup, saya telah berbicara di banyak panggung di seluruh dunia. Pernah di hadapan 80.000 orang di Georgia Dome—itulah pertemuan wirausahawan terbesar kala itu. Baru tahun lalu, saya berbicara di Polandia di depan 25.000 orang. Dan masih banyak lagi panggung lain, dari kota ke kota, negara ke negara.
Namun perjalanan saya bermula dari tempat sederhana. Saya lahir di Liberty City, di sebuah gedung terbengkalai. Saya anak kembar, diadopsi oleh seorang wanita luar biasa bernama Mrs. Mamie Brown, yang hanya memiliki pendidikan sampai kelas tiga SD. Beliau bekerja di Miami Beach sebagai pembantu rumah tangga untuk keluarga kaya. Impian saya sejak kecil hanyalah satu: membelikan beliau sebuah rumah.
Salah satu keluarga tempat beliau bekerja sering mendengarkan rekaman motivasi dari Earl Nightingale berjudul The Strangest Secret. Itulah pesan motivasi pertama yang saya dengar. Kemudian saya juga belajar dari tokoh-tokoh lain seperti Bill Bailey, Glenn Turner, hingga Jim Rohn. Dari situlah benih-benih inspirasi dalam hidup saya tumbuh.
Saya sangat terinspirasi oleh para pembicara seperti Bill Bailey dari Louisville, Kentucky. Mereka benar-benar berbicara ke dalam hidup saya. Karena itu, sekarang ketika saya melatih pembicara, saya selalu menekankan bahwa ketika kita berbicara, kita tidak hanya menyampaikan kata-kata—kita sedang menciptakan pengalaman.
Hidup seseorang ditentukan oleh cerita yang ia percayai tentang dirinya. Tugas seorang pembicara adalah: mengalihkan, menantang, dan menginspirasi. Kita alihkan mereka dari cerita lama dengan cerita kita. Lewat strategi yang tepat—bercerita tentang kegagalan, rintangan, kemenangan—kita meruntuhkan sistem keyakinan lama mereka, lalu menginspirasi mereka untuk menulis bab baru dalam hidup. Seperti kata Mother Teresa, menjadi “pensil di tangan Tuhan” untuk menulis kisah baru.
Banyak orang merasa informasi itu penting. Tapi saya yakin: kalau informasi saja bisa mengubah hidup, semua orang sudah kurus, kaya, dan bahagia. Nyatanya tidak. Yang benar-benar mengubah orang adalah cerita yang menyentuh hati.
Saya dan Les Brown akan bekerja bersama pada 17–19 Maret di Miami. Itu akan menjadi momen terobosan. Ada satu titik ketika seorang pembicara bisa berbicara pada ribuan orang sekaligus, tetapi setiap individu merasa disentuh secara pribadi. Itu terjadi ketika kita menenun kata-kata dari pengalaman hidup. Orang yang belum pernah “dihancurkan” hidupnya, sulit menyentuh hati orang lain. Kadang Tuhan harus mematahkan hidup seseorang dulu, baru bisa memakainya. Kami tahu rasanya itu. Kami pernah hancur, lalu dipasang kembali, dan sekarang bisa dipakai untuk membantu orang lain menemukan bagian diri yang tak bisa mereka temukan sendiri.
Banyak orang ingin jadi pembicara publik, tapi takut. Dalam pelatihan saya, mereka harus langsung berbicara sejak awal, tanpa diberi banyak waktu untuk berpikir. Dan ternyata mereka menyukainya. Ada seorang perempuan dari Australia yang datang jauh-jauh hanya untuk berlatih. Biaya tidak masalah. Ketika saya tanya alasannya, dia bilang, “Saya lihat berita tentang anak muda yang masuk gereja dan membunuh sembilan orang. Saya berpikir, ‘Kalau saja saya sempat berbicara ke telinganya sebelum ia melakukan itu.’” Lalu dia berkata, “Tidak ada yang masuk kecuali lewat mata dan telinga. Anda berbicara dari hati, dan saya ingin belajar itu. Saya percaya dunia bukan seperti ini karena beberapa orang jahat, tapi karena terlalu banyak orang yang diam.” Kata-kata itu membuat saya merinding.
Itulah misi saya: membantu orang menemukan suara mereka, di luar politik dan agama yang sering memecah belah. Kami ingin mengajarkan bagaimana hidup di sini dan sekarang. Bedanya: para pendeta sering “menjual” pesan tentang hidup setelah mati, sementara kami membawa pesan yang membuat orang bisa hidup dengan penuh sekarang. Kami memberi orang kuasa untuk menulis bab baru dalam hidupnya.
Masalahnya, banyak bisnis gagal dan banyak orang tidak pernah mencapai potensi karena mereka tidak tahu cara menceritakan kisah mereka. Padahal, cerita itu sangat penting. Saat Anda berbicara atau menjual sesuatu, orang akan bertanya tiga hal: siapa Anda, apa yang Anda punya, dan mengapa saya harus peduli. Orang berbisnis dengan mereka yang mereka kenal, suka, dan percaya.
Les Brown adalah contoh hidup. Ia sudah berbicara di panggung Fortune 500 CEOs, organisasi nirlaba, pemimpin komunitas, pemilik usaha kecil. Ia menunjukkan kemungkinan nyata, memberi inspirasi, dan memberi energi. Meskipun berusia 72 tahun, ia tetap penuh vitalitas. Les percaya bahwa ketika kita hidup selaras dengan tujuan kita, itu memberi kita energi spiritual muda—meskipun usia biologis terus bertambah.
Les juga sudah berbicara di seluruh dunia—Polandia, Afrika Selatan, Australia, Inggris, Hong Kong. Ia pernah berbicara di Georgia Dome di depan 80.000 orang dengan tema It’s Not Over Till You Win. Namun, baginya, jumlah audiens bukan yang terpenting. Bahkan jika hanya ada 2.000 orang, ia akan tetap “mengambil mentega dari bebek”—memberikan yang terbaik dengan penuh semangat.
Di Miami nanti, acara ini tidak hanya dihadiri langsung, tapi juga bisa diikuti secara daring. Banyak orang sudah mendaftar dari berbagai belahan dunia. Bahkan semua anak Les juga akan hadir. Acara itu akan menjadi salah satu yang terbaik, karena standar yang ia tetapkan sangat tinggi.
Saya sangat terpesona oleh para pembicara itu—termasuk Bill Bailey dari Louisville—mereka benar-benar berbicara ke dalam hidup saya. Sekarang, ketika saya melatih orang untuk berbicara di depan umum, saya selalu tekankan satu hal: saat kita berbicara, kita menciptakan pengalaman. Cara seseorang menjalani hidupnya banyak ditentukan oleh cerita yang ia percayai tentang dirinya sendiri. Jadi, ketika kita berbicara, tugas kita adalah: mengalihkan, menantang, dan menginspirasi.
Kita mengalihkan perhatian mereka dari cerita lama dengan membagikan cerita kita. Lewat eksekusi cerita yang strategis—kisah tentang kegagalan, rintangan, dan kemenangan—kita meruntuhkan sistem kepercayaan lama mereka dan menginspirasi mereka untuk menulis bab baru dalam hidupnya. Seperti kata Mother Teresa, menjadi “pensil di tangan Tuhan” untuk menulis kisah baru. Itu inti dari pekerjaan kami: distract, dispute, inspire.
Banyak pembicara merasa informasi itu penting—tetapi saya yakin jika informasi saja cukup untuk mengubah hidup, semua orang akan kurus, kaya, dan bahagia. Tidak sesederhana itu. Yang bisa membongkar cerita lama seseorang adalah kekuatan emosional dan pengalaman yang dipadukan dengan cara bercerita yang tepat—dan beberapa orang punya kemampuan ajaib itu. Saya lihat kemampuan itu pada beberapa kolega saya di sini.
Saya dan Les Brown akan bekerja bersama pada 17–19 Maret di Miami — itu akan jadi momen terobosan. Ada saat ketika kita berbicara kepada kerumunan sebagai sebuah kelompok, tetapi juga berbicara kepada setiap orang secara pribadi—membuat mereka merasa tersentuh dan pulang dengan sesuatu yang berubah. Kita menenun pengalaman hidup dengan kata-kata; kalau seseorang belum pernah melalui sesuatu, sulit bagi dia untuk menyentuh hati orang lain. Kadang Tuhan harus mematahkan hidup seseorang dulu sebelum bisa menggunakannya — kami telah mengalami itu, lalu dipasang kembali, sehingga sekarang kami dapat dipakai untuk membantu orang menemukan bagian diri yang tak bisa mereka temukan sendiri.
Banyak orang ingin menjadi pembicara publik, tetapi juga takut. Dalam pelatihan yang saya lakukan, saya membuat peserta berbicara segera — tanpa memberi mereka waktu terlalu lama untuk berpikir — dan biasanya mereka langsung menikmati prosesnya. Saya pernah melatih seorang perempuan dari Australia yang mengatakan biaya bukan masalah. Saya tanya kenapa ia datang jauh-jauh. Ia jawab karena menonton berita tentang tragedi di sebuah gereja—ia berpikir, “Andai aku bisa berbicara kepada orang itu sebelum dia melakukan itu.” Kata-katanya menusuk: “Tidak ada yang masuk kecuali lewat mata dan telinga.” Ia lalu berkata bahwa saya bicara dari hati, dan dia ingin belajar berbuat seperti itu karena terlalu banyak orang yang diam. Itu memberi saya merinding. Misi saya adalah membantu orang — di luar politik dan agama yang memecah — menemukan suara mereka. Kami ingin mengajarkan orang bagaimana hidup di sini dan sekarang. Perbedaannya: pendeta sering “menjual” pemberitahuan tentang masa depan setelah mati; kami “menjual” pesan yang menguatkan hidup sekarang. Kami memberdayakan orang untuk mengambil kendali dan menulis bab baru.
Banyak bisnis gagal dan banyak orang tak pernah mencapai kejayaan karena mereka tidak tahu bagaimana menceritakan kisah mereka. Itulah kenapa story-telling itu penting: ketika Anda berbicara—apakah Anda menjual produk atau menawarkan keahlian—orang akan bertanya tiga hal: siapa Anda, apa yang Anda punya, dan kenapa saya harus peduli. Jika Anda bisa menjawab itu, Anda membangun hubungan: orang berbisnis dengan mereka yang mereka kenal, suka, dan percayai.
Les menekankan bahwa setiap audiens punya “audiens di dalamnya”—segmen-segmen yang berbeda. Seorang pembicara hebat tahu cara berbicara sehingga setiap orang merasa disentuh. Ia juga menyinggung sahabat-sahabat hebat yang akan hadir: Jay Abraham, Tim Story (yang pernah bekerja dengan Oprah), Tim Grover (pelatih Kobe Bryant dan Michael Jordan). Les bahkan bercanda bahwa ia lahir pada tanggal yang sama dengan Michael Jordan.
Pada akhirnya, Les Brown kembali menekankan misinya melalui Les Brown Institute: melatih suara-suara baru harapan. Karena ketika ada harapan di masa depan, itu memberi kekuatan di masa kini. Amerika memang negeri peluang, tetapi kenyataannya banyak orang kehilangan harapan, hingga tingkat bunuh diri lebih tinggi daripada kecelakaan mobil. Itu artinya ada sesuatu yang salah. Kami percaya solusinya adalah suara-suara harapan—membantu orang menemukan cerita mereka dan menginspirasi perubahan nyata.
Itulah misi Les Brown: melatih orang untuk menemukan suara mereka, agar mereka bisa menginspirasi dunia. Seperti yang ia katakan: “That’s my story, and I’m sticking to it.
Les Brown – Kisah Radio Station dan Proses Meraih Kehebatan
Les Brown menceritakan sebuah kisah yang selalu membuatnya tersenyum, tentang bagaimana ia pertama kali masuk ke dunia radio.
Ia dibesarkan dalam lingkungan yang keras, sempat dilabeli sebagai educable mentally retarded di sekolah, sampai seorang guru bernama Leroy Washington mengubah hidupnya. Guru itu berkata, “Pendapat orang lain tentang dirimu tidak harus menjadi realitasmu.” Kalimat ini membuat Les mulai berani bermimpi.
Saat ditanya apa cita-citanya, Les menjawab, “Saya ingin membeli rumah untuk ibu saya.” Sang guru kemudian menyarankan agar ia melamar ke sebuah stasiun radio di Miami Beach, dengan membawa rekomendasi namanya.
Les pun pergi. Ia bertemu dengan manajer stasiun, Milton “Butterball” Smith, dan dengan penuh semangat berkata: “Nama saya Les Brown. Saya ingin menjadi penyiar radio.” Tapi jawabannya tegas: “Kamu punya pengalaman? Tidak? Maaf, kami tidak ada pekerjaan untukmu.”
Ia pulang kecewa, tetapi gurunya berkata: “Jangan ambil hati. Pergi lagi. Ingat, kamu harus lapar (hungry). Kadang orang harus bilang ‘tidak’ tujuh kali sebelum mereka berkata ‘ya’.”
Maka Les kembali keesokan hari, lalu kembali lagi, dan lagi. Setiap kali ditolak, ia selalu datang dengan wajah ceria seolah baru pertama kali melamar. Sampai suatu hari, karena kesal, Butterball berkata: “Ambilkan saya kopi.” Les menjawab, “Ya, Pak!”
Sejak saat itu ia jadi errand boy untuk para penyiar: mengantarkan kopi, membeli makan, mengerjakan pekerjaan kecil. Tapi diam-diam ia belajar: memperhatikan gerakan tangan penyiar, menghafal cara kerja di ruang kontrol, dan membayangkan suatu hari ia berada di balik mikrofon.
Hari itu tiba pada suatu Sabtu sore. Seorang penyiar, Rockin’ Roger, sedang siaran sambil minum-minum. Les mengamati dari balik kaca dengan penuh harap. Tiba-tiba telepon berdering. General Manager berkata:
“Anak muda, ini Mr. Klein. Rock tidak bisa menyelesaikan acaranya. Tolong panggil penyiar lain.”
Les menjawab, “Baik, Pak.” Tapi bukannya menelpon penyiar lain, ia menelpon ibunya dan pacarnya: “Cepat nyalakan radio, aku akan siaran sebentar lagi!”
Setelah menunggu sebentar, ia kembali mengangkat telepon: “Pak, saya tidak menemukan siapa pun.”
Manager bertanya, “Kamu bisa jalankan peralatannya?”
“Ya, Pak.”
“Baik, masuk saja dan putar lagu-lagu. Tapi jangan bicara apa pun.”
Begitu menutup telepon, Les langsung mengusir Rock dari kursi, memutar lagu cepat Stevie Wonder, lalu mengambil mikrofon. Dengan penuh percaya diri ia berkata:
“Look out, ini aku, LB Triple P – Les Brown, your Platter Playing Papa! Tak ada yang sebelumnya, tak ada yang sesudahnya. Hanya satu-satunya, muda, lajang, cinta mangga, certified, bona fide, qualified untuk memberi kepuasan dan banyak aksi. Look out baby, I’m your love man! You got to be hungry!”
Sejak hari itu, pintu kesempatannya terbuka. Ia belajar arti kegigihan: “Persist until you succeed.”
Refleksi Les Brown
Bertahun-tahun kemudian, Les menekankan bahwa setiap kali ia bercerita, ia selalu menyampaikannya seolah pertama kali. Sama seperti Gladys Knight (mantan istrinya) yang selalu menyanyikan Midnight Train to Georgia dengan penuh penghayatan, tidak pernah asal-asalan.
Menurutnya, audiens berhak merasakan semangat yang sama seperti cerita itu pertama kali disampaikan. Bahkan kadang audiens ikut larut, sampai berseru: “Drink, Rock, drink!” seolah hadir di dalam kisah itu.
Itulah seni bercerita: menghadirkan kembali pengalaman, memberi energi, dan menyalakan rasa lapar (hunger) dalam diri orang lain.
Pelajaran tentang Kehebatan (Greatness)
Ketika ditanya tentang hambatan terbesar dalam meraih kehebatan, Les menjawab: lingkungan. Ia tumbuh dalam kemiskinan, tetapi memilih punya visi lebih besar. Ia selalu percaya bahwa kemiskinan bukan takdirnya, dan tekadnya adalah membelikan ibunya rumah serta memberinya kehidupan layak.
Pada usia 18 tahun, ia berkata kepada ibunya: “Mama tidak perlu bekerja lagi.” Dan ia menepati janji itu hingga sang ibu wafat di usia 89 tahun.
Bagi Les, seorang pria sejati harus menyediakan dan melindungi keluarganya. Prinsip itu membuatnya berani keluar dari pekerjaan mapan enam digit, demi kebebasan dan kendali atas hidupnya.
“Kadang kamu harus melompat dulu, baru sayapmu tumbuh di perjalanan,” katanya. Itulah arti mengambil kembali kekuatan pribadi (personal power).
Pelajaran tentang Kerendahan Hati & Coachable
Les juga menekankan bahwa hambatan terbesar manusia rata-rata sama seperti dirinya: sulit untuk coachable. Banyak orang ingin berhasil, tapi enggan dipimpin atau diarahkan. Padahal, untuk bisa berkembang, seseorang harus mau belajar dari mereka yang sudah mencapai lebih.
Putranya menambahkan, ia sendiri sejak kecil sudah merasakan manfaat punya pelatih dan tim. Sejak usia 14 tahun ia sudah menghasilkan ribuan dolar per jam karena bimbingan ayahnya. Menurutnya, ada perbedaan besar antara hanya ingin sukses dan dipersiapkan untuk kehebatan.
Kutipan-kutipan Penting
-
“Kadang kamu harus percaya pada keyakinan orang lain tentang dirimu sampai keyakinanmu sendiri tumbuh.”
-
“Hidup adalah petualangan berani, atau membosankan.” – Helen Keller
-
“Definisi neraka adalah saat di hari terakhir hidupmu, dirimu yang sekarang bertemu dengan dirimu yang seharusnya bisa jadi.”
-
“Jangan habiskan waktu mengejar semua orang. Habiskan waktu cukup untuk bertemu dengan dirimu yang lebih besar.”

Comments
Post a Comment