REFLEKSI BUKU An Immense World — Ed Yong
Kita sering berpikir bahwa kita memahami dunia karena kita dapat melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan lingkungan di sekitar kita. Kita berjalan di jalan yang sama setiap hari, melihat pohon, mendengar kendaraan, merasakan panas matahari, dan mengamati orang-orang di sekitar. Semua itu terasa begitu nyata sehingga kita mudah menganggap bahwa dunia yang kita rasakan adalah dunia yang sebenarnya.
Namun, buku An Immense World karya Ed Yong mengajak kita mempertanyakan asumsi tersebut.
Dunia yang kita alami hanyalah satu versi dari kenyataan.
Setiap makhluk hidup memiliki cara berbeda untuk mendeteksi dan memahami lingkungannya. Apa yang terlihat bagi manusia mungkin tidak terlihat bagi hewan lain. Apa yang terdengar bagi kita mungkin tidak terdengar bagi kelelawar. Apa yang kita anggap sebagai ruang kosong mungkin sebenarnya penuh dengan informasi bagi makhluk yang memiliki kemampuan sensorik berbeda.
Dengan kata lain, bumi yang sama dapat menjadi dunia yang sangat berbeda bagi setiap spesies.
Inilah gagasan utama yang membuat An Immense World begitu menarik.
Ed Yong mengajak kita keluar dari sudut pandang manusia dan memasuki apa yang dapat disebut sebagai dunia sensorik makhluk hidup.
Manusia memiliki kemampuan sensorik yang luar biasa, tetapi kemampuan tersebut juga memiliki batas. Kita melihat cahaya dalam rentang tertentu. Kita mendengar suara dalam rentang frekuensi tertentu. Kita tidak dapat melihat seluruh spektrum elektromagnetik. Kita tidak dapat mendengar semua suara yang ada di lingkungan.
Keterbatasan tersebut membuat kita sering salah memahami dunia.
Bayangkan seekor lebah.
Bagi manusia, bunga mungkin memiliki warna tertentu. Tetapi lebah dapat melihat pola ultraviolet yang tidak terlihat oleh mata manusia. Pola tersebut dapat membantu lebah menemukan sumber nektar.
Artinya, bunga yang sama sebenarnya memberikan informasi yang berbeda kepada manusia dan lebah.
Bagi manusia, bunga adalah objek visual.
Bagi lebah, bunga dapat menjadi semacam peta sensorik yang memberikan petunjuk tentang lokasi makanan.
Hal serupa terjadi di dunia suara.
Manusia mendengar suara dalam rentang tertentu. Tetapi banyak hewan menggunakan frekuensi yang jauh di luar kemampuan pendengaran kita.
Kelelawar, misalnya, menggunakan echolocation untuk memahami lingkungannya. Ia mengeluarkan suara dan kemudian menganalisis pantulan suara tersebut. Dari informasi itu, kelelawar dapat memperkirakan lokasi, jarak, dan karakteristik objek di sekitarnya.
Bagi manusia, ruangan gelap adalah lingkungan yang sulit dilihat.
Bagi kelelawar, kegelapan tidak berarti kehilangan informasi.
Ia justru dapat menjadi ruang yang penuh dengan informasi akustik.
Ini mengubah cara kita memahami konsep “melihat”.
Melihat tidak selalu berarti menggunakan mata.
Seekor kelelawar dapat “membaca” lingkungan melalui suara.
Ikan tertentu dapat menggunakan sistem sensorik yang mendeteksi gerakan air.
Ular tertentu dapat merasakan radiasi panas.
Burung tertentu dapat menggunakan informasi dari medan magnet bumi untuk membantu navigasi.
Setiap spesies memiliki jendela sensorik masing-masing.
Konsep ini memiliki implikasi yang sangat besar.
Kita sering menilai kecerdasan atau kemampuan hewan berdasarkan kemampuan manusia.
Jika hewan tidak dapat melakukan sesuatu seperti manusia, kita menganggap mereka kurang mampu.
Padahal, mungkin kita sedang menggunakan standar yang salah.
Seekor hewan tidak perlu memiliki kemampuan seperti manusia untuk memiliki sistem persepsi yang luar biasa.
Burung yang bermigrasi ribuan kilometer tidak membutuhkan GPS seperti manusia.
Ia memiliki sistem navigasi biologis yang memungkinkan perjalanan sangat jauh.
Serangga tidak membutuhkan peta digital untuk menemukan sumber makanan.
Ikan tidak membutuhkan radar buatan manusia untuk mendeteksi perubahan lingkungan.
Alam telah menghasilkan berbagai solusi sensorik yang sangat beragam.
Karena itu, An Immense World mengajarkan kita untuk melihat kehidupan bukan hanya dari perspektif apa yang dapat kita lakukan, tetapi juga dari perspektif apa yang dapat dilakukan makhluk lain dengan cara yang tidak dapat kita bayangkan.
Salah satu tema penting lainnya adalah bau.
Manusia sering menganggap penciuman sebagai indera sekunder dibandingkan penglihatan. Kita hidup dalam budaya yang sangat visual. Kita membaca tanda. Melihat layar. Menonton video. Mengamati gambar.
Namun bagi banyak hewan, bau adalah sumber informasi yang sangat penting.
Bau dapat membantu mencari makanan.
Menemukan pasangan.
Mengenali wilayah.
Mendeteksi predator.
Mengidentifikasi individu lain.
Dan bahkan berkomunikasi.
Seekor anjing dapat memperoleh informasi dari aroma yang bagi manusia tampak tidak berarti.
Ketika kita berjalan melewati suatu tempat, kita mungkin hanya melihat jalan.
Seekor anjing mungkin “membaca” sejarah aroma yang jauh lebih kompleks.
Ia dapat mendeteksi siapa yang lewat, ke mana mereka bergerak, dan mungkin kapan mereka berada di sana.
Ini menunjukkan bahwa lingkungan kita sebenarnya penuh dengan informasi yang tidak dapat kita akses.
Kita hidup di dalam dunia yang jauh lebih kaya daripada yang dapat dirasakan oleh indera manusia.
Konsep tersebut dikenal dalam biologi sebagai umwelt, yaitu dunia sensorik yang dialami oleh suatu organisme.
Tidak ada satu pengalaman sensorik yang sepenuhnya universal.
Manusia memiliki umwelt manusia.
Lebah memiliki umwelt lebah.
Kelelawar memiliki umwelt kelelawar.
Ikan memiliki umwelt ikan.
Masing-masing menerima potongan realitas yang berbeda.
Ini bukan berarti satu spesies melihat dunia dengan “benar” sementara yang lain salah.
Mereka hanya mengakses bagian yang berbeda dari dunia.
Pemahaman ini dapat mengubah cara kita memperlakukan lingkungan.
Ketika membangun kota, misalnya, kita biasanya merancang berdasarkan kebutuhan manusia.
Pencahayaan dibuat untuk manusia.
Suara dirancang berdasarkan toleransi manusia.
Ruang dibangun berdasarkan persepsi manusia.
Tetapi lingkungan yang nyaman bagi manusia belum tentu nyaman bagi hewan lain.
Lampu kota dapat mengganggu serangga atau burung.
Kebisingan kendaraan dapat mengganggu komunikasi hewan.
Struktur bangunan dapat mengubah jalur pergerakan satwa.
Dengan memahami dunia sensorik makhluk lain, kita dapat merancang lingkungan yang lebih ramah terhadap kehidupan.
Ini membawa kita pada konsep sensory ecology.
Ekologi bukan hanya tentang siapa memakan siapa atau di mana suatu spesies hidup.
Ekologi juga tentang bagaimana makhluk hidup merasakan lingkungan mereka.
Seekor burung dapat mengubah perilakunya karena suara predator.
Seekor serangga dapat mencari pasangan berdasarkan sinyal tertentu.
Seekor ikan dapat mendeteksi getaran di air.
Seekor mamalia dapat menggunakan aroma untuk menentukan wilayah.
Semua makhluk hidup terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan melalui sistem sensoriknya.
Karena itu, ketika lingkungan berubah, bukan hanya pemandangan yang berubah.
Informasi sensorik yang diterima makhluk hidup juga berubah.
Polusi suara bukan sekadar suara yang mengganggu telinga manusia.
Bagi hewan tertentu, kebisingan dapat menghilangkan sinyal penting yang mereka gunakan untuk berkomunikasi.
Cahaya buatan bukan hanya membuat kota lebih terang.
Bagi beberapa spesies, cahaya tersebut dapat mengubah navigasi, perilaku, dan pola aktivitas.
Dengan demikian, kita mulai memahami bahwa aktivitas manusia dapat mengubah dunia hewan tanpa kita sadari.
Hal menarik lainnya adalah bahwa sensorik tidak selalu tentang menerima informasi.
Banyak organisme juga menghasilkan sinyal untuk memengaruhi organisme lain.
Komunikasi dapat menggunakan suara, warna, cahaya, gerakan, getaran, listrik, atau bahan kimia.
Dunia alam sebenarnya penuh dengan percakapan.
Hanya saja manusia tidak selalu memiliki alat untuk mendengarnya.
Bayangkan berada di sebuah hutan.
Bagi kita, hutan mungkin terasa tenang.
Tetapi secara biologis, hutan mungkin sangat ramai.
Ada suara burung.
Getaran.
Aroma.
Sinyal kimia.
Pola cahaya.
Gerakan.
Gelombang suara yang tidak dapat kita dengar.
Informasi yang bergerak melalui tanah, air, dan udara.
Hutan yang tampak “diam” bagi manusia mungkin sebenarnya merupakan dunia komunikasi yang sangat aktif.
Inilah mengapa judul An Immense World sangat tepat.
Dunia memang immense—sangat luas, kompleks, dan penuh informasi.
Yang terbatas bukan selalu dunia itu sendiri.
Yang terbatas adalah jendela persepsi kita.
Kesadaran ini juga memiliki pelajaran penting bagi kehidupan manusia.
Kita sering menganggap pengalaman kita sebagai standar realitas.
“Kenyataannya seperti ini.”
“Semua orang melihat hal yang sama.”
“Semua orang merasakan hal yang sama.”
Padahal, bahkan manusia yang hidup dalam lingkungan yang sama dapat memiliki pengalaman sensorik dan emosional yang berbeda.
Karena itu, memahami bahwa setiap organisme memiliki perspektif sendiri dapat melatih kerendahan hati epistemik—kesadaran bahwa apa yang kita ketahui selalu memiliki batas.
Kita tidak mengetahui seluruh dunia.
Kita hanya mengetahui bagian dunia yang dapat kita akses.
Dan bahkan bagian tersebut dipengaruhi oleh perhatian, pengalaman, kemampuan sensorik, dan cara otak memproses informasi.
Pada akhirnya, An Immense World bukan hanya buku tentang hewan.
Ia adalah undangan untuk melihat dunia dengan lebih rendah hati.
Untuk berhenti menganggap manusia sebagai pusat dari semua pengalaman.
Untuk menyadari bahwa kehidupan di sekitar kita memiliki cara sendiri untuk merasakan, berkomunikasi, mencari makanan, menghindari bahaya, menemukan pasangan, dan memahami lingkungan.
Dunia yang kita lihat hanyalah satu lapisan.
Di luar penglihatan kita ada warna yang tidak dapat kita lihat.
Di luar pendengaran kita ada suara yang tidak dapat kita dengar.
Di luar penciuman kita ada informasi kimia yang tidak dapat kita rasakan.
Di luar kesadaran kita ada sistem komunikasi yang terus berlangsung.
Kita berjalan di dalam dunia yang jauh lebih kaya daripada yang dapat ditangkap oleh indera kita.
Dan mungkin, ketika kita menyadari keterbatasan tersebut, kita menjadi lebih bijaksana.
Kita menjadi lebih hati-hati dalam menilai makhluk lain.
Lebih menghargai alam.
Lebih sadar terhadap dampak lingkungan yang kita ciptakan.
Dan lebih terbuka terhadap kenyataan bahwa apa yang tidak dapat kita rasakan bukan berarti tidak ada.
Itulah salah satu pesan terindah dari An Immense World:
Bumi bukan hanya dunia yang kita lihat.
Ia adalah jutaan dunia yang hidup berdampingan, masing-masing terbentuk oleh cara yang berbeda untuk merasakan kenyataan.
Dan semakin kita memahami dunia-dunia tersebut, semakin jelas bahwa kehidupan jauh lebih ajaib, kompleks, dan luas daripada yang selama ini mampu kita bayangkan.

Comments
Post a Comment