REFLEKSI What’s Going Right? — Paul Conti
Dalam perjalanan hidup, kita sering kali memiliki kebiasaan untuk bertanya, “Apa yang salah dengan saya?” Ketika merasa cemas, kecewa, kehilangan arah, mengalami konflik, atau menghadapi kegagalan, perhatian kita secara otomatis tertuju pada masalah. Kita mencari kekurangan, kesalahan, kelemahan, dan hal-hal yang belum berhasil. Namun, menurut pendekatan psikologis yang dikembangkan oleh Paul Conti, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: “What’s going right?” — Apa yang sebenarnya sedang berjalan dengan baik?
Pertanyaan sederhana ini memiliki kekuatan yang besar karena mengubah cara kita melihat kehidupan. Kita tidak lagi hanya memandang diri melalui luka, kegagalan, atau kekurangan, tetapi mulai melihat keseluruhan diri secara lebih utuh. Kehidupan manusia tidak pernah hanya terdiri dari masalah. Bahkan ketika seseorang sedang mengalami masa sulit, hampir selalu ada sesuatu yang masih berjalan: kemampuan untuk bertahan, hubungan yang masih dimiliki, kesempatan untuk belajar, nilai-nilai yang masih dijaga, atau keberanian untuk terus melangkah.
Conti, seorang psikiater dan penulis Trauma: The Invisible Epidemic, banyak membahas bagaimana trauma, rasa takut, kehilangan, dan pengalaman masa lalu dapat membentuk cara seseorang memahami dirinya sendiri. Ketika pengalaman buruk menjadi terlalu dominan, seseorang dapat mulai membangun sebuah narasi internal bahwa dirinya adalah “orang yang rusak”, “orang yang gagal”, atau “orang yang selalu mengalami masalah”. Padahal, pengalaman buruk adalah bagian dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan identitasnya.
Di sinilah pertanyaan “What’s going right?” menjadi penting.
Pertanyaan ini bukan bentuk penyangkalan terhadap masalah. Bukan pula ajakan untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Justru sebaliknya, pertanyaan ini membantu seseorang melihat realitas secara lebih lengkap. Jika kita hanya bertanya, “Apa yang salah?”, kita mungkin mendapatkan daftar panjang mengenai masalah. Tetapi jika kita juga bertanya, “Apa yang masih berjalan dengan baik?”, kita menciptakan perspektif yang lebih seimbang.
Bayangkan seseorang yang sedang mengalami kegagalan dalam bisnis. Ia mungkin berkata, “Bisnis saya gagal. Saya kehilangan banyak uang. Saya membuat keputusan yang salah.” Semua itu mungkin benar. Namun pertanyaan berikutnya adalah: Apa yang masih berjalan dengan baik?
Mungkin ia masih memiliki pengalaman. Ia masih memiliki kemampuan membangun hubungan. Ia masih memiliki keluarga yang mendukung. Ia masih memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki sebelumnya. Ia masih memiliki kesempatan untuk mencoba kembali. Bahkan kegagalan tersebut mungkin telah memberikan pemahaman yang jauh lebih dalam mengenai risiko, pelanggan, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.
Masalahnya tetap nyata. Tetapi gambaran kehidupannya menjadi lebih lengkap.
Hal yang sama berlaku dalam hubungan. Ketika seseorang mengalami konflik dengan pasangan, teman, atau anggota keluarga, perhatian kita mudah terperangkap pada pertengkaran. Kita mengingat kata-kata yang menyakitkan, kesalahan, kekecewaan, dan perilaku yang tidak sesuai harapan. Namun kita dapat berhenti sejenak dan bertanya: “Apa yang masih berjalan dengan baik dalam hubungan ini?”
Mungkin masih ada kepedulian. Masih ada komunikasi. Masih ada sejarah bersama. Masih ada keinginan untuk memperbaiki hubungan. Bahkan jika hubungan tersebut akhirnya harus berakhir, mungkin masih ada pelajaran yang dapat dibawa ke hubungan berikutnya.
Pertanyaan ini juga sangat relevan dalam kepemimpinan.
Seorang pemimpin yang hanya melihat kesalahan tim akan menciptakan lingkungan yang penuh ketakutan. Setiap evaluasi berubah menjadi pencarian siapa yang salah. Orang akhirnya belajar menyembunyikan masalah daripada mengungkapkannya. Sebaliknya, pemimpin yang bertanya “What’s going right?” tidak berarti mengabaikan kesalahan. Ia tetap mengevaluasi risiko dan memperbaiki kekurangan, tetapi juga mencari kekuatan yang dapat dikembangkan.
Misalnya, ketika sebuah proyek gagal mencapai target, pemimpin dapat bertanya: Apa yang berhasil? Proses mana yang berjalan baik? Siapa yang menunjukkan inisiatif? Pelajaran apa yang sudah kita peroleh? Sistem apa yang sebenarnya sudah kuat?
Dengan demikian, evaluasi tidak hanya menjadi proses mencari kesalahan, tetapi menjadi proses belajar.
Dalam konteks perkembangan diri, pertanyaan “What’s going right?” juga membantu kita mengenali kemajuan kecil yang sering tidak kita sadari.
Kita terlalu sering membandingkan diri dengan versi ideal yang belum tercapai. Kita melihat orang lain yang lebih sukses, lebih sehat, lebih kaya, lebih percaya diri, atau lebih maju. Akibatnya, pencapaian kita sendiri terasa tidak berarti.
Padahal, mungkin kita sudah jauh lebih disiplin dibandingkan beberapa tahun lalu. Kita sudah belajar mengatakan “tidak”. Kita mulai menjaga hubungan yang lebih sehat. Kita mulai membaca. Kita mulai belajar keterampilan baru. Kita mulai berani meminta bantuan. Kita mulai memahami diri sendiri.
Kemajuan seperti itu mungkin tidak terlihat spektakuler, tetapi justru perubahan kecil yang konsisten sering menjadi fondasi perubahan besar.
Ada sebuah prinsip penting di balik pertanyaan ini: perhatian kita memengaruhi pengalaman kita. Apa yang terus-menerus kita cari akan semakin terlihat oleh pikiran kita. Jika setiap hari kita mencari kegagalan, kekurangan, ancaman, dan masalah, dunia akan terasa semakin penuh dengan hal-hal tersebut. Namun jika kita juga melatih diri untuk mencari kekuatan, peluang, hubungan yang bermakna, dan kemajuan, kita mulai mendapatkan gambaran kehidupan yang lebih utuh.
Ini bukan berarti berpikir positif secara buta.
Positive thinking yang tidak realistis dapat menjadi masalah ketika seseorang menggunakan optimisme untuk menghindari kenyataan. “Semuanya pasti baik-baik saja” tidak selalu benar. Ada kehilangan yang memang menyakitkan. Ada kegagalan yang harus diakui. Ada kesalahan yang harus diperbaiki. Ada hubungan yang mungkin perlu diakhiri. Ada keputusan yang harus dipertanggungjawabkan.
Namun, mengakui masalah tidak mengharuskan kita mengabaikan hal-hal yang masih baik.
Kita dapat berkata, “Ini memang sulit, tetapi saya masih memiliki sesuatu.”
Kita dapat berkata, “Saya gagal dalam hal ini, tetapi saya masih bisa belajar.”
Kita dapat berkata, “Saya sedang terluka, tetapi saya tidak sendirian.”
Kita dapat berkata, “Saya belum sampai tujuan, tetapi saya sudah bergerak.”
Inilah kekuatan dari perspektif yang lebih seimbang.
Pertanyaan “What’s going right?” juga mengajarkan kita untuk mengenali resilience, yaitu kemampuan untuk menghadapi kesulitan dan tetap memiliki kapasitas untuk bergerak maju. Resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah jatuh. Resiliensi berarti seseorang dapat mengalami tekanan tanpa kehilangan seluruh kemampuannya untuk hidup, belajar, mencintai, dan berkembang.
Karena itu, ketika menghadapi masa sulit, kita dapat membuat kebiasaan sederhana. Pada akhir hari, jangan hanya bertanya, “Apa yang salah hari ini?” Tambahkan tiga pertanyaan:
Apa yang berjalan dengan baik?
Apa yang saya pelajari?
Apa satu hal yang dapat saya lakukan lebih baik besok?
Tiga pertanyaan ini menciptakan pola refleksi yang lebih sehat. Kita tetap belajar dari kesalahan, tetapi tidak membiarkan kesalahan menjadi satu-satunya cerita tentang diri kita.
Pada akhirnya, “What’s Going Right?” adalah sebuah cara untuk mengembalikan keseimbangan dalam cara kita memandang kehidupan.
Kita bukan hanya kegagalan kita.
Kita bukan hanya trauma kita.
Kita bukan hanya kesalahan masa lalu.
Kita juga adalah keberanian yang membuat kita bangkit, hubungan yang masih kita jaga, nilai yang masih kita pegang, kemampuan yang terus kita kembangkan, dan harapan yang membuat kita tetap berjalan.
Mungkin kehidupan kita belum sempurna. Mungkin masih ada banyak hal yang harus diperbaiki. Tetapi di tengah semua itu, selalu ada sesuatu yang dapat menjadi titik pijakan.
Dan terkadang, untuk menemukannya, kita hanya perlu berhenti sejenak dan bertanya:
“What’s going right?”
Karena ketika kita mampu melihat bukan hanya apa yang rusak, tetapi juga apa yang masih hidup, masih kuat, dan masih mungkin berkembang, kita tidak hanya menjadi lebih optimistis.
Kita menjadi lebih utuh dalam memahami diri sendiri.

Comments
Post a Comment