Kim Hui - Los Angeles - Dec 7 2024 BY Renee Lynn Nutrition & Wellness

 


Terima kasih. Saya pikir saya cepat bicara, tapi sungguh—terima kasih banyak. Saya sangat terhormat dengan kehadiran Anda semua. Waktu saya berjalan keliling ruangan pagi ini dan mendengar dari mana Anda datang—banyak di antara Anda menempuh perjalanan berjam-jam untuk hadir—membuat saya sangat bersyukur. Mendengar cerita Anda tentang apa yang produk ini lakukan untuk hidup Anda benar-benar merendahkan hati saya. Terima kasih sudah berada di platform ini.

Siang ini saya akan menceritakan secara singkat perjalanan saya dan bagaimana Three (perusahaan ini) bermula. Saya rasa penting Anda memahami perspektif itu—karena seringkali ruang ini, meskipun indah, salah dipahami dari sisi bisnis. Tak peduli di mana Anda sekarang atau dari mana Anda datang, semoga cerita saya dan beberapa kisah yang Anda dengar pagi ini membantu mengubah persepsi Anda, memberi wawasan baru, dan membuka pandangan tentang kemungkinan yang ada serta apa yang platform ini bisa lakukan untuk Anda.

Tiga puluh satu tahun lalu, tepat ketika saya mengira sedang berada di puncak karier korporat, saya menjabat wakil presiden di sebuah perusahaan suplemen—perusahaan yang produknya kami pasarkan ke Whole Foods, Sprouts, dan toko-toko kesehatan lainnya. Perusahaan itu berlokasi dekat bandara Oxnard dan kami memproduksi asam amino serta memasok ke kantor dokter dan health stores. Namun suatu hari, tiba-tiba pemiliknya datang dan memutuskan untuk menghapus posisi saya. Dalam semalam saya menganggur—di-downsized.

Saat itu saya baru saja membeli Mercedes baru—kelas kecil, E-Class—dan saya masih muda. Saya pikir karier saya sudah mapan, jadi kehilangan pekerjaan itu benar-benar mengejutkan. Kebetulan mobil Mercedes yang saya dapat ternyata bermasalah; tiap minggu atau tiap bulan saya harus ke dealer untuk servis. Di dealer itu saya bertemu seorang service adviser bernama Kim. Ketika dia tahu saya kehilangan pekerjaan, dia bertanya apa rencana saya. Saya bilang saya tidak tahu. Dia bilang, “Saya akan bantu.” Ternyata dia punya klien yang mencari orang seperti saya.

Saya diundang ke sebuah wawancara di Irvine—sekitar 30–60 menit dari sini. Saat muncul di sana, saya melihat ratusan orang di ruangan itu; saya pikir, “Wah, kompetisinya banyak.” Tapi suasananya berbeda: orang-orang bertepuk tangan, bersorak, saling tos—itu bukan wawancara kerja biasa. Di akhir presentasi dua hal menempel di kepala saya. Pertama, saya melihat kilau harapan di mata orang-orang—sesuatu yang selama bertahun-tahun bekerja di korporat tak pernah saya rasakan ketika masuk kantor. Kedua, saya menyadari orang biasa bisa mencapai hal-hal luar biasa. Itu membangkitkan sesuatu dalam diri saya. Sejak saat itu—31 tahun lalu—itulah pintu masuk saya ke industri ini.

Perjalanan itu tidak mudah. Maksud saya bukan kerja fisik yang berat, melainkan proses yang butuh keberanian luar biasa dan pertumbuhan pribadi: terus-menerus melepaskan lapisan-lapisan pola pikir, keyakinan, dan konsep yang tidak lagi melayani saya. Lapisan demi lapisan itu gugur seiring waktu.

Di awal saya mencoba mengajak teman-teman dari lingkungan korporat saya—saya kuliah di UCLA, bekerja di dunia korporat—mereka menertawakan saya. Saya juga pernah bekerja sebagai senior accountant di sebuah perusahaan industri pertahanan (sejenis Northrop) yang membuat B-2 bomber; saya sempat berada di tim akuisisi ketika bergabung dengan GR. Ketika saya berbicara kepada teman-teman lama, banyak yang meremehkan keputusan saya: “Kamu serius? Kamu tinggalkan itu semua untuk bisnis ini?” Bahkan keluarga saya ikut ragu. Saya anak kedua dari empat perempuan—ketika berkumpul keluarga, satu pesan penting: jangan ceritakan apa yang kamu kerjakan, karena seringkali tak dipahami.

Pada titik itu saya menemui sponsor saya dan bertanya dengan tegas: “Apakah industri ini nyata? Bisa dapat uang?” Sponsor saya memberi contoh tokoh besar di industri—sosok ikonis seperti Dexter (dari Amway pada masa itu)—yang menghasilkan sekitar satu juta dolar per bulan di puncaknya. Saya hitung: satu juta sebulan kali 12 berarti sekitar 12 juta setahun—jumlah yang sangat besar bagi seseorang yang sedang kesulitan secara finansial. Itu memberi saya target dan keyakinan bahwa memang mungkin.

Saya mulai memegang visi itu—impian untuk sukses besar. Tidak terjadi dalam semalam—bukan di tahun pertama, kedua, atau ketiga—tetapi selama bertahun-tahun akumulasi usaha itulah yang mengubah saya. Setiap hari mengerjakan platform ini mengikis conditioning yang tidak saya perlukan. Anda harus bersedia menapaki jalan itu, memegang visi kemungkinan, dan mau bekerja keras berulang-ulang.

Di awal saya sempat membayangkan kalau sudah sukses besar saya akan keliling dunia, membeli barang mewah—tas, sepatu, perhiasan—dan tentu mobil besar. Ketika itu terjadi, saya pun melakukan beberapa hal tersebut—mendapat kembali Mercedes yang lebih besar, menikmati pencapaian itu—tapi pelan-pelan saya belajar: semua itu bukan tujuan akhir. Perjalanan pengembangan diri itulah yang paling berharga.

Setelah semua belanja—shopping, membeli barang-barang mewah, hidup dalam “mimpi” yang saya pikir dulu adalah tujuan—saya menyadari bahwa kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Perjalanan karier membuat saya kemudian berpikir lebih bijak dengan uang. Saya mulai berinvestasi di properti—membeli rumah demi rumah, tanah demi tanah. Tetapi tetap ada rasa kosong, seolah ada sesuatu yang lebih besar yang harus saya cari.

Tahun 2016 menjadi titik balik. Bersama Samson, dan beberapa orang dari ruangan ini—bahkan tiga dari lima orang yang hadir waktu itu ada di sini sekarang—kami membangun sebuah perusahaan dari rumah saya di Diamond Bar. Hanya lima orang di ruang tamu, tapi saya berkata, “Kita akan membangun bisnis internasional.” Waktu itu, “internasional” hanya berarti Diamond Bar. Namun bertahun-tahun kemudian, tepatnya 2015–2016, perusahaan itu tumbuh menjadi brand bernilai miliaran dolar—1 miliar, 1,2, 1,5 hingga 1,6 miliar. Dalam 13,5 tahun, total penjualan kami lebih dari 14 miliar dolar. Bisa Anda bayangkan berapa banyak kehidupan yang dapat disentuh dan diubah dari perjalanan itu.

Alasan saya membagikan perjalanan 31 tahun ini adalah untuk menunjukkan bahwa awalnya saya masuk industri ini karena uang. Setelah kehilangan pekerjaan, saya mengejar American Dream: rumah dengan pagar putih, kebebasan finansial, dan gaya hidup nyaman. Seperti kebanyakan orang, saya pun melewati fase materialistis—mengejar barang mewah, mobil, perhiasan. Tapi seiring waktu, semua itu memudar nilainya. Hari ini, Anda bisa lihat sendiri: saya tidak memakai apa-apa yang berlebihan—tentu saja masih pakai baju ya, tapi Anda mengerti maksud saya.

Tahun 2016 saya memasuki fase baru dalam hidup. Saya mulai bertanya: “Apa arti semua ini? Untuk apa saya ada di bumi? Apa tujuan saya sebenarnya?” Bayangkan, setiap minggu ada setoran ratusan ribu dolar ke rekening Anda. Bahkan pernah mencapai satu juta dolar per bulan—dan bukan sekali, tapi bulan demi bulan, tahun demi tahun. Awalnya itu terasa luar biasa, tapi lama-lama saya jadi kebal. Angka-angka besar itu hanya sekadar angka di rekening. Uang tidak lagi memberi makna.

Tentu, sepanjang perjalanan itu kami juga melakukan banyak hal baik: membantu sekolah, panti jompo, kegiatan sosial, dan lain-lain. Tetapi di lubuk hati, saya tahu ada sesuatu yang lebih dalam yang harus saya temukan. Itulah sebabnya pada 2016 saya memutuskan untuk mencari makna baru. Saya sempat berpikir akan pensiun, berhenti dari industri ini. Saya tidak ingin berbicara di depan umum kecuali benar-benar bisa memberi dampak bermakna bagi orang lain. Saya ingin setiap kata saya datang dari hati yang penuh, bukan sekadar angka atau pencapaian finansial.

Meski memiliki banyak harta dan uang yang terus masuk, saya tetap bertanya pada diri sendiri: “Apa sebenarnya tujuan saya di dunia ini? Apakah saya benar-benar menjalani hidup yang penuh makna? Apakah saya membawa orang lain ke arah yang tepat, jika saya sendiri belum menemukan kepenuhan sejati?”

Punya penghasilan satu juta dolar per bulan memang luar biasa. Tetapi dalam hati masih ada ruang kosong. Pertanyaan itu membuat saya mengambil jarak. Saya memutuskan untuk pindah ke Sedona, meski suami dan anak saya tetap tinggal di Los Angeles. Saya berkata, “Saya akan pindah, dengan atau tanpa kalian.” Di Sedona, saya membeli rumah demi rumah, tanah demi tanah. Namun itu semua bagian dari pencarian batin. Saya tidak ingin tampil berbicara di depan orang, tidak ingin memimpin, hanya ingin mencari jawaban: “Apa kontribusi saya untuk dunia?”

Saya bolak-balik LA–Sedona, bahkan hafal titik-titik perhentian perjalanan. Hingga datang pandemi. Perjalanan makin terbatas, saya hanya bisa mengemudi. Sejak 2016, pencarian itu terus berlanjut: “Apa babak berikutnya dalam hidup saya? Bagaimana saya bisa memberi dampak lebih besar untuk kemanusiaan?”

Jawaban itu baru datang bertahun-tahun kemudian, sekitar September atau Oktober 2022. Saat itu saya sedang hiking di lahan saya, sebuah ranch di atas tanah seluas 14 acre di Sedona. Saya duduk di atas batu, memandang Thunder Mountain. Hati saya resah melihat apa yang terjadi pada dunia: ketakutan, kerusakan, kehilangan harapan. Saya berkata dalam doa, “Tuhan, apa yang bisa saya lakukan? Saya ini hanya seorang perempuan biasa.”

Lalu, seperti sebuah dialog dalam batin, muncul suara: “Ingatlah perjalananmu. Ingatlah karunia yang kau miliki. Ingat pengalamanmu, bagaimana itu bisa membantu keadaan dunia saat ini?” Saat itu saya sadar: karunia saya ada di bidang kewirausahaan—sebuah ruang di mana orang-orang biasa bisa melakukan hal luar biasa. Saya datang ke Amerika di usia 14 tahun tanpa bisa berbahasa Inggris, belajar keras hingga kuliah di UC Irvine dan UCLA, lalu menapaki hidup dari nol. Itu adalah latar yang sederhana, tapi penuh kekuatan.

Malam itu saya bermimpi. Dalam mimpi, saya mendapat pesan: “Temukan sepasang suami istri di San Diego.” Keesokan paginya saya langsung menelepon Samson. Saya berkata, “Saya butuh pasangan dari San Diego. Temukan mereka.” Ternyata orang yang dimaksud adalah Lance dan Tracy Smith. Melalui mereka, kami dipertemukan dengan Daniel Picou. Dari sanalah benih “Three” mulai tumbuh.

Mengapa saya kembali saat ini? Sebenarnya saya bisa saja tetap nyaman dengan penghasilan pasif dari kerja keras masa lalu. Tetapi panggilan hati berkata lain: saya harus kembali untuk menjadi cahaya harapan di masa sulit ini. Selama pandemi, saya melihat banyak orang—tua dan muda—kehilangan harapan. Banyak pengusaha gulung tikar. Banyak generasi muda merasa masa depan mereka hancur. Saya tahu, inilah saatnya menjawab panggilan itu.

Dalam pertemuan pertama saya dengan Dr. Dan, saya berkata: “Saya ingin sesuatu yang bisa membersihkan tubuh dari hal-hal yang tidak seharusnya ada—racun dari makanan, udara, minuman, bahkan suntikan. Bisakah Anda menciptakan itu?” Dr. Dan memperkenalkan formula pertama—yang kini dikenal sebagai Purifi. Waktu itu saya berkata, “Saya tidak suka kapsul.” Tapi Dr. Dan menjelaskan bahwa ini bukan kapsul biasa, melainkan larut dalam air. Saya mencoba, dan keesokan harinya merasakan pengalaman luar biasa. Dari situlah kepercayaan saya tumbuh.

Saya sadar, kalau saya ingin membangun lagi satu kali terakhir, saya perlu seorang CEO yang bukan hanya berpengalaman, tetapi juga punya visi dan hati yang selaras. Seseorang yang bisa menjaga warisan, memimpin platform, dan membawa dampak besar. Dalam proses mengenal Daniel, saya tahu dialah orangnya. Terima kasih kepada Lance dan Tracy yang menjadi jembatan.

Itulah kisah bagaimana “Three” lahir. Dan ketika ditanya, “Apa yang sebenarnya ingin Anda lakukan kali ini?” saya menjawab dengan tiga hal. Dari situlah nama Three muncul. Tiga hal itu adalah:

Saya bilang pada diri sendiri: saya ingin tiga hal.

Pertama, saya ingin menghadirkan kesehatan fisik. Dunia sedang berubah, banyak orang yang kehilangan kesehatan dan vitalitasnya.

Kedua, saya ingin membawa kelimpahan finansial untuk banyak orang. Kita semua tahu, manusia sering terjebak dalam pola hidup yang hanya mengejar uang, setiap hari bekerja keras, tetapi tetap merasa kurang dan tidak bahagia. Saya ingin orang-orang merasakan kelimpahan, seperti yang pernah saya alami sendiri.

Ketiga, saya ingin menghadirkan wellness spiritual. Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar soal tubuh atau soal uang—tetapi perjalanan untuk menemukan diri sejati. Bagi saya, inilah yang memberi pemenuhan sejati. Inilah pekerjaan yang selaras dengan setiap bagian dari diri saya.

Itulah awal mula lahirnya Three.

Saya jujur, 20 bulan terakhir ini tidak mudah. Dari luar mungkin terlihat gampang, tapi kenyataannya penuh tantangan. Di awal, saya bahkan bekerja hampir 20 jam sehari. Kadang-kadang sampai sekarang pun masih begitu. Tapi saya percaya, “When much is given, much is expected.” Kalau kita sudah diberi anugerah sebesar ini, maka tanggung jawab kita juga besar.

Dan saya lihat, orang-orang yang ditarik ke dalam platform ini—orang-orang seperti kalian—bukan kebetulan. Ada tangan yang lebih besar yang sedang bekerja, membimbing arah perjalanan perusahaan ini.

Selama 20 bulan terakhir saya berkeliling dunia, bertemu begitu banyak orang dan mendengar begitu banyak kisah. Setiap kali mendengar cerita kalian, hati saya selalu tersentuh. Ada sesuatu yang dalam, sebuah koneksi dari hati ke hati, yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Saya percaya kita semua terhubung. Di balik perbedaan penampilan luar—entah gaya koboi, entah wajah Asia—jika kita kupas lapisan luar itu, kita semua sama. Dan kesadaran itu membuat saya merinding setiap kali saya berada di tengah-tengah kalian.

Itulah kenapa saya selalu suka duduk di barisan paling belakang saat acara. Dari sana saya bisa mengamati unfoldment, bagaimana proyek ini terus berkembang.

Saya ingin tekankan: kita semua punya peran besar dalam membentuk perusahaan ini. Setiap dari kita. Dan kalau saya ditanya: apa arti purpose of work? Saya akan balik bertanya: Bagaimana dengan Anda?

Dimanapun Anda berada sekarang, tanya pada diri sendiri:

  • Apakah saya merasa saya lebih dari sekadar apa yang saya kerjakan sekarang?
  • Apakah saya percaya bahwa saya bisa punya lebih banyak dalam hidup ini? Bukan hanya uang, tapi juga kebahagiaan, kesehatan, vitalitas, dan pemenuhan sejati?

Jawabannya: ya, itu mungkin.

Saya datang ke Amerika saat umur 14 tahun, orang tua saya hanya membawa $2.000 hasil pinjaman. Kami berenam hidup sangat sederhana, bahkan pernah sebulan penuh hanya makan daging beku dari supermarket. Dari nol. Dari kondisi itu, saya menapaki perjalanan hingga bisa mengubah hidup saya lewat jalur wirausaha ini.

Apakah jalannya mudah? Tidak. Saya pernah ditagih setiap hari oleh leasing mobil, bahkan mobil saya disebut “lemon.” American Express pernah menelepon dan meminta saya “jangan tinggalkan rumah tanpa kartu” karena tunggakan. Tapi saya tidak menyerah. Saya tetap memegang visi, bekerja keras, dan percaya ada sesuatu yang mungkin.

Tentu, di perjalanan banyak orang menolak, menertawakan, bahkan meremehkan. Tapi saya belajar untuk tidak goyah. Saya tahu saya akan meraih apa yang saya impikan. Karena lebih dari sekadar melihatnya, saya juga merasakannya—dan perasaan itu yang membuat saya tetap bersemangat setiap hari.

Bagi saya, inilah yang disebut American Dream. Kebebasan untuk menjadi, melakukan, dan meraih lebih. Dan saya percaya, sekarang saatnya kita semua bangkit.

Ketika kami memulai Three, banyak orang menertawakan kami. Mereka bilang kami “gila,” meninggalkan kenyamanan dan uang untuk membangun sesuatu yang belum jelas. Mereka bahkan menyebut kami “Three NOs”: no name, no product, no compensation plan. Tapi kami tahu, kami sebenarnya sedang membangun tiga YES—ya untuk kesehatan, ya untuk kelimpahan, dan ya untuk pemenuhan spiritual.

Itu sebabnya saya percaya, kalau kita semua berpegang pada visi, tidak ada yang mustahil.

Sebagai seorang ibu, saya tahu bagaimana rasanya ketika anak berkata, “Kalau mama sayang, mama tetap di rumah.” Itu menyayat hati. Tapi sekarang, ketika dia sudah dewasa, dia mengerti. Dia melihat teman-temannya di USC harus bekerja empat sampai enam pekerjaan hanya untuk membayar uang kuliah, sementara dia bisa masuk sekolah film dengan satu cek saja dari saya.

Dan di situlah letak arti sebenarnya dari cinta dan warisan. Bukan sekadar uang, tapi nilai, etika, dan kebajikan yang bisa kita turunkan. Hal-hal itu tak ternilai, jauh melampaui apa pun yang bisa kita beli dengan uang.

Saya ingin kalian benar-benar menyadari potensi platform ini. Tentu saja, di luar sana ada orang-orang buruk, ada peluang yang tidak sehat. Tapi bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu benar-benar baik? Bukan dari logika semata, tapi dari perasaan di hati.

Lihatlah ruangan ini—begitu beragam, penuh warna, penuh perbedaan. Jika kita lepaskan semua lapisan luar, lensa yang membuat kita melihat perbedaan, maka pada dasarnya kita semua sama. Dan sesungguhnya, kalianlah alasannya saya kembali. Masing-masing dari kalian adalah panggilan itu.

Karena itu, saya ingin kalian menjaga visi. Pegang kuat apa yang kalian inginkan. Yakini bahwa kalian memang ditakdirkan untuk sesuatu yang lebih besar. Jangan biarkan tantangan atau penolakan membuat kalian berhenti. Saya sendiri, ketika orang menertawakan dan meremehkan, saya seakan-akan menekan sebuah tombol otomatis: tembok besar naik, menutup semua suara negatif. Karena saya tahu, ada sesuatu yang besar yang harus kita wujudkan.

Saya jatuh cinta pada semangat Amerika. Bukan hanya karena saya tinggal di sini, tapi karena ini adalah tanah di mana mimpi bisa diwujudkan. Dan hari ini, kalian sudah tidak punya alasan lagi untuk berkata, “Saya tidak berada di tempat dan waktu yang tepat.” Karena sekarang, kalian ada di sini.

Kami sudah pernah membangun perusahaan bernilai miliaran dolar sebelumnya. Kami sudah menapaki jalannya, sudah tahu jebakan-jebakan di sepanjang perjalanan. Jadi kali ini, kita tidak hanya mendaki sendiri lalu bersorak di puncak. Tidak. Kami kembali turun untuk menjemput kalian, untuk mendaki bersama-sama, membangun lagi dari awal, bersama-sama.

Kuncinya adalah visi—mengenali siapa diri kita sebenarnya, memeluk keyakinan bahwa kelimpahan itu nyata. Saya pernah berada di titik nol. Bahkan ada masa ketika saya tidak punya uang untuk sarapan dan makan siang, saat mengikuti suami (waktu itu masih pacar saya) ke sebuah konferensi medis. Saya hanya punya beberapa dolar di saku.

Di tengah rasa lapar itu, saya berjalan ke tepi pantai. Saya melihat laut terbentang luas, berkilauan di bawah sinar matahari. Saat itu saya mengangkat tangan, dan berteriak, “Saya merasakanmu! Saya merasakan kelimpahan itu!”

Itulah titik balik saya. Dari momen itu, saya pulang, mengumpulkan sedikit demi sedikit, dan mendirikan perusahaan pertama saya: Universal Abundance Inc. Dari sana, perjalanan berlanjut hingga membangun bisnis senilai 14 miliar dolar.

Teman-teman, kelimpahan itu nyata. Tapi untuk menjaganya tetap hidup, kita harus terhubung. Saat sedang bersemangat, datanglah ke pertemuan untuk menginspirasi orang lain. Saat sedang lemah, datanglah untuk dikuatkan. Inilah cara kita menjaga api tetap menyala.

Bayangkan—apa jadinya kalau Samson tidak terlibat? Mungkin ada ribuan orang yang tidak pernah disentuh hidupnya. Sama halnya dengan kalian: begitu kalian berkata “ya,” ada banyak orang di luar sana yang bisa menerima dampaknya.

Hari ini saya tidak ingin hanya memberi “ilmu.” Karena sejatinya, kalian semua sudah tahu caranya. Yang saya ingin lakukan adalah mengaktifkan ruang hati kalian. Membuka kesadaran bahwa lebih itu mungkin.

Bayangkan, apa arti kelimpahan bagi kalian? Mungkin itu berarti bisa membayar kuliah anak-anak kalian. Mungkin itu berarti bisa membawa keluarga berkeliling dunia. Dunia ini luas, indah, dan kesempatan itu ada di depan kalian.

Jadi, jagalah visi itu. Rasakan. Hidupkan kembali setiap hari. Ketika kalian bisa melihat dan merasakannya, kalian akan sampai ke sana.


sumber https://www.youtube.com/watch?v=ulRYRFYatRU


Comments

Popular Posts