REFLEKSI BUKU Nice Girls Don’t Get the Corner Office — Lois P. Frankel, PhD

Nice Girls Don’t Get the Corner Office — Lois P. Frankel, PhD

Mengapa Perempuan yang Terlalu “Baik” Sering Kehilangan Kesempatan untuk Memimpin

Terinspirasi dari buku Nice Girls Don’t Get the Corner Office: Unconscious Mistakes Women Make That Sabotage Their Careers karya Lois P. Frankel, PhD

“Kebaikan adalah kekuatan. Tetapi kebaikan tanpa batas, tanpa keberanian, dan tanpa kemampuan menyuarakan nilai diri dapat berubah menjadi hambatan.”

Ada sebuah paradoks dalam dunia profesional.

Seorang perempuan dapat bekerja sangat keras, menyelesaikan tugas tepat waktu, membantu semua orang, tidak pernah membuat masalah, selalu bersedia menggantikan rekan kerja, dan berusaha menjaga hubungan tetap harmonis.

Namun ketika tiba waktunya promosi, justru orang lain yang mendapatkan posisi tersebut.

Kemudian muncul pertanyaan:

“Mengapa bukan saya?”

Dalam Nice Girls Don’t Get the Corner Office, Lois P. Frankel, PhD, seorang psikoterapis dan executive coach, membahas pola perilaku yang sering membuat perempuan tanpa sadar menghambat perkembangan karier mereka sendiri.

Buku ini bukan mengatakan bahwa perempuan harus berhenti menjadi baik.

Pesannya jauh lebih penting:

Jangan sampai keinginan untuk menjadi “nice” membuat kita mengorbankan otoritas, nilai diri, batas pribadi, dan kesempatan untuk berkembang.

Dari Masa Kanak-Kanak ke Dunia Profesional

Frankel memulai dari sesuatu yang sangat mendasar: bagaimana anak perempuan dibesarkan.

Sejak kecil, banyak perempuan secara sosial didorong untuk menjadi:

baik,

sopan,

tidak merepotkan,

menyenangkan,

penurut,

dan menjaga perasaan orang lain.

Sifat-sifat tersebut sebenarnya sangat berharga dalam hubungan manusia.

Namun ketika dibawa tanpa penyesuaian ke dunia kerja, sifat yang sama dapat menghasilkan konsekuensi berbeda.

Di tempat kerja, seseorang tidak hanya dinilai berdasarkan seberapa menyenangkan dirinya.

Ia juga dinilai berdasarkan:

kompetensi, keberanian mengambil keputusan, kemampuan bernegosiasi, pengaruh, kepemimpinan, dan kemampuan menunjukkan hasil.

Inilah konflik yang dibahas Frankel.

Seorang perempuan dapat menjadi sangat kompeten, tetapi jika kompetensinya tidak terlihat, organisasi mungkin tidak menyadarinya.

Kerja keras tidak selalu menghasilkan pengakuan otomatis.

Kesalahan Pertama: Terlalu Ingin Disukai

Salah satu jebakan terbesar adalah kebutuhan untuk disukai semua orang.

Seorang perempuan mungkin berpikir:

“Kalau saya tegas, mereka akan menganggap saya galak.”

“Kalau saya menolak, mereka akan kecewa.”

“Kalau saya meminta lebih, mereka akan menganggap saya serakah.”

Akibatnya, ia terus berkata ya.

Ya untuk pekerjaan tambahan.

Ya untuk rapat tambahan.

Ya untuk membantu orang lain.

Ya untuk tenggat yang tidak realistis.

Lama-kelamaan, ia menjadi sangat sibuk tetapi belum tentu semakin strategis.

Frankel menunjukkan pentingnya membedakan antara helpful dan self-sacrificing.

Membantu orang lain adalah kualitas kepemimpinan.

Mengorbankan diri terus-menerus sampai pekerjaan utama sendiri terganggu bukanlah kepemimpinan.

Pemimpin perlu mengetahui kapan mengatakan:

“Saya bisa membantu, tetapi saya perlu memprioritaskan tugas A terlebih dahulu.”

Itu bukan egoisme.

Itu adalah manajemen batas.

Jangan Menunggu Orang Lain Menyadari Nilai Kita

Banyak profesional percaya bahwa jika mereka bekerja keras, suatu hari atasan akan menyadarinya.

Sayangnya, dunia kerja tidak selalu bekerja seperti itu.

Jika seseorang menyelesaikan proyek besar tetapi tidak pernah membicarakan hasilnya, kontribusi tersebut dapat dengan mudah tenggelam.

Frankel mendorong perempuan untuk belajar self-promotion yang sehat.

Self-promotion bukan berarti membanggakan diri.

Artinya memastikan kontribusi kita terlihat dan dipahami.

Daripada berkata:

“Saya hanya membantu tim menyelesaikan proyek ini.”

kita dapat mengatakan:

“Saya memimpin koordinasi tiga fungsi, menyelesaikan hambatan utama, dan membantu proyek selesai lebih cepat dari target.”

Keduanya mungkin menggambarkan pekerjaan yang sama.

Tetapi yang kedua menunjukkan ownership.

Berhenti Meminta Maaf untuk Hal yang Tidak Perlu

Salah satu kebiasaan komunikasi yang dapat melemahkan otoritas adalah terlalu sering meminta maaf.

“Maaf mengganggu.”

“Maaf kalau saya salah.”

“Maaf saya bertanya.”

“Maaf saya berbeda pendapat.”

Jika permintaan maaf memang diperlukan, tentu kita harus menggunakannya.

Namun meminta maaf secara otomatis bahkan ketika tidak melakukan kesalahan dapat membuat pesan kita kehilangan kekuatan.

Bandingkan:

“Maaf, boleh saya memberikan pendapat?”

dengan:

“Saya memiliki perspektif yang berbeda. Menurut saya, risikonya adalah…”

Kalimat kedua bukan kasar.

Ia hanya menunjukkan bahwa kita memiliki hak untuk berada di dalam percakapan.

Jangan Mengecilkan Diri Sendiri

Dalam banyak situasi profesional, perempuan dapat menggunakan bahasa yang mengecilkan otoritas mereka sendiri.

Misalnya:

“Mungkin saya salah, tetapi…”

“Saya bukan ahlinya, tapi…”

“Ini hanya ide kecil…”

“Entahlah, mungkin…”

Bahasa seperti ini secara tidak sadar memberi sinyal kepada orang lain bahwa pembicara sendiri tidak yakin dengan gagasannya.

Frankel mendorong komunikasi yang lebih langsung.

Bukan berarti kita harus berbicara dengan arogan.

Kita tetap dapat rendah hati tanpa mengecilkan kompetensi.

Alih-alih:

“Saya tidak yakin, tetapi mungkin kita bisa mencoba…”

kita dapat berkata:

“Berdasarkan data yang kita miliki, saya merekomendasikan opsi ini.”

Ada perbedaan besar antara kerendahan hati dan ketidakpercayaan terhadap diri sendiri.

Belajar Bernegosiasi

Salah satu pelajaran penting dalam buku ini adalah bahwa negosiasi bukan tindakan agresif.

Banyak perempuan enggan meminta kenaikan gaji, sumber daya, promosi, atau tanggung jawab yang lebih besar karena takut terlihat terlalu menuntut.

Namun organisasi tidak selalu memberikan sesuatu hanya karena kita layak mendapatkannya.

Kadang kita harus meminta.

Negosiasi yang baik tidak harus berbentuk:

“Saya mau lebih banyak.”

Ia dapat berbentuk:

“Dengan peningkatan tanggung jawab ini, saya ingin mendiskusikan bagaimana kompensasi dan kewenangan dapat disesuaikan.”

Profesionalisme bukan berarti tidak meminta.

Profesionalisme berarti mengetahui nilai kontribusi dan mampu membicarakannya secara rasional.

Jangan Menjadi “Office Mom”

Frankel juga membahas kecenderungan perempuan mengambil pekerjaan yang bersifat administratif atau emosional:

mencatat rapat,

mengatur acara,

membawa makanan,

mengurus kebutuhan orang lain,

menjadi pendengar bagi semua orang,

atau selalu menjadi orang yang menjaga suasana tetap harmonis.

Semua pekerjaan tersebut memiliki nilai.

Tetapi jika seseorang terus-menerus mengambil office housework sementara rekan lain mendapatkan proyek strategis, kesempatan memimpin, dan visibilitas tinggi, ketimpangan karier dapat terbentuk.

Pertanyaannya bukan:

“Apakah pekerjaan ini penting?”

Pertanyaannya:

“Apakah pekerjaan ini membantu saya bergerak menuju tujuan profesional saya?”

Jika jawabannya tidak, kita perlu belajar membagi tanggung jawab secara lebih adil.

Kompetensi Saja Tidak Cukup

Ini mungkin salah satu pesan paling penting dari buku Frankel.

Competence is necessary, but competence alone is not always sufficient.

Seseorang dapat sangat pintar tetapi tidak memiliki pengaruh.

Seseorang dapat bekerja sangat keras tetapi tidak terlihat.

Seseorang dapat memiliki ide hebat tetapi tidak berani menyampaikannya.

Seseorang dapat memiliki kemampuan kepemimpinan tetapi selalu menunggu izin.

Karier membutuhkan kombinasi antara kompetensi dan visibility.

Kita perlu memastikan bahwa orang yang membuat keputusan mengetahui:

apa yang kita kerjakan,

apa hasilnya,

apa kemampuan kita,

dan ke mana kita ingin berkembang.

Bukan untuk mencari perhatian, tetapi untuk memastikan kontribusi tidak menjadi sesuatu yang tidak terlihat.

Berani Duduk di “Corner Office”

Corner office dalam judul buku bukan sekadar ruang kantor di sudut gedung.

Ia adalah simbol otoritas, pengaruh, dan kesempatan untuk memimpin.

Untuk mencapai posisi tersebut, seseorang harus berani keluar dari pola perilaku yang selalu aman.

Berani menyampaikan pendapat.

Berani mengambil keputusan.

Berani mengatakan tidak.

Berani meminta kesempatan.

Berani menerima kritik.

Berani gagal.

Dan yang paling penting:

berani terlihat.

Karena kepemimpinan membutuhkan visibilitas.

Orang tidak dapat memilih seseorang menjadi pemimpin jika mereka tidak pernah melihat kapasitas kepemimpinannya.

Menjadi “Nice” dengan Cara yang Lebih Kuat

Namun buku ini tidak seharusnya ditafsirkan sebagai ajakan menjadi keras, agresif, atau tidak peduli.

Justru kita dapat mempertahankan empati sambil membangun ketegasan.

Kita dapat peduli tanpa selalu mengalah.

Kita dapat rendah hati tanpa mengecilkan diri.

Kita dapat membantu tanpa menjadi korban.

Kita dapat mendengarkan tanpa kehilangan suara.

Kita dapat menjadi baik tanpa takut menetapkan batas.

Inilah bentuk assertive kindness—kebaikan yang memiliki tulang punggung.

Refleksi: Jangan Menghilang di Balik Kebaikan

Nice Girls Don’t Get the Corner Office pada akhirnya bukan tentang bagaimana perempuan harus berubah menjadi orang lain.

Buku ini adalah ajakan untuk menyadari bahwa sebagian perilaku yang dahulu membantu kita diterima secara sosial mungkin tidak selalu membantu kita memimpin.

Dunia profesional membutuhkan perempuan yang kompeten dan berani menunjukkan kompetensinya.

Membutuhkan perempuan yang empatik tetapi juga tegas.

Membutuhkan perempuan yang mampu bekerja sama tetapi tidak takut mengambil posisi.

Membutuhkan perempuan yang peduli terhadap orang lain tetapi juga menghargai dirinya sendiri.

Karena menjadi “nice” bukan masalah.

Yang menjadi masalah adalah ketika kebaikan membuat kita diam, terlalu banyak mengalah, takut meminta, takut terlihat, dan akhirnya menyerahkan kesempatan kepada orang lain.

Pada akhirnya, corner office bukan sekadar tempat duduk.

Ia adalah simbol dari keberanian untuk mengatakan:

“Saya memiliki sesuatu yang bernilai untuk diberikan.”

“Saya layak berada di meja ini.”

“Saya siap mengambil tanggung jawab.”

Dan mungkin, kalimat yang paling penting:

Kita tidak perlu menjadi kurang baik untuk menjadi pemimpin yang kuat. Kita hanya perlu berhenti mengecilkan diri agar orang lain merasa nyaman.

Comments