The 6 words you need to change your life | Maria Thattil | TEDxSydney TEDx Talks
https://www.youtube.com/watch?v=-KO3GIoBT5U
Apakah kalian ingat sebuah momen penting yang mengubah hidup kalian?
Tahun 2020, aku baru saja keluar dari 112 hari lockdown. Aku muncul di layar terpisah bersama satu wanita lain, siaran digital ke seluruh dunia. Lalu terdengar:
“Dan pemenangnya adalah… Maria Thattil!”
Di saat itu, aku baru saja menjadi perempuan ketiga berkulit berwarna dalam 69 tahun yang menjadi Miss Universe Australia.
Kalau kalian lihat ekspresiku saat itu, kalian akan melihat keheranan. Aku, yang dulu anak “tertutup” dari keluarga imigran India kelas pekerja—ayahku mantan pastor—tiba-tiba menjadi wakil negaraku di salah satu panggung terbesar di dunia. Sekarang, aku adalah penulis, pembawa acara TV, podcaster, dan host yang terbuka tentang seksualitas dan queer.
Bahkan adikku, yang ada di sini hari ini, pernah berkata padaku: “Aku cuma menunggu momen Miss Universe-ku, momen yang akan mengubah segalanya.” Dan mungkin memang begitu dia menunggu.
Tapi aku belajar sesuatu: momen yang mengubah hidup kita seringkali bukanlah “momen” besar. Justru, empat tahun lalu, aku berada di titik terendah—broke, baru putus, hidup tertutup, kembali tinggal dengan orang tua, bekerja di corporate job yang kubenci. Aku tahu aku ditakdirkan untuk lebih, tapi tidak tahu bagaimana. Aku menunggu sesuatu yang bisa mengubah hidupku.
Aku merasa terjebak. Pertama kali aku merasakan itu adalah saat melihat kulitku sendiri. Tahun 2013, aku berusaha meniru penampilan wanita kulit putih—kontak lensa, foundation, semuanya. Aku menelan pesan bahwa aku tidak cukup baik. Dari usia lima tahun, aku sudah mendengar dari “crush” pertamaku bahwa aku tak disukai karena kulitku gelap. Tumbuh di Australia yang minim representasi untuk orang Asia Selatan, aku bahkan sampai menggosok lutut sampai merah berharap warnanya hilang. Pada usia 13 tahun, aku sudah memakai krim pemutih sebelum makeup.
Aku juga menekan identitas seksualku. Bayangkan, menjadi anak perempuan mantan pastor dan mencoba menjelaskan kepada orang tua tentang fantasi seksualku. Budaya dan agama yang konservatif mengajarkanku bahwa yang terhormat adalah menikah dengan pria baik, membangun keluarga, dan prokreasi. Aku bahkan sempat berpikir jika menikah dengan pria kulit putih tampan seperti Zac Efron, aku akan dianggap berhasil.
Aku juga mengikuti jalur ambisi “normal”—studi psikologi, manajemen, kerja di HR corporate. Aku menyesuaikan diri dengan apa yang orang lain anggap sukses. Tapi tetap saja aku merasa tidak cukup.
Empat tahun lalu, aku berada di titik paling rendah. Tapi saat itu aku melihat seorang pengacara India-Australia menang Miss Universe Australia. Aku merasa dua hal: kagum dan terbakar semangat. Aku harus tahu rasanya. Jadi, dengan segala keterbatasanku, aku ikut serta.
Tahun 2020 datang, pandemi dan lockdown terjadi. Bagaimana cara bersaing jika tak bisa ikut event, networking, atau berolahraga? Aku bahkan hanya bisa keluar rumah satu jam per hari. Aku harus kreatif: catwalk di jalanan, kemudian beruntung ibuku menghubungi pastor lokal agar aku bisa memakai aula gereja.
Aku memanfaatkan apa yang aku punya: telepon dan internet. Aku membuat serial empowerment online, setiap minggu selama 32 minggu di Instagram Live, membicarakan isu sosial dan politik: pelecehan seksual, persetujuan, ras. Video-video ini ditonton ribuan orang karena aku memutuskan menang bukan karena standar kecantikan orang lain, tapi karena apa yang aku katakan.
Tentu banyak komentar kebencian: “Kembalikan Miss Universe untuk wanita kulit putih,” “Bunuh dirimu,” “Dia bukan orang Australia.” Tapi aku tidak menyerah. Aku menolak berpikir ada yang salah dengan diriku. Aku menegaskan: perbedaan inilah yang membuatku harus ada di sana.
Tahun itu aku menulis dan memproduksi kampanye sendiri, menulis artikel opini yang akhirnya membuka jalan ke kolom nasional, kontrak buku pertama, dan undangan tampil di acara televisi besar—semua karena keberanian untuk berbicara dan tetap terlihat.
Saat masuk 10 besar Miss Universe global mewakili Australia, aku tidak merasa tak percaya; aku merasa kuat. Hingga kini, publik tidak melihat berapa kali aku ditolak atau betapa kerasnya perjuangan untuk berada di ruangan tertentu. Tapi aku melakukannya karena keberanian itu penting. Aku bahkan berani keluar sebagai anak mantan pastor di televisi nasional.
Aku ingin mereka yang melihatku tahu: siapa dirimu bukanlah kompromi terhadap hidup yang bisa kamu jalani—itu adalah bahan bakarmu.
Perubahan besar terjadi karena akumulasi momen kecil, keputusan sehari-hari: berhenti pakai krim pemutih, berjuang meski odds melawanmu, menahan komentar kebencian dan tetap tampil. Kamu tidak mengubah hidup dengan menunggu momen “propeller” tapi dengan menyadari peluang yang tidak selalu terlihat besar.
Jadi hentikan memakai standar orang lain. Setiap hari katakan pada dirimu:
“Aku bisa. Aku mampu. Aku akan melakukannya.”
Terima kasih.
-
Momen yang Mengubah Hidup
Tahun 2020, setelah 112 hari lockdown, aku memenangkan Miss Universe Australia, menjadi perempuan ketiga berkulit berwarna dalam 69 tahun. Momen ini mengubah hidupku, dari anak tertutup keluarga imigran India menjadi penulis, pembawa acara, podcaster, dan host queer yang terbuka. -
Rasa Terjebak dan Identitas yang Tertahan
Empat tahun sebelumnya, aku berada di titik rendah: broke, baru putus, tinggal dengan orang tua, bekerja di corporate job yang kubenci. Aku merasa tidak cukup baik, mencoba meniru standar kecantikan kulit putih, bahkan menekan identitas seksualku karena tekanan budaya dan agama konservatif. -
Mengambil Kesempatan di Tengah Keterbatasan
Melihat pengacara India-Australia menang Miss Universe Australia, aku terdorong ikut serta. Pandemi memaksa kreativitas—catwalk di jalanan, meminjam aula gereja, memanfaatkan telepon dan internet untuk serial empowerment online di Instagram Live membahas isu sosial dan politik. -
Menghadapi Kebencian dan Menegaskan Perbedaan
Komentar kebencian muncul: “Bunuh dirimu,” “Dia bukan orang Australia.” Aku menolak menyerah, menegaskan bahwa perbedaan inilah yang membuatku harus ada di panggung itu. Keberanian ini membuka jalan ke artikel nasional, kontrak buku, dan tampil di televisi. -
Kekuatan dari Keberanian Sehari-hari
Masuk 10 besar Miss Universe global, aku merasa kuat. Publik tidak melihat semua penolakan dan perjuangan kerasku. Perubahan besar datang dari akumulasi momen kecil: berhenti pakai krim pemutih, berani tampil, tetap terdengar meski menghadapi kebencian. -
Pesan Akhir: Jangan Menunggu, Bertindaklah
Jangan tunggu “momen propeller” untuk mengubah hidup. Hentikan memakai standar orang lain, dan setiap hari katakan:
“Aku bisa. Aku mampu. Aku akan melakukannya.”

Comments
Post a Comment