REFLEKSI BUKU, Breath — James Nestor

 Kita melakukannya setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik, tetapi hampir tidak pernah memikirkannya. Kita melakukannya ketika tidur, bekerja, berjalan, berbicara, berolahraga, bahkan ketika sedang membaca kalimat ini. Kita tidak perlu belajar melakukannya ketika lahir, dan tubuh terus melakukannya secara otomatis sepanjang hidup.

Bernapas.

Dalam buku Breath: The New Science of a Lost Art, James Nestor mengajak kita melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap terlalu sederhana untuk diperhatikan. Bernapas ternyata bukan sekadar proses memasukkan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Cara kita bernapas dapat berhubungan dengan tidur, olahraga, respons terhadap stres, kesehatan saluran pernapasan, dan bagaimana tubuh mengatur berbagai proses fisiologis.

Pertanyaan yang kemudian muncul sangat sederhana:

Apakah kita benar-benar tahu cara bernapas dengan baik?

Nestor memulai eksplorasinya dari sebuah paradoks. Manusia modern memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang jauh lebih maju dibandingkan generasi sebelumnya, tetapi banyak kebiasaan hidup modern justru dapat mengubah cara kita bernapas. Pola makan, gaya hidup sedentari, stres, kualitas tidur, dan berbagai kebiasaan lain dapat memengaruhi sistem pernapasan.

Salah satu gagasan yang paling kuat dalam Breath adalah pentingnya bernapas melalui hidung.

Hidung bukan sekadar jalan alternatif menuju paru-paru. Hidung memiliki berbagai fungsi penting dalam mengatur udara yang masuk ke tubuh. Udara yang melewati hidung disaring, dihangatkan, dan dilembapkan sebelum mencapai saluran pernapasan yang lebih dalam.

Sebaliknya, bernapas melalui mulut secara terus-menerus dapat memiliki konsekuensi tertentu, terutama pada kualitas pernapasan, mulut kering, dan tidur. Dalam konteks tertentu, kebiasaan bernapas melalui mulut juga dapat berkaitan dengan gangguan pernapasan saat tidur.

Karena itu, salah satu latihan kesadaran paling sederhana adalah memperhatikan:

Apakah saya lebih sering bernapas melalui hidung atau melalui mulut?

Kita mungkin terkejut ketika menyadari bahwa dalam kondisi tertentu, terutama ketika stres atau melakukan aktivitas fisik, kita cenderung bernapas lebih cepat dan menggunakan mulut.

Padahal, bernapas tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak udara yang kita masukkan.

Cara kita bernapas juga penting.

Nestor membahas gagasan mengenai slow breathing, atau pernapasan yang lebih lambat dan terkontrol. Pernapasan yang tenang dapat membantu memengaruhi sistem saraf otonom, termasuk keseimbangan antara respons yang berkaitan dengan aktivasi dan relaksasi.

Ketika kita mengalami stres, napas sering berubah secara otomatis. Napas menjadi lebih cepat dan dangkal. Bahu dapat terangkat. Otot menegang. Tubuh bersiap menghadapi ancaman.

Masalahnya, kehidupan modern dapat membuat tubuh berada dalam kondisi seperti itu terlalu sering.

Email pekerjaan.

Deadline.

Kemacetan.

Konflik.

Berita.

Notifikasi.

Tekanan sosial.

Semua dapat menjadi sumber stres.

Tubuh mungkin tidak membedakan ancaman modern secara sempurna dari ancaman fisik. Sistem saraf tetap dapat merespons dengan meningkatkan kewaspadaan.

Di sinilah napas dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membantu mengubah keadaan fisiologis.

Kita tidak selalu dapat mengendalikan situasi di luar diri kita.

Tetapi kita dapat menyadari napas.

Ketika seseorang memperlambat napas dan mengatur ritmenya dengan nyaman, ia dapat menciptakan jeda antara stimulus dan respons.

Jeda tersebut sangat berharga.

Misalnya, seseorang menerima pesan yang membuatnya marah. Respons otomatisnya mungkin langsung membalas. Tetapi jika ia berhenti, menarik napas dengan tenang, dan memberikan beberapa detik sebelum merespons, ia telah menciptakan ruang untuk memilih.

Dengan demikian, napas bukan hanya alat fisiologis.

Ia dapat menjadi alat kesadaran.

Salah satu aspek menarik lainnya adalah hubungan antara pernapasan dan tidur.

Ketika tidur, kita berharap tubuh benar-benar beristirahat. Namun kualitas tidur dapat terganggu ketika pola pernapasan tidak optimal. Mendengkur dan gangguan pernapasan saat tidur, misalnya, dapat mengganggu kualitas istirahat.

Kita sering menganggap mendengkur sebagai sesuatu yang lucu atau sekadar kebiasaan. Padahal, dalam situasi tertentu, mendengkur dapat menjadi tanda adanya gangguan pernapasan yang perlu dievaluasi.

Karena itu, tidur yang baik bukan hanya tentang jumlah jam tidur.

Kita juga perlu memperhatikan kualitas pernapasan selama tidur.

Hal lain yang dibahas Nestor adalah hubungan antara struktur wajah, rahang, lidah, dan perkembangan saluran pernapasan. Ia mengeksplorasi bagaimana perubahan gaya hidup dan pola makan manusia dari masa lalu hingga modern dapat berkaitan dengan perubahan struktur rahang dan gigi.

Bagian ini mengingatkan kita bahwa tubuh manusia tidak berdiri sendiri.

Cara kita makan dapat memengaruhi perkembangan sistem orofasial.

Cara kita tidur dapat memengaruhi pernapasan.

Cara kita bernapas dapat memengaruhi kondisi fisiologis.

Semuanya saling terhubung.

Namun, penting untuk membaca gagasan dalam Breath secara kritis. Buku ini merupakan eksplorasi populer yang menggabungkan pengalaman pribadi, penelitian, sejarah, dan berbagai praktik pernapasan. Tidak semua klaim memiliki tingkat bukti ilmiah yang sama kuat, sehingga pembaca sebaiknya membedakan antara prinsip fisiologi yang mapan dan hipotesis atau praktik yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Pelajaran paling kuat dari buku ini bukanlah bahwa ada satu teknik pernapasan yang sempurna.

Sebaliknya, pelajarannya adalah:

Perhatikan bagaimana Anda bernapas.

Kesadaran tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat penting.

Coba perhatikan napas ketika sedang tenang.

Kemudian perhatikan ketika sedang terburu-buru.

Perhatikan ketika sedang marah.

Perhatikan ketika sedang berolahraga.

Perhatikan ketika sedang berbicara di depan orang banyak.

Perhatikan ketika akan tidur.

Kita akan menemukan bahwa napas berubah mengikuti keadaan tubuh dan pikiran.

Sebaliknya, perubahan napas juga dapat memengaruhi bagaimana kita merasakan keadaan tersebut.

Hubungan dua arah inilah yang membuat pernapasan begitu menarik.

Kita sering mencari solusi kesehatan yang kompleks. Membeli alat baru. Mengikuti program baru. Mengonsumsi sesuatu yang baru. Mencari teknologi terbaru.

Namun, terkadang salah satu hal paling mendasar justru terabaikan.

Cara kita bernapas.

Dalam konteks olahraga, pernapasan juga sangat penting. Atlet belajar mengatur napas agar dapat mengelola intensitas aktivitas, mempertahankan ritme, dan mengontrol respons tubuh terhadap kelelahan.

Tetapi tujuan bernapas dalam olahraga bukan sekadar mengambil udara sebanyak mungkin.

Bernapas terlalu cepat atau berlebihan tidak selalu berarti tubuh mendapatkan manfaat yang lebih besar. Tubuh memiliki sistem yang kompleks untuk mengatur pertukaran gas dan keseimbangan karbon dioksida serta oksigen.

Karena itu, lebih banyak tidak selalu berarti lebih baik.

Ini merupakan tema yang berulang dalam Breath:

kualitas, ritme, dan efisiensi lebih penting daripada sekadar kuantitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dapat menggunakan napas sebagai pengingat untuk memperlambat diri.

Saat pagi hari, sebelum membuka ponsel, kita dapat mengambil beberapa napas tenang.

Sebelum rapat penting, kita dapat berhenti sejenak.

Saat emosi meningkat, kita dapat memperhatikan apakah napas mulai cepat.

Sebelum tidur, kita dapat menciptakan lingkungan yang tenang dan memperhatikan pola pernapasan.

Bukan sebagai ritual ajaib, tetapi sebagai bentuk kesadaran terhadap tubuh.

Pada akhirnya, Breath membawa kita kembali kepada sesuatu yang sangat sederhana.

Kita tidak selalu dapat mengontrol dunia.

Kita tidak dapat menghilangkan seluruh stres.

Kita tidak dapat mencegah semua masalah.

Namun, kita dapat belajar mengenali apa yang sedang terjadi di dalam tubuh kita.

Dan napas adalah salah satu sinyal yang paling mudah diakses.

Ketika napas cepat, mungkin tubuh sedang memberi tahu bahwa kita membutuhkan jeda.

Ketika napas dangkal, mungkin kita sedang berada dalam tekanan.

Ketika napas tenang, kita dapat menggunakannya sebagai jangkar untuk kembali hadir pada saat ini.

Mungkin inilah pesan paling menarik dari buku James Nestor:

Sesuatu yang kita lakukan lebih dari dua puluh ribu kali sehari layak mendapatkan perhatian.

Bernapas bukan sekadar fungsi otomatis.

Ia adalah bagian dari cara tubuh beradaptasi, bekerja, beristirahat, dan menghadapi dunia.

Kita tidak perlu menjadikan setiap tarikan napas sebagai proyek yang rumit.

Kita hanya perlu mulai menyadarinya.

Tarik napas.

Sadari.

Perlahan.

Tenang.

Kemudian hembuskan.

Karena terkadang, untuk kembali terhubung dengan tubuh, kita tidak perlu mencari sesuatu yang baru.

Kita hanya perlu kembali memperhatikan sesuatu yang selama ini selalu ada.

Comments