REFLEKSI BUKU The Comfort Crisis — Michael Easter

Kita hidup dalam paradoks yang menarik. Teknologi membuat kehidupan manusia semakin nyaman, tetapi semakin nyaman hidup kita, belum tentu semakin baik kondisi kita. Kita dapat memesan makanan tanpa keluar rumah, bekerja dari kursi yang nyaman, bepergian dengan kendaraan, berkomunikasi tanpa harus bertemu langsung, dan mendapatkan hiburan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar.

Kenyamanan memang memberikan banyak manfaat.

Namun, dalam buku The Comfort Crisis, Michael Easter mengajukan pertanyaan yang lebih dalam:

Bagaimana jika terlalu banyak kenyamanan justru membuat kita kurang kuat?

Selama sebagian besar sejarah manusia, kehidupan jauh lebih sulit secara fisik. Manusia harus berjalan jauh untuk mendapatkan makanan. Harus menghadapi cuaca. Harus membawa barang. Harus mencari tempat aman. Harus bekerja menggunakan tubuh. Harus beradaptasi dengan ketidakpastian.

Hari ini, sebagian besar aktivitas tersebut telah digantikan oleh teknologi.

Kita tidak perlu berjalan beberapa kilometer untuk mendapatkan makanan.

Kita tidak perlu berburu.

Kita tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan hiburan.

Kita tidak perlu menghadapi rasa bosan karena selalu ada sesuatu yang dapat dilihat di layar.

Secara objektif, banyak aspek kehidupan menjadi jauh lebih mudah.

Tetapi tubuh dan otak manusia tidak berubah secepat teknologi.

Tubuh yang berkembang selama ribuan tahun dalam kondisi penuh aktivitas tiba-tiba hidup dalam lingkungan yang sangat nyaman.

Di sinilah muncul comfort crisis.

Krisis kenyamanan bukan berarti kenyamanan itu buruk. Masalahnya muncul ketika kita kehilangan kemampuan untuk menghadapi ketidaknyamanan.

Kita menjadi terlalu terbiasa dengan suhu yang nyaman.

Makanan yang selalu tersedia.

Kursi yang selalu tersedia.

Hiburan yang selalu tersedia.

Informasi yang selalu tersedia.

Akibatnya, sedikit rasa tidak nyaman dapat terasa jauh lebih berat daripada seharusnya.

Kita bosan lalu membuka ponsel.

Kita lelah lalu langsung berhenti bergerak.

Kita merasa lapar lalu segera mencari makanan.

Kita merasa cemas lalu mencari distraksi.

Kita menghadapi kesulitan lalu ingin segera menghilangkannya.

Padahal, beberapa bentuk ketidaknyamanan justru dapat menjadi stimulus untuk berkembang.

Inilah salah satu pesan utama The Comfort Crisis:

Tubuh dan pikiran membutuhkan tantangan.

Tanpa tantangan, kemampuan beradaptasi dapat melemah.

Prinsip ini dapat ditemukan dalam banyak aspek kehidupan.

Otot menjadi kuat ketika mendapatkan stimulus yang cukup.

Kapasitas fisik meningkat ketika tubuh dipaksa beradaptasi terhadap beban.

Keterampilan meningkat ketika kita menghadapi tugas yang sedikit lebih sulit daripada kemampuan kita saat ini.

Kepercayaan diri sering tumbuh setelah kita berhasil melewati sesuatu yang sebelumnya kita takuti.

Dengan kata lain, kita membutuhkan stress yang tepat dalam dosis yang tepat.

Terlalu banyak stres dapat merusak.

Tetapi terlalu sedikit tantangan juga dapat membuat kita rapuh.

Ini adalah konsep yang sering disebut sebagai hormesis: paparan terhadap tekanan tertentu dalam kadar yang sesuai dapat memicu adaptasi.

Contohnya dapat terlihat dalam olahraga.

Jika kita tidak pernah menggunakan tubuh dengan intensitas yang menantang, kemampuan fisik dapat menurun. Tetapi jika kita memberikan stimulus secara bertahap dan memberikan waktu untuk pemulihan, tubuh dapat beradaptasi menjadi lebih kuat.

Hal yang sama dapat terjadi secara psikologis.

Jika kita selalu menghindari ketidaknyamanan, kita tidak pernah mengetahui bahwa kita sebenarnya mampu melewatinya.

Misalnya, seseorang takut berbicara di depan umum.

Jika ia selalu menghindari presentasi, rasa takut tersebut dapat tetap kuat.

Namun jika ia secara bertahap menghadapi situasi tersebut, mungkin dimulai dari kelompok kecil, kemudian lebih besar, tubuh dan pikirannya dapat belajar bahwa ketidaknyamanan tersebut dapat ditoleransi.

Ia tidak harus menunggu sampai rasa takut hilang.

Ia belajar bertindak meskipun merasa takut.

Inilah perbedaan antara kenyamanan dan pertumbuhan.

Kenyamanan memberi rasa aman sekarang.

Tantangan memberi kapasitas untuk masa depan.

Michael Easter menggunakan berbagai pengalaman dan penelitian untuk mengeksplorasi bagaimana manusia dapat memperoleh manfaat dari keluar dari zona nyaman. Salah satu tema yang kuat adalah adventure.

Petualangan tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang ekstrem.

Petualangan berarti memasuki situasi yang memiliki unsur ketidakpastian dan menuntut kita menggunakan kemampuan yang mungkin jarang kita gunakan.

Pergi mendaki.

Berjalan jauh.

Menghabiskan waktu di alam.

Melakukan perjalanan tanpa terlalu banyak kenyamanan.

Belajar keterampilan baru.

Menghadapi percakapan yang sulit.

Bahkan menjalani beberapa jam tanpa ponsel dapat menjadi bentuk ketidaknyamanan kecil yang melatih perhatian.

Ketika kita sengaja keluar dari rutinitas nyaman, kita memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk menemukan kemampuan yang selama ini tidak digunakan.

Salah satu hal menarik dalam buku ini adalah pentingnya alam.

Manusia modern menghabiskan semakin banyak waktu di lingkungan buatan.

Gedung.

Kantor.

Kendaraan.

Pusat perbelanjaan.

Layar.

Padahal, alam memberikan jenis stimulus yang berbeda.

Berjalan di alam membutuhkan perhatian.

Medan berubah.

Cuaca berubah.

Jalur tidak selalu sempurna.

Kita harus membaca lingkungan.

Tubuh bergerak dengan cara yang lebih alami.

Pikiran juga mendapatkan kesempatan untuk menjauh dari stimulasi digital.

Karena itu, alam bukan hanya tempat untuk berlibur.

Ia dapat menjadi ruang latihan bagi tubuh dan pikiran.

Namun, pesan The Comfort Crisis bukan bahwa kita harus meninggalkan teknologi dan kembali hidup seperti manusia purba.

Itu bukan solusi realistis.

Teknologi memberikan manfaat yang luar biasa.

Masalahnya adalah bagaimana kita menggunakannya.

Jika teknologi menghilangkan semua bentuk ketidaknyamanan dari hidup kita, kita perlu sengaja menciptakan beberapa tantangan yang sehat.

Misalnya, daripada selalu menggunakan lift, kita dapat memilih tangga ketika memungkinkan.

Daripada selalu menggunakan kendaraan untuk jarak yang sangat dekat, kita dapat berjalan.

Daripada mengisi setiap momen kosong dengan media sosial, kita dapat membiarkan diri mengalami kebosanan.

Daripada selalu memilih aktivitas yang mudah, kita dapat memilih sesuatu yang membutuhkan usaha.

Hal-hal kecil seperti ini tampak sederhana.

Tetapi jika dilakukan konsisten, mereka dapat mengubah hubungan kita dengan ketidaknyamanan.

Kita mulai menyadari:

“Ternyata rasa tidak nyaman tidak selalu berarti sesuatu yang buruk.”

Kadang-kadang rasa tidak nyaman berarti kita sedang beradaptasi.

Dalam konteks modern, salah satu bentuk ketidaknyamanan yang paling penting mungkin adalah kebosanan.

Kita hampir tidak pernah benar-benar bosan.

Ketika menunggu lima menit, kita membuka ponsel.

Ketika berada di kendaraan, kita menonton sesuatu.

Ketika makan, kita melihat layar.

Ketika sebelum tidur, kita scrolling.

Kita terus memberikan stimulasi kepada otak.

Akibatnya, kemampuan untuk berada dalam keadaan tanpa stimulasi dapat menurun.

Padahal, kebosanan dapat memberikan ruang untuk berpikir.

Ide dapat muncul ketika kita tidak sedang menerima informasi baru setiap detik.

Kita dapat merenungkan masalah.

Mengingat pengalaman.

Menyusun rencana.

Bahkan menyadari emosi yang selama ini kita hindari.

Karena itu, sesekali tidak melakukan apa-apa dapat menjadi aktivitas yang sangat berharga.

Kita juga perlu memahami bahwa comfort crisis bukan hanya persoalan fisik.

Ia berkaitan dengan mental toughness.

Mental toughness bukan berarti tidak pernah merasa lelah, takut, atau sedih.

Justru mental toughness berarti mampu mengalami emosi tersebut tanpa langsung dikendalikan olehnya.

Kita dapat merasa tidak nyaman dan tetap melanjutkan.

Kita dapat merasa takut dan tetap bertindak.

Kita dapat merasa bosan dan tidak langsung mencari distraksi.

Kita dapat mengalami kegagalan dan tetap belajar.

Ini adalah bentuk ketahanan.

Pada akhirnya, The Comfort Crisis mengajak kita melihat kenyamanan dengan perspektif yang lebih seimbang.

Kenyamanan bukan musuh.

Kenyamanan adalah hasil luar biasa dari kemajuan manusia.

Kita harus menghargainya.

Tetapi kita tidak boleh membiarkan kenyamanan menghilangkan kapasitas kita untuk menghadapi kesulitan.

Karena hidup tidak pernah sepenuhnya nyaman.

Akan selalu ada kehilangan.

Kegagalan.

Ketidakpastian.

Konflik.

Perubahan.

Sakit.

Kesulitan.

Jika kita tidak pernah melatih diri menghadapi ketidaknyamanan kecil, kita mungkin akan lebih kesulitan ketika menghadapi ketidaknyamanan besar yang tidak dapat kita hindari.

Karena itu, kita dapat mulai dengan pertanyaan sederhana:

Kapan terakhir kali saya sengaja melakukan sesuatu yang sulit?

Kapan terakhir kali saya berjalan lebih jauh?

Kapan terakhir kali saya belajar sesuatu yang membuat saya terlihat bodoh sebagai pemula?

Kapan terakhir kali saya membiarkan diri saya bosan?

Kapan terakhir kali saya menghadapi sesuatu yang saya takutkan?

Pertanyaan tersebut bukan ajakan untuk menyiksa diri.

Justru sebaliknya.

Ini adalah ajakan untuk membangun kapasitas.

Kita tidak membutuhkan penderitaan yang tidak perlu.

Kita membutuhkan tantangan yang disengaja, bertahap, dan masuk akal.

Karena ada perbedaan besar antara suffering dan training.

Suffering adalah rasa sakit yang tidak memiliki arah.

Training adalah ketidaknyamanan yang dipilih untuk membangun kemampuan.

Inilah inti dari The Comfort Crisis.

Kita tidak harus mencari kehidupan yang sulit.

Tetapi kita juga tidak perlu membuat kehidupan terlalu mudah.

Sedikit tantangan dapat membuat tubuh lebih kuat.

Sedikit ketidaknyamanan dapat membuat pikiran lebih tangguh.

Sedikit kebosanan dapat membuat kita lebih kreatif.

Sedikit ketidakpastian dapat membuat kita lebih adaptif.

Dan sedikit keberanian untuk keluar dari zona nyaman dapat membuka pengalaman yang tidak pernah kita temukan jika kita selalu memilih jalan termudah.

Pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah menghilangkan semua ketidaknyamanan.

Tujuannya adalah menjadi manusia yang cukup kuat untuk menghadapi ketidaknyamanan ketika ia datang.

Karena kenyamanan membuat hidup terasa mudah.

Tetapi kemampuan menghadapi ketidaknyamanan membuat kita lebih siap menjalani hidup.

Dan mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan:

“Bagaimana saya bisa membuat hidup saya semakin nyaman?”

Melainkan:

“Ketidaknyamanan apa yang layak saya pilih hari ini agar saya menjadi lebih kuat untuk menghadapi hari esok?”

Comments